BAB I

Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya

A. Lahan dan Hutan

1. Lahan

Lahan merupakan bagian dari bentang lahan (Landscape) yang meliputi lingkungan fisik, termasuk di dalamnya iklim, topografi/relief, hidrologi tanah dan keadaan vegetasi alami yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Secara garis besar penggunaan lahan dapat dikelompokkan menjadi : ladang, tegalan, sawah, perkebunan, sarana perhubungan, hutan, industri, permukiman dan penggunaan lainnya. Pada umumnya, penetapan penggunaan lahan didasarkan pada karakteristik lahan dan daya dukung lingkungannya. Bentuk penggunaan lahan yang ada dapat dikaji melalui proses evaluasi sumber daya lahan, sehingga dapat diketahui potensi sumber daya lahan untuk berbagai penggunaannya.

Pengelolaan lahan yang ramah lingkungan dan penyusunan tata ruang yang tepat, dapat mengurangi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan antara lain banjir, kekeringan dan longsor lahan.

Sumberdaya lahan menurut penggunaannya diklasifikasikan menjadi 12 jenis, yaitu sarana permukiman/sosekbud, pertanian lahan kering, pertanian lahan sawah, perkebunan, perikanan, perhubungan, areal berhutan, tanah kritis/rusak, padang, industri, pertambangan terbuka dan perairan. Lahan permukiman/sosekbud adalah tempat tinggal/halaman sekitarnya dan tempat kegiatan penduduk serta fasilitas pelayanan jasa seperti perdagangan, perkantoran, perpasaran, peribadatan, pendidikan, olahraga, pemakaman dan taman. Dari 12 jenis klasifikasi penggunaan lahan tersebut, 4 jenis (perkebunan, tanah kritis/rusak, padang dan pertambangan terbuka) tidak ada di DKI Jakarta . Lahan perairan adalah lahan yang ditutupi berbagai jenis air permukaan seperti sungai, danau, waduk dan rawa.

Sedangkan menurut status pemilikannya, penggunaan lahan digolongkan menjadi 6 jenis, yaitu Tanah Negara, Hak Pakai, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pengelolaan dan Tanah Milik.

Berdasarkan inventarisasi sumberdaya lahan menurut klasifikasi penggunaan lahan di DKI Jakarta untuk tahun 2009 belum terinventarisir, tetapi pergeseran penggunaan lahan tidak akan terlalu jauh atau dengan kata lain hampir sama dengan keadaan tahun 2008. Adapun perkiraan penggunaan lahan pada tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel dibawah :

Tabel : I.1. Inventarisasi Sumberdaya Lahan Menurut Klasifikasi Penggunaan Lahan, 2009

 

Peranan lahan sebagai ruang untuk tempat tinggal, media atau tempat tumbuh tanaman atau wadah bahan galian/mineral menunjukkan bahwa lahan mempunyai kedudukan yang sentral dalam menunjang keberhasilan pembangunan. Khusus di DKI Jakarta, tingginya nilai lahan sebagai akibat pertumbuhan sektor bisnis yang cukup pesat mengakibatkan terjadinya mutasi penggunaan lahan yang cukup berarti dari sektor yang kurang produktif seperti pertanian ke sektor-sektor lainnya yang lebih menguntungkan, seperti sarana permukiman, perdagangan, perkantoran, pariwisata dan lain-lain. Hal ini membawa permasalahan yang cukup kompleks sehingga peletakan perencanaan di bidang sumberdaya lahan sering mengalami pergeseran.

a. Lahan Peruntukan Pertanian

Lahan pertanian selain mempunyai fungsi sebagai sarana penghasil komoditi bahan makanan dan produk pertanian lainnya, juga bermanfaat sebagai ruang terbuka hijau yang sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan. Namun demikian, karena keterbatasan luas wilayah dan pesatnya perkembangan sektor bisnis di DKI Jakarta menyebabkan kompetisi penggunaan lahan semakin meningkat sehingga lahan yang tersedia untuk sarana pertanian dari tahun ke tahun cenderung semakin menurun.

Selama tahun 2009 penggunaan lahan pertanian sedikit mengalami pergeseran. Luas lahan sawah, lahan tegalan dan lahan perikanan masing-masing seluas 1.200,00 Ha, 984,00 Ha dan 156,30 Ha. Tetapi pada tahun-tahun mendatang diperkirakan mutasi penggunaan lahan dari sarana pertanian, terutama lahan kering (tegalan) ke sarana lainnya yang lebih menguntungkan dari segi ekonomi diperkirakan akan terus berlangsung sejalan dengan perkembangan sektor bisnis di DKI Jakarta.

b. Lahan Peruntukan Perhubungan

Pada akhir tahun 2009, luas lahan sarana perhubungan mencapai 5.542,30 Ha mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan keadaan tahun 2008 karena adanya perbaikan pada luas jalan. Luas lahan untuk masing-masing menurut penggunaannya adalah sebagai berikut : jalan raya pada akhir tahun 2009 diperkirakan tidak berubah, tetap seluas 4.164,92 (75,15 %), sarana lainnya terdiri dari jalan/jalur kereta api 595,09 Ha (10,74 %), pelabuhan laut 541,45 Ha (9,77 %), pelabuhan udara 177,27 Ha (3,20 %) dan terminal bis seluas 57,12 Ha.

c. Lahan Peruntukan Perindustrian

Penggunaan lahan untuk sarana industri pada tahun 2009 diperkirakan mencapai 4.213,23 Ha, diantaranya 825,34 Ha (19,59 %) diantaranya terletak di tiga kawasan industri, yaitu Perkampungan Industri Kecil (PIK), PT. (Persero) JIEP dan PT. (Persero) Kawasan Berikat Nusantara (KBN). Dibandingkan dengan luas lahan sarana industri tahun 2008 (3.527,02 Ha) luas lahan industri pada tahun 2009 ini mengalami penurunan seluas 139,13 Ha (3,20 %).

d. Lahan Peruntukan Lainnya

Secara kumulatif, luas areal hutan di DKI Jakarta pada tahun 2009 mencapai 673,60 Ha. Dibandingkan dengan kondisi akhir tahun 2008 (angka revisi) luas hutan tidak mengalami perubahan. Sementara itu, lahan perairan (sungai, danau/waduk/dam dan rawa serta flood way ) yang ada di DKI Jakarta pada tahun 2009 seluas 1.255,10 Ha dan selama tahun 2009 tidak terjadi perubahan.

Peranan lahan sebagai ruang untuk tempat tinggal, media atau tempat tumbuh tanaman serta wadah bahan galian/mineral menunjukkan bahwa lahan mempunyai kedudukan yang sentral dalam menunjang keberhasilan pembangunan. Khusus di Provinsi DKI Jakarta, tingginya nilai lahan sebagai akibat pertumbuhan sektor bisnis yang cukup pesat mengakibatkan terjadinya mutasi penggunaan lahan yang cukup berarti dari sektor yang kurang produktif seperti pertanian ke sektor-sektor lainnya yang lebih menguntungkan, seperti sarana permukiman, perdagangan, perkantoran, pariwisata dan lain-lain. Hal ini membawa permasalahan yang cukup kompleks sehingga peletakan perencanaan di bidang sumber daya lahan sering mengalami pergeseran.

e. Lahan Peruntukan Pemukiman

Pembangunan dan penyediaan sarana permukiman yang layak dan memadai bagi penduduk merupakan tanggung jawab moril bagi pemerintah DKI Jakarta. Namun demikian, karena keterbatasan luas lahan, pemanfaatan lahan untuk pembangunan sarana permukiman perlu diatur secara efisien dan seefektif mungkin seperti pembangunan rumah susun.

Berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk tahun 2000 jumlah penduduk DKI Jakarta pada tahun 2009 mencapai 9.223 ribu jiwa dengan tingkat pertumbuhan 0,16 persen per tahun. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dimaksud dan meningkatnya taraf hidup manusia, kebutuhan akan sarana permukiman/sosekbud dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 2009, luas lahan yang digunakan untuk sarana permukiman/sosekbud diperkirakan mencapai 52.205,12 Ha (78,82 %) dari luas wilayah DKI Jakarta.

2. Hutan

Hutan merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah pengendalian daur air, erosi dan longsor lahan. Harapan ini perlu didukung bersama untuk mewujudkan, karena banyak kelebihan ekosistem hutan untuk mewujudkan harapan tersebut. Nilai peran hutan ditentukan oleh luas, jenis, watak pertumbuhan, keadaan pertumbuhan dan struktur hutannya. Ekosistem hutan juga dipengaruhi oleh keadaan iklim, geologi, watak tanah dan geomorfologi, sehingga di dalam membangun hutan harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi dan masalah kependudukannya.

Prioritas pembangunan yang dilakukan Pemda DKI Jakarta pada bidang kehutanan meliputi pemeliharaan hutan yang sudah ada dan pengembalian fungsi lahan ke rencana tata ruang yang sudah ada.

Sesuai dengan karakteristik/ciri khasnya dan untuk kepentingan nasional, berdasarkan peruntukan/fungsi utamanya, hutan diklasifikasikan menjadi 4 jenis :

•  Hutan Produksi, adalah hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sebagai penghasil komoditi kayu serta hasil hutan lainnya.

•  Hutan Lindung, adalah hutan yang karena sifat alamnya diperuntukkan secara khusus untuk melindungi tata air, pencegahan erosi, banjir, abrasi pantai serta pelindung terhadap tiupan angin.

•  Hutan Konservasi, adalah hutan yang karena sifat-sifatnya diperuntukkan sebagai pelindung dan pelestarian bagi flora dan fauna, atau untuk pelindung suatu ekosistem.

•  Hutan Konversi, adalah hutan produksi yang dicadangkan untuk dilepas guna memenuhi kepentingan diluar kehutanan seperti untuk pertanian, perkebunan, pertambangan, kawasan industri atau permukiman penduduk.

Dari keempat jenis peruntukan/fungsi hutan diatas, yang ada di DKI Jakarta hanyalah hutan lindung dan hutan konservasi. Hutan kota yang tersebar di beberapa lokasi tidak dimasukkan dalam salah satu kategori diatas, tapi dimasukkan dalam klasifikasi tersendiri.

a. Hutan Lindung

Hutan lindung mempunyai fungsi khusus sebagai pelindung tata air, pencegah erosi, banjir, abrasi pantai dan pelindung terhadap tiupan angin. Kawasan hutan lindung yang ada di DKI Jakarta seluruhnya merupakan hutan payau/bakau, pada tahun 2009 luasnya mencapai 44,76 Ha dan tidak mengalami perubahan selama kurun waktu 2009.

b. Hutan Konservasi

Hutan konservasi di DKI Jakarta pada tahun 2009 mencapai 188,02 Ha terdiri dari hutan cagar alam seluas 88,20 Ha dan hutan taman wisata alam seluas 99,82 Ha dan tidak mengalami perubahan selama tahun 2009.

c. Hutan Kota

Sampai dengan tahun 2009, hutan kota yang ada tersebar di 49 lokasi dan diperkirakan luasnya sekitar 440,82 Ha. Luas hutan kota ini jauh lebih besar dibandingkan dengan luas hutan alami (hutan lindung dan hutan konservasi) yang ada di DKI Jakarta atau sekitar 65,44 persen dari total luas hutan di DKI Jakarta (673,60 Ha).

Hasil inventarisasi sumber daya hutan menurut fungsi dan tipe hutan pada tahun 2009 adalah sebagai berikut :

 

Tabel : I.2. Jumlah Sumber daya hutan menurut fungsi dan tipe hutan di DKI Jakarta Tahun 2009*

 

Sedangkan hasil inventarisasi diperoleh hasil bahwa selama tahun 2009 tidak terjadi perubahan luas. Secara lengkap lokasi dan luas hutan kota Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai berikut :

 

Tabel : I.3. Lokasi Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, 2009

 

Uraian deskripsi hutan kota kawasan Provinsi DKI Jakarta, pada hakekatnya mencakup dasar penetapan lokasi (status kawasan), letak dan luas lokasi, pencapaian lokasi (status aksesibilitas), konfigurasi lapang, iklim dan hidrologi, habitat dan keanekaragaman hayati, fungsi dan manfaatnya, yang secara rinci diuraikan sebagai berikut.

1). Hutan Kota Srengseng Jakarta Barat

Kawasan hutan Srengseng ditetapkan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 202 Tahun 1995, yang difungsikan sebagai wilayah resapan air dan plasma nutfah, lokasi wisata dan center aktivitas masyarakat.

Hutan Kota Srengseng pada hakekatnya merupakan tipe hutan konservasi resapan air, seluas 15 Ha dan secara geografis terletak pada 6 O 13'12” LS dan 106 O 49” BT. Berdasarkan wilayah adminstrasi pemerintahan kawasan ini termasuk wilayah kota Jakarta Barat, Kecamatan Kembangan, Kelurahan Srengseng. Hutan Kota Srengseng terletak di Jalan Haji Kelik, Srengseng wilayah Jakarta Barat.

Kawasan ini terletak pada akses Jalan Srengseng Raya, yang dapat dicapai melalui jalan Tol Merak-Jakarta, jalan Kebayoran Lama dan Cileduk Raya. Sisi utara dan selatan hutan tersebut berbatasan langsung dengan jalan raya dan Sungai Pesanggrahan, dan bagian lainnya dibatasi dengan kawasan permukiman terutama dari kelompok sosial menengah dan penduduk asli kawasan tersebut.

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan dataran dengan kemiringan lereng 0-3 persen (7,4 Ha), landai dengan kemiringan lereng 8-25 persen (2,10 Ha) dan sisanya merupakan hamparan gelombang agak dengan kemiringan lereng >25 persen (1,20 Ha). Tapak memiliki topografi yang bervariasi yaitu dengan area datar, landai, agak curam dan curam. Pohon-pohon yang tumbuh di area yang cekung diantaranya jenis Akasia, Ketapang, Flamboyan dan Jati. Jenis yang lebih banyak tumbuh di areal datar dan landai. Areal yang cekung jika dialiri air yang drainasenya kurang baik karena berbentuk memutar di dalam kawasan hutan kota dari kali Pesanggrahan akan menuju blok rawa. Pada areal yang datar terdapat areal bekas pembuangan sampah. Jenis yang tumbuh di areal ini adalah jenis Mahoni, Lamtoro dan Bintaro.

Habitat kawasan hutan kota ini, terdiri dari tiga bentuk ekosistem perairan, pembangunan tata hijau dan bentuk konfigurasi lapangan yang relatif beragam komponen pembangunan tata hijau yang merupakan wujud hutan kota. Jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan kota Srengseng sebanyak 65 jenis pohon, Jenis yang mendominasi lokasi ini adalah Akasia (Acasia auricoformis) yang terdapat plot. Kondisi hutannya mencerminkan bentuk hutan yang telah kembali hijau dari kondisi yang sebelumnya dengan terlihat beberapa lapisan tajuk yang terbentuk, baik pada lapisan tajuk teratas, dibawahnya dan tumbuhan bawah. Jenis yang dikembangkan merupakan koleksi dari berbagai tetumbuhan yang dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan kenyamanan serta merupakan kawasan resapan air untuk kepentingan tata air tanah (hidrologis).

Pada lokasi hutan kota Srengseng ini terdapat 4 layer dengan kerapatan rata-rata 2.570 Ind/Ha. Stratafikasi yaitu strata I, strata II, strata III dan strata IV. Jenis-jenis vegetasi pada setiap plot terdapat pada strata IV tersebut dari jenis vegetasi yang lebih banyak dibandingkan pada strata lainnya. Vegetasi pada strata IV tersebut jenis vegetasi yang berupa pohon menghasilkan bunga, buah maupun yang dapat mendatangkan serangga sebagai pakan burung.

Kawasan hutan ini berfungsi sebagai kawasan lindung baik flora dan fauna, juga dimanfaatkan sebagai kawasan rekreasi, wahana penelitian plasma nutfah dan pelatihan bagi petugas pengelola hutan kota di seluruh DKI Jakarta dan sekitarnya.

Fasilitas yang terdapat di hutan kota Srengseng sudah sangat lengkap bila di bandingkan dengan hutan kota lainnya diantaranya adalah :

•  Taman rekreasi beserta beberapa jenis mainan anak-anak.

•  Gapura hutan kota yang cukup megah yang dibangun tahun 2007

•  Tempat parkir yang cukup luas dan memadai

•  Menara pengamatan yang digabung dengan fasilitas papan panjat.

•  Tempat atraksi yang dibangun tahun 2007 yang biasa digunakan untuk berbagai kegiatan.

2). Hutan Kota Kampus UI Jakarta Selatan

Hutan kota Kampus Universitas Indonesia ditetapkan berdasarkan SK. Rektor UI Nomor 84/SK/12/1988, tanggal 31 Oktober 1988 lalu diperbaharui dengan SK Gubernur Nomor 3487/1999 dengan nama Mahkota Hijau, yang difungsikan sebagai wilayah resapan air, wahana koleksi pelestarian plasma nutfah, wahana penelitian dan sarana rekreasi alam. Hutan kota kampus Universitas IndonesiaI seluas 55,40 Ha secara geografis terletak pada 6 O 20'45” LS dan 106 O 49'15” BT.

Hutan kota kampus Universitas Indonesia berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan 55,40 Ha kawasan ini termasuk wilayah Kota Jakarta Selatan, Kecamatan Jagakarsa, Kelurahan Srengseng Sawah dan selebihnya masuk wilayah Depok (34,6 Ha) Provinsi Jawa Barat.

Sejak 5 September 1987, UI secara resmi memiliki/menempati kampus baru seluas 318 Ha yang berlokasi di Depok (wilayah perbatasan Jakarta Selatan dan Jakarta Barat), disamping kampus lama jalan Salemba 4 seluas 93.850 M 2 dan jalan Pegangsaan Timur seluas 7.703 M 2 keduanya di Jakarta. Pada tanggal 26 Desember 2000, UI ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Mandiri berstatus Badan Hukum Milik Negara (BUMN) atau Autonomus Public University . Dalam status hukum tersebut UI harus wajib mengedepankan kinerja pengelolaan sebuah universitas publlik dengan prinsip-prinsip efisien, efektivitas, akuntabilitas dan transparansi.

Hutan kota kampus UI berbatasan langsung dengan pusat kegiatan/aktivitas yang terletak di kota Depok. Wilayah kampus UI beserta hutan kotanya sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Jagakarsa, Kelurahan Srengseng Sawah Jakarta Selatan, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Beiji Timur Kota Depok, sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Pondok Cina Kota Depok. Hutan Kota UI dapat ditempuh dengan jalan kaki maupun dengan kendaraan roda dua.

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan landai dengan kisaran 3-8 persen seluas (76,4 Ha) dan bergelombang ringan, dengan kemiringan lereng 8-25 persen (13,6 Ha), pada ketinggian tempat 74 meter dari permukaan laut. Dalam alokasi pembangunan hutan kota di kawasan ini terdiri dari dua kelompok, yaitu [a] pembangunan ekosistem perairan seluas 10,4 Ha dan [b] pembangunan hutan kota seluas 79,6 Ha. Keadaan topografi di kampus UI-Depok berdasarkan peta topografi tanah Kota Depok berupa hamparan landai dengan kisaran 3-8 persen (76,4 Ha) yang pada awalnya didominasi oleh penggunaan tanah sawah, hutan karet dan perkampungan. Pada saat sekarang sebagian lahan dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas akademik, selain itu memiliki lahan bergelombang ringan dengan kemiringan lereng 8-25 persen (13,6 Ha) yang terdapat disepanjang bibir lembah kampus UI pada ketinggian tempat 74 meter dari permukaan laut.

Habitat kawasan hutan kota ini terdiri dari dua bentuk ekosistem [a] ekosistem perairan yang merupakan wahana tandon perairan (situ), dan [b] kawasan hutan kota yang direncanakan sebagai wahan koleksi pelestarian plasma nutfah, yang diupayakan dalam bentuk tiga ekosistem yaitu [a] pepohonan yang berasal dari Wales Barat, [b] pepohonan yang berasal dari Wales Timur dan [c] vegetasi asli Jakarta dan sekitarnya. Komponen pembangunan Mahkota Hijau hutan kota Kampus UI yang merupakan wujud hutan kota , dari rencana 184 jenis yang akan dibudidaya, dan baru terealisasi sebanyak 41 jenis.

Adapun satwa yang ada di kawasan kampus UI-Depok beserta hutan kotanya terdiri dari Burung, Tikus, Ikan, Katak dan beberapa satwa liar seperti Ular, Kadal, Bunglon serta jenis Serangga. Untuk jenis burung terdiri 56 jenis burung. Burung-burung itu dalam tujuh habitat yang berbeda, yaitu danau, empang, sawah, alang-alang, tegalan, kebun, karet dan hutan penghijauan.

Diantaranya yang banyak dijumpai adalah Bondol jawa (lonmchura linchi), Bondol dada sisik (lonchura ponctulata), burung Cabe (dicaeum trochileum), serta Walet sapi (collocalia linchi). Untuk jenis Tikus besar di kampus UI ada 5 (lima) yaitu rattus tiomanicus, rattus diardi, rattus norvegius, rattus exulans, bandicota indica. Jenis rayap subteran yang banyak adalah macrotelmes gilvus. Sedangkan untuk jenis Molusca air tawar ditemukan Gondang (pila scutata), Bellamya javanica, Remis (corbicula javanica), Kijing (pilsbryconcha exilis), Keong mas (pomacea sp).

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan resapan air, kawasan lindung pelestarian plasma nutfah, juga dimanfaatkan sebagai wahana biodiversitas (keanekaragaman hayati), bagi mahasiswa biologi, farmasi, geografi, kimia dan fakultas sastra, serta sebagai kawasan rekreasi baik bagi masyarakat kampus maupun masyarakat sekitarnya. Disisi lain kawasan ini juga dipergunakan sebagai penyuluhan mahasiswa tentang arti penting lingkungan tata hijau diwilayah perkotaan, pramuka maupun pecinta alam.

Fasilitas yang ada di sekitar kawasan hutan kota kampus UI di Depok terdiri dari fasilitas pendidikan dengan terdapatnya Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fisip, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas MIPA, Fakultas Politeknik, Fakultas Psikologi, Fakultas Sastra, Fakultas Teknik, Pusat Antar Universitas, Pusat Studi Jepang, Perpustakaan Pusat maupun fakultas masing-masing, serta laboratorium tanaman obat dan rumah kaca. Fasilitas peribadatan berupa mesjid UI. Fasilitas olah raga berupa lapangan bola kaki, lapangan hocky, lapangan basket, lapangan bulu tangkis, lapangan tenis, lapangan parkir, lapangan volly, serta adanya fasilitas pendukung berupa guest house, Pusgiwa, rumah makan, halte. Sedangkan dalam hutan kota UI terdapat shelter-shelter peristirahatan, plang peringatan, plang hutan kota , menara pengamatan dan beberapa tempat sampah. Fasilitas-fasilitas ini merupakan satu kesatuan dari rancangan yang tidak bisa dipisahkan karena di dalam pengembangannya seluruh potensi ini akan saling mendukung.

3). Hutan Kota Waduk Sunter

Kawasan hutan kota waduk Sunter Utara, dilingkungan komplek perumahan Sunter yang dikelola oleh Badan Pengelola Sunter, ditetapkan oleh Wali Kota Jakarta tahun 1988 dan diperbarui dengan SK Gubernur Nomor 317/1999, yang merupakan bagian ruang terbuka hijau penyangga permukiman.

Luas kawasan hutan kota berdasarkan penetapannya 8,20 Ha, yang secara geografis terletak pada 6 O 51'23” LS dan 106 O 54'39” BT. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk dalam wilayah kota Jakarta Utara, Kecamatan Tanjung Priok dan Kelurahan Papanggo.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat ditempuh melalui jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono (Cililitan-Tanjung Priok), menuju kearah perumahan Sunter melalui jalan raya menuju ke PRJ. Selain itu bisa juga ditempuh melalui kawasan Ancol menuju Kemayoran lalu langsung ke arah Waduk Sunter.

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan dataran rendah, situasi tapak yang telah direkayasa (galian/timbunan), dengan ketinggian tempat ± 2,4 meter dari permukaan laut. Kawasan hutan ini dibangun pada bagian menyusur kawasan danau, yang merupakan satu kesatuan ekosistem.

Kawasan hutan kota ini, terbentuk dalam satu kesatuan areal yang kompak di sekitar situ-situ yang luasnya 40,0 Ha. Jenis pepohonan yang dibudidayakan, pada hakekatnya merupakan jenis terpilih yang fungsi jasa biologisnya dapat diandalkan untuk melerai berbagai jenis pencemaran udara. Dalam rencana pengembangannya kawasan ini akan diupayakan dengan berbagai macam jenis, namun hingga kini baru terbudidaya tanaman Mahoni (sweitania mahagoni), Ketapang (terminalia catapa), Trembesi (samanea saman), Angsana (pterocarpus indicus), Flamboyan (delonix regia), Bungur (lager stromea speciosa), Kiara payung (filicium deficien), Glondongan (plyanthia sp), Tanjung (mimomosops elengi), Bambu apus (bambusa sp), Kelapa (coco nucifera), Kaya (kaya anthoteca), Melina (gmelina arborea), dan beberapa jenis lainnya. Nilai kerapatan pohon pada lokasi ini pada berbagai plot sangat berbeda-beda dan didapatkan rata-rata 1500 – 2445 Ind/Ha.

Satwa liar yang sering dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprit (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp), dan Kutilang (pycnonotus surigaster). Sedangkan jenis-jenis satwa liar yang ada antara lain, Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp), dan beberapa jenis serangga meliputi Kupu Kuning, Belalang, Kalajengking dan beberapa jenis lainnya.

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan penyangga lingkungan permukiman, pengendali intrusi laut, sangtuari satwa, koleksi pelestarian plasma nutfah, dan wahana rekreasi/wisata.

Fasilitas-fasilitas yang terdapat di hutan kota waduk Sunter belum banyak karena masih dalam tahap proses perlindungan habitat dan penanganan sampah.

 

4). Hutan Kota Kemayoran

Hutan kota eks Bandara Kemayoran, penetapan lokasinya didasarkan atas Surat Mensekneg Nomor R/34M/Sekneg/16/1987, yang merupakan bagian ruang terbuka hijau lingkungan komplek Pekan Raya Jakarta (PRJ). Status hukumnya diperbarui oleh SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 339/2002. Lokasi ini merupakan suatu areal konservasi yang sengaja dibuat dan direncanakan dalam kota baru Bandar Kemayoran yang didalamnya terdapat waduk buatan yang mengatur keluar masuknya air. Fungsi dari waduk ini salah satunya untuk mengontrol banjir dengan pengendalian yang dibantu oleh rumah pompa.

Luas kawasan hutan kota ini berdasarkan penetapannya 4,60 Ha walaupun luas secara keseluruhan 52,5 Ha yang secara geografis terletak pada 6 O 10'07” LS dan 106 O 38'32” BT. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk dalam wilayah kota Jakarta Pusat, Kecamatan dan Kelurahan Kemayoran.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat ditempuh melalui jalan Tol Cawang-Tanjung Priok, jalan Raya Cempaka Putih, dan atau melalui jalan Raya Gunung Sahari.

Kawasan ini mempunyai topografi yang relatif datar dengan kemiringan lahan sekitar 1 persen dan berada pada ketinggian 2,0-3,0 meter dpl. Lokasi terletak berdekatan dengan laut walaupun tidak berbatasan langsung dengan laut.

Kawasan hutan kota Kemayoran pada hakekatnya sangat dipengaruhi oleh intrusi air laut, terutama pada musim kemarau. Dalam hutan itu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan jenis-jenis spesifik, yang merupakan koleksi dari berbagai jenis tumbuhan yang dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan, khususnya dalam upaya mengendalikan lingkungan fisik kritis di wilayah perkotaan dan penyangga fungsi tata air tanah (hidroologis), yang antara lain meliputi Flamboyan (delonix regia), Trembesi (samanea saman) dan beberapa jenis lainnya.

Kerapatan pohon secara plot sangat berbeda sekali, pada beberapa lokasi kerapatan bisa mencapai nilai 10.000 Ind/Ha sedangkan di plot lainnya ada yang hanya 500 Ind/Ha. Hal ini tidak berarti negatif tetapi karena adanya penghijauan dan rehabilitasi tanaman yang menggunakan jarak tanam 1x1 m.

Satwa liar yang sering dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprit (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp), dan Kutilang (Pycnonotus surigaster). Sedangkan jenis-jenis satwa yang ada antara lain, Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp), dan beberapa jenis serangga meliputi Kupu kuning, Belalang, Kalajengking dan beberapa jenis lainnya.

Kawasan hutan ini selain berfungsi untuk tujuan konservasi lingkungan sehingga yang dikembangkan tidak hanya keindahan tetapi juga berfungsi untuk mengontrol lingkungan, menciptakan iklim mikro yang nyaman bagi manusia dengan mempengaruhi radiasi matahari, temperatur udara, pergerakan angin dll. Selain itu juga sebagai kawasan penyangga lingkungan fisik kritis perkotaan dan kawasan pencegah intrusi air laut, wahana koleksi keanekaragaman jenis dan plasma nutfah, dan santuari satwa, serta sebagai kawasan rekreasi.

Fasilitas yang terdapat di hutan kota kemayoran adalah sebagai berikut :

•  Pintu air yang melancarkan perputaran air.

•  Gerbang hutan kota dan pagar yang berfungsi sebagai pengaman.

•  Beberapa jembatan yang menghubungkan lokasi-lokasi di dalam hutan kota.

•  Menara pengamat yang berada di tengah berfungsi sebagai pengamanan.

5). Hutan Kota Komplek Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta Timur

Hutan kota Komplek Lanud Halim Perdanakusumah merupakan bagian dari ruang terbuka hijau Angkatan Udara RI, yang ditetapkan berdasarkan SK Komando Lanud Nomor Shep/14/X/1988 tanggal 21 Oktober 1988 dan diperbarui dengan SK Gubernur Nomor 338/2002. Kawasan ini pada hakekatnya telah ditetapkan sebagai wahana penyangga lingkungan kedirgantaraan dan sebagai wahana koleksi pelestarian plasma nutfah dari berbagai macam jenis pepohonan, yang sekaligus bergabung dengan lapangan golf Halim.

Hutan kota Lanud Halim, yang pada awalnya direkomendasikan seluas 300 Ha kemudian tinggal 70 Ha, karena keperluan lahan untuk keperluan komplek. Ketetapan berikutnya hanya 3,5 Ha karena ada konservasi untuk kepentingan lain. Secara geografis kawasan terletak pada 6 O 47'11” LS dan 106 O 47'10” BT dan berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, termasuk dalam wilayah Kota Jakarta Timur, Kecamatan Makasar, Kelurahan Halim Perdanakusumah. Wujud hutan kota ini tertata berbeda dengan kawasan hijauan di sekitarnya, yang merupakan hamparan padang Golf. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya memanfaatkan fungsi jasa biologis tetumbuhan dalam meredam kebisingan suara kapal terbang, sebagai peredam bagi bangunan yang berjarak kurang dari 700 meter dari pusat perkantoran Lanud Halim.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat memanfaatkan akses jalan Raya Pondok Gede-Bekasi dan atau dari jalan Raya Bogor (Cililitan) menuju kearah komplek Lanud Halim.

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan dataran hingga bergelombang ringan, dengan kisaran kemiringan lereng 3-9 persen, kawasan ini dilintasi oleh anak cabang sungai Cipinang, dengan ketinggian tempat berkisar 35 meter dari permukaan laut. Pada lokasi yang merupakan dataran rendah, sering terjadi penggenangan air limpasan sesaat.

Kawasan hutan kota Lanud Halim, mewujudkan habitat tetumbuhan yang berbeda dengan hamparan tetumbuhan lainnya. Hal ini terlihat jelas apabila dibandingkan dengan hamparan tata hijau pada kawasan lapangan golf. Jenis tetumbuhan di kawasan hutan kota ini, merupakan koleksi dari berbagai jenis tetumbuhan yang dinilai fungsi jasa biologis dapat meredam kebisingan. Dalam kawasan hutan kota ini semak belukar merupakan ciri khas, ditambah dengan hasil budidaya pembangunan hutan kota yang meliputi jenis Kirai payung (Fillcium defisien), Angsana (pterocarpus indicus), Saga (andenanthera sp), Kayu manis (vitis vinisera), dan beberapa jenis Jambu-jambuan (Eugenis sp), sedangkan pada lokasi yang terbuka dibudidayakan dengan jenis Mangium (Acacia mangium), Sengon (paraserianthes falcataria) dan Melina (gmelina arborea). Kerapatan pohon Ind/Ha pada lokasi hutan kota Halim Perdana Kusumah secara rata-rata hanya didapatkan 1430 Ind/Ha. Hal ini disebabkan banyaknya lokasi-lokasi yang sama sekali belum ditanami dan hanya berupa semak belukar dan alang-alang. Jadi hanya sebagian kecil saja dari seluruh kawasan hutan kota yang mempunyai vegetasi terutama pada lokasi sekitar waduk.

Satwa liar yang jarang adalah jenis burung, hal ini nampaknya akibat pengaruh kebisingan pesawat terbang. Sedangkan jenis-jenis satwa liar yang ada antara lain Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp), dan beberapa jenis serangga yang meliputi Kupu kuning, Belalang, dan jenis lainnya.

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan penyangga lingkungan fisik kritis perkotaan dari gangguan kebisingan, juga merupakan wahan koleksi keanekaragaman jenis dan plasma nuftah, serta segaia kawasan rekreasi dan olah raga. Karena letaknya di tengah kota dan komplek perumahan maka tanaman yang di tanam adalah vegetasi yang mampu menyerap polusi dan penghasil O 2 yang banyak.

Fasilitas-fasilitas yang ada di hutan kota ini sangat minim sekali hanya ada plang dan fasilitas sederhana.

6). Hutan Kota Komplek Kopassus Cijantung

Hutan kota komplek Kopasus Cijantung, dikenal dengan nama “Hutan Kalimantan ”. Dasar penetapan kawasannya atas surat persetujuan dari pengelola Komplek Kopasus Cijantung tahun 1989, yang merupakan bagian tata ruang terbuka hijau penyangga lingkungan kehidupan dan wilayah resapan air tanah (hidrologis). Secara hukum diperbarui dengan melalui SK Gubernur Nomor 868/2004.

Luas kawasan hutan kota berdasarkan penetapannya 10,0 Ha, yang secara geografis terletak pada 6 O 11'11”LS dan 106 O 49'21” BT. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk dalam wilayah Kota Jakarta Timur, Kecamatan Pasar Rebo dan Kelurahan Cijantung.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat ditempuh melalui jalan Tol TB. Simatupang (Kampung Rambutan-Pondok Pinang), jalan Raya Bogor.

 

Konfigurasi lapang kawasan ini merupakan hamparan dataran hingga gelombang ringan, dengan ketinggian tempat ± 67 meter dari permukaan laut. Kawasan hutan ini dibangun menyusuri kawasan komplek Kopasus, dan merupakan satu kesatuan hutan dengan ketebalan rata-rata 30-40 meter.

Kawasan hutan kota ini, terbentuk dalam satu kesatuan areal yang kompak di sekitar situ-situ yang luasnya 0,5 Ha. Jenis pepohonan yang dibudidayakan, pada hakekatnya merupakan jenis terpilih yang fungsi jasa biologisnya dapat diandalkan untuk melerai berbagai jenis pencemaran udara. Dalam rencana pengembangannya kawasan ini akan diupayakan dengan berbagai macam jenis, namun hingga kini baru tanaman Mahoni (sweitania mahagoni), Ketapang (terminalia catapa), Trembesi (samanea saman), Angsana (pterocarpus indicus), Flamboyan (delonix regia), Bungur (lager stromea speciosa), Kirai payung (Filicium defisien), Glondongan (plyanthia sp), Tanjung (mimomosops elengi) dan jenis Asam landi (pitelobrium sp) dan beberapa jenis lainnya.

Satwa liar yang sering dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprie (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp), dan Kutilang (pycnonotus surigaster). Sedangkan jenis-jenis satwa liar lain yang ada antara lain, Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp), dan beberapa jenis serangga meliputi Kupu kuning, Belalang, Kalajengking dan berbagai jenis lainnya.

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan penyangga lingkungan fisik kritis perkotaan, sangtuari satwa, koleksi pelestarian plasma nutfah, juga berfungsi sebagai kawasan rekreasi dan wisata.

Fasilitas yang ada di hutan kota ini belum ada diprioritas secara umum karena letaknya sepanjang komplek perumahan sehingga hanya diperlukan untuk pemeliharaan dan jalur hijau.

7). Hutan Kota PT. JIEP Pulo Gadung Jakarta Timur

Hutan kota di lingkungan kawasan industri Pulo Gadung, yang dikelola oleh PT. JIEP pada hakekatnya ditetapkan berdasarkan surat persetujuan pengelolanya tahun 1988, yang merupakan bagian ruang terbuka hijau penyangga kawasan industri, dan wilayah resapan air (hidrologi). Secara hukum diperbarui melalui SK Gubernur Nomor 870/2004.

Luas kawasan hutan kota berdasarkan penetapannya 8,9 Ha, secara geografis terletak pada 6 O 51'23” LS dan 106 O 49'32” BT. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk wilayah kota Jakarta Timur, Kecamatan Cakung dan Kelurahan Rawa Terate.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat ditempuh melalui Tol Ir. Wiyoto (Cililitan-Tanjung Priok), menuju kawasan industri melalui jalan Pemuda, atau ditempuh melalui jalan raya Bekasi lama.

Konfigurasi lapang kawasan ini merupakan hamparan dataran rendah hingga situasi tapak yang telah di rekayasa (galian/timbunan), dengan ketinggian tempat ± 7,4 meter dari permukaan laut. Kawasan hutan ini dibangun pada bagian tengah kawasan industri, yang merupakan satu kesatuan ekosistem daratan dengan situ-situ.

Kawasan hutan kota ini, terbentuk dalam satu kesatuan areal yang kompak, dengan berbagai macam jenis pepohonan yang merupakan koleksi dari beberapa jenis pohon sebagai wahana sangtuari satwa. Kondisi hutannya mencerminkan bentuk hutan yang beranekaragam, dengan terlihat beberapa tajuk yang terbentuk, baik pada lapisan tajuk dominan, tertekan dan tumbuhan bawah. Jenis yang dikembangkan merupakan jenis tetumbuhan yang dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan kenyamanan serta merupakan kawasan resapan air untuk kepentingan tata air tanah (hidroorologis), yang antara lain meliputi Flamboyan (delonix regia), Trembesi (samanea saman), Saga (adenatera sp), Lamtoro Gung (leucaenaglauca), Damar (agathis sp), Keciat (spatodae sp), Ketapang (terminalia catapa) dan beberapa jenis lainnya.

Kerapatan pohon ini merupakan salah satu yang tinggi yaitu mencapai 5.600 Ind/Ha dan cukup rapat dan potensi yang bagus karena letaknya di depan sehingga sangat mudah di monitoring ketika ada kerusakan. Pada hutan ini juga strata yang terjadi ada 4 strata dari mulai tumbuhan bawah sampai strata 4 yang merupakan jenis-jenis tanaman hutan.

Satwa liar yang dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprit (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp), dan Kutilang (pycnonotus surigaster) dan beberapa jenis burung lainnya. Sedangkan jenis satwa liar yang ada antara lain, Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp), dan beberapa jenis serangga meliputi Kupu kuning, Belalang, Kalajengking dan jenis lainnya.

Pada kawasan ini terdapat situ yang mampu menampung air kurang lebih 235 juta M 3 dengan kedalaman rata-rata 4,5 meter. Karena lokasinya di daerah industri warna airnya keruh dan kehitam-hitaman dan dasar situ berlumpur organik 0,65 M. kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan penyangga lingkungan fisik kritis kawasan industri, sangtuari satwa, koleksi pelestarian plasma nutfah, wahana rekreasi dan wisata. Fungsi utama hutan kota ini sebagai penampung air limpasan dari wilayah sekitarnya dan penetralisir limbah.

Fasilitas yang ada sampai saat ini berupa :

•  Plang tanda merupakan kawasan hutan kota.

•  Pagar pengaman untuk hutan kota.

•  Pintu air untuk mengalirkan air dari situ ke sungai.

8). Hutan Kota Komplek Mabes ABRI Cilangkap

Hutan kota komplek Mabes ABRI Cilangkap, penunjukan lokasi didasarkan atas persetujuan Asisten Logistik Mabes ABRI Surat Nomor B/2.2/4-07/154/S log, tanggal 19 Oktober 1988, yang merupakan bagian ruang terbuka hijau lingkungan komplek yang telah diupayakan sebelumnya. Keputusan ini diperbarui kembali sesuai dengan SK Gubernur Nomor 871/2004.

Luas kawasan hutan kota ini semula direkomendasikan 60 Ha, dan kini tinggal 14,43 Ha. Secara geografis kawasan ini terletak pada 6 O 13'00” LS dan 106 O 37'37” BT, berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk dalam wilayah Jakarta Timur, Kecamatan Pasar Rebo, Kelurahan Cilangkap dan terletak 3-4 km, disebelah tenggara komplek Taman Mini Indonesia Indah. Wujud hutan kota ini tertata berbeda dengan kawasan hijauan disekitarnya dan dicirikan dengan kumpulan beberapa jenis pepohonan yang beranekaragam, dengan jarak tanam yang relatif rapat 3x3 meter.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat memanfaatkan tembusan ke akses jalan raya Cilangkap, baik dari arah Taman Mini Indonesia Indah maupun dari jalan raya Bogor.

Konfigurasi lapang kawasan ini merupakan hamparan dataran, dengan ketinggian tempat ± meter dari permukaan laut dan kisaran kemiringan lereng 0-2 persen. Kawasan hutan ini dibangun mengapit ekosistem tandon air (situ buatan) didalam komplek Mabes ABRI Cilangkap.

Kawasan hutan kota Mabes ABRI Cilangkap merupakan penggabungan dua ekosistem yaitu perairan (situ) dan pepohonan, yang menunjukkan spesifik penataannya. Vegetasi yang dibudidaya merupakan koleksi dari berbagai jenis tetumbuhan yang dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan, khususnya dalam upaya mengendalikan lingkungan fisik kritis di wilayah perkotaan dan penyangga fungsi tata air tanah (hidroorologis), yang antara lain meliputi jenis Mahoni (swietinia mahagoni), Jambu mete (ancardium ocidentale), Sengon (paraserianthes falcataria), Kaliandara (cailiandra callothyrus), Pinus (pinus mercusii), Flamboyan (delonix regia), Mangium (acacia mangium), Eboni (diospyros celebica), Leda (eucalyptus sp), Galinggem (bixa orellana) dan beberapa jenis lainnya. Kerapatan pohon dan stratifikasi hutan kota ini termasuk yang paling tinggi yaitu rata-rata kerapatan dari berbagai stratifikasi bisa mencapai 5.000-6.000 Ind/Ha dengan stratifikasi 5 layer.

Yang sering dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprit (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp), dan Kutilang (pycnonotus surigaster). Sedangkan jenis-jenis satwa liar yang ada antara lain Kadal (mabuia sp).

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan penyangga lingkungan fisik perkotaan dan kawasan resapan air, juga merupakan wahana koleksi keanekaragaman jenis dan plasma nutfah, dan sangtuari satwa, serta sebagai kawasan rekreasi dan olah raga bagi masyarakat khusus komplek Mabes ABRI Cilangkap.

Fasilitas yang ada di lokasi hutan kota komplek Mabes ABRI Cilangkap yaitu berupa : pagar pengaman sebagai pengamanan lokasi dan saluran air sebagai konservasi air hutan kota.

9). Hutan Kota Bumi Perkemahan Cibubur

Hutan kota Cibubur dikenal dengan nama “Arboretum Cibubur”, penetapan lokasinya didasarkan atas Surat Departemen Kehutanan Nomor 2570/89, tanggal 25 September 1989 dengan pembaruan dari SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 872/2004, yang merupakan bagian ruang terbuka hijau lingkungan komplek Bumi Perkemahan Cibubur. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan banyaknya jenis vegetasi yang terdapat di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur untuk seluruh plot contoh dijumpai sebanyak 57 jenis vegetasi dengan komposisi 47 jenis tumbuhan, 2 jenis bambu dan 8 jenis tumbuhan bawah yang terdiri dari jenis tanaman hias, semak dan alang-alang. Jenis yang mendominasi lokasi ini adalah Akasia (Acasia Auricoformis) yang terdapat diseluruh plot penelitian.

Luas kawasan hutan kota ini berdasarkan penetapannya 27,32 Ha, yang secara geografis terletak pada 6 O 20'01” LS dan 106 O 70'31” BT. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk dalam wilayah kota Jakarta Timur, Kecamatan Cipayung dan Kelurahan Cibubur.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat ditempuh melalui jalan tol Jakarta-Bogor, jalan Raya Bogor dan atau melalui jalan Raya Cileungsi-Cibubur.

Konfigurasi lapang kawasan ini merupakan hamparan dataran hingga bergelombang ringan, dengan ketinggian tempat ± 43 meter dari permukaan laut. Kawasan hutan kota ini dibangun menyusur kawasan Bumi Perkemahan Cibubur dalam satu kesatuan ekosistem dengan ketebalan rata-rata 30-40 meter.

Kawasan hutan kota Cibubur dalam satu kesatuan arela yang kompak, dengan berbagai macam jenis pepohonan yang merupakan koleksi dari beberapa jenis sebagai pusat pelestarian plasma nutfah ( arboretum ). Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan banyaknya jenis vegetasi yang banyaknya yang terdapat di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur untuk seluruh plot contoh dijumpai sebanyak 57 jenis vegetasi dengan komposisi 47 jenis tumbuhan, 2 jenis bambu dan 8 jenis tumbuhan bawah yang terdiri dari jenis tanaman hias, semak dan alang-alang. Jenis yang mendominasi lokasi ini adalah Akasia (Acasia Auricoformis) yang terdapat diseluruh plot penelitian. Kondisi hutannya mencerminkan bentuk hutan yang asli, dengan terlihat beberapa lapisan tajuk yang berbentuk, baik pada lapisan tajuk teratas, dibawahnya dan tumbuhan bawah. Jenis yang dikembangkan merupakan koleksi dari berbagai jenis tetumbuhan yang dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan kenyamanan serta merupakan kawasan resapan air untuk kepentingan tata air tanah (hidroorologis), yang antara lain meliputi Flamboyan (delonix regia), Trembesi (samanea saman), Saga (adenatera sp), Asam landi (pitolebrium sp), Lamtoro gung (leucaena gluaca), dan beberapa jenis lainnya, Kaliandra (calliandra calothyrus), Eboni (diospyros celebica), Gelinggem (bixa orellana), Jati (tectona grandis), Sungkai (peronema canescens), Damar (agathis sp), Jamuju (pondocarpus imbricarpus), Klepu (sterculia foetida) dan beberapa jenis lainnya. Satwa liar yang sering dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprit (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp) dan Kutilang (pycnonotus surigaster). Sedangkan jenis-jenis satwa liar yang ada antara lain Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp) dan beberapa jenis serangga yang meliputi Kupu kuning, Belalang, Kalajengking dan beberapa jenis lainnya.

Pada lokasi bumi perkemahan dan graha wisata Cibubur ini terdapat semua lapisan strata yaitu strata I, strata II, strata III, strata IV dan strata V. Jenis-jenis vegetasi pada setiap strata yang ada di tiap plot Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur. Pada strata IV tersebut dari jenis vegetasi yang lebih banyak dibandingkan pada strata lainnya. Vegetasi pada strata IV tersebut terdiri dari jenis vegetasi yang menghasilkan bunga, buah maupun yang dapat mendatangkan serangga sebagai pakan burung.

Satwa liar yang sering dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprit (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp) dan Kutilang (pycnonotus surigaster). Sedangkan jenis-jenis satwa liar yang ada antara lain Kadal (mabuia sp).

Kawasan ini selain berfungsi sebagai kawasan penyangga lingkungan fisik kritis perkotaan dan kawasan koleksi pelestarian plasma nutfah, juga berfungsi sebagai kawasan rekreasi dan wisata, serta sangtuari satwa.

Fasilitas yang ada di kawasan hutan kota Bumi Perkemahan Cibubur merupakan hutan kota yang diperuntukan sebagai lokasi perkemahan jadi fasilitas yang ada diperuntukan untuk kepentingan bumi perkemahan yaitu :

•  Lokasi-lokasi perkemahan.

•  Kamar mandi dan wc yang tersebar di setiap lokasi.

•  Plang hutan kota.

•  Penyiapan tempat-tempat air.

•  Lokasi-lokasi halte untuk beristirahat.

10). Hutan Kota Situ Rawa Dongkal

Hutan kota situ Rawa Dongkal, kawasannya ditetapkan atas persetujuan Departemen Pekerjaan Umum (Dirjen Pengairan). SK-nya diperbarui melalui SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 207/2005 tanggal 3 Pebruari 2005. Pembangunan hutan kota ini dinilai strategis karena posisi yang berada di wilayah resapan air.

Luas kawasan hutan kota berdasarkan penetapannya 10,0 Ha, yang secara geografis terletak pada 6 O 23'6” LS dan 106 O 45'11” BT. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk dalam wilayah kota Jakarta Selatan, Kecamatan Jagakarsa. Untuk mencapai kawasan ini, dapat ditempuh melalui jalan Raya Ciganjur Jakarta Selatan.

Konfigurasi lapang kawasan ini merupakan dataran hamparan landai dan merupakan cekungan alami, sebagai tadon limpasan air sekitarnya. Ketinggian tempat ± 72,0 meter dari permukaan laut. Kawasan hutan kota ini dibangun menyusuri kawasan danau, yang merupakan satu kesatuan ekosistem.

Kawasan hutan kota ini, terbentuk dalam satu kesatuan areal yang kompak diantara pepohonan dengan situ-situ. Jenis ini untuk melerai berbagai jenis pencemaran udara dan berfungsi sebagai resapan air. Dalam rencana pengembangannya kawasan ini akan diupayakan dengan berbagai macam jenis, namun hingga kini baru Mahoni (sweitania mahagoni), Ketapang (terminalia catapa), Trembesi (samanea saman), Angsana (pterocarpus indicus), Flamboyan (delonix regia), Bungur (lager stromea speciosa), Kirai payung (filicium deficien), Glondogan (plyanthia sp), Tanjung (mimomosops elengi), Bambu apus (bambusa sp), Kaya (kaya anthoteca), dan beberapa jenis lainnya. Nilai kerapatan yang ada cukup tinggi dengan nilai pada plot yang dilakukan 5.400 Ind/Ha.

Satwa liar yang sering dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprit (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp), dan Kutilang (pycnonotus surigaster). Lainnya adalan Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp) dan beberapa jenis serangga meliputi Kupu-kuning, Belalang, Kalajengking dan beberapa jenis lainnya.

Kawasan hutan kota ini selain berfungsi sebagai kawasan resapan air, penyangga lingkungan permukiman, sangtuari satwa, koleksi pelestarian plasma nutfah, dan wahana rekreasi/wisata.

Fasilitas yang ada di hutan kota ini berupa pagar pengaman dan plang peringatan dan belum ada fasilitas tambahan ke arah pengembangan.

11). Hutan Kota PT. Jakarta Propertindo/Banjir Kanal Barat Jakarta Utara

Kawasan hutan ini terletak di tepian Bajir Kanal Barat diatas tanah milik PT. Jakarta Propertindo ditetapkan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 197/2005, yang difungsikan sebagai wilayah konservasi terutama terhadap intrusi air laut dan pengamanan bantaran sungai. Hutan kota ini dibangun sejak tahun 2003 yang sebelumnya telah ditanami sayur-sayuran oleh masyarakat sekitar sehingga tetap menggunakan tumpangsari.

Hutan kota PT. Jakarta Propertindo atau Banjir Kanal Barat pada hakekatnya merupakan tipe hutan hijau sekitar bantaran sungai yang sangat dipengaruhi oleh kondisi sungai. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan kawasan ini termasuk wilayah kota Jakarta Utara, Kecamatan Penjaringan.

Kawasan ini terletak pada akses jalan Pluit, yang dapat dicapai melalui jalan Bandara Soekarno Hatta. Sisi utara dan selatan hutan tersebut berbatasan langsung dengan jalan raya dan sungai muara, dan bagian lainnya dibatasi dengan kawasan permukiman terutama dari kelompok sosial menengah dan penduduk asli kawasan tersebut.

 

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan dataran dengan kemiringan dengan sungai. Tapak memiliki topografi yang tidak bervariasi karena terletak pada bantaran sungai. Jenis yang lebih banyak tumbuh diareal datar dan landai. Areal yang cekung jika dialiri air drainasenya kurang baik karena berbentuk memutar dan membentuk rawa.

Habitat kawasan hutan kota ini, terdiri dari tiga bentuk ekosistem perairan, pembangunan tata hijau dan bentuk konfigurasi lapangan yang relatif beragam. Komponen pembangunan tata hijau yang merupakan wujud hutan kota. Jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan kota Srengseng sebanyak 65 jenis pohon.

Kondisi hutannya mencerminkan bentuk hutan yang telah kembali hijau dari kondisi yang sebelumnya merupakan tanaman sayur-sayuran yang ditanam masyarakat karena sistem yang digunakan adalah sistem tumpang sari dengan terlihat beberapa lapisan tajuk yang terbentuk, baik pada lapisan tajuk teratas, dibawahnya dan tumbuhan bawah.

Pada lokasi hutan kota PT. Jakarta Propertindo ini terdapat tiga layer stratifikasi yaitu strata I, strata II dan strata III. Vegetasi pada strata III tersebut terdiri jenis vegetasi yang berupa pohon dengan kerapatan 4.000 Ind/Ha.

Satwa liar yang dijumpai pada lokasi hutan kota, meliputi jenis burung air Raja udang (halyon chloris), Emprit (longchura sp) dan beberapa jenis Kadal (mabuia sp), Biawak (varanus salvatore), ular tanah, ular air, Tikus (raffus sp) dan Katak.

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan pelindung bantaran sungai dari abrasi oleh sungai, juga dimanfaatkan sebagai kawasan rekreasi dan penyerapan konservasi air.

Fasilitas yang terdapat di hutan kota PT. Jakarta Propertindo/Banjir Kanal Barat adalah : Pengaman sungai sebagai bantaran dan Pagar pengaman untuk lokasi hutan kota.

12). Hutan Kota Kawasan Berikat Nusantara Marunda, Jakarta Utara

Kawasan hutan kota KBN Marunda ditetapkan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 196/2005 tanggal 1 Pebruari 2005, yang difungsikan sebagai wilayah Ruang Terbuka Hijau di daerah industri.

Hutan kota KBN Marunda pada hakekatnya merupakan tipe hutan hijau untuk konservasi seluas 1,59 Ha. Berdasarkan wilayah administrasinya kawasan ini termasuk wilayah kota Jakarta Utara, Kecamatan Rorotan yang merupakan perbatasan dengan wilayah Bekasi.

Kawasan ini terletak pada akses jalan Marunda Raya, yang dapat dicapai melalui jalan tol Tanjung Priok, sisi utara dan selatan hutan tersebut berbatasan langsung dengan jalan raya dan kawasan industri Marunda.

 

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan dataran dan tapak memiliki topografi yang tidak bervariasi yaitu dengan area datar karena merupakan pengurukan/reklamasi pembangunan kawasan. Pohon yang tumbuh di area merupakan hasil penghijauan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi DKI Jakarta dan pengelolan KBN Marunda. Jenis-jenisnya adalah MPTS seperti Mangga, Akasia, Ketapang, Flamboyan dan Jati.

Habitat kawasan hutan kota ini merupakan kawasan pembangunan tata hijau dan bentuk konfigurasi lapangan relatif beragam. Komponen pembangunan tata hijau yang merupakan wujud hutan kota. Jenis-jenis pohon yang tumbuh relatif masih sedikit karena mulai dihijaukan.

Tidak ada jenis yang mendominasi lokasi ini karena memang diperuntukkan untuk beragam tanaman yang terdapat di hutan kota ini. Kondisi hutannya mencerminkan bentuk tanaman yang telah kembali hijau dari kondisi yang sebelumnya kosong dengan terlihat hanya satu strata dengan kerapatan 2.500 Ind/Ha. Jenis yang dikembangkan merupakan koleksi dari berbagai jenis tumbuhan yang dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan kenyamanan serta merupakan kawasan resapan air untuk tata air tanah (hidrorologis).

Satwa liar yang dijumpai pada lokasi hutan KBN Marunda, meliputi jenis-jenis burung Gereja, burung Kutilang, burung Cinenen dan kadang-kadang karena dekat dengan laut dan hutan mangrove pada kawasan pantai terdapat burung air Raja udang (halyon chloris), Emprit (longchura sp) dan beberapa jenis Kadal (mabuai sp), Biawak (varanus salvatore), Tikus (raffus sp) dan Katak. Beberapa jenis serangga yang ditemukan Kupu kuning, Belalang dan Gangsir.

Kawasan hutan kota ini berfungsi sebagai ruang terbuka hijau berfungsi sebagai kawasan lindung untuk flora dan fauna, juga dimanfaatkan sebagai kawasan rekreasi.

Fasilitas yang terdapat di hutan kota KBN Marunda belum ada karena masih standar luasan tanaman yang dikelola oleh pengelola kawasan KBN.

13). Hutan Kota Masjid Istiqlal Jakarta Pusat

Kawasan hutan Srengseng ditetapkan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 202 Tahun 1995 dan diperbarui DK Gubernur Nomor 198/2005 tanggal 1 Pebruari 2005 yang difungsikan sebagai ruang terbuka hijau dan daerah resapan air serta plasma nutfah.

Hutan kota Masjid Istiqlal lebih cocok sebagai taman kota dimana pohon yang mendominasi adalah jenis-jenis tanaman untuk taman. Pada hakekatnya merupakan tipe hutan konservasi resapan air, seluas 1,08 Ha. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan kawasan ini termasuk wilayah kota Jakarta Pusat terletak di pusat kota yang di kelilingi gedung perkantoran, stasiun kereta api dan sungai Ciliwung.

Kawasan ini terletak pada akses jalan raya yang dapat dicapai melalui jalan-jalan utama di Jakarta yaitu di sekitar Gambir dan stasiun Juanda. Sisi utara dan selatan hutan tersebut berbatasan langsung dengan jalan raya dan sungai Ciliwung, dan bagian lainnya dibatasi dengan kawasan lapangan Banteng dan komplek Gambir.

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan dataran dengan plot-plot kecil karena merupakan taman dari masjid terbesar di Indonesia. Tapak memiliki topografi yang bervariasi yaitu dengan area datar dan landai. Pohon-pohon yang tumbuh di area diantaranya jenis Akasia, Ketapang, Flamboyan dan Jati. Jenis yang lebih banyak tumbuh di areal datar dan landai. Drainase berbentuk memutar di dalam kawasan hutan kota ke kali Ciliwung dan ada kolam di samping masjid yang berguna sebagai resapan air.

Habitat kawasan hutan kota ini, bentuk konfigurasi lapangan yang relatif beragam. Komponen pembangunan tata hijau yang merupakan wujud hutan kota. Jenis pohon yang tumbuh di hutan kota Masjid Istiqlal lengkap.

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan hijau dari masjid, juga dimanfaatkan sebagai kawasan rekreasi spiritual, kawasan ruang terbuka hijau yang diwajibkan untuk ruang-ruang penting di Jakarta dan sekitarnya.

Fasilitas yang terdapat di hutan kota masjid sudah sangat lengkap dibandingkan dengan hutan kota lainnya diantaranya adalah :

•  Plang dan lampu-lampu taman rekreasi.

•  Tempat parkir yang cukup luas, memadai dan pagar pengaman.

•  Fasilitas penyiraman yang sudah lengkap dan otomatis.

•  Tempat sampah yang sudah lengkap dan teratur.

14). Hutan Kota Blok P Jakarta Selatan

Kawasan hutan Srengseng ditetapkan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 864/2004, yang difungsikan sebagai wilayah resapan air dan plasma nutfah.

Hutan kota Srengseng pada hakekatnya merupakan tipe hutan konservasi resapan air, seluas 1,64 Ha. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan kawasan ini masuk wilayah Jakarta Selatan, terletak di jalan Prapanca Blok P dan bersebelahan dengan Balaikota Jakarta Selatan.

Kawasan ini terletak pada akses jalan Prapanca, dapat dicapai melalui jalan Kemang sebelah pertokoan Blok M. Sisi utara dan selatan hutan tersebut berbatasan langsung dengan jalan raya akses, dan bagian timur berbatasan dengan balaikota Jakarta selatan sedang batas lainnya dengan kawasan permukiman terutama dari kelompok sosial menengah keatas.

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan bergelombang dengan kemiringan lereng (0,8 Ha), landai dengan kemiringan lereng (0,4 Ha) dan sisanya merupakan hamparan waduk (0,5 Ha). Tapak memiliki topografi yang bervariasi yaitu dengan area datar, landai, agak curam dan curam. Pohon yang tumbuh diarea yang cekung diantaranya jenis Akasia, Ketapang, Flamboyan, Jati dan banyak sekali jenis buah-buahan.

Habitat kawasan hutan kota ini, sangat beragam dan membentuk pembangunan tata hijau dan bentuk konfigurasi lapangan yang relatif beragam komponen pembangunan tata hijau yang merupakan wujud hutan kota. Jenis pohon yang tumbuh di hutan kota blok P merupakan pengkayaan berbagai jenis tanaman buah-buahan yang rata-rata penanaman tahun 2003 sehingga mempunyai tinggi sekitar 4-8 meter.

Jenis yang mendominasi lokasi ini jenis buah-buahan yang merupakan hasil penanaman serempak oleh pejabat-pejabat hutan kota yang terdapat plot. Kondisi hutannya mencerminkan bentuk hutan yang telah kembali hijau dari kondisi yang sebelumnya dengan terlihat beberapa lapisan tajuk yang terbentuk, baik pada lapisan tajuk teratas, dibawahnya dan tumbuhan bawah. Jenis yang dikembangkan merupakan koleksi dari berbagai jenis tumbuhan yang dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan kenyamanan serta merupakan kawasan resapan air untuk kepentingan tata air tanah (hidrorologis).

Pada lokasi hutan kota Blok P ini terdapat tiga layer stratifikasi yaitu strata II, strata III dan strata IV. Pada strata III tersebut dari jenis vegetasi yang lebih banyak dibandingkan dengan strata lainnya. Vegetasi pada strata IV tersebut terdiri jenis vegetasi yang berupa pohon yang menghasilkan bunga. Tingkat kerapatan pohon mencapai 4.500 Ind/Ha.

Satwa liar yang dijumpai pada lokasi hutan kota Blok P, meliputi jenis burung Kutilang, Gereja, burung Dara, burung Merpati, Rusa totol, burung Enggang. Sedangkan beberapa jenis serangga yang ditemukan meliputi Kupu kuning, Belalang, Gangsir dan Orong-orong.

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan lindung baik flora dan fauna, juga dimanfaatkan sebagai kawasan rekreasi, wahana penelitian plasma nutfah dan pelatihan bagi petugas pengelola hutan kota diseluruh DKI Jakarta dan sekitarnya.

Fasilitas yang terdapat di hutan kota Blok P sudah sangat lengkap dibandingkan dengan hutan kota lainnya diantaranya adalah :

•  Penangkaran rusa.

•  Penangkaran burung.

•  Monumen dan Taman Ade Irma Suryani.

•  Lampu taman.

•  Halte taman.

•  Pintu air.

Dari kaitan tersebut untuk mempertahankan penggunaan lahan dan menambah luas hutan kota, program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2009 adalah :

1. Penggunaan lahan harus efisien mengingat lahan sangat terbatas bila dibandingkan dengan kebutuhan untuk menampung pertumbuhan dan perkembangan aktivitas sosial. Persentase penggunaan lahan yang tertinggi adalah perumahan sebesar 37,30 persen, industri 5,40 persen, jalan dan saluran sebesar 14,57 persen. Lahan yang diperuntukan bagi Ruang Terbuka Hijau (RTH) baru mencapai 15.883,42 Ha (24,44 persen), dan dilihat dari penyebarannya di wilayah Kotamadya Jakarta Utara persentase RTH paling tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya dan Jakarta Selatan merupakan daerah resapan RTH relatif rendah.

2. Rencana Pengembangan dan Program Pembangunan Hutan Kota

Lokasi yang telah ditetapkan dan telah dibuat detail perencanaannya yaitu hutan Kota UI Depok, Hutan Kota Kemayoran, Hutan Kota Arboretum Cibubur, Hutan Kota Mabes ABRI Cilangkap, Hutan Kota Situ Rawa Dongkal, Hutan Kota Pluit, Hutan Kota PT. JIEP Pulogadung, Hutan Kota Halim Perdanakusumah, serta Hutan Kota Srengseng.

3. Melakukan program pembangunan hutan kota antara lain :

1). Program Jangka Pendek

Program jangka pendek meliputi kegiatan-kegiatan antara lain :

•  Inventarisasi lokasi yang memungkinkan untuk pembangunan hutan kota.

•  Pembebasan lahan secara bertahap.

•  Penyuluhan.

•  Pembangunan unit percontohan bekerjasama dengan instansi/para pengelola lahan.

•  Menyusun pedoman dan petunjuk teknis.

2). Program Jangka Menengah

Setelah program jangka pendek dilaksanakan perlu segera dilanjuti dengan program jangka menengah, hal-hal yang perlu dilaksanakan pada program ini adalah :

Pembinaan Masyarakat

Pembinaan masyarakat khususnya masyarakat sekitar lokasi yang akan dibangun hutan kota , juga termasuk para pengusaha real estate dan masyarakat yang perlu diberikan pengertian tentang manfaat hutan kota baik secara langsung maupun tidak langsung agar dapat dinikmati oleh masyarakat. Pengertian tersebut disampaikan melalui kegiatan penyuluhan oleh instansi terkait. Dari pembinaan tersebut dapat diharapkan tumbuh kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan hutan kota .

Untuk menggalakkan peran serta masyarakat dalam kegiatan tersebut perlu disertai dengan penyuluhan, kampanye dan gerakan penghijauan di wilayah kota dalam rangka membangun hutan kota.

Selain instansi terkait yang dapat melakukan pembinaan terhadap masyarakat juga diajak lembaga swadaya masyarakat dalam penyelenggaraan hutan kota yang dapat memberikan motivasi positif mendorong ke arah meningkatnya kesadaran akan pentingnya hutan kota.

Pembangunan Hutan Kota

Penyiapan rencana pembangunan hutan kota untuk mencapai sasaran program pembangunan hutan kota sebagai upaya pokok program jangka menengah dalam pembangunan hutan kota diambil langkah-langkah sebagai berikut :

Pembinaan Hutan Kota

Dalam rangka menjaga kelestarian hutan kota yang sudah ada perlu adanya pembinaan terhadap pemeliharaan dan pengamanannya.

Pembinaan yang dilakukan dalam suatu ekosistem yang utuh antara alam dan makhluk hidup yang menjadi penghuninya, baik ditinjau dari aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial politik.

a). Pemeliharaan hutan kota dalam rangka penanggulangan dan pengendalian terhadap hama dan penyakit, peremajaan, pemangkasan, penyulaman dan lain-lain. Pemeliharaan dilakukan pada saat awal pelaksanaan, setelah penanaman dan setelah bibit tumbuh di lapang.

b). Pembinaan ditujukan khususnya terhadap hasil-hasil yang dicapai dalam pembangunan hutan kota . Kegiatan yang perlu dilakukan dalam pembinaan antara lain:

•  Penataan kembali pembangunan areal ruang terbuka hijau dan menetapkan lokasi yang memungkinkan untuk pembangunan hutan kota .

•  Penentuan areal konservasi wilayah perkotaan dalam bentuk hutan kota sesuai dengan luas yang telah diperlukan.

•  Melaksanakan inventarisasi terhadap :

•  Areal hutan kota yang telah ada.

•  Areal yang mengalami pencemaran diatas ambang batas ditentukan dalam wilayah hutan kota .

•  Wilayah kota yang potensial untuk mengembangkan hutan kota .

•  Menetapkan areal hutan kota pada setiap kawasan real estate.

•  Melaksanakan intensifikasi hutan kota yang telah ada agar dapat berfungsi secara optimal dalam memulihkan kondisi lingkungan.

•  Melaksanakan pembinaan dan pembangunan pada areal hutan kota yang sudah ada sebagai habitat flora dan fauna.

•  Melakukan pengkayaan tanaman terhadap hutan kota yang masih kurang vegetasi berupa pohon sehingga dapat berfungsi sebagai pengendali lingkungan.

c). Melaksanakan Studi

Penelitian studi dan penelitian terhadap berbagai aspek dalam pembangunan hutan kota perlu dilaksanakan sebagai upaya pengembangan hutan kota serta meningkatkan kualitas yang akan dicapai.

d). Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan

Untuk menunjang pelaksanaan pembangunan hutan kota perlu diselenggarakan pendidikan dan latihan bagi para petugas maupun penyuluh untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam pengelolaan hutan kota .

3). Program Jangka Panjang

Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan hutan kota adalah :

•  Tumbuh dan berkembangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat melestarikan hasil pembangunan hutan kota.

•  Terciptanya atau terbentuknya hutan kota pada setiap wilayah permukiman atau kawasan di wilayah kota yang merupakan kantong-kantong pengendali lingkungan pencemaran udara dan kantong resapan air.

•  Terkendalinya pencemaran dan polusi udara hingga emisi gas kendaraan bermotor dan industri agar dapat ditangkal oleh hutan kota.

•  Terciptanya Jakarta yang bersih, nyaman, dan sejuk, hingga warga Jakarta tetap sehat dan terhindar dari penyakit stres akibat kesibukan sehari-hari.

Selain hal tersebut, dalam menambah perluasan hutan kota dan untuk mengurangi polusi udara, pemerintah daerah telah melakukan pembebasan tanah pemerintah DKI Jakarta yang saat ini banyak terlantar untuk dijadikan lahan terbuka hijau, dan pembebasan jalur hijau yang menjadi tempat SPBU, untuk wilayah Jakarta Pusat 11 (sebelas) lokasi dengan luas lahan sebesar 1.560 m 2 , wilayah Jakarta Utara sebanyak 4 (empat) lokasi dengan luas lahan sebesar 6.475 M 2 , wilayah Jakarta Selatan sebanyak 10 (sepuluh) lokasi dengan luas lahan sebesar 17.804 M 2 dan Jakarta Timur sebanyak 3 (tiga) lokasi dengan luas lahan sebesar 4.123 M 2 langkah ini dilakukan untuk mengejar target perluasan RTH yang kini baru 9-10 persen dari luas Ibukota Jakarta yaitu sebesar 650 Km 2 , dimana target pada tahun 2010 adalah sekitar 14 persen.

B. Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati menurut UU Nomor 5 Tahun 1994 adalah keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber termasuk di dalamnya daratan, lautan dan ekosistem akuatik. Keanakeragaman hayati merupakan anugerah terbesar bagi umat manusia karena dapat memberikan sumber kehidupan, penghidupan dan kelangsungan hidup manusia. Keanekaragaman yang tinggi akan dapat menghasilkan kestabilan lingkungan yang mantap.

1. Keanekaragaman Ekosistem

Di lingkungan manapun di muka bumi ini, maka akan ditemukan makhluk hidup. Semua makhluk hidup berinteraksi atau berhubungan erat dengan lingkungan tempat hidupnya. Lingkungan hidup meliputi komponen biotik dan komponen abiotik . Komponen biotik meliputi berbagai jenis makhluk hidup mulai yang bersel satu (uni seluler) sampai makhluk hidup bersel banyak (multi seluler) yang dapat dilihat langsung oleh kita. Komponen abiotik meliputi iklim, cahaya, batuan, air, tanah, dan kelembaban, ini semua disebut faktor fisik. Selain faktor fisik, ada faktor kimia, seperti salinitas (kadar garam), tingkat keasaman, dan kandungan mineral.

Di dalam ekosistem, seluruh makhluk hidup yang terdapat di dalamnya selalu melakukan hubungan timbal balik, baik antar makhluk hidup maupun makhluk hidup dengan lingkungannya atau komponen abiotiknya. Hubungan timbal balik ini menimbulkan keserasian hidup di dalam suatu ekosistem. Perbedaan letak geografis antara lain merupakan faktor yang menimbulkan berbagai bentuk ekosistem. Keanekaragaman jenis flora dan fauna yang menempati suatu daerah akan membentuk ekosistem yang berbeda. Totalitas variasi gen, jenis dan ekosistem menunjukkan terdapat perbagai variasi bentuk, penampakan, frekuensi, ukuran dan sifat lainnya pada tingkat yang berbeda merupakan keanekaragaman hayati.

Salah satu komunitas ekosistem yang ada di DKI Jakarta dan bermanfaat dalam menjaga kelangsungan hidup manusia adalah adanya komunitas mangrove yang merupakan ekosistem hutan yang khas dan unik yang berpotensi sebagai perlindungan terhadap wilayah pesisir dan pantai dari ancaman sedimentasi, abrasi dan intrusi air laut. Erosi di pantai Marunda yang tidak bermangrove selama 2 bulan mencapai 2 M, sedangkan yang bermangrove hanya 1 M. Selain itu hutan mangrove dapat dimanfaatkan pula sebagai wahana rekreasi alam hutan wisata payau.

Menurut Rusminarto et al (1984) dalam pengamatannya pada areal hutan mangrove di Tanjung Karawang mengatakan bahwa dengan dibukanya kawasan mangrove menjadi pertambakan, maka perkembangan nyamuk Anopheles sp yang merupakan vektor penyakit malaria jumlahnya akan semakin tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa pembukaan pertambakan pada areal hutan mangrove akan meningkatkan bahaya penyebaran penyakit malaria.

Tekanan berat terhadap kawasan mangrove di DKI Jakarta akibat perambahan dan alih fungsi kawasan menjadi permukiman, pembangungan fasilitas rekreasi dan pemanfaatan lahan pasang surut untuk budidaya tambak mengakibatkan penurunan luas hutan mangrove. Untuk mengatasi tekanan berat tersebut pada tahun 2009 ini, Pemerintah DKI Jakarta melakukan penanaman 2.000 pohon mangrove di kawasan Restorasi Ekologis Hutan Lindung Angke, Kapuk, Jakarta Utara. Sampai akhir tahun 2009 ini luas hutan mangrove di DKI Jakarta tercatat 270,51 Ha, 169,6 Ha diantaranya berada di pantai Jakarta, meliputi kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk 44,76 Ha, Suaka Margasatwa Angke Kapuk 25,02 Ha dan Hutan Wisata Kamal Muara 99,82 Ha.

Semakin menurunnya kawasan mangrove di wilayah DKI Jakarta harus dicermati sebagai langkah awal untuk menyelamatkan dan melestarikan kawasan mangrove atas dasar pulih kembalinya ekosistem semirip mungkin dengan kondisi sebelum mengalami kerusakan. Hal ini diharapkan dapat berfungsi sebagai pengendalian terhadap ancaman degradasi kawasan mangrove sebagai jalur penyangga wilayah pantai guna meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya.

2. Keanekaragaman Spesies

Mangrove juga memiliki fungsi ekologis sebagai habitat berbagai jenis satwa liar. Keanekaragaman fauna di hutan mangrove cukup tinggi, secara garis besar dapat dibagi dua kelompok, yaitu fauna akuatik seperti ikan, udang, kerang, dan lainnya serta kelompok terestrial seperti insekta, reptilia, amphibia, mamalia, dan burung (Nirarita et al., 1996). Di Pulau Jawa tercatat 167 jenis burung dijumpai di hutan mangrove, baik yang menetap maupun migran (Nirarita et al., 1996). Kalong (Pteropus vampyrus), Monyet (Macaca fascicularis), Lutung (Presbytis cristatus), Bekantan (Nasalis larvatus), kucing Bakau (Felis viverrina), Luwak (Paradoxurus hermaphroditus), dan Garangan (Herpetes javanicus) juga menyukai hutan mangrove sebagai habitatnya (Nontji, 1987) . Beberapa jenis reptilia yang hidup di hutan bakau antara lain Biawak (Varanus salvator), ular Belang (Boiga dendrophila), ular Sanca (Phyton reticulatus), dan jenis-jenis ular air seperti Cerbera rhynchops, Archrochordus granulatus, Homalopsis buccata, dan Fordonia leucobalia . Dua jenis katak yang dapat ditemukan di hutan mangrove adalah Rana cancrivora dan R. limnocharis (Nirarita et al., 1996). Hutan mangrove juga sebagai habitat beberapa jenis burung yang dilindungi seperti Pecuk ular (Anhinga anhinga melanogaster), Bintayung (Freagata andrew-si), Kuntul perak kecil (Egretta garzetta), Kowak merah (Nycticorax caledonicus), Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), Ibis hitam (Plegadis falcinellus), Bangau hitam (Ciconia episcopus), burung Duit (Vanellus indicus), Trinil tutul (Tringa guitifer), Blekek Asia (Limnodromus semipalmatus), Gegajahan Besar (Numenius arquata), dan Trulek lidi (Himantopus himantopus) (Sutedja dan Indrabrata, 1992). Jenis-jenis burung Egretta eulophotes , Kuntul perak (E. intermedia), Kuntul putih besar (E. alba), Bluwok (Ibis cinereus), dan Cangak laut (Ardea sumatrana) juga mencari makan di dekat hutan mangrove (Whitten et al., 1988). Keanekaragaman hayati baik flora dan fauna di DKI Jakarta secara umum tidak berbeda jauh dengan keadaan flora dan fauna lainnya di pulau Jawa. Hal ini karena adanya kesatuan geografis meskipun saat ini sudah banyak mengalami pengurangan akibat tingginya pembangunan di DKI Jakarta .

Jenis tumbuhan yang terdapat di DKI Jakarta cukup bervariasi mulai dari jenis tumbuhan pantai sampai dengan jenis tumbuhan dataran/pegunungan dan palawija. Akan tetapi sampai dengan tahun 2009 ini belum dapat diketahui jumlah seluruh jenis tumbuhan yang ada di DKI Jakarta, hanya jenis tumbuhan pantai khususnya yang ada di kepulauan Seribu yang sudah terdeteksi yaitu ada sekitar 86 jenis. Untuk jenis tumbuhan pantai umumnya didominasi oleh jenis pohon Kelapa, Cemara laut, Ketapang, Rutun, Mengkudu dan Pandan laut. Disamping itu di beberapa pulau di Kepulauan Seribu banyak ditemukan Sukun. Dari gambaran tersebut diatas bahwa keanekaragaman hayati baik flora dan fauna banyak terdapat di wilayah tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sbb :

1). Kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut

Pulau Rambut saat ini statusnya menjadi suaka margasatwa berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 275/Kpts/-II/1999. Luas suaka margasatwa P. Rambut sekitar 90 Ha, terdiri dari 45 Ha kawasan perairan dan 45 Ha kawasan daratan. Satwa liar yang dilindungi di P. Rambut adalah dari jenis burung dengan populasi sekitar 40.000 ekor. Delapan belas jenis burung dari 49 yang dijumpai di dalam kawasan suaka margasatwa P. Rambut termasuk dalam kategori dilindungi, diantaranya Elang bondol (Halieeaetus indus), burung Pecuk ular (Anhnga anhinga), Roko-roko (Plegadis falcneleus), Bluwok (ibis cinereus), Pelatuk besi (Thereskiornis aethiopica), Kuntul (Egretta sp), dan Raja udang biru kecil (Halcyon chloris). Jenis-jenis burung lain yang banyak dijumpai antara lain burung Camar (Larus sp), Cangak (Ardea sp), Trigil (Tringa sp) dan Gajahan (Numenius schopus). Beberapa jenis burung bernyanyi yang masih sering terlihat antara lain Kepodang (Oriolus sp), Jalak suren (Sturnus contrajala), Kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan Prejak. Satwa liar lain adalah jenis primata. Selain itu, P. Rambut memiliki vegetasi tipe khas relatif utuh, yaitu hutan pantai, hutan mangrove dan hutan sekunder campuran.

2). Kawasan Cagar Alam Pulau Bokor

Cagar alam P. Bokor ditetapkan dengan Surat Keputusan Gouvernor General Hindia Belanda Nomor 6 tahun 1931 (Stbl. Nomor 683). P. Bokor secara spesifik ditetapkan sebagai cagar alam untuk perlindungan botanis. Beberapa jenis burung yang dijumpai dalam kawasan ini adalah Dara laut (Ducula bicolor) , Burung angin (Fregata ariel) dan kepodang (Oriolus chinensis) . Selain itu juga dijumpai Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang merupakan jenis introduksi. Di pulau ini didominasi burung air dan dara laut. Sedang vegetasi yang dilindungi adalah vegetasi mangrove dari jenis Rhizopora mucronata dan S. alba.


 

3). Kawasan Cagar Alam Pulau Peteloran Barat

Cagar alam P. Peteloran Barat memiliki luas 11,3 Ha dan merupakan wilayah dalam Zona Inti II. Cagar alam P. Peteloran Barat merupakan kawasan untuk perlindungan ekosistem mangrove dan Penyu sisik (Eretmochelys imbricata). P. Peteloran Barat merupakan salah satu lokasi tempat bertelur penyu sisik di Kepulauan Seribu, yakni di lokasi pasir bercampur karang yang merupakan daerah perairan yang tenang. Di kawasan ini ditemukan 3 (tiga) jenis vegetasi mangrove, yakni jenis Rhizopora mucronata, C. tagal dan Avicennia marina .

4). Kawasan Cagar Alam Pulau Penjaliran Barat

Cagar alam P. Penjaliran Barat termasuk dalam wilayah Zona Inti II yang berfungsi sebagai kawasan perlindungan ekosistem mangrove. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 220/Kpts-II/2000 menetapkan kembali wilayah kawasan hutan dan perairan di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, termasuk penetapan kawasan pelestarian alam yang meliputi P. Penjaliran Barat dan P. Penjaliran Timur. Luas P. Penjaliran Barat adalah 8,3 Ha. Di kawasan ini ditemukan 4 (empat) jenis vegetasi mangrove, yaitu jenis Rhizopora stylosa, C. tagal, S. alba dan Avicennia marina , dimana kondisinya mengalami penurunan akibat abrasi.

5). Kawasan Cagar Alam Pulau Penjaliran Timur

Cagar alam P. Penjaliran Timur juga menjadi bagian Zona Inti II. Luas P. Penjaliran Timur adalah 6,8 Ha. Di kawasan ini ditemukan 4 (empat) jenis vegetasi mangrove, yaitu jenis Rhizopora stylosa, C. tagal, S. alba dan Avicennia marina, kondisinya juga mengalami penurunan akibat abrasi.

Selain hal tersebut diatas sejak tahun 1939 pesisir Teluk Jakarta bagian Barat telah ditetapkan sebagai kawasan lindung berupa cagar alam dan hutan lindung seluas 15,05 Ha. Dalam perkembangannya, status tersebut berubah menjadi kawasan lindung Tegal Alur Angke Kapuk sesuai dengan ketetapan SK Menteri Pentanian Nomor 161/UM/1977 seluas 335,5 Ha dan dengan SK Kehutanan Nomor 667/Kpts-II/1995 berubah kembali menjadi 327,7 Ha. Area yang ditetapkan terakhir ini terdiri dari cagar alam Muara Angke 25,02 Ha; hutan lindung Angke 44,76 Ha; hutan wisata alam 99,82 Ha; hutan dengan tujuan khusus yaitu kebun pembibitan 10,51 Ha, transmisi PLN 23,07 Ha, Cengkareng Drain 28,93 Ha, serta jalan tol dan jalur hijau 95,50 Ha. Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 755/Kpts-II/UM/1998, tahun 1998, cagar alam Muara Angke ditetapkan sebagai suaka margasatwa Muara Angke dengan luas 25,02 Ha. Kawasan lindung tersebut merupakan kawasan hutan sesuai dengan sifat alamnya yang merupakan sistem penyangga kehidupan, seperti pengaturan tata air, pencegahan bencana banjir, pengendalian erosi, pencegahan intrusi air laut serta pemeliharaan kesuburan tanah. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 220/Kpts-II/2000 mengatur kawasan lindung di wilayah Provinsi DKI Jakarta seluas 108.475,45 Ha, yang terdiri dari Taman Nasional Kepulauan Seribu seluas 108.039,50 Ha; taman wisata alam Angke Kapuk seluas 99,82 Ha; cagar alam P. Bokor seluas 18 Ha; suaka margasatwa P. Rambut seluas 90 Ha; suaka margasatwa Muara Angke seluas 25 Ha; hutan lindung Angke Kapuk seluas 44,76 Ha; dan hutan produksi Angke Kapuk seluas 158,35 Ha.

6). Suaka Margasawa Muara Angke

Berbatasan dengan tanggul kawasan Pantai Indah Kapuk ke arah suaka margasatwa sebagian besar digenangi air, sehingga tumbuhan di kawasan ini merupakan vegetasi rawa yang langsung terkena pengaruh pasang surut air laut. pohon Pidada atau Bidara (Sonneratia alba) merupakan jenis yang sering dijumpai selain Api-api (Avicenia marina), Jangkar (Bruguiera sp), Api-api (Rhizopora sp), Waru laut (Thespesia populnea), Buta-buta (Ezcoecaria agallocha), Nipah (Nypa fruticans) dan Ketapang (Terminalia catapa).

Suaka margasatwa Muara Angke ditetapkan sebagai kawasan hutan mangrove yang seharusnya didominasi oleh pohon, namun kondisinya saat ini merupakan lahan rawa terbuka yang didominasi oleh herba seperti Warakas (Acrostichum aureum) dan Seruni (Wedelia biflora). Salah satu keunikan ekosistem khas mangrove di kawasan Muara Angke adalah adanya tumbuhan rotan (Calamus sp) yang spesifik. Keberadaan pohon relatif sporadis. Pada lahan rawa terbuka tumbuh vegetasi bukan spesifik penghuni hutan mangrove seperti Gelagah (Saccharum spontaneum), Putri malu (Mimosa pudica), Talas lompong (Colocasia sp), dan Kangkung (Ipomoea sp). Tumbuhan di atas merupakan tumbuhan yang hidup pada kondisi bukan payau. Pada tabel dibawah dapat dilihat jenis vegetasi di Kawasan Hutan Lindung dan Fauna yang Dilindungi di Muara Angke :

 

Tabel : I.4. Jenis vegetasi di kawasan lindung muara angke, angke kapuk dan kamal, Tahun 2009

 

Suaka margasatwa Muara Angke dihuni oleh burung dengan jenis yang sama dengan penghuni suaka margasatwa P. Rambut, oleh karena sebagian besar burung tersebut mencari makan di pesisir Teluk Jakarta. Macaca fascicularis yang dikenal sebagai Monyet Ancol juga menghuni kawasan ini, yang diperkirakan jumlahnya tinggal 40 ekor. Fauna liar lainnya yang dijumpai adalah kelompok reptilia, seperti Biawak (Varanus salvator), Kadal (Mabula multifasciata), ular Hijau (Dryophis prasinus) dan ular Cincin (Boiga dendrophila) .

Untuk mempertahankan kondisi suaka margasatwa Muara Angke sebagai ekosistem mangrove, telah diusahakan penanaman Bakau (Rhizopora mucronata) dan Api-api (Avicenia sp) yang telah berlangsung sejak bulan Agustus 1999 melalui kerjasama antara Lembaga Pengkajian Mangrove, Yayasan Kehati, Kanwil Kehutanan DKI Jakarta dan Dinas Kehutanan DKI Jakarta.

7). Hutan Lindung Angke Kapuk

Kawasan hutan lindung Angke Kapuk letaknya memanjang sejajar pantai sepanjang ± 5 Km dengan lebar 100 meter dari garis pasang surut yang terbentang mulai dari batasan hutan wisata Kamal ke arah timur hingga suaka margasatwa Muara Angke. Dibandingkan tahun sebelumnya, tidak terdapat perubahan yang berarti sampai tahun 2009. Di dalamnya terdapat areal permukiman Pantai Indah Kapuk dengan batas sebelah Selatan adalah jalan tol Prof. Sedyatmo dan jalan Kapuk Muara. Keberadaan flora ditampilkan oleh flora khas pesisir, bakau atau mangrove, hingga keberadaannya menjadi spesifik jika dibandingkan dengan kawasan permukiman.

Tabel : I.5. Fauna yang dilindungi di suaka margasatwa muara angke, Tahun 2009

 

Jenis vegetasi yang tumbuh di hutan lindung relatif terbatas, sedang tumbuhan bawah jarang terlihat oleh karena di pengaruhi pasang-surut. Tumbuhan bawah hanya terdapat pada area yang cenderung lebih ke darat. Ketebalan hutan lindung sekitar 40 meter. Vegetasi yang tumbuh di kawasan lindung relatif homogen, didominasi Api-api (Avicennia sp), sedangkan Bakau (Rhizoposa sp) hanya tumbuh di beberapa area yang sempit sehingga tumbuhan tersebut tampak sporadis. Jenis vegetasi yang ada pada tingkat pohon adalah Avicennia marina, A. officinalis, A. alba, Delonix regia, Sonneratia caseolaris, Thespesia popoulne ; sedangkan Rhizopora mucronata dan Excoecaria agallocha pada tingkat tiang. Pada tingkat sapihan yang menonjol adalah Avicennia marina, A. officinalis, A. alba, Rhizopora mucronata, Acasia auliculiformis dan Delonix regia.

Beberapa bagian hutan lindung Angke Kapuk mengalami abrasi yang cukup kuat oleh gempuran ombak. Dalam upaya mempertahankan keberadaan hutan lindung, di beberapa bagian pantai di lakukan penanaman vegetasi bakau. Keberhasilan tumbuh vegetasi tersebut mengalami hambatan oleh gelombang laut yang cukup besar.

Fauna yang terdapat di hutan lindung Angke Kapuk antara lain didominasi oleh burung pantai yang berjenis sama dengan yang terdapat di suaka margasatwa P. Rambut, yaitu Pecuk ular (Anhinga melanogaster), Kowak maling (Nycticorax nycticorax), Kuntul putih (Egretta sp), Kuntul kerbau (Bubulcus ibis), Cangak abu (Ardea cinerea), Blekok (Ardeola speciosa), Belibis (Anas gibberrfrons), Cekakak (Halycon chloris), Pecuk (Phalacrocorax sp) dan Bluwak (Mycteria cineria) . Satwa lain selain jenis burung adalah Biawak (Varanus salvator), Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beberapa jenis ular.

8). Hutan Wisata Kamal

Sampai dengan tahun 2009 ini, hutan wisata Kamal merupakan kawasan dengan vegetasi mangrove paling luas, yaitu sekitar 110,00 Ha. Di dalam kawasan ini terdapat areal kebun bibit mangrove seluas 10,47 Ha. Jenis vegetasi yang dominan adalah Api-api (Avicennia spp) yang tumbuh mulai tingkat semai hingga tingkat pohon. Keadaan ini mengindikasikan bahwa kelanjutan pertumbuhan jenis tumbuhan tersebut relatif baik. Sedangkan jenis Bakau (Rhizopora sp) hanya tumbuh secara sporadis. Rhizopora sp yang termasuk dalam klasifikasi pohon banyak dijumpai di kawasan perbatasan dengan hutan lindung Angke Kapuk di sekitar pantai. Perannya terhadap keseluruhan area adalah sangat penting. Adanya vegetasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan fungsi lindung terhadap serangan abrasi, apalagi kawasan ini memiliki pasang laut cukup tinggi dan pengaruh angin musim cukup besar. Dengan akar tunjang yang dimiliki, maka jenis bakau merupakan tanaman yang diharapkan dapat bertahan terhadap pengaruh laut.

Tumbuhan lain yang dijumpai adalah jenis Akasia (Acasia auriculiformis), Kihujan (Samanea saman), Mahoni (Swietenia macrophyla), Flamboyan (Delonix regia), dan Kedondong (Spondias pinnata) . Jenis tersebut tumbuh di tepi areal tambak. Jenis tumbuhan bawah yang tumbuh antara lain Kitower (Derris heterophylla), Bluntas (Plucea sp), Nenasia (Breynia sp) dan beberapa jenis rumput yang biasa tumbuh pada ekosistem darat. Hutan wisata Kamal masih berfungsi sebagai habitat burung air sebagaimana diindikasikan oleh keberadaan vegetasi mangrove seperti Api-api (Avicennia sp) yang menyebar di seluruh hutan wisata. Peranan kawasan ini adalah sebagai tempat mencari makan bagi burung air, serta sebagai tempat beristirahat pada malam hari, tempat berlindung dari tiupan angin. Keberadaan empang bekas tambak maupun tambak yang masih diusahakan di sekitar kawasan wisata ini telah menjadi daya tarik bagi burung untuk tetap memanfaatkan hutan wisata sebagai habitatnya. Hal tersebut diindikasikan kehadiran burung Pecuk (Phalacrocorax sp), Kuntul (Egretta sp), Cangak (Ardea sp) yang terbang di hutan wisata Kamal.

Dari semua uraian diatas bahwa perambahan dan alih fungsi kawasan terutama untuk kepentingan tambak ikan berakibat terganggunya peranan fungsi komunitas dan kawasan mangrove karena terputusnya rantai makanan bagi biotik kehidupan, seperti burung, reptil dan lain sebagainya. Terdegradasinya kawasan mangrove akibat tumbuh kembangnya pusat kegiatan aktivitas manusia. Kegiatan-kegiatan yang dapat merusak ekositem mangrove antara lain: pengembangan permukiman, seperti kawasan Pantai Indah Kapuk, pembangunan fasilitas rekreasi Ancol dan pemanfaatan lahan pasang surut untuk kepentingan budidaya pertambakan.

 

Untuk mengurangi akibat perambahan dan alih fungsi, maka pemerintah DKI Jakarta melakukan upaya diantaranya tahun 2009 melakukan rehabilitasi Mangrove Suaka Margasatwa Muara Angke seluas 8 Ha dan menyiapkan jalur hijau jalan sepanjang bantaran seluas 2.094 Ha, selain yang dilakukan pihak swasta yang peduli terhadap keberadaan hutan mangrove di DKI Jakarta.

C. Air

Berdasarkan jenis sumber/cadangan, air dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu :

1. Air Curah Hujan, terdiri dari air hujan tampungan dan air limpasan.

2. Air Permukaan, terdiri dari mata air, air sungai, air danau/situ alamiah, air danau/situ buatan, bendungan/bendungan irigasi dan air rawa.

3. Air Tanah, terdiri dari air tanah bebas/air tanah dangkal, air tanah semi tertekan/semi artesis/air tanah dalam, dan air tanah tertekan/artesis/air tanah sangat dalam.

Sedangkan klasifikasi berdasarkan alokasi penggunaannya, dibedakan menjadi kebutuhan domestik, industri dan pertanian. Kebutuhan domestik dimaksud adalah kebutuhan untuk menunjang kelangsungan hidup manusia, antara lain kebutuhan untuk rumah tangga (masak/minum/cuci/mandi), perkantoran, pertokoan, rumah sakit, hotel dan pemadam kebakaran.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) JAYA sebagai salah satu perusahaan yang secara langsung bertanggung jawab terhadap penyediaan air bagi warga DKI Jakarta. Saat ini, selain PDAM JAYA ada beberapa perusahaan swasta yang juga memproduksi air meskipun jumlahnya belum terlalu besar. Perusahaan tersebut antara lain PT. Ciputra Development, PT. PENTA dan PT. Candrasa Pranaguna.

Air merupakan sumberdaya yang amat vital untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan akan air dirasakan semakin meningkat dan saat ini penyediaan air bersih bagi warga DKI Jakarta menghadapi berbagai kendala. Total produksi air saat ini diperkirakan baru mampu mensuplai sekitar 56,01 persen kebutuhan air bersih untuk warga DKI Jakarta. Dengan kata lain 43,99 persen kebutuhan air bersih untuk warga (domestik dan industri) diperoleh dari sumber lainnya (air tanah). Akibatnya masyarakat dan pengusaha mengandalkan penyediaan air dari sumber air tanah, baik berupa air tanah dangkal maupun air tanah dalam.

Permasalahan pokok yang dihadapi PDAM JAYA dalam penyediaan air bersih antara lain adalah tingkat kehilangan air yang masih tinggi (sekitar 50,23%), sumber air baku yang makin sulit diperoleh, pengoperasian dan pemeliharaan instalasi produksi belum optimal dan masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi memelihara sarana dan prasarana air minum. Namun demikian mengingat bahwa penyediaan air bersih yang cukup dan kontinyu bagi warga bersifat vital dan sangat mendesak, maka perlu upaya khusus untuk meningkatkan kapasitas produksi, mengoptimalkan kapasitas yang ada (mengurangi tingkat kehilangan) dan meningkatkan pelayanan. Melalui upaya-upaya ini diharapkan penggunaan air tanah secara bertahap dapat dikurangi.

Dari hasil penyusunan NSAD ini diperoleh informasi bahwa total penggunaan sumberdaya air untuk kebutuhan warga (domestik dan industri) pada tahun 2009 diperkirakan mencapai sekitar 776,16 juta m 3 , terdiri dari air permukaan 434,69 juta m 3 (56,01%) dan dari air tanah sebanyak 341,47 juta m 3 (39,99%). Dari jumlah tersebut sebanyak 699,62 juta m 3 (90,14%) digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik yang meliputi kebutuhan rumah tangga, industri, pertokoan/perkantoran, rumah sakit, hotel, dll, kebutuhan pertanian sekitar 16,40 juta m 3 (2,11%), kebutuhan industri sekitar 17,06 juta m 3 (2,20%). Jika dibandingkan dengan tahun 2008, konsumsi air mengalami penurunan sekitar 89,63 juta m 3 (10,35 %). Penurunan konsumsi air ini bukan karena pemakaian airnya yang berkurang, tetapi lebih karena semakin banyaknya penggunaan air minum kemasan atau air isi ulang.

Curah hujan yang lebih rendah juga mengakibatkan penurunan ketersediaan air yang berasal dari curah hujan. Pada tahun 2008, air curah hujan tampungan sebanyak 84,59 juta m 3 (9,77%) turun sebanyak 9,31 persen pada tahun 2009 menjadi 72,25 juta m 3, Sedangkan air permukaan turun sebesar sebesar 16,66 persen dari 434,89 juta m 3 menjadi 72,44 juta m 3 dan pemakaian air tanah hanya sedikit mengalami penurunan. Mahalnya air PAM merupakan alasan yang digunakan oleh warga kenapa mereka tetap mempertahankan pemakaian air tanah. Pengambilan air tanah yang terus menerus yang dapat mengakibatkan perusakan linkungan kurang mendapat perhatian dari mereka. Pemakaian air tanah pada tanah pada tahun 2009 mencapai 341,45 juta m 3 , turun sebesar 4,85 juta m 3 dibandingkan tahun sebelumnya.

Neraca sumberdaya air di DKI Jakarta (air permukaan dan air tanah), selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :


Tabel : I .6. Neraca Sumberdaya Air Air Permukaan Provinsi DKI Jakarta, 2009*)

 

Tabel : I.7. Neraca Sumberdaya Air Air Tanah Provinsi DKI Jakarta, 200 9

 

1. Air Tanah

Sebagian besar penduduk Provinsi DKI Jakarta sampai saat ini masih menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih maupun air minum, hal ini disebabkan masih terbatasnya penyediaan air bersih yang disediakan oleh PD. PAM Jaya, sehingga air tanah merupakan alternatif untuk memenuhi kebutuhan manusia disamping air sungai dan situ. Kualitas air tanah di Provinsi DKI Jakarta umumnya tergantung pada kedalaman ”aquifer” -nya, kedalaman 40 m, umumnya masih baik/memenuhi persyaratan air bersih yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di Provinsi DKI Jakarta menyebabkan letak sumur-sumurnya berdekatan dengan septic tank, sehingga umumnya sumur-sumur di Provinsi DKI Jakarta tercemar oleh rembesan dari septic tank penduduk yang kondisinya tidak memenuhi syarat. Banyaknya penduduk yang memanfaatkan air sumur dangkal yang tercemar, berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat akibat kontaminasi dan buruknya sanitasi.

Kondisi semacam ini tentunya tidak sejalan lagi dengan Undang-undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 ayat 3 yang menyebutkan bahwa air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat, harus memenuhi persyaratan kualitas maupun kuantitas, dimana persyaratan ini tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan ( PERMENKES ) Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Parameter kualitas air bersih yang ditetapkan dalam peraturan tersebut meliputi parameter fisik, kimiawi, mikrobiologi, dan radioaktif.

Untuk mengetahui kondisi air tanah di Provinsi DKI Jakarta , BPLHD Provinsi DKI Jakarta telah melaksanakan pemantauan sebanyak 2 kali pada Tahun 2009. Lokasi pemantauan air sumur/tanah dangkal ditentukan berdasarkan hal-hal sebagai berikut :

a. Terletak didaerah permukiman penduduk

b. Kondisi lingkungan

c. Dekat dengan sumber pencemaran

d. Keadaan topografi

Dari pertimbangan lokasi diatas, ditentukan jumlah sumur sebanyak 75 lokasi yang terdapat di lima wilayah DKI Jakarta, dengan 75 kelurahan yaitu :

•  Jakarta Selatan terdiri dari 17 Kelurahan

•  Jakarta Utara terdiri dari 15 Kelurahan

•  Jakarta Timur terdiri dari 17 Kelurahan

•  Jakarta Barat terdiri dari 15 Kelurahan

•  Jakarta Pusat terdiri 11 Kelurahan

Untuk masing-masing kelurahan diambil 1 (satu) sampel air sumur sehingga diperoleh contoh sumur sebanyak 75 sumur. Parameter yang dipantau yaitu parameter fisik, kimia, dan biologi yang disesuaikan dengan PERMENKES Republik Indonesia Nomor 416/MenKes/Per/IX/1990 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Dari pertimbangan lokasi diatas, ditentukan jumlah sumur sebanyak 75 lokasi yang terdapat di 5 wilayah DKI Jakarta, dengan 75 Kelurahan dimana masing-masing kelurahan diwakili oleh 1 sumur dangkal, yaitu :

a. Jakarta Pusat terdiri dari 11 Kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

101

Karet Tengah (Kecamatan Tanah Abang)

2

102

Cikini (Kecamatan Manteng)

3

103

Kwitang (Kecamatan Senen)

4

104

Mangga Dua Selatan (Kecamatan Sawah Besar)

5

105

Tanah Tinggi (Kecamatan Johar Baru)

6

106

Kebon Kelapa (Kecamatan Gambir)

7

107

Kemayoran (Kecamatan Kemayoran)

8

108

Cempaka Putih Barat (Kecamatan Cempaka Putih)

9

109

Kebon Kosong (Kecamatan Kemayoran)

10

110

Gelora (Kecamatan Tanah Abang)

11

111

Kramat (Kecamatan Senen)

b. Jakarta Selatan terdiri dari 17 Kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

201

Ciganjur (Kecamatan Jagakarsa)

2

202

Tanjung Barat (Kecamatan Jagakarsa)

3

203

Pela Mampang (Kecamatan Mampang Prapatan)

4

204

Pondok Labu (Kecamatan Cilandak)

5

205

Pondok Pinang (Kecamatan Kebayoran Lama)

6

206

Kebayoran Baru (Kecamatan Kebayoran Baru)

7

207

Kalibata (Kacamatan Pancoran)

8

208

Pejaten Barat (Kecamatan Pasar Minggu)

9

209

Pesanggrahan (Kecamatan Pesanggrahan)

10

210

Kebon Baru (Kecamatan Tebet)

11

211

Grogol Utara (Kecamatan Kebayoran Lama)

12

212

Setia Budi (Kecamatan Setia Budi)

13

213

Srengseng Sawah (Kecamatan Jagakarsa)

14

214

Gandaria Selatan (Kacamatan Cialndak)

15

215

Manggarai (Kecamatan Tebet)

16

216

Ragunan (Kecamatan Pasar Minggu)

17

217

Kebayoran Lama Utara (Kecamatan Kebayoran Lama)

c. Jakarta Barat terdiri dari 15 Kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

301

Duri Kosambi (Kacamatan Cengkareng)

2

302

Kalideres (Kecamatan Kalideres)

3

303

Palmerah (Kecamatan Palmerah)

4

304

Jelambar Baru (Kecamatan Grogol Petamburan)

5

305

Tangki (Kecamatan Taman Sari)

6

306

Kemanggisan (Kecamatan Palmerah)

7

307

Duri Kepa (Kecamatan Kebon Jeruk)

8

308

Sukabumi Selatan (Kecamatan Kebon Jeruk)

9

309

Meruya Utara (Kecamatan Kembangan)

10

310

Tegal Alur (Kecamatan Kalideres)

11

311

Rawa Buaya (Kecamatan Cengkareng)

12

312

Kembangan Selatan (Kecamatan Kembangan )

13

313

Tambora (Kecamatan Tambora)

14

314

Kebon Jeruk (Kecamatan Kobon Jeruk)

15

315

Kapuk (Kecamatan Cengkareng)

d. Jakarta Timur terdiri dari 17 kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

401

Halim Perdana Kusumah (Kecamatan Makasar)

2

402

Cakung Barat (Kecamatan Cakung)

3

403

Pondok Kelapa (Kecamatan Duren Sawit)

4

404

Rawa Teratai (Kecamatan Cakung)

5

405

Cijantung (Kecamatan Pasar Rebo)

6

406

Rawamangun (Kecamatan Pulo Gadung)

7

407

Penggilinga (Kecamatan Cakung)

8

408

Kramat Jati (Kecamatan Kramat Jati)

9

409

Kampung Melayu (Kecamatan Jatinegara)

10

410

Munjul (Kecamatan Cipayung)

11

411

Ciracas (Kecamatan Ciracas)

12

412

Klender (Kecamatan Duren Sawit)

13

413

Ujung Menteng (Kecamatan Cakung)

14

414

Utan Kayu Utara (Kecamatan Matraman)

15

415

Bidara Cina (Kecamatan Jatinegara)

16

416

Cililitan (Kecamatan Kramat Jati)

17

417

Malaka Jaya (Kecamatan Duren Sawit)

e. Jakarta Utara terdiri dari 15 Kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

501

Rorotan (Kacamatan Cilincing)

2

502

Pademangan Barat (Kecamatan Pademangan)

3

503

Sunter Agung (Kecamatan Tanjung Priok)

4

504

Sunter Jaya (Kecamatan Tanjung Priok)

5

505

Kamal Muara (Kecamatan Penjaringan)

6

506

Kelapa Gading Timur (Kecamatan Kelapa Gading)

7

507

Tugu Selatan (Kecamatan Koja)

8

508

Penjagalan Barat (Kecamatan Penjaringan)

9

509

Semper Barat (Kecamatan Cilincing)

10

510

Pegangsaan Dua (Kecamatan Kelapa Gading)

11

511

Pluit (Kecamatan Penjaringan)

12

512

Ancol (Kecamatan Pademangan)

13

513

Tanjung Priok (Kecamatan Tanjung Priok)

14

514

Kali Baru (Kecamatan Cilincing)

15

515

Koja (Kecamatan Koja)

Untuk lebih jelasnya lokasi pemantauan air tanah dangkal pada tahun 2009 ini disajikan pula dalam bentuk peta seperti yang tersaji pada Gambar 1 .

Gambar : I.1. Lokasi Pemantauan Kualitas Air Tanah Dangkal di DKI Jakarta , 2009

 

Hasil pemantauan berdasarkan kondisi lingkungan, jenis sumur adalah sebagai berikut :

 

1.1. Kondisi lingkungan lokasi pemantauan

Dari hasil pemantauan pada Tabel : I.8 di bawah terlihat bahwa kondisi pemukiman pada sumur di wilayah Provinsi DKI Jakarta meliputi 36 lokasi (48%) termasuk dalam wilayah permukiman padat tidak teratur, 39 lokasi (52%) termasuk dalam wilayah permukiman padat teratur. Pada kedua jenis permukiman tersebut di seluruh wilayah lokasi pengamatan air tanah lebih banyak di wilayah permukiman padat teratur, kecuali di wilayah Jakarta Utara lebih banyak di wilayah permukiman padat tidak teratur.

Tabel : I.8. Kondisi Pemukiman Pemantauan Kualitas Air Tanah di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009

 
a. Jenis Sumur

Jenis sumur yang dipantau terbagi menjadi 4 jenis yaitu sumur timba, pompa tangan, pompa hisap dan jet pump. Dari 75 titik pantau, jenis sumur timba sebanyak 11 sumur (15%), pompa tangan 15 sumur (20%), pompa hisap (sanyo) 23 sumur (31%), jet pump sebanyak 3 sumur (4%) dan sebanyak 23 responden (31%) tidak menjawab.

b. Jarak Sumur Dengan Sumber Pencemar

Sumber pencemaran lain yang dapat mencemari sumur antara lain septik tank, tempat sampah, industri, salon kecantikan, bengkel, saluran got dan sungai.

Dari hasil pemantauan diketahui bahwa jarak sumur dengan septik tank di bawah 10 meter sebanyak 31 sumur (41%), diatas 10 meter ada 26 sumur (35%) dan sebanyak 39 sumur (52%) tidak diperoleh keterangan. Dari hasil yang diperoleh bahwa kondisi sumur di beberapa titik pantau sudah memenuhi syarat sanitasi.

 

Tabel : I.9. Jarak Sumur dengan Septik Tank di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009

 

1.2. Kualitas Air Tanah di Provinsi DKI Jakarta

Kualitas air tanah meliputi parameter fisik, kimia, dan biologi (mikrobiologi). Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan baku mutu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416 tahun 1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air.

a. Kualitas Fisik Air Tanah

Gambaran kualitas fisik air tanah di Provinsi DKI Jakarta yang meliputi TDS dan kekeruhan dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

Tabel : I.10. Kisaran Kualitas Fisik Air Tanah di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009

 

Dari Tabel : I.10 menunjukkan bahwa untuk parameter Total Padatan Terlarut (TDS) di lima wilayah masih memenuhi baku mutu. Rentang tertinggi dicapai oleh titik pemantauan di wilayah Jakarta Utara pada pemantauan bulan Juli yaitu 2.570 mg/L pada titik 501 (Kelurahan Rorotan, Kec. Cilincing).

Untuk parameter Kekeruhan air sumur di DKI Jakarta umumnya masih dalam kondisi baik, namun untuk wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara dibeberapa titik baik pada pemantauan bulan Juli maupun pemantauan bulan Oktober telah melebihi baku mutu. Konsentrasi tertinggi berada di wilayah Jakarta Timur yaitu pada titik 402 yang berada di Kelurahan Cakung Barat.

Prosentase besarnya parameter fisik yang melebihi baku mutu pada masing-masing wilayah dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel : I.11. Persentase Parameter Fisik Air Tanah Yang Melebihi Baku Mutu, TAHUN 2009

 

Tabel : I.11 tersebut di atas memberikan informasi bahwa kualitas fisik khususnya parameter TDS dan kekeruhan di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur lebih buruk dibandingkan dengan wilayah lain yang cenderung masih relatif bagus kualitasnya.

b. Kualitas Kimia Air Tanah

Kisaran kadar kimia an organik seperti Fe, Mn, Cl, F, CaCO 3 dan organik air tanah di wilayah DKI Jakarta memberikan hasil yang bervariasi. ( Tabel : I.12 ).

Tabel : I.12. Kisaran Kadar Kimia Organik/Anorganik Air Tanah, 2009

 

Dari Tabel di atas menunjukkan bahwa kadar kimia Anorganik seperti Besi dan Mangan sebagian besar kisaran maksimumnya sudah termasuk tinggi dan telah melebihi baku mutu. Sedangkan kisaran minimum kandungan Besi dan Mangan tidak terdeteksi. Kisaran maksimum tertinggi untuk parameter Besi dan Mangan adalah pada titik 103 (Kelurahan Kwitang) dan 102 (Kelurahan Cikini). Parameter lain seperti Fluorida secara umum di setiap wilayah belum melampaui baku mutu. Sedangkan untuk parameter Chlorida wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara terdapat beberapa titik yang konsentrasi Cl-nya sangat tinggi.

Adapun untuk lebih jelasnya mengenai kandungan unsur tersebut di atas dijelaskan secara rinci sebagai berikut :

•  Besi

Parameter ini menunjukkan besarnya kandungan Besi di dalam air tanah di sekitar lokasi pengambilan sampel. Berdasarkan hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa konsentrasinya di beberapa wilayah kota Administrasi telah melebihi baku mutu kecuali di wilayah Jakarta Selatan pada semua titik pantau konsentrasinya masih memenuhi baku mutu. Tingginya kandungan Fe dalam air tanah disebabkan karena adanya persenyawaan Besi dalam lapisan tanah yang terkikis oleh air saat aliran air melewatinya, konsentrasinya yang melebihi baku mutu bila dikonsumsi akan membahayakan kesehatan.

•  Mangan

Kandungan parameter Mangan pada air tanah dengan konsentrasi > 0.5 mg/L dapat menyebabkan rasa pahit pada minuman dan meninggalkan noda kecoklat-coklatan pada pakaian. Pada lima Wilayah Administrasi Kota seluruhnya ada titik pantau yang konsentrasinya telah melebihi baku mutu, hal ini menunjukkan bahwa di titik-titik tersebut air tanahnya sudah tidak layak untuk dikonsumsi.

•  Fluorida

Kandungan Fluorida dalam jumlah kecil dibutuhkan sebagai pencegahan terhadap penyakit caries gigi yang paling efektif tanpa merusak kesehatan. Konsentrasi F > 1.5 mg/L dapat menyebabkan ”fluoroisis” pada gigi yaitu terbentuknya noda-noda coklat yang tidak mudah hilang pada gigi. Secara umum konsentrasi Fluorida di wilayah DKI Jakarta masih memenuhi baku mutu yang diperbolehkan.

•  Khlorida

Dalam jumlah kecil Khlorida ini dibutuhkan untuk desinfektan. Apabila berikatan dengan ion dapat menyebabkan rasa asin dan dapat merusak pipa-pipa air. Kandungan Khlorida pada air tanah pada umumnya belum melampaui baku mutu Khlor. Tetapi di wilayah Kotamadya Jakarta Utara pada titik 513 (Kelurahan Pademangan) konsentrasi Khlornya mencapai 836.24 mg/L. Sedangkan pada wilayah lainnya tidak ada titik pantau yang konsentrasi Khloridanya telah melebihi baku mutu. Kandungan Khlorida dalam air tanah bisa disebabkan oleh intrusi air laut.

•  Kadar Kimia Organik

Kandungan Organik menimbulkan rasa bau yang tidak sedap dan dapat menyebabkan sakit perut serta menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa logam. Kecuali wilayah Jakarta Selatan pada wilayah lainnya ada titik pantau yang konsentrasi kimia Organiknya telah melebihi baku mutu. kisaran tertinggi terdapat di wilayah Jakarta Utara yaitu berkisar 2.11 -22.35 mg/L.

c. Kualitas Biologi Air Tanah

Kualitas secara biologi air tanah meliputi parameter bakteri Coliform dan Fecal coli. Pada sebagian besar lokasi pemantauan (sumur) parameter tersebut telah melebihi baku mutu. Konsentrasi Coliform berkisar antara <1.8 – 79.000.000 ind/100 mL, sedangkan untuk parameter Fecal coli berkisar antara <1.8 – 14.000.000 ind/100 mL, dimana baku mutu untuk parameter Total Coliform sebesar 50 ind/100 mL. Tingginya konsentrasi bakteri disebabkan oleh rembesan limbah domestik septik tank. Oleh sebab itu jarak antara septik tank dengan sumur sangat mempengaruhi kondisi tersebut. Jarak antara septic tank dengan sumur yang dipersyaratkan adalah minimal 10 m. Selain itu kondisi septic tank juga sangat berpengaruh terutama untuk septic tank yang masih menggunakan teknologi konvensional dimana air kotor di resapkan ke dalam tanah. Untuk itu perlu menjaga kondisi septic tank agar kedap air sehingga air kotor tidak merembes ke dalam tanah.

1.3. Persentase Kualitas Air Tanah di Provinsi DKI Jakarta

Persentase kualitas air tanah dilihat berdasarkan jumlah sumur yang kualitas airnya tidak memenuhi baku mutu, terutama untuk parameter Besi (Fe), Mangan (Mn), Detergen, Organik, dan Mikrobiologi (Coliform dan Fecal coli). Hasil persentase tersebut tersaji pada Tabel : I.13 .

Pada Tabel : I.13 menggambarkan bahwa kondisi unsur Besi dalam air tanah di DKI Jakarta prosentase yang tidak memenuhi baku mutu relatif masih rendah yaitu 9 persen (7 sumur) dari seluruh sumur yang dipantau. Persentase tertinggi berada di wilayah Jakarta Pusat yaitu dari 11 Kelurahan terdapat 3 Kelurahan yang konsentrasi Besi (Fe)-nya tinggi.

Tabel : I.13. Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu untuk Parameter Besi ( Fe ) Provinsi DKI Jakarta, 2009

 

Tabel : I.14. Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu Parameter Mangan ( Mn ) Provinsi DKI Jakarta, 2009

 

Pada parameter mangan seperti yang terdapat pada Tabel : I.14 terlihat bahwa persentase jumlah sumur yang memiliki konsentrasi Mangan yang telah melebihi baku mutu di DKI Jakarta mencapai 27 persen. Persentase tertinggi terdapat di wilayah Jakarta Timur mencapai 35 persen, sedangkan persentase terendah terdapat di wilayah Jakarta Selatan sebesar 6 persen.

Tabel : I.15 berikut ini menunjukkan persentase jumlah sumur yang telah melebihi baku mutu untuk parameter Deterjen. Dari hal tersebut diperoleh informasi bahwa persentasi tertinggi sumur yang telah melebihi baku mutu untuk parameter Detergent berada diwilayah Jakarta Timur sebesar 12 persen, sedangkan untuk wilayah lain konsentrasi Detergent masih berada dibawah baku mutu.

 

Tabel : I.15. Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu Parameter Detergent Provinsi DKI Jakarta, 2009

 

Sedangkan untuk kualitas Organik pada air tanah di Provinsi DKI Jakarta seperti yang terlihat pada Tabel : I.16 , untuk wilayah Jakarta Utara adalah yang paling tinggi persentase jumlah sumur yang telah melebihi baku mutu organiknya yaitu 53 persen. Sedangkan untuk wilayah Jakarta barat, persentase sumur yang telah melebihi baku mutu adalah 13 persen dan Jakarta Timur 12 persen. Sedangkan Untuk wilayah lainnya persentase Organiknya belum melebihi baku mutu.

Tabel : I.16. Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu Parameter Organik Provinsi DKI Jakarta, 2009

 

Persentase jumlah sumur yang konsentrasi Coliform dan Fecal coli telah melebihi baku mutu tersaji pada Tabel : I.17 .

Tabel : I.17. Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu Parameter Coliform Provinsi DKI Jakarta, 2009

 

Pada Tabel : I.17 terlihat bahwa air tanah diseluruh wilayah DKI Jakarta telah melebihi baku mutu Coliform. Persentase sumur yang telah melebihi baku mutu Coliform tertinggi berada di wilayah Jakarta Utara yaitu sebesar 87 persen. Rata-rata persentase sumur di DKI Jakarta yang telah melebihi baku mutu Coliform sudah lebih dari 50 persen. Persentase terendah terdapat diwilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan yaitu sebesar 47 persen dan 29 persen.

Di lihat dari keseluruhan wilayah DKI Jakarta maka wilayah yang konsentrasi Coliformnya melampui baku mutu adalah sebesar 55 persen.

1.4. Status Mutu Air Tanah (Indeks Pencemaran) di Jakarta

Status mutu air tanah digambarkan dengan Indeks pencemaran (Pollution Index) yang merupakan indeks yang digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diijinkan. Pengelolaan dengan Indeks Pencemar dapat memberi masukan pada pengambil keputusan agar dapat menilai kualitas air serta melakukan tindakan tertentu untuk memperbaiki kualitas air jika terjadi penurunan kualitas akibat kehadiran senyawa pencemar. Indeks Pencemaran air tanah di Provinsi DKI Jakarta tersaji pada Tabel : I.18 .

Tabel : I.18. Status Mutu (Indeks Pencemaran) Air Tanah Provinsi DKI Jakarta, 2009

 

Kondisi Indeks Pencemaran Air Tanah di DKI Jakarta pada tahun 2009 kondisinya memburuk bila di bandingkan dengan periode tahun 2007-2008. Secara keseluruhan kualitas air tanah umumnya dalam kondisi tercemar ringan namun mengingat tingginya kandungan bakteri Fecal coli dan Coliform pada air tanah yang rata-rata telah melebihi baku mutu, maka penggunaan air tanah sebagai bahan baku air minum tidak direkomendasikan.

Dari hasil pemantauan air tanah di DKI Jakarta, secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut :

1). Parameter Fisik

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa parameter Fisik air tanah yang berupa TDS (Total Padatan Terlarut) dan kekeruhan di seluruh wilayah DKI Jakarta rata-rata masih baik, namun untuk wilayah Timur kondisinya lebih buruk dibandingkan dengan wilayah lain dimana untuk parameter TDS ada tiga titik yang telah melebihi baku mutu . Demikian pula untuk parameter Kekeruhan di Jakarta Timur dan Utara ada beberapa titik yang telah melebihi baku mutu.

2). Parameter Kimia

Kondisi parameter kimia air tanah mengalami tren yang bervariasi antara lain sebagai berikut :

•  Parameter Besi (Fe ) : Secara umum kondisi konsentrasi besi masih berada dalam kondisi yang relatif baik yaitu sebagian besar masih berada dibawah baku mutu bahkan konsentrasinya tidak terdeteksi. Persentase wilayah yang melebihi baku mutu yaitu sebesar 9 persen, kondisi ini memburuk dibanding tahun sebelumnya yang hanya 5 persen melebihi baku mutu.

•  Parameter Mangan (Mn) : Pada parameter ini wilayah yang melebihi baku mutu cukup banyak dan rata-rata disemua wilayah ada beberapa titik yang konsentrasi Mn-nya telah melebihi baku mutu. Persentase konsentrasi Mn yang telah melebihi baku mutu di Provinsi DKI Jakarta sebesar 27 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya maka kondisi ini membaik dimana pada periode 2007-2008 persentase titik pantau yang telah melebihi bakumutu adalah 33 persen.

•  Parameter Detergen (MBAS) : Secara keseluruhan persentase wilayah yang telah melebihi baku mutu untuk konsentrasi Detergent adalah 5 persen, hal ini memburuk bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 1 persen. Wilayah tertinggi dengan pencemaran Detergen adalah Wilayah Jakarta Timur.

•  Parameter Organik : Kondisi Organik dibeberapa wilayah telah melebihi baku mutu di wilayah Jakarta Utara 53 persen, Jakarta Barat 13 persen dan Jakarta Timur 12 persen.

3). Parameter Mikrobiologi

Bakteri Coliform; Rata-rata disemua wilayah ada beberapa titik yang telah melebihi baku mutu. Persentase yang telah melebihi baku mutu di DKI Jakarta sebesar 55 persen.

4). Indeks Pencemaran

Status mutu air tanah di DKI Jakarta pada tahun 2009 termasuk dalam kategori baik sampai tercemar berat, dengan rincian kategori baik sebesar 23 persen, tercemar ringan 41 persen, tercemar sedang 19 persen, dan tercemar berat 17 persen. Kondisi ini lebih buruk jika dibandingkan dengan tahun 2007-2008 dimana kategori baik sebesar 25 persen, tercemar ringan 43 persen, tercemar sedang 20 persen dan tercemar berat 12 persen.

Dari hasil pemantauan air tanah di DKI Jakarta, upaya yang perlu dilakukan dalam menindaklanjuti hasil penelitian tersebut di atas, adalah :

1). Perlu peningkatan jumlah lokasi dan frekuensi pemantauan sehingga didapatkan gambaran kondisi air tanah di Wilayah DKI Jakarta yang lebih mewakili masing-masing karakter lokasi.

2). Untuk meningkatkan kualitas air tanah perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya sanitasi serta persyaratan teknis pembangunan sumur.

3). Perlu adanya koordinasi dengan instansi terkait dalam upaya melakukan pengelolaan kualitas air tanah secara terintegrasi.

4). Perlu adanya sosialisasi warga Jakarta, agar membuat sumur resapan dimana sampai tahun 2009 sebanyak 83.064 buah di 4 wilayah kota yaitu Jakarta Selatan sebanyak 23.825 buah, wilayah Jakarta Timur sebanyak 30.743 buah, wilayah Jakarta Pusat sebanyak 9.152 buah dan wilayah Jakarta Barat sebanyak 19.344 buah, sedang Jakarta Utara masih sangat sedikit selain hal tersebut mulai tahun 2006 semua pembangunan rumah baru dan pengurusan UKL-UPL dan Amdal wajib melakukan pembuatan sumur resapan, dan Jumlah Lubang Resapan Biopori pada tahun 2009 adalah sebanyak 716.808 buah dimana untuk Jakarta Pusat sebanyak 77.251 buah, Jakarta Timur sebanyak 77.474 buah, Jakarta Barat sebanyak 349.599 buah, Jakarta Utara sebanyak 29.240 buah, Jakarat Selatan sebanyak 182.644 buah dan Kepulauan Seribu sebanyak 600 buah.

2. Situ-situ (Waduk)

Keberadaan situ-situ di Provinsi DKI Jakarta sangat penting artinya bagi kelangsungan kehidupan di perkotaan, karena fungsinya. Pada saat ini situ berfungsi sebagai penampung air hujan karena berupa legokan tanah datar dan mempunyai dasar yang kedap, hal inilah yang menyebabkan situ merupakan salah satu pengendali banjir dimusim penghujan. Pada saat musim kemarau situ berfungsi sebagai tempat cadangan air tanah, disamping masih banyak manfaat lainnya bagi masyarakat sekitar situ.

Situ-situ di wilayah DKI Jakarta yang tersebar di beberapa wilayah dengan luasan yang berbeda mempunyai karakteristik yang berbeda, baik dalam hal struktur dan tekstur tanah, sifat kimia air, plankton/periphyton, tumbuhan air dan berbagai jenis ikan dan mahluk hidup lainnya. Kondisi situ-situ tersebut mempunyai fungsi ekologis yang sangat penting.

Sekarang ini keberadaan situ di DKI Jakarta cenderung berkurang jumlahnya dan keadaannya sudah banyak yang tercemar maupun beralih fungsi. Hal ini disebabkan akibat pembangunan yang pesat di berbagai sektor, permukiman, gedung-gedung perkantoran/perhotelan, industri, ditambah lagi pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi yang sedikit banyak memerlukan lahan.

Meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan di Provinsi DKI Jakarta menyebabkan peningkatan jumlah buangan limbah domestik, limbah industri dan limbah lainnya yang pada gilirannya menimbulkan pencemaran dan kerusakan situ yang ada.

Secara umum beberapa situ di Provinsi DKI Jakarta saat ini telah terjadi proses perubahan kualitas situ dari ekosistem alami ke ekosistem buatan yang pada dasarnya mewujudkan ekosistem yang tidak lengkap siklus jaring-jaring makanannya sehingga hal ini memberikan indikasi bahwa hubungan timbal balik antar komponen lingkungan yang ada tidak berjalan dengan baik, sehingga berdasarkan hal tersebut di atas maka situ yang ada di wilayah DKI Jakarta perlu dilakukan upaya pelestarian serta peningkatan fungsinya.

Inventarisasi dan identifikasi situ dan waduk terakhir dilaksanakan pada tahun 1995, akan tetapi dengan meningkatnya pembangunan dan aktivitas penduduk ada situ yang hilang dan berubah fungsi, maka perlu dilakukan inventarisasi dan pengambilan sampel yang berkesinambungan untuk mengetahui keberadaan dan kondisi fisik situ yang terdapat di wilayah DKI Jakarta.

Menurut BPLHD Provinsi DKI Jakarta, secara umum ancaman atas keberadaan dan kelestarian situ/waduk di wilayah Jabotabek disebabkan oleh :

1). Konversi lahan

Semakin pesatnya kegiatan pembangunan dan pertambahan jumlah penduduk oleh Jabotabek maka keberadaan situ/waduk terancam oleh meningkatnya kebutuhan lahan. Banyak areal situ/waduk ditimbun menjadi permukiman, baik yang berskala besar maupun kecil. Beberapa kawasan real-estate, pusat perbelanjaan maupun perumahan pada awalnya adalah rawa atau daerah genangan air musiman. Pada skala kecil banyak areal persawahan milik rakyat telah berubah menjadi rumah, kegiatan tersebut menjadi penyebab utama terjadinya pengurangan jumlah maupun luas situ/waduk di Jabotabek.

2). Pendangkalan

Penyebab utama terjadinya pendangkalan situ/waduk adalah terjadinya endapan lumpur yang terbawa oleh air akibat erosi tanah. Khusus DKI Jakarta pendangkalan tersebut dipercepat dengan adanya sampah yang terbawa hujan. Dampak yang timbul oleh adanya pendangkalan ini adalah semakin meluasnya tumbuhnya gulma air dan tertutupnya saluran air yang berakibat meningkatnya bahaya banjir.

3). Pencemaran oleh limbah

Limbah yang masuk ke situ berasal dari berbagai sumber, terbawa oleh aliran air dan masuk ke situ/waduk. Sebagai contoh, limbah rumah tangga, limbah pupuk dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi menyebabkan melimpahnya tumbuhan Eceng gondok (Eichornia crassipes). Kelimpahan Eceng gondok salah satu penyebab pendangkalan. Sedangkan limbah industri yang dikhawatirkan mengandung logam berat, dapat mempengaruhi organisme perairan lewat proses bioakumulasi dalam tubuh organisme.

2.1. Lokasi Pengambilan sampel

Pengambilan sampel air situ/waduk di Provinsi DKI Jakarta dilaksanakan di 20 situ, seperti yang tersaji pada Tabel : I.19 .

Tabel : I.19. Lokasi Pengambilan Sampel Air Situ/Waduk di DKI Jakarta Tahun 2009

 

2.2. Periode Pengambilan sampel

Periode pengambilan sampel untuk situ/waduk di DKI Jakarta dilaksanakan 1 kali pengambilan pada bulan Juni 2009. Pada masing-masing situ dilakukan 3 titik pengambilan yaitu di inlet, tengah dan outlet situ. Karena kondisi Situ yaitu Situ Elok tidak memungkinkan untuk pengambilan 3 titik maka hanya dilakukan pada satu titik. Dengan demikian jumlah sampel yang diambil meliputi 58 sampel air untuk analisis parameter Kimia lengkap, 58 sampel Bakteri dan 58 sampel Plankton.

2.3. Parameter Yang Diteliti

Parameter yang akan dipantau adalah sesuai dengan SK Gub. KDKI Jakarta Nomor 582/1995 untuk peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C), yang meliputi parameter Fisik, Kimia, dan Biologi, dimana untuk parameter Biologi meliputi Coliform, Fecal coli, dan Plankton (phytoplankton).

2.4. Metode Pengambilan Sampel dan Analisa Laboratorium

Pengambilan sampel di lapangan baik itu untuk parameter Fisik, Kimia, maupun Biologi dilakukan dengan peralatan seperti yang tersaji pada Tabel : I.20 .

 

Tabel : I.20. Peralatan Sampling Air Situ/Waduk

 

1). Pengukuran Insitu (parameter fisik)

Pengukuran insitu dilakukan untuk beberapa parameter fisik seperti Conductivity, pH, DO, Suhu, dan Turbiditas. Pengukuran dilakukan langsung pada perairan situ/waduk dengan peralatan Water Quality Checker , dan langsung didapatkan data konsentrasinya.

2). Pengambilan Sampel Air (parameter fisik dan kimia)

Pengambilan sampel air dilakukan dengan metode terpadu ( integrated sampling ) yaitu gabungan tempat permukaan (kedalaman ± 20 Cm ) dan bagian dasar yang kemudian dikompositkan menjadi satu sampel. Sampel sejumlah 2 liter ditempatkan dalam jerigen dan disimpan dalam ice box . Sampling dilakukan di inlet dan outlet situ/waduk. Total sampel air dari 8 situ/waduk adalah 16 sampel.

3). Pengambilan Sampel Biota Air (parameter biologi)

Pengambilan sampel Plankton dilakukan dengan mengambil air permukaan sebanyak 30 liter dan disaring dengan Plankton net no. 25 dengan ukuran jala 76-80 µm atau 173 meshes inci untuk dikonsentrasikan menjadi 20 ml. Setelah itu sekeliling jaring Plankton net disemprot dengan aquades hingga bersih. Sampel ini kemudian dimasukkan ke dalam botol Plankton dan disimpan dalam ice box .

Pengambilan sampel bakteri Coliform dan Fecal coli dilakukan dengan menggunakan botol bervolume 100 ml yang telah disterilkan pada suhu 120 O C selama 15 menit. Sampel air diambil dengan cara memegang botol steril bagian bawah dan botol dicelupkan sedalam 20 cm di bawah permukaan air. Setelah selesai botol disimpan di dalam ice box dengan batas tidak lebih dari 24 jam.

4). Analisa Laboratorium

Analisa sampel air situ/waduk dilakukan oleh Laboratorium Lingkungan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta, yang meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi. Metoda analisa laboratorium yang digunakan sesuai dengan SNI dan standar lain yang telah diakui.

2.5. Analisis Data dan Evaluasi Kualitas Air

Evaluasi dilakukan dengan membandingkan nilai hasil pengukuran dengan Baku Mutu sesuai dengan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 582 Tahun 1995 untuk peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C). Hal ini untuk mengetahui kondisi situ/waduk apakah masih sesuai untuk peruntukan perikanan dan peternakan.

Selain itu untuk melihat status mutu air situ/waduk dilakukan pula evaluasi dengan menggunakan Metode Storet sesuai dengan Kep Men LH Nomor 115 Tahun 2003 tentang penentuan status mutu air. Metode Storet merupakan salah satu metode untuk menentukan status mutu air yang umum digunakan. Dengan Metode Storet ini dapat diketahui parameter yang telah memenuhi atau melampaui baku mutu air.

Secara prinsip metode Storet adalah membandingkan antara data kualitas air dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan peruntukannya guna menentukan status mutu air.

Cara untuk menentukan status mutu air adalah dengan menggunakan sistem nilai dari ” US EPA (Environmental Protection Agency) ” dengan mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas, yaitu :

•  Kelas A : baik sekali, skor = 0 memenuhi baku mutu

•  Kelas B : baik, skor = -1 s/d -10 tercemar ringan

•  Kelas C : sedang, skor = -11 s/d -30 tercemar sedang

•  Kelas D : buruk, skor = -31 tercemar berat

Penentuan status mutu air dengan menggunakan Metode Storet dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

•  Lakukan pengumpulan data kualitas air dan debit air secara periodik sehingga membentuk data dari waktu ke waktu.

•  Bandingkan data hasil pengukuran dari masing-masing parameter air dengan nilai baku mutu yang sesuai dengan kelas air.

•  Jika hasil pengukuran memenuhi baku mutu air (hasil pengukuran < baku mutu) maka diberi skor 0.

•  Jika hasil pengukuran tidak memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran > baku mutu), maka diberi skor seperti pada Tabel : I.21 di bawah ini.

 

Tabel : I.21. Penentuan Sistem Nilai Untuk Menentukan Status Mutu Air

 

Jumlah negatif dari seluruh parameter dihitung dan ditentukan status mutunya dari jumlah skor yang didapat dengan menggunakan sistem nilai.

3.2. Kualitas Fisik

Parameter fisik situ meliputi Kekeruhan, Daya Hantar Listrik (DHL), Zat Padat Terlarut (TDS) dan Zat Padat Tersuspensi (TSS). Kualitas fisik dari situ-situ di tiap wilayah di DKI Jakarta dapat kita lihat pada tabel dibawah ini.

1). Kualitas Fisik Situ/Waduk di Wilayah Jakarta Timur

Pengambilan sampel situ/waduk di Jakarta dilakukan pada 7 (tujuh) lokasi yaitu situ Kelapa Dua Wetan, Situ Sunter Hulu, Waduk Rawa Dongkal, Situ Areman, Situ Ria Rio, Situ Elok dan Situ Rawa Badung, dimana hasil pengukuran fisik situ tersaji pada Tabel : I.22 .

 

Tabel : I.22. Kualitas Fisik Situ di Wilayah Jakarta Timur Tahun 2009

 

Dari tabel di atas diperoleh informasi bahwa kualitas fisik situ di wilayah Jakarta Timur umumnya masih memenuhi baku mutu baik untuk parameter DHL, TDS maupun Kekeruhan, kecuali untuk Situ Ria-Rio dimana ketiga parameter fisiknya telah melebihi baku mutu.

Tinggi rendahnya konsentrasi DHL, TSS, dan TDS pada situ/waduk di atas disebabkan oleh banyak faktor misalkan tinggi rendahnya DHL dapat disebabkan oleh tinggi rendahnya konsentrasi ion-ion garam terlarut sehingga garam tersebut ter-ionisasi. Sedangkan tinggi rendahnya TSS dan TDS dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan seperti ada tidaknya arus danau. Walaupun tidak bersifat toksik namun jika dalam jumlahnya berlebihan akan meningkatkan nilai kekeruhan dan menghambat penetrasi radiasi matahari. Buruknya kualitas fisik di Situ Ria Rio disebabkan tingginya zat pencemar dari limbah domestik yang berasal dari pemukiman di areal Situ yang telah beralih fungsi menjadi permukiman.

2). Kualitas Fisik Situ/Waduk di Wilayah Jakarta Barat

Pengambilan sampel situ/waduk di Jakarta Barat dilakukan pada dua lokasi yaitu Waduk Tomang Barat dan Waduk Empang Bahagia, dimana hasil pengukuran Fisik situ tersaji pada Tabel : I.23 .

 

Tabel : I.23. Kualitas Fisik Situ di Wilayah Jakarta Barat Tahun 2009

 

Di wilayah Jakarta Barat terlihat keadaan kualitas parameter fisik cukup beragam. Untuk Waduk Tomang Barat seluruh parameter fisik masih memenuhi baku mutu, sedang waduk Empang Bahagia parameter DHL dan Kekeruhan telah melebihi baku mutu hanya parameter TDS yang masih memenuhi baku mutu.

Bervariasinya kondisi parameter fisik di tiap situ dipengaruhi banyak hal seperti lingkungan sekitar situ/waduk terutama apabila sumber airnya berasal dari lingkungan sekitar. Banyaknya garam-garam yang terlarut dari air buangan sekitar akan dapat meningkatkan tingkat konduktivitas air situ.

3). Kualitas Fisik Situ/Waduk di Wilayah Jakarta Utara

Pengambilan sampel situ/waduk di Jakarta Utara dilakukan pada 5 lokasi yaitu Waduk Sunter Barat, Waduk Sunter I, Waduk Sunter II, Waduk Teluk Gong dan Waduk Pluit, dimana hasil pengukuran fisik situ tersaji pada Tabel : I.24 .

 

Tabel : I.24. Kualitas Fisik Situ di Wilayah Jakarta Utara Tahun 2009

 

Kualitas fisik untu Situ/Waduk di wilayah Jakarta Utara umumnya telah melebihi baku mutu baik untuk parameter DHL, TDS maupun kekeruhan. Hanya untuk Sunter I semua parameter fisiknya masih memenuhi baku mutu.

4). Kualitas Fisik Situ/Waduk di Wilayah Jakarta Selatan

Pengambilan sampel situ/waduk di Jakarta Selatan dilakukan pada tiga lokasi yaitu Situ Babakan, Situ Kalibata dan Situ Ragunan dimana hasil pengukuran fisik situ tersaji pada Tabel : I.25 .

Tabel : I.25. Kualitas Fisik Situ di wilayah Jakarta Selatan Tahun 2009

 

Situ/waduk di wilayah Jakarta Selatan terlihat kondisi kualitas fisik nya baik, untuk semua parameter.

5). Kualitas Fisik Situ/Waduk di Wilayah Jakarta Pusat

Pengambilan sampel situ/waduk di Jakarta Pusat dilakukan pada tiga lokasi yaitu Situ Lembang, Waduk Melati dan Situ Taman Ria Senayan. dimana hasil pengukuran fisik situ tersaji pada Tabel : I.26 .

 

Tabel : I.26. Kualitas Fisik Situ di wilayah Jakarta Pusat Tahun 2009

 

Kualitas fisik untuk parameter DHL dan TDS pada semua situ yang dipantau masih melebihi baku mutu, namun untuk parameter kekeruhan di Waduk Melati dan Situ Taman Ria Senayan telah melebihi baku mutu.

Kualitas fisik situ di wilayah Jakarta Pusat dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar. Semua waduk yang dipantau di wilayah Jakarta Timur merupakan arena publik sehingga parameter kekeruhan dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat disekitar waduk.

3.3. Kualitas Kimia

Kualitas kimia situ/waduk yang dipantau sesuai dengan SK.Gub. Nomor 582 Tahun 1995 untuk peruntukan perikanan dan peternakan (golongan C) sebanyak 21 parameter (hasil rinci terlampir).

Parameter yang akan dibahas di sini adalah parameter dominan yang dapat mempengaruhi kualitas air situ/waduk yang meliputi parameter BOD, COD, DO, Organik dan Phospat.

1). Kualitas Kimia Situ/ Waduk di Wilayah Jakarta Timur
A. Parameter BOD

Kualitas BOD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk di wilayah Jakarta Timur dapat dilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.1. Konsentrasi BOD Situ/Waduk di wilayah Jakarta Timur Tahun 2009

 


Berdasarkan grafik diatas diperoleh bahwa tingkat konsentrasi BOD situ/waduk tergolong tinggi dan sebagian besar telah melampui baku mutu (20 mg/l). Tingginya konsentrasi BOD dapat menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut kebutuhan akan oksigen untuk menguraikan bahan Organik semakin tinggi. Dengan demikian pada lokasi ini dapat menunjukkan semakin banyaknya jumlah bahan Organik yang mudah diurai ( Biodegradable Organic Matter ) tersebut.

Dari 7 situ/waduk hanya 1 (satu) situ/waduk yang kondisinya BOD masih tergolong baik yaitu Situ Areman dimana masing-masing titik pengambilan sampel yaitu, inlet, tengah dan outlet masih berada dibawah baku mutu. Sedangkan untuk situ yang lainnya konsentrasi BOD telah melebihi baku mutu.

B. Parameter COD

Kualitas COD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk dapat dilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.2. Konsentrasi COD Situ/Wadukdi wilayah Jakarta Timur Tahun 2009

 


Kondisi kualitas COD untuk situ/waduk terlihat bahwa hampir di setiap titik pada semua situ/waduk termasuk dalam kategori cukup tinggi dan telah melampui baku mutu COD. Seperti yang dapat kita lihat pada Grafik kondisi COD yang paling ekstrim berada pada Situ Rawa Badung.

C. Parameter DO

Kualitas DO pada inlet, tengah dan outlet dari masing-masing situ/waduk tersaji pada Grafik I.3 .

 

Grafik : I.3. Konsentrasi DO Situ/Waduk di wilayah Jakarta Timur Tahun 2009

 

Dari Grafik diatas jelas terlihat bahwa kondisi kualitas DO baik di titik inlet, tengah maupun outlet sebagian besar dalam kondisi baik yaitu telah melebihi kadar minimum DO sebesar 3 mg/l (BM).

Rendahnya DO pada situ/waduk tersebut dapat disebabkan oleh tingginya dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik yang dapat mengurangi kadar oksigen terlarut pada bagian inlet, namun kualitas DO meningkat pesat pada bagian outlet.

 

Dengan demikian apabila kita perhatikan lebih jauh ternyata antara konsentrasi DO dan BOD terdapat korelasi yang negatif (berbanding terbalik), artinya apabila konsentrasi BOD tinggi maka akan diikuti dengan rendahnya DO. Hal ini dapat kita lihat pada situ Areman dimana konsentrasi BOD di Situ Areman rendah dan parameter DO nya tinggi.

D. Parameter Phospat

Kualitas Phospat pada semua titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk dapat dilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.4 . Konsentrasi Phospat Situ/Waduk di Wilayah Jakarta Timur Tahun 2009

 


Kualitas Phospat pada situ/waduk seperti yang terlihat di Grafik, dari 7 situ yang dipantau konsentrasi Phospatnya baik di inlet, tengah maupun outlet umumnya masih memenuhi baku mutu. Kecuali pada situ Ria Rio dan Areman dimana pada semua titik pengambilan sampel konsentrasi Phospatnya telah melebihi baku mutu. Tingginya phospat ini dapat berasal dari aktifitas manusia seperti penggunaan sabun yang salah satu komponennya berupa Phospat yang dipakai sebagai pembentuk buih. Selain itu dapat berasal dari limbah rumah tangga lainnya yang sebagian besar berbentuk anorganik dengan ortophospat.

E. Parameter Organik

Kualitas Organik pada inlet, tengah dan outlet dari masing-masing situ/waduk dapat dilihat pada Grafik dibawah :


 

Grafik : I.5. Konsentrasi Organik Situ/Waduk di wilayah Jakarta Timur Tahun 2009

 

Konsentrasi Organik yang terlihat pada Grafik di atas menunjukkan nilai yang memenuhi baku mutu di semua Situ/waduk di wilayah Jakarta Timur yang di pantau.

Tingginya Organik ini dapat berasal aktifitas organisme baik hewan, tumbuhan, ataupun manusia, pada umumnya organik ini berisikan kombinasi Karbon, Hidrogen, dan Oksigen bersama-sama dengan Nitrogen. Dengan semakin tingginya Organik maka ada beberapa zat yang sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme.

2). Kualitas Kimia Situ/ Waduk di Wilayah Jakarta Barat
A. Parameter BOD

Kualitas BOD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk di wilayah Jakarta Barat dapat dilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.6. Konsentrasi BOD Situ/Waduk di wilayah Jakarta Barat Tahun 2009

 

Berdasarkan Grafik diatas diperoleh bahwa tingkat konsentrasi BOD situ/waduk tergolong tinggi dan keseluruhannya telah melampui baku mutu (20 mg/L). Tingginya konsentrasi BOD dapat menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut kebutuhan akan oksigen untuk menguraikan bahan organik semakin tinggi. Dengan demikian pada lokasi ini dapat menunjukkan semakin banyaknya jumlah bahan Organik yang mudah diurai (Biodegradable Organic Matter) tersebut.

Tingginya konsentrasi BOD suatu perairan dapat menunjukkan tingginya zat pencemar di perairan tersebut sehingga kebutuhan organisme akan oksigen untuk bertahan hidup menjadi tinggi.

B. Parameter COD

Kualitas COD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk dapat dilihat pada Grafik dibawah ini :

 

Grafik : I.7 . Konsentrasi COD Situ/Waduk di wilayah Jakarta Barat Tahun 2009

 


Hal yang sama juga terjadi untuk parameter COD dimana kualitas COD untuk semua situ/waduk yang dipantau di Jakarta Barat terlihat bahwa hampir di setiap titik pada semua situ/waduk termasuk dalam kategori cukup tinggi dan telah melampui baku mutu COD.

C. Parameter DO

Kualitas DO pada inlet, tengah dan outlet dari masing-masing situ/waduk dapat dilihat pada Grafik dibawah :

Grafik : I.8. Konsentrasi DO Situ/Waduk d i wilayah Jakarta Barat Tahun 2009

 


Dari Grafik diatas jelas terlihat bahwa kondisi kualitas DO baik di titik inlet, tengah maupun outlet sebagian besar dalam kondisi baik yaitu telah melebihi kadar minimum DO sebesar 3 mg/L (BM), kecuali waduk Empang Bahagia di bagian outletnya DO belum mencapai batas minimum.

Rendahnya DO pada situ/waduk tersebut dapat disebabkan oleh tingginya dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik yang dapat mengurangi kadar oksigen terlarut pada bagian inlet, namun kualitas DO meningkat pesat pada bagian outlet.

Dengan demikian apabila kita perhatikan lebih jauh ternyata antara konsentrasi DO dan BOD terdapat korelasi yang negatif (berbanding terbalik), artinya apabila konsentrasi BOD tinggi maka akan diikuti dengan rendahnya DO.

D. Parameter Phospat

Kualitas Phospat pada semua titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk tersaji pada Grafik dibawah :

Grafik : I. 9. Konsentrasi Phospat Situ/Waduk di Wilayah Jakarta Barat Tahun 2009

 


Kualitas Phospat pada situ/waduk seperti yang terlihat di Grafik, dari 2 situ yang dipantau konsentrasi Phospatnya baik di inlet, tengah maupun outlet seluruhnya telah melebihi baku mutu. Tingginya Phospat ini dapat berasal dari aktifitas manusia seperti penggunaan sabun yang salah satu komponennya berupa Phospat yang dipakai sebagai pembentuk buih. Selain itu dapat berasal dari limbah rumah tangga lainnya yang sebagian besar berbentuk anorganik dengan ortophospat.

E. Parameter Organik

Kualitas Organik pada inlet, tengah dan outlet dari masing-masing situ/waduk dapat terlihat pada Grafik dibawah :

Grafik : I.10. Konsentrasi Organik Situ/Waduk wilayah Jakarta Barat, 2009

 


Konsentrasi organik yang terlihat pada Grafik di atas menunjukkan nilai yang melebihi baku mutu di semua Situ/waduk di wilayah Jakarta Barat yang di pantau.

Tingginya organik ini berasal aktifitas organisme baik hewan, tumbuhan, ataupun manusia. Pada umumnya organik ini berisikan kombinasi karbon, hidrogen, dan oksigen bersama dengan nitrogen. Dengan semakin tingginya organik maka beberapa zat sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme.

3). Kualitas Kimia Situ/ Waduk di Wilayah Jakarta Selatan
A. Parameter BOD

Kualitas BOD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk di wilayah Jakarta Selatan terlihat pada Grafik dibawah :

Grafik : I.11. Konsentrasi BOD Situ/Waduk wilayah Jakarta Selatan, 2009

Berdasarkan Grafik diatas diperoleh bahwa tingkat konsentrasi BOD situ/waduk di wilayah Jakarta Selatan umumnya tergolong baik, hampir pada semua ttitik pengambilan sampel konsentrasinya masih memenuhi baku mutu, kecuali pada situ Babakan di bagian outletnya konsentrasi BOD telah melebihi baku mutu. Tingginya konsentrasi BOD dapat menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut kebutuhan akan oksigen untuk menguraikan bahan organik semakin tinggi. Dengan demikian pada lokasi ini dapat menunjukkan semakin banyaknya jumlah bahan organik yang mudah diurai ( Biodegradable Organic Matter ) tersebut.

Tingginya konsentrasi BOD suatu perairan dapat menunjukkan tingginya zat pencemar di perairan tersebut sehingga kebutuhan organisme akan oksigen untuk bertahan hidup menjadi tinggi.

B. Parameter COD

Kualitas COD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk dapat terlihat pada Grafik dibawah :


 

Grafik : I. 12. Konsentrasi COD Situ/Waduk wilayah Jakarta Selatan, 2009

 


Berbeda dengan parameter BOD, konsentrasi COD pada situ/Waduk di wilayah Jakarta Selatan umumnya dalam kondisi buruk. Hampir pada semua titik pengambilan sampel konsentrasi COD telah melebihi baku mutu, kecuali pada situ Babakan di bagian inlet konsentrasi COD masih memenuhi baku mutu.

C. Parameter DO

Kualitas DO pada inlet, tengah dan outlet dari masing-masing situ/waduk dapat terlihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.13. Konsentrasi DO Situ/Waduk wilayah Jakarta Selatan, 2009

 


Dari Grafik diatas jelas terlihat bahwa kondisi kualitas DO baik di titik inlet, tengah maupun outlet sebagian besar dalam kondisi baik yaitu telah melebihi kadar minimum DO sebesar 3 mg/L (BM), kecuali situ Ragunan dimana pada inlet dan outletnya DO belum mencapai batas minimum.

 

Rendahnya DO pada situ/waduk tersebut dapat disebabkan oleh tingginya dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik yang dapat mengurangi kadar oksigen terlarut pada bagian inlet, namun kualitas DO meningkat pesat pada bagian outlet.

Dengan demikian apabila kita perhatikan lebih jauh ternyata antara konsentrasi DO dan BOD terdapat korelasi yang negatif (berbanding terbalik), artinya apabila konsentrasi BOD tinggi maka akan diikuti dengan rendahnya DO.

D. Parameter Phospat

Kualitas Phospat pada semua titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk dapat dilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.14 . Konsentrasi Phospat Situ/Waduk Wilayah Jakarta Selatan, 2009

 


Kualitas Phospat pada situ/waduk di wilayah Jakarta Selatan yang dipantau yaitu situ Babakan, situ Kalibata dan situ Ragunan semuanya masih memenuhi baku mutu. Tingginya Phospat ini dapat berasal dari aktifitas manusia seperti penggunaan sabun yang salah satu komponennya berupa Phospat yang dipakai sebagai pembentuk buih. Selain itu dapat berasal dari limbah rumah tangga lainnya yang sebagian besar berbentuk anorganik dengan ortophospat.

E. Parameter Organik

Kualitas Organik pada inlet, tengah dan outlet dari masing-masing situ/waduk dapat lilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.15. Konsentrasi Organik Situ/Waduk wilayah Jakarta Selatan, 2009

 


Konsentrasi organik yang terlihat pada Grafik di atas menunjukkan nilai yang bervariasi. Untuk Situ Babakan pada bagian inlet dan tengah masih memenuhi bakumutu, namun dibagian outlet telah melebihi bakumutu. Untuk Situ Ragunan di bagian Tengah dan outlet masih memenuhi bakumutu namun di bagian inlet telah melebihi bakumutu, sedang kan pada situ Kalibata disemua titik pengambilan sampel konsentrasinya telah melebihi bakumutu.

Tingginya Organik ini dapat berasal dari aktifitas organisme baik hewan, tumbuhan, ataupun manusia. Pada umumnya Organik ini berisikan kombinasi Karbon, Hidrogen, dan Oksigen bersama-sama dengan Nitrogen. Dengan semakin tingginya Organik maka ada beberapa zat yang sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme.

4). Kualitas Kimia Situ/ Waduk di Wilayah Jakarta Utara
A. Parameter BOD

Kualitas BOD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk di wilayah Jakarta Utara dapat dilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.16. Konsentrasi BOD Situ/Waduk wilayah Jakarta Utara, 2009

 


Berdasarkan Grafik diatas diperoleh bahwa tingkat konsentrasi BOD situ/waduk di wilayah Jakarta Utara, dari jumlah 5 situ yang dipantau umumnya tergolong buruk, hampir pada semua ttitik pengambilan sampel konsentrasinya telah melebihi baku mutu, kecuali pada situ Sunter I pada semua bagian konsentrasi BOD telah melebihi baku mutu. Tingginya konsentrasi BOD dapat menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut kebutuhan akan oksigen untuk menguraikan bahan organik semakin tinggi. Dengan demikian pada lokasi ini dapat menunjukkan semakin banyaknya jumlah bahan organik yang mudah diurai (Biodegradable Organic Matter) tersebut.

Tingginya konsentrasi BOD suatu perairan dapat menunjukkan tingginya zat pencemar di perairan tersebut sehingga kebutuhan organisme akan oksigen untuk bertahan hidup menjadi tinggi.

B. Parameter COD

Kualitas COD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk dapat dilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.17 . Konsentrasi COD Situ/Waduk wilayah Jakarta Utara, 2009

 


Sama halnya dengan parameter BOD, konsentrasi COD pada situ/Waduk di wilayah Jakarta Utara umumnya dalam kondisi buruk. Hampir pada semua titik pengambilan sampel konsentrasi COD telah melebihi baku mutu.

C. Parameter DO

Kualitas DO pada inlet, tengah dan outlet dari masing-masing situ/waduk dapat dilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.18. Konsentrasi DO Situ/Waduk wilayah Jakarta Utara, 2009

 

 

Dari Grafik diatas jelas terlihat bahwa kondisi kualitas DO baik di titik inlet, tengah maupun outlet sebagian besar dalam kondisi baik yaitu telah melebihi kadar minimum DO sebesar 3 mg/L (BM), kecuali situ Ragunan dimana pada inlet dan outletnya DO belum mencapai batas minimum. Kecuali pada waduk Pluit di semua titik DO nya sangat rendah sehingga tidak memungkinkan adanya organisme dapat hidup di perairan tersebut dan Waduk Sunter II di bagian inlet dan Outletnya konsentrasi DO juga sangat rendah.

Rendahnya DO pada situ/waduk tersebut dapat disebabkan oleh tingginya dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik yang dapat mengurangi kadar oksigen terlarut pada bagian inlet, namun kualitas DO meningkat pesat pada bagian outlet.

Dengan demikian apabila kita perhatikan lebih jauh ternyata antara konsentrasi DO dan BOD terdapat korelasi yang negatif (berbanding terbalik), artinya apabila konsentrasi BOD tinggi maka akan diikuti dengan rendahnya DO.

D. Parameter Phospat

Kualitas Phospat pada semua titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk terlihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I. 19. Konsentrasi Phospat Situ/Waduk Wilayah Jakarta Utara, 2009

 


Kualitas Phospat pada situ/waduk wilayah Jakarta Utara yang dipantau yaitu waduk Sunter Barat, waduk Sunter I, waduk Sunter II, waduk Teluk Gong dan waduk Pluit umumnya pada semua titik pantau konsentrasinya telah melebihi baku mutu. Kecuali waduk Sunter I baik dibagian inlet, tengah maupun outlet konsentrasi Phophat masih memenuhi baku mutu. Tingginya Phospat ini dapat berasal dari aktifitas manusia seperti penggunaan sabun yang salah satu komponennya berupa Phospat yang dipakai sebagai pembentuk buih. Selain itu dapat berasal dari limbah rumah tangga lainnya yang sebagian besar berbentuk anorganik dengan ortophospat.

E. Parameter Organik

Kualitas Organik pada inlet, tengah dan outlet masing-masing situ/waduk terlihat pada Grafik berikut

 

Grafik : I.20. Konsentrasi Organik Situ/Waduk wilayah Jakarta Utara, 2009

 


Konsentrasi Organik yang terlihat pada Grafik kondisinya tidak jauh berbeda dengan kondisi kualitas Phospat, dimana pada semua situ yang dipantau konsentrasi Organiknya telah melebihi baku mutu baik di inlet, tengah maupun outlet, kecuali pada waduk Sunter I di Inlet dan tengah konsentrasi Organik masih memenuhi baku mutu dan di bagian outlet telah melebihi baku mutu.

Tingginya Organik ini dapat berasal dari aktifitas organisme baik hewan, tumbuhan, ataupun manusia. Pada umumnya Organik ini berisikan kombinasi karbon, hidrogen, dan oksigen bersama-sama dengan nitrogen. Dengan semakin tingginya Organik maka ada beberapa zat yang sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme.

5). Kualitas Kimia Situ/ Waduk di Wilayah Jakarta Pusat
A. Parameter BOD

Kualitas BOD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk di wilayah Jakarta Pusat terlihat pada Grafik dibawah :

Grafik : I.21. Konsentrasi BOD Situ/Waduk wilayah Jakarta Pusat, 2009

 


Berdasarkan Grafik diatas diperoleh bahwa tingkat konsentrasi BOD situ/waduk wilayah Jakarta Pusat, dari 3 situ yang dipantau umumnya tergolong buruk, hampir pada semua titik pengambilan sampel konsentrasinya telah melebihi baku mutu, kecuali pada situ Lembang hanya di bagian inlet konsentrasinya telah melebihi baku mutu sedangkan pada bagian tengah dan outlet konsentrsinya masih memenuhi baku mutu. Tingginya konsentrasi BOD dapat menunjukkan bahwa dilokasi tersebut kebutuhan akan oksigen untuk menguraikan bahan organik semakin tinggi. Dengan demikian pada lokasi ini dapat menunjukkan semakin banyaknya jumlah bahan organik yang mudah diurai ( Biodegradable Organic Matter ) tersebut.

Tingginya konsentrasi BOD suatu perairan dapat menunjukkan tingginya zat pencemar di perairan tersebut sehingga kebutuhan organisme akan oksigen untuk bertahan hidup menjadi tinggi.

B. Parameter COD

Kualitas COD pada setiap titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk terlihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.22 . Konsentrasi COD Situ/Waduk wilayah Jakarta Pusat, 2009

 


Sama halnya dengan parameter BOD, konsentrasi COD pada situ/Waduk di wilayah Jakarta Pusat umumnya dalam kondisi buruk. Hampir pada semua titik pengambilan sampel konsentrasi COD telah melebihi baku mutu.

C. Parameter DO

Kualitas DO pada inlet, tengah dan outlet dari masing-masing situ/waduk tersaji pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.23. Konsentrasi DO Situ/Waduk wilayah Jakarta Pusat, 2009

 

Dari Grafik di atas jelas terlihat bahwa kondisi kualitas DO baik di titik inlet, tengah maupun outlet disemua situ yang dipantau dalam kondisi baik yaitu telah melebihi kadar minimum DO sebesar 3 mg/L (BM), kecuali situ Ragunan dimana pada inlet dan outletnya DO belum mencapai batas minimum.

Rendahnya DO pada situ/waduk tersebut dapat disebabkan oleh tingginya dekomposisi bahan

organik dan oksidasi bahan anorganik yang dapat mengurangi kadar oksigen terlarut pada bagian inlet, namun kualitas DO meningkat pesat pada bagian outlet.

Dengan demikian apabila kita perhatikan lebih jauh ternyata antara konsentrasi DO dan BOD terdapat korelasi yang negatif (berbanding terbalik), artinya apabila konsentrasi BOD tinggi maka akan diikuti dengan rendahnya DO.

D. Parameter Phospat

Kualitas Phospat pada semua titik pengambilan sampel dari masing-masing situ/waduk tersaji pada

Grafik dibawah :

 

Grafik : I.24 . Konsentrasi Phospat Situ/Waduk Wilayah Jakarta Pusat, 2009

 


Kualitas Phospat pada situ/waduk di wilayah Jakarta Pusat yang dipantau yaitu situ Lembang, waduk Melati dan situ Taman Ria Senayan menunjukkan hasil yang bervariasi. Pada situ Lembang dan situ Taman Ria Senayan konsentrasi Phospat masih memenuhi baku mutu, namun pada waduk Melati disemua titik pantau konsentrasi Phospat telah melebihi baku mutu.

Tingginya Phospat ini dapat berasal dari aktifitas manusia seperti penggunaan sabun yang salah satu komponennya berupa Phospat yang dipakai sebagai pembentuk buih. Selain itu dapat berasal dari limbah rumah tangga lainnya yang sebagian besar berbentuk anorganik dengan ortophospat.

E. Parameter Organik

Kualitas Organik pada inlet, tengah dan outlet dari masing-masing situ/waduk tersaji pada Grafik dibawah :


 

Grafik : I.25. Konsentrasi Organik Situ/Waduk wilayah Jakarta Pusat, 2009

 


Konsentrasi Organik yang terlihat pada Grafik diatas menunjukkan bahwa kualitas parameter Organik di semua situ yang dipantau wilayah Jakarta Pusat dalam kondisi baik yaitu konsentrasinya masih memenuhi baku mutu.

Tingginya Organik ini dapat berasal aktifitas organisme baik hewan, tumbuhan, ataupun manusia. Pada umumnya Organik ini berisikan kombinasi karbon, hidrogen, dan oksigen bersama-sama dengan nitrogen. Dengan semakin tingginya Organik maka ada beberapa zat yang sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme.

3.4. Kualitas Mikrobiologi

Parameter Mikrobiologi yang dipantau meliputi bakteri Coliform dan bakteri Fecal coli. Hasil pengambilan sampel Mikrobiologi dari 8 situ/waduk tersaji pada Tabel dibawah :

 

Tabel : I.27. Kisaran Konsentrasi Mikrobiologi Situ/Waduk Tahun 2009

 

Dari Tabel diatas terlihat bahwa kualitas situ/waduk di DKI Jakarta sebagian besar kualitas biologi baik Coliform maupun Fecal colinya telah melebihi baku mutu. Hanya ada 4 (tiga) situ dari 20 Situ yang konsentrasi Coliform maupun Fecal coli-nya masih berada dibawah baku mutu yaitu situ Rawa Dongkal, situ Elok, situ Sunter I dan situ Kalibata.

3.5. Status Mutu Air Situ/Waduk (Indeks Pencemar)

Berdasarkan perhitungan status mutu air situ/waduk dengan Metode Storet di semua Situ/Waduk yang dipantau tersaji pada Grafik : I.26 di bawah ini, apabila dilihat pada Grafik dibawah secara umum kondisi status mutu situ/waduk di DKI Jakarta berdasarkan hasil perhitungan Tahun 2009 dalam kondisi tercemar berat.

 

Grafik : I.26. Status Mutu Air Situ/Waduk di wilayah DKI Jakarta Tahun 2009

 

Dari hasil pemantauan situ-situ tersebut diatas, secara umum dapat disimpulkan sbb :

Kondisi situ secara umum tidak terawat dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya sampah yang menumpuk hampir di sepanjang pinggiran situ, mendapat masukan limbah cair rumah tangga dan industri dan kurang terlihatnya situ sebagai salah satu komponen dalam fungsi ekologis.

•  Beberapa parameter di perairan situ telah melebihi baku mutu yang telah ditetapkan oleh SK Gub KDKI Jakarta Nomor 582 Tahun 1995 (C) untuk pertanian dan perikanan. Parameter-parameter yang melebihi baku mutu tersebut adalah, DO, COD, BOD, Fosfat, Fenol, Minyak dan Lemak, dan Detergen.

•  Status mutu air yang diperoleh seluruh situ masuk dalam kategori buruk atau tercemar berat.

•  Luas situ cenderung berkurang akibat adanya sedimentasi dan berpengaruh pada daya tampung situ, akibatnya waktu tinggal hidrolik situ cenderung rendah. Rendahnya waktu tinggal hidrolik mengakibatkan situ kurang optimal dalam menampung aliran yang besar pada waktu hujan dan kurang efektif sebagai penampung banjir.

Agar kelestarian situ DKI Jakarta tetap terjaga dan menjadi lebih baik sehingga dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya maka upaya yang harus dilakukan, yaitu :

•  Penyuluhan secara rutin dan berkelanjutan untuk pemeliharaan situ guna menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan situ dan ekosistem di dalamnya, terutama perilaku dan disiplin masyarakat setempat dalam memanfaatkan fungsi Situ.

•  Melakukan pengerukan secara berkala untuk mengurangi sedimentasi.

•  Menanam pohon berakar kuat untuk menjaga erosi.

•  Melakukan konsevasi sumberdaya air yang melibatkan semua pihak dan mentaati rencana tata ruang yang telah disepakati

3. Sungai

Sungai sebagai salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia termasuk untuk menunjang pembangunan perekonomian. Sebagai akibat adanya peningkatan kegiatan pembangunan di berbagai bidang maka baik secara langsung ataupun tidak langsung akan mempunyai dampak terhadap kerusakan lingkungan termasuk didalamnya pencemaran sungai yang berasal dari limbah domestik maupun non domestik seperti pabrik dan industri. Oleh karena itu pencemaran air sungai dan lingkungan sekitarnya perlu dikendalikan seiring dengan laju pembangunan agar fungsi sungai dapat dipertahankan kelestariannya.

Provinsi DKI Jakarta dimana mengalir 13 (tiga belas) sistem aliran sungai yang sebagian besar berhulu di daerah Jawa Barat dan bermuara di Teluk Jakarta. Dengan demikian sungai di DKI Jakarta merupakan tempat limpahan akhir dari pada buangan-buangan tersebut. Padahal sungai itu sendiri mempunyai banyak fungsi yang sangat penting, antara lain sebagai sumber air baku air minum, perikanan, peternakan, pertanian, dan usaha perkotaan.

Untuk menanggulangi hal tersebut di atas, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 582 Tahun 1995 tentang Penetapan Peruntukan Baku Mutu Air Sungai/Badan Air serta Baku Mutu Limbah Cair di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

BPLHD Provinsi DKI Jakarta secara berkesinambungan telah melakukan pemantauan kualitas air di 13 sungai yang mengalir di Provinsi DKI Jakarta dimana data yang diperoleh dapat dipakai sebagai dasar kebijakan Pemerintah dalam pengendalian pencemaran sungai dan pengelolaan lingkungan.

3.1. Lokasi Pemantauan

Lokasi pemantauan dilakukan di 67 titik dari 13 sungai yang mengalir di DKI Jakarta, meliputi perbatasan DKI Jakarta-Jawa Barat, hilir dan muara yang ada di Provinsi DKI Jakarta, dengan peruntukan sebagai berikut :

1. Peruntukan air baku air minum ( Golongan B )

2. Peruntukan perikanan dan peternakan ( Golongan C )

3. Peruntukan pertanian dan usaha perkotaan ( Golongan D )

 

Tabel : I.28. Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun 2009

 

3.2. Periode Pemantauan dan Parameter yang Dipantau

Pemantauan kualitas air sungai untuk tahun 2009 dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali pemantauan yaitu bulan April, Juli dan Oktober 2009. Parameter yang dipantau sesuai dengan SK Gubernur DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995 tentang Penetapan Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai/Badan Air Serta Baku Mutu Limbah Cair di Wilayah DKI Jakarta meliputi parameter fisik, kimia, dan biologi (Coliform dan Fecal Coli).

Pemantauan kualitas air sungai dilakukan pada 13 sungai dengan 66 titik pemantauan yang meliputi 3 peruntukan yaitu peruntukan air baku air minum (golongan B), peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C), serta peruntukan pertanian dan usaha perkotaan (Golongan D).

A). Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Daerah Aliran Sungai Ciliwung terdiri dari 14 (empat belas) titik pantau yang berada pada 2 (dua) peruntukan air sungai yaitu peruntukan air baku air minum (golongan B) dan peruntukan pertanian dan usaha perkotaan (golongan D).

a. Kualitas Fisik

Kualitas fisik Daerah Aliran Sungai Ciliwung tersaji pada Tabel di bawah ini.

 

Tabel : I.29. Kualitas Fisik DAS Ciliwung Tahun 2009

 

Pada Tabel diatas terlihat bahwa kualitas fisik sungai baik pada periode April, Juli maupun Oktober rata-rata telah melampaui baku mutu, namun untuk parameter TDS pada golongan B dan parameter TSS pada golongan D konsentrasinya masih memenuhi baku mutu.

b. Kualitas Kimia

Parameter Detergent untuk sungai Ciliwung yang masuk pada golongan B rata-rata kualitasnya masih bagus. Namun untuk sungai Ciliwung yang termasuk pada golongan D kualitasnya semakin buruk hingga melebihi baku mutu hal ini dapat dilihat pada Grafik dibawah :

 

Grafik : I.27. Konsentrasi Detergent DAS Ciliwung Tahun 2009

 

 

Parameter Phospat untuk sungai Ciliwung pada periode Juli rata-rata meningkat konsentrasinya baik pada sungai Ciliwung golongan B maupun golongan D. Meskipun ada peningkatan konsentrasi pada bulan Juli namun sungai Ciliwung yang masuk pada golongan B masih berada dibawah baku mutu, hal ini dapat dilihat pada Grafik dibawah :

Grafik : I.28. Konsentrasi Phospat DAS Ciliwung, 2009 dan Konsentrasi Organik DAS Ciliwung, 2009

Seperti yang dapat kita lihat pada Grafik diatas, konsentrasi Organik di DAS Ciliwung baik golongan B maupun golongan D pada pemantauan bulan April, Juli dan Desember konsentrasinya telah melebihi baku mutu. Sedangkan untuk konsentrasi BOD pada periode April 2009 konsentrasinya masih berada dibawah baku mutu, namun pada bulan Juli dan Oktober konsentrasinya meningkat hingga melebihi baku mutu. Untuk parameter COD konsentrasinya rata-rata telah melebihi baku mutu.

Grafik : I.29 . Konsentrasi BOD dan COD DAS Ciliwung, 2009

 

Konsentrasi Organik yang tinggi juga berpengaruh terhadap kandungan Oksigen dalam air, semakin tinggi konsentrasi Organik maka kebutuhan Oksigen dalam air untuk menguraikan bahan Organik akan meningkat. Konsentrasi Oksigen dalam air sungai Ciliwung masih cukup bagus dibeberapa titik, namun untuk titik 5A (Jl.Teluk Gong), 6 (Jemb.PIK Muara Angke), 30 (Jl.Ancol Marina) dan 31 (Jl.Raya Pluit, Penjaringan) konsentrasinya sudah sangat rendah baik pada periode pengambilan sampel bulan April, Juli maupun Oktober 2009.

 

Grafik : I.30 . Konsentrasi DO DAS Ciliwung Tahun 2009

 

 

c. Kualitas Biologi

Parameter Biologi yang dianalisa meliputi bakteri Coliform dan bakteri Fecal coli. Berdasarkan hasil pengamatan sepanjang tahun 2009 ini parameter Coliform dan Fecal coli telah melebihi baku mutu di semua lokasi pengambilan sampel baik pada bulan April, Juli maupun Oktober.

 

Tabel : I.30. Kualitas Biologi DAS Ciliwung Tahun 2009

 
B). Daerah Aliran Sungai Cipinang

Daerah Aliran sungai Cipinang terdiri dari 6 (enam) titik pantau yang berada pada peruntukan pertanian dan usaha perkotaan (golongan D).

a. Kualitas Fisik

Kualitas fisik Daerah Aliran Sungai Cipinang tersaji pada Tabel dibawah :

 

 

Tabel : I.31. Kualitas Fisik DAS Cipinang Tahun 2009

 

 

Dari Tabel diatas terlihat bahwa kualitas fisik sungai Cipinang rata-rata kondisi kualitasnya masih bagus, namun untuk parameter TDS di titik yang berada di Jl. Pondok Gede (Taman Mini) pada periode bulan Juli dan Jl. Kampung Dukuh pada bulan Juli dan Oktober kualitasnya telah melebihi baku mutu.

b. Kualitas Kimia

Kualitas kimia air sungai Cipinang khususnya parameter Detergent konsentrasinya dibagian hulu dan bagian tengah masih berada dibawah baku mutu. Untuk titik yang lain rata-rata konsentrasinya telah melebihi baku mutu .

 

Grafik : I.31. Konsentrasi Detergent DAS Cipinang Tahun 2009

 

Adanya kandungan Phospat dalam air sungai merupakan salah satu indikator adanya pencemar detergen yang masuk kesungai tersebut. Hal ini dapat kita lihat pada Grafik : I.32 yang menerangkan bahwa kandungan Phospat dalam air dibeberapa titik telah melebihi baku mutu.

 

Grafik : I.32 . Konsentrasi Phospat DAS Cipinang, 2009 dan Konsentrasi Organik DAS Cipinang, 2009

 

Kandungan Organik pada air sungai Cipinang seperti pada Grafik : I.32 telah tinggi. Tingginya kandungan Organik di sungai Ciliwung terjadi karena tingginya pencemar yang masuk ke badan sungai. Bahan pencemar yang banyak mengandung bahan-bahan organik biasanya berasal dari limbah rumah tangga dan sampah domestik. Kandungan organik yang tinggi berpengaruh pada konsentrasi COD dan BOD yang tinggi pula seperti pada Grafik : I.33 .

Grafik : I.33. Konsentrasi COD DAS Cipinang, 2009 dan Konsentrasi BOD DAS Cipinang, 2009

 

Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa kandungan Oksigen dalam air sungai Cipinang masih memenuhi baku mutu khususnya pada bulan Juli dan Oktober. Namun untuk periode Juli 2009 kandungan Oksigen Terlarut di air sungai Cipinang sudah sangat rendah kecuali pada titik 9 (Jl. Halim Perdana Kusumah).


 

Grafik : I.34 . Konsentrasi DO DAS Cipinang Tahun 2009

 

 

c. Kualitas Biologi

Berdasarkan Tabel : I.32 kualitas Coliform dan Fecal coli air sungai Cipinang rata-rata telah jauh melebihi baku mutu, dan cenderung mengalami peningkatan konsentrasi pada bulan Oktober.

 

Tabel : I.32. Kualitas Biologi DAS Cipinang Tahun 2009

 
C). Daerah Aliran Sungai Angke
a. Kualitas Fisik

Daerah aliran sungai Angke terdiri dari 3 titik pantau yaitu titik ( 19 ) yang berada di Ciledug masuk pada golongan C dan dua titik lainnya titik 20 dan 20A yang berada di Jl. Daan Mogot (Pool PPD) dan Pesing masuk pada golongan D.

Kualitas fisik air kali Angke umumnya masih bagus kecuali untuk parameter TDS di bagian hilir pada pemantauan bulan Juli dan Oktober telah tinggi konsentrasinya. Sedangkan untuk kandungan oksigen dalam air baik pada periode April, Juli maupun Oktober konsentrasinya sudah sangat rendah.

b. Kualitas Kimia

Kualitas kimia air kali Angke pada umumnya memburuk di bagian hilir, seperti parameter Detergent dan Phospat, disana terlihat konsentrasi Detergent dan Phospat dibagian hulu masih berada di bawah baku mutu, namun konsentrasi pada bagian tengah dan hilir telah jauh melebihi baku mutu.

Grafik : I.35. Konsentrasi Detergent DAS Angke, 2009 dan Konsentrasi Phospat DAS Angke, 2009

 

Seperti halnya parameter Detergent dan Phospat, pada pemantauan bulan Juli untuk parameter Organik, BOD dan COD konsentrasinya sangat tinggi hingga jauh melebihi baku mutu .

 

Grafik : I.36. Konsentrasi Organik DAS Angke, Konsentrasi BOD DAS Angke, Konsentrasi COD DAS Angke tahun 2009 Konsentrasi DO DAS Angke, 2007 - 2008 ,

Kualitas DO air sungai Angke pada pemantauan bulan April, Juli maupun Oktober konsentrasinya sudah sangat rendah, hal ini dipengaruhi oleh kandungan Organik yang sangat tinggi sehingga kebutuhan Oksigen dalam air juga tinggi.

c. Kualitas Biologi

Kualitas secara Biologi kali Angke baik parameter Coliform maupun Fecal coli sudah sangat tinggi, hal itu mengindikasikan bahwa kali Angke telah tercemar limbah yang black water yang berasal dari rumah tangga.

D). Daerah Aliran Sungai Mookervart

Sungai Mookervart terdiri dari 5 ( lima ) titik yang berada pada golongan C. Titik tersebut diantaranya adalah titik 24 (Pabrik Bir Bintang, Kali Deres), titik 24A (Pemancar AL, Rawa Buaya), titik 24B (Sumur Bor Duri Kosambi), titik 24C (Jemb.TMS Semanan) dan titik 24D (Jemb.Bakrie).

a. Kualitas Fisik

Seperti yang dapat kita lihat pada Tabel : I.33 , kualitas fisik air sungai Mookervart untuk pemantauan bulan April baik parameter DHL, TDS, TSS maupun kekeruhan rata-rata konsentrasinya masih berada di bawah baku mutu namun pada pemantauan bulan Juli dan Oktober pada titik tertentu konsentrasi DHL,TSS dan kekeruhan sudah tidak memenuhi baku mutu.

 

Tabel : I.33. Kualitas Fisik DAS Mookervart Tahun 2009

 
b. Kualitas Kimia

Kandungan Detergen dalam air sungai Mookervart baik pada pemantauan bulan April, Juli dan Oktober 2009 rata-rata telah melebihi baku mutu .

 

Grafik : I.37. Konsentrasi Detergent DAS Mookervart Tahun 2009

 

Seperti terlihat pada Grafik : I.38 , konsentrasi Phospat mengalami peningkatan kualitas pada pemantauan Oktober 2009, namun dibagian hulu konsentrasinya melebihi baku mutu. Sedangkan untuk pemantauan bulan Juli konsentrasi Phospat sangat tinggi hingga melebihi baku mutu.

 

Grafik : I.38. Konsentrasi Phospat DAS Mookervart Tahun 2009

 

Berbeda dengan parameter Phospat, untuk parameter Organik, BOD dan COD konsentrasinya semakin meningkat dari hulu menuju ke hilir, rata-rata konsentrasi Organik, BOD dan COD di sungai Mookervart telah melebihi baku mutu yang ditetapkan.

 

Grafik : I.39. Konsentrasi ORGANIK, BOD DAN cod DAS Mookervart Tahun 2009

 

Buruknya kualitas air sungai Mookervart selain dapat dilihat dengan tingginya konsentrasi Detergent, Phospat, Organik, COD dan BOD juga ditunjukkan oleh rendahnya kandungan Oksigen dalam air sungai tersebut. Pada Grafik : I.40 bisa kita lihat bahwa konsentrasi Oksigen dalam air sungai Mookervart telah jauh berada di bawah baku mutu baik pada bulan April, Juli maupun Oktober.

Grafik : I.40 . Konsentrasi DO DAS Mookervart Tahun 2009

 

 

c. Kualitas Biologi

Kualitas Biologi untuk air sungai Mookervart pada pemantauan bulan April, Juli maupun Oktober 2009 tidak berbeda dengan sungai Angke, baik parameter Coliform maupun Fecal coli konsentrasinya sudah sangat tinggi. Buruknya kualitas Biologi air sungai Mookervart khususnya parameter Coliform dan Fecal coli menunjukan bahwa masih kurangnya kesadaran masyarakat sekitar sungai untuk tidak membuang limbah septic tank-nya ke dalam badan air.

E). Daerah Aliran Sungai Grogol

Daerah Aliran sungai Grogol terdiri dari 4 titik pantau yaitu terdiri dari 3 titik di bagian hulu dan tengah yaitu titik 25 (Jl. Lebak Bulus), titik 25A (Jl. Radio Dalam) serta titik 26 (RSJ Grogol) berada pada golongan C dan 1 titik di bagian hilir yaitu titik 27 (PLTU Pluit) berada pada golongan D.

a. Kualitas Fisik

Kondisi kualitas fisik Daerah Aliran Sungai Grogol pada umumnya kualitasnya sudah buruk terutama pada bagian tengah dan hilir, parameter fisik yang konsentrasinya telah tinggi adalah DHL, TDS, TSS dan Kekeruhan.

b. Kualitas Kimia

Grafik : I.41 di bawah ini menerangkan bahwa kualitas Kimia air sungai Grogol terutama untuk parameter Detergen pada bulan April, Juli dan Oktober di bagian hulu konsentrasinya masih memenuhi baku mutu, namun dibagian tengah dan hilir konsentrasinya sangat tinggi. Senada dengan parameter Detergent, untuk konsentrasi Phospat di sungai Grogol pada bulan April, Juli dan Oktober rata-rata telah tinggi hingga melebihi baku mutu kecuali di bagian hulu konsentrasinya masih berada di bawah baku mutu. Sedangkan untuk bulan Oktober parameter Phospat mengalami penurunan konsentrasi namun masih melebihi baku mutu.

Grafik : I.41. KONSENTRASI DETERGEN, PHOSPAT DAS GROGOL, 2009

 

 

Konsentrasi Organik, BOD, COD rata-rata telah melebihi baku mutu baik pada bulan Juli maupun Oktober 2009. Sedangkan untuk bulan April konsentrasi Organik, BOD dan COD masih memenuhi baku mutu. .

Grafik : I.42 . KONSENTRASI ORGANIK DAN BOD DAS GROGOL, 2009

Tingginya konsentrasi Organik berdampak pada kandungan Oksigen dalam air sungai. Seperti yang dapat kita lihat pada Grafik di bawah, konsentrasi Oksigen dalam air sungai Grogol pada bulan April, Juli maupun Oktober telah jauh dibawah baku mutu yang seharusnya ada. Konsentrasi DO tertinggi dan masih memenuhi baku mutu hanya terdapat di titik 25A (Radio Dalam) pada periode April 2009.

 

Grafik : I.43 . Konsentrasi DO DAS Grogol Tahun 2009

 

 

c. Kualitas Biologi

Kualitas Biologi air sungai Grogol baik parameter Coliform maupun Fecal coli pada golongan C maupun golongan D jumlahnya telah tinggi hingga jauh berada diatas baku mutu. Hal tersebut menunjukkan bahwa sungai Grogol telah tercemar oleh limbah tinja.

F). Daerah Aliran Sungai Sunter

Daerah Aliran Sungai Sunter berada pada golongan D dan terdiri dari 7 (tujuh) titik pantau. Pemantauan hulu sungai Sunter terletak dititik 10 ( Pondok Rangon) dan bagian hilir terletak di titik 13 (Bogasari, Koja Selatan).

a. Kualitas Fisik

Kualitas fisik air sungai Sunter pada bulan April, Juli maupun Oktober umumnya dari hulu ke hilir konsentrasinya masih memenuhi baku mutu, kecuali untuk parameter tertentu seperti TSS dititik 12 (Jl. Jatinegara Kaum) periode April konsentrasinya sangat tinggi. Parameter DHL dan TDS di titik 13 (Bogasari, Koja Selatan) dan titik 12 (Jatinegara Kaum) konsentrasinya melebihi baku mutu.

 

Tabel : I.34. Kualitas Fisik DAS Sunter Tahun 2009

 
b. Kualitas Kimia

 

Grafik : I.44 . Konsentrasi Detergent DAS Sunter Tahun 2009

 

Pada Grafik : I.44 dapat kita lihat bahwa konsentrasi Detergent dari hulu menuju ke hilir rata-rata semakin meningkat. Parameter Detergent pada periode bulan Juli dari hulu sampai ke hilir rata-rata telah melebihi baku mutu, sedangkan periode bulan April dan Oktober konsentrasinya masih dibawah baku mutu, kecuali pada bulan April dibagian hilir yaitu titik 13 (Bogasari,Koja Selatan) dan titik 45 (Sudarso, Kelapa Gading). Seperti halnya parameter Detergent, untuk parameter Phospat konsentrasinya meningkat dibagian hilir. Peningkatan yang sangat siknifikan terjadi pada bulan Juli dimana dibagian hilir konsentrasinya telah melampaui baku mutu.

 

Grafik : I.45 . Konsentrasi Phospat dan Organik DAS Sunter, 2009

 

Kandungan Organik dalam air sungai Sunter rata-rata dari hulu ke hilir konsentrasinya semakin meningkat, juga untuk parameter BOD dan COD. Namun untuk parameter organik rata-rata telah melebihi baku mutu, hanya beberapa titik dibagian hulu saja yang pada periode April konsentrasinya masih dibawah baku mutu. Sedangkan untuk BOD dibagian hulu konsentrasinya masih dibawah baku mutu, namun untuk parameter COD rata-rata konsentrasinya telah melebihi baku mutu.

 

Grafik : I.46 . Konsentrasi BOD dan COD DAS Sunter, 2009

 

Kualitas DO dibagian hulu pemantauan bulan April dan Oktober masih bagus, namun dibagian tengah dan hilir konsentrasinya menurun hingga berada dibawah baku mutu, sedangkan konsentrasi bulan Juli konsentrasinya meningkat hingga memenuhi baku mutu.

c. Kualitas Biologi

Kualitas biologi air sungai Sunter baik parameter Coliform maupun Fecal coli pada semua periode pemantauan telah melebihi baku mutu hal ini menunjukkan tingkat pencemaran yang disebabkan oleh limbah black water dari rumah tangga.

 

Tabel : I.35. Kualitas Biologi DAS Sunter Tahun 2009

 

 
G). Daerah Aliran Sungai Krukut dan Tarum Barat

Sungai Krukut dan Tarum Barat masuk pada golongan B, sungai Krukut terdiri dari 2 (dua) titik yaitu titik 14 dan 15 yang terletak di Jl. Pondok Labu dan Jl. Pejompongan (Karet Tengsin), sedangkan sungai Tarum Barat terdiri dari 2 (dua) titik yaitu titik 17 dan 18 yang berada di Bekasi dan Halim Perdana Kusumah.

a. Kualitas Fisik

Kualitas fisik air sungai Tarum Barat dan sungai Krukut khususnya parameter TSS dan kekeruhan rata-rata telah melebihi baku mutu baik pada periode April, Juli maupun Oktober.

b. Kualias Kimia

Kualitas Detergent dan Phospat sungai Krukut dan sungai Tarum Barat umumnya masih berada dibawah baku mutu, namun kualitas Phospat sungai Krukut pada pemantauan Juli konsentrasinya meningkat hingga melebihi baku mutu, titik tersebut berada di bagian hilir sungai Krukut.

Grafik : I.47. Konsentrasi Detergent DAN PHOSPAT DAS Krukut dan Tarum Barat Tahun 2009

 

Konsentrasi Organik pada sungai Krukut dan Tarum Barat rata-rata telah melebihi baku mutu, kecuali konsentrasi Organik di sungai Tarum Barat pada pemantauan bulan Juli, Sedang parameter BOD dan COD rata-rata terjadi peningkatan konsentrasi pada pemantauan bulan Juli 2009.

Grafik : I.48. Konsentrasi Organik DAN BOD DAS Krukut dan Tarum Barat Tahun 2009

 

Jika kita lihat pada Grafik : I.49 kandungan Oksigen Terlarut pada air sungai Krukut dan Tarum Barat terjadi penurunan kualitas pada bagian hilir sungai, namun untuk sungai Tarum Barat pada periode Juli konsentrasi DO meningkat kualitasnya.

 

 

Grafik : I.49. Konsentrasi DO DAS Krukut & Tarum Barat Tahun 2009

 

b. Kualitas Biologi

Kualitas Biologi air sungai Krukut dan sungai Tarum Barat pada bulan April, Juli maupun Oktober baik jumlah Coliform maupun Fecal coli telah jauh melebihi baku mutu.

H). DAS Cengkareng Drain dan Kali Baru Timur

Daerah Aliran Sungai Cengkareng Drain terdiri dari 2 (dua) titik pantau yang titik bagian hulu masuk pada golongan sungai C yaitu titik 21 yang berada di daerah Kembangan dan 1 (satu) titik di bagian hilir masuk pada golongan sungai D yaitu titik 22 yang berada di Jl. Kapuk Muara.

Daerah Aliran Sungai Kali Baru Timur terdiri dari 3 (tiga) titik yang berada pada golongan sungai D. Titik tersebut antara lain titik 33 yang berada di Jl.Raya Bogor (YKK), titik 33A yang berada di Jl. Otista III (Cipinang Cempedak) dan titik 34 yang berada di Jl.Ancol / Jemb. Si Manis.

a. Kualitas Fisik

Kualitas fisik sungai Cengkareng Drain dan kali Baru Timur umumnya masih memenuhi baku mutu kecuali untuk parameter DHL dan TDS pada sungai Cengkareng Drain dan kali Baru Timur bagian hilir rata-rata konsentrasinya telah melebihi baku mutu.

b. Kualitas Kimia

 

Grafik : I.50 . Konsentrasi Detergent DAS Cengkareng Drain dan Kali Baru Timur Tahun 2009

 

Kualitas kimia khususnya parameter Detergent dan Phospat pada kali Baru Timur bagian hilir meningkat konsentrasinya baik pada pemantauan bulan April, Juli dan Oktober.

 

Grafik : I.51 . Konsentrasi Phospat, ORGANIK DAN BOD DAS Cengkareng Drain dan Kali Baru Timur Tahun 2009 SERTA COD TAHUN 2007

 

Kondisi kualitas air sungai Cengkareng Drain dan kali Baru Timur bulan April, Juli, Oktober telah buruk, hal ini dapat dilihat konsentrasi Organik, COD dan BOD di sungai tersebut yang rata-rata telah melebihi baku mutu.

Selain itu buruknya kualitas air sungai juga dapat dilihat dengan rendahnya kandungan Oksigen terlarut dalam air. Grafik : I.52 dibawah ini menunjukkan bahwa rata-rata kandungan Oksigen dalam air kali Baru Timur sangat rendah. Hanya bagian hulu kali Baru Timur bulan April konsentrasi DO meningkat hingga memenuhi baku mutu .

 

Grafik : I.52 . Konsentrasi DO DAS Cengkareng Drain dan Kali Baru Timur Tahun 2009

 

 

c. Kualitas Biologi

Buruknya kualitas air sungai Cengkareng Drain dan kali Baru Timur diperkuat pula dengan tingginya jumlah Coliform dan Fecal coli yang telah mencemari air sungai tersebut.

I). Daerah Aliran Sungai Buaran, Cakung Drain dan Blencong

Daerah Aliran sungai Buaran, Cakung Drain dan Blencong berada pada golongan sungai D yang masing-masing terdiri dari 2 (dua) titik pantau.

a. Kualitas Fisik

Kualitas fisik air sungai Buaran dan Cakung Drain pada bulan April dan Juli umumnya kondisinya sudah buruk, khususnya untuk parameter DHL dan TDS. Namun pada periode bulan Oktober kualitas fisik sungai Buaran dan Cakung Drain meningkat hingga memenuhi baku mutu.

b. Kualitas Kimia

Grafik : I.53 menunjukkan bahwa kualitas Detergent sungai Buaran dan Cakung Drain bulan April rata-rata kualitasnya telah melebihi baku mutu, namun meningkat kualitasnya pada periode bulan Juli dan Oktober. Sedangkan sungai Blencong bagian hulu maupun hilir konsentrasinya masih bagus kecuali bagian hulu pada bulan Juli konsentrasinya telah melebihi baku mutu.

 

Grafik : I.53 . Konsentrasi Detergent DAS Buaran, Cakung Drain dan Blencong Tahun 2009

Pada Grafik : I.54 rata-rata konsentrasi Phospat telah melebihi baku mutu kecuali untuk sungai Blencong bagian hulu konsentrasi Phospat meningkat baik pada bulan April, Juli maupun Oktober.

 

Grafik : I.54 . Konsentrasi Phospat DAS Buaran, Cakung Drain dan Blencong Tahun 2009

 

Rata-rata pencemaran air sungai Buaran, Cakung Drain dan Blencong sudah tinggi. Hal ini dapat kita lihat pada kualitas Organik, BOD dan COD pada masing-masing sungai pada bulan Juli dan Desember konsentrasinya telah melebihi baku mutu. Konsentrasi tertinggi berada pada titik 38A (pantai Marunda). Kandungan Oksigen terlarut pada bulan Juli maupun Desember sudah tidak sesuai dengan baku mutu, hanya bagian hilir sungai Cakung Drain dan sungai Blencong saja yang konsentrasi DO-nya masih sesuai dengan baku mutu.

 

Grafik : I.55 . Konsentrasi Organik, BOD, COD DAN DO DAS Buaran, Cakung Drain dan Blencong Tahun 2009

c. Kualitas Biologi

Pencemaran yang berasal dari limbah septic tank pada sungai Buaran, sungai Cakung Drain dan sungai Blencong umumnya telah tinggi dimana di bagian hulu maupun hilir sungai tersebut jumlah bakteri Coliform maupun Fecal colinya telah jauh melebihi baku mutu.

J). Daerah Aliran Sungai Petukangan dan Kamal

Daerah Aliran sungai Petukangan dan Kamal yang masing-masing terdiri dari 2 (dua) titik pantau termasuk dalam air sungai golongan D. Lokasi titik pantau sungai Petukangan terletak di Kawasan PT.JIEP (hulu) dan Jl.Swadaya, Pupar (hilir). Sedangkan sungai Kamal terletak di Jl. Raya Benda, Pegadungan (hulu) dan Muara Kamal (hilir).

a. Kualitas Fisik

Kualitas fisik air sungai Petukangan dan Kamal khususnya untuk parameter DHL dan TDS telah melebihi baku mutu .

b. Kualitas Kimia

Kualitas kimia air sungai Petukangan khususnya untuk parameter Detergent telah jauh melebihi baku mutu, namun untuk bulan Juli konsentrasi Detergent menurun hingga berada dibawah baku mutu. Sedangkan sungai Kamal konsentrasi Detergentnya pada bagian hulu masih memenuhi baku mutu dan pada bagian hilir konsentrasi tinggi baik pada bulan April, Juli dan Oktober.

 

Grafik : I.56 . Konsentrasi Detergent DAS Petukangan Dan DAS Kamal Tahun 2009

 

Sedangkan untuk parameter kimia yang lain seperti Phospat, Organik, COD dan BOD rata-rata konsentrasinya telah sangat tinggi, namun untuk sungai Kamal bagian hulu kualitasnya masih bagus.

Grafik : I.57 . Konsentrasi Phospat DAS Petukangan Dan DAS Kamal Tahun 2009

 

Kandungan oksigen terlarut dalam air untuk sungai Petukangan maupun sungai Kamal sudah tidak memenuhi baku mutu.

 

Grafik : I.58 . Konsentrasi DO DAS Petukangan Dan DAS Kamal Tahun 2009

 

 

c. Kualitas Biologi

Seperti kualitas fisik dan kimia, kualitas biologi air sungai Petukangan dan Kamal sudah buruk. Jumlah coliform dan fecal colinya sudah sangat tinggi.

3.3. Indeks Pencemar Air Sungai (IP) Tahun 2009

Indeks Pencemaran digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diizinkan. Indeks Pencemaran (IP) ditentukan untuk suatu peruntukkan, kemudian dapat dikembangkan untuk beberapa peruntukkan bagi seluruh bagian badan air atau sebagian dari seluruh sungai. Metode ini dapat langsung menghubungkan tingkat ketercemaran dengan dapat atau tidaknya sungai dipakai untuk penggunaan tertentu dan dengan nilai parameter-parameter tertentu. Status mutu air sungai di Provinsi DKI Jakarta secara keseluruhan dari 67 titik pantau dapat dilihat pada Tabel : I.36 dibawah ini.

 

Tabel : I.36. Jumlah Titik Pemantauan dan Status IP SungaiDi DKI Jakarta Tahun 2009

 

Tabel di atas menunjukkan bahwa kualitas air sungai di DKI Jakarta seluruhnya dalam kondisi telah tercemar dengan kategori tercemar ringan sampai tercemar berat, kondisi pada bulan Juli dan Oktober sedikit membaik bila dibandingkan dengan bulan April dimana kategori tercemar berat sedikit menurun dari 84 persen pada bulan April menjadi 82 persen pada bulan Juli dan Oktober, hal ini disebabkan pada bulan Juli dan Oktober sudah mulai turun hujan sehingga konsentrasi zat pencemar di sungai mengalami pengenceran.

a. Sungai Ciliwung

Status mutu DAS Ciliwung pada Grafik : I.59 di bawah ini terlihat bahwa kategorinya berkisar antara tercemar ringan hingga tercemar berat. Pada bagian hilir kualitas air sungai Ciliwung adalah tercemar ringan dan memburuk kualitasnya menuju hilir, namun bila dicermati di titik 6 (PIK) pada ketiga pemantauan menunjukkan trend yang menurun hal ini disebabkan adanya pelebaran sungai sehingga debit air dititik tersebut meningkat akibatnya konsentrasi pencemar mengalami pengenceran.

 

Grafik : I. 59. Indeks Pencemaran DAS Ciliwung

 

b. Sungai Cipinang

Sungai Cipinang berada pada golongan D yang terdiri dari 6 (enam) titik pantau, kualitas air sungai Cipinang dari hulu menuju hilir kualitasnya memburuk, pada bagian hulu di titik 8 (Jl. Auri, Cibubur) kualitasnya tercemar sedang pada bulan April dan membaik di bulan Juli dan Oktober menjadi tercemar ringan. Memasuki titik pantau berikutnya titik 8A (Jl. Pondok Gede) konsentrasinya memburuk dengan kategori tercemar sedang hingga berat yang disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri Coli dari sumber domestik disekitar titik pantau. Trend yang sama kembali terulang pada titik-titik berikutnya hingga bagian hilir, baik buruknya kualitas air sungai Cipinang dipengaruhi oleh limbah domestik berupa bakteri Coliform dan Fecal coli.

 

Grafik : I. 60. Indeks Pencemaran DAS Cipinang

 

c. Sungai Angke

Kali Angke hanya terdiri dari 3 (tiga) titik pantau, pada bagian hulu berada pada golongan C sedangkan bagian tengah dan hilir berada pada golongan D, kualitas kali Angke dapat dilihat pada Grafik di bawah ini, dari hulu ke bagian tengah kualitasnya memburuk dan kembali membaik di bagian hilir , hal ini disebabkan karena pada bagian tengah kali Angke yang berada di Jalan Daan Mogot merupakan daerah industri. Namun hal yang berbeda terjadi pada pemantauan di bulan Oktober dimana di bagian hilir kondisinya lebih buruk dari pada bagian tengah hal ini disebabkan karena tingginya curah hujan di bulan Oktober yang menyebabkan turbulensi air sungai hingga Oksigen terlarut (DO) menjadi sangat rendah akibatnya kualitas di titik tersebut lebih buruk di banding titik sebelumnya.


 

Grafik : I. 61. Indeks Pencemaran DAS Angke

 

d. DAS Mookervart

Sungai Mookervart berada pada sungai golongan C dan dari kelima titik pantau yang ada di sungai Mookervart telah berada pada status tercemar berat baik mulai dari bagian hulu hingga bagian hilir.

 

Grafik : I. 62. Indeks Pencemaran DAS Mookervart

 

e. DAS Grogol

Seperti halnya kali Angke, sungai Grogol juga hanya mempunyai tiga titik pantau. Dari tiga titik tersebut telah berada pada status cemar berat.

 

Grafik : I. 63. Indeks Pencemaran DAS Grogol

 

f. DAS Sunter

Sungai Sunter termasuk pada golongan D. Kualitas sungai Sunter dari hulu menuju hilir mengalami penurunan kualitas, secara keseluruhan kualitas air sungai Sunter baik di bagian hulu maupun hilir pada tiga periode pemantauan termasuk dalam kategori tercemar berat.

 

Grafik : I. 64. Indeks Pencemaran DAS Sunter

 

g. Sungai Krukut dan Tarum Barat

Sungai Krukut dan sungai Tarum Barat masing-masing hanya mempunyai dua titik pantau. Kondisi kualitas sungai Krukut baik dibagian hulu maupun hilir telah berada pada status tercemar berat dan memiliki trend yang memburuk dari hulu hingga hilir, sedangkan untuk sungai Tarum Barat kualitasnya membaik dari hulu ke hilir.

 

Grafik : I. 65. Indeks Pencemaran DAS Krukut dan Tarum Barat

 

h. DAS Cengkareng Drain dan Kali Baru Timur

Sungai Cengkareng Drain mempunyai dua titik pantau, dimana titik di bagian hulu berada pada golongan C dan bagian hilir berada pada golongan D. Kualitas sungai Cengkareng Drain dari hulu menuju hilir semakin menurun kualitasnya.

Kali Baru Timur mempunyai tiga titik pantau yang berada pada golongan D, dimana kondisi kualitas pada bagian hulu termasuk dalam kategori tercemar ringan dan cemar berat, sedangkan pada bagian tengah dan hilir telah berada pada status tercemar berat.

 

Grafik : I. 66. Indeks Pencemaran DAS Cengkareng Drain dan Kali Baru Timur .

 

i. DAS Buaran, Cakung Drain dan Blencong

Daerah Aliran sungai Buaran, Cakung Drain dan Blencong berada pada golongan D dan masing-masing hanya mempunyai dua titik pantau. Kualitas air sungai Buaran, Cakung Drain dan sungai Blencong telah berada pada status tercemar berat karena beban pencemar pada sungai tersebut tinggi.

 

Grafik : I.67 . Indeks Pencemaran DAS Buaran, Cakung Drain dan Blencong

 

j. DAS Petukangan dan Kamal

Sungai Petukangan dan Kamal termasuk pada sungai golongan D, masing-masing mempunyai dua titik pantau. Untuk sungai Petukangan dan Kamal baik hulu maupun hilir telah berada pada status tercemar berat. Pada sungai Petukangan memiliki trend yang membaik pada bagian hulu menuju hilir, sedangkan untuk sungai Kamal sebaliknya dari hulu hingga hilir kualitasnya memburuk.

 

Grafik : I.68 . Indeks Pencemaran DAS Petukangan dan Kamal

 

Dari hasil pemantauan kualitas sungai di DKI Jakarta, secara umum dapat disimpulkan sbb :

•  Pada umumnya kondisi air sungai di DKI Jakarta dari hulu menuju ke hilir telah buruk kualitasnya, baik kualitas fisik, kualitas kimia maupun kualitas biologi.

•  Berdasarkan Indeks Pencemar sungai, maka sungai-sungai di DKI Jakarta termasuk dalam kategori tercemar sedang dan tercemar berat.

•  Buruknya kualitas air sungai di DKI Jakarta disebabkan karena masuknya bahan-bahan pencemar yang berasal dari industri, limbah rumah tangga dan kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah kedalam sungai. Hal ini membahayakan bagi masyarakat yang menggunakan air sungai untuk minum dan kegiatan MCK, karena air yang tercemar dapat menimbulan penyakit pada saluran pencernaan serta penyakit kulit.

Dari hasil kesimpulan tersebut diatas yang saat ini dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta adalah :

1. Diperlukan data penunjang dari Dinas Kesehatan tentang kualitas kesehatan penduduk yang tinggal dibantaran sungai untuk menentukan langkah-langkah peningkatan kualitas air sungai.

2. Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan dampaknya terhadap kesehatan.

3 Mendayagunakan warga masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai agar memanfaatkan lahan kosong dan dilakukan penanaman tanaman semusim.

4 Sudah menjadi kebijakan Pemerintah DKI Jakarta, sampai dengan tahun 2012 diharapkan daerah aliran sungai di wilayah DKI Jakarta khususnya sepanjang sungai Ciliwung akan bebas dari sampah dan melakukan relokasi penduduk di sepanjang bantaran sungai tersebut.

D. Udara

Kota Jakarta dengan jumlah penduduk sebesar 9.223 juta jiwa menempati areal hanya seluas 661.52 Km 2 , dengan berbagai aktivitas didalamnya termasuk pembangunan yang semakin meningkat maka permasalahan lingkungan pun semakin meningkat, terlebih lagi bila pembangunan tersebut tidak memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Salah satunya termasuk pencemaran udara, karena udara merupakan unsur utama bagi mahkluk hidup di muka bumi dan terutama bagi manusia, tanpa udara bersih manusia akan terganggu kesehatannya.

Kualitas udara khususnya diperkotaan merupakan komponen lingkungan yang sangat penting, karena akan berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat maupun kenyamanan kota. Limbah gas di DKI Jakarta yang merupakan penyebab penurunan kualitas udara digolongkan ke dalam sumber tidak bergerak (kegiatan industri, rumah tangga dan pembakaran sampah) dan sumber bergerak (kegiatan transportasi).

Potensi limbah berupa debu (total partikel) terbesar berasal dari sumber tidak bergerak yaitu industri sebesar 56.653,09 ton/Tahun (70,37%); SO 2 tertinggi berasal dari sumber tidak bergerak yaitu 403.523,25 ton/Tahun (78,32%); NO x tertinggi dari sumber bergerak yaitu 27.079,72 ton/Tahun (62,2%) dan CO terbesar dari sumber bergerak sebesar 589.167,92 ton/Tahun (25,786%). Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber bergerak yaitu kendaraan bermotor merupakan penyebab pencemaran untuk parameter NO x dan CO. Sedangkan sumber tidak bergerak merupakan penyebab pencemaran untuk parameter SO 2 dan Debu.

Berdasarkan Ditlantas Polda Metro Jaya di dalam buku, Jakarta Dalam Angka (2008), jumlah kendaraan bermotor di Provinsi DKI Jakarta saat ini mencapai 4.550.717 unit. Laju pertambahan kendaraan setiap tahunnya mencapai 10 persen sedangkan pertambahan jalan hanya sebesar 4 persen, hal ini akan berdampak pada kemacetan jalan yang selanjutnya akan menimbulkan emisi gas buang yang besar. Emisi gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan tersebut akan memberikan kontribusi terhadap penurunan kualitas udara kota Jakarta.

Kegiatan industri dengan cerobongnya menghasilkan emisi yang sangat tinggi. Dengan semakin banyaknya jenis kegiatan industri maka emisi cerobong yang dihasilkan akan semakin besar, terutama untuk kegiatan industri yang menghasilkan bahan berbahaya dan beracun.

Parameter HC dan NO x di udara akan membentuk parameter pencemar baru dengan bantuan sinar matahari (ultraviolet) yaitu para akrilonitrit (PAN) yaitu berupa gas asap (smog) dan ozon yang lebih berbahaya bagi kesehatan manusia.

Selain pencemaran yang sifatnya mikro (lokal atmosfir Jakarta), juga terdapat dampak udara yang sifatnya global yaitu menipisnya lapisan ozon pelindung bumi. Apabila ozon yang berada di atmosfir mikro Jakarta berbahaya bagi kesehatan sehingga harus ditekan sekecil mungkin, maka fungsi ozon di lapisan luar atmosfir (stratosfir) merupakan ozon yang baik yang berfungsi melindungi bumi yaitu sebagai penyaring sinar ultraviolet yang menjadi penyebab penyakit kanker kulit. Berikut, sifat pencemaran udara dan efeknya terhadap kesehatan:

•  Partikulate matter (PM- 10 )

Partikulat adalah padatan atau likuid di udara dalam bentuk asap, debu, dan uap yang terdapat dalam atmosfir, disamping mengganggu estetika, partikel berukuran kecil dapat terhisap ke dalam sistem pernapasan dan menyebabkan penyakit gangguan pernapasan dan kerusakan paru-paru.

•  Karbon Monooksida (CO)

Mengganggu konsentrasi dan refleksi tubuh, menyebabkan kantuk, dan dapat memperparah penyakit kardiovascular akibat defisiensi oksigen, CO mengikat hemoglobin sehingga jumlah oksigen dalam darah berkurang.

•  Sulfur dioksida (SO 2 )

Meningkatkan resiko penyakit paru-paru dan menimbulkan batuk pada pemajanan singkat dengan konsentrasi tinggi.

•  Nitrogen Oksida (NO)

Meningkatkan total mortalitas, penyakit cardiovascular, mortalitas pada bayi, serangan asma, dan penyakit paru-paru kronis.

•  Timbal (Pb)

Adalah logam berat yang beracun yang dapat mengakibatkan kerusakan otak, ginjal, sumsum tulang, dan sistem tubuh yang lain pada anak-anak. Pada tingkat pajanan yang tinggi Pb dapat menimbulkan koma, kejang-kejang, dan kematian. Timbal juga dapat menyebabkan gangguan sistem syaraf, pencernaan dan hipertensi, dan penurunan IQ pada anak-anak. Peningkatan kadar Timbal darah sebesar 10 -20 ug/dl dapat menurunkan IQ.

Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan pemantauan kualitas udara ambien untuk menggambarkan kondisi kualitas udara di wilayah DKI Jakarta, dimana hasil pemantauan tersebut dapat dijadikan dasar dalam penentuan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan.

1. Lokasi Pemantauan

Pemantauan kualitas udara ambien pada tahun 2009 dilakukan di lima wilayah DKI Jakarta dengan metode sesaat yang menggunakan peralatan manual dengan lokasi pemantauan adalah Rawaterate, Lubang Buaya, Tebet Barat, Kuningan, Gambir, Cilincing, Ancol, Pegadungan dan Cipedak. Sedangkan untuk pemantauan dengan metode Kontinyu yang menggunakan peralatan otomatis untuk tahun 2009 ini tidak dapat dilakukan karena stasiun pemantau kualitas udara otomatis dalam keadaan rusak dan tidak ada alokasi anggaran untuk pengadaan sparepart .

 

Gambar : I.2 . Lokasi Pemantauan Kualitas Udara Ambien DKI Jakarta Tahun 2009

 

 

Tabel : I.37. Lokasi Pemantauan Kualitas Udara Ambien DKI Jakarta dan Peruntukannya Tahun 2009

Gambar : I.3. Lokasi Pemantauan Kualitas Udara (Metode Sesaat)

 

 

2. Waktu Pemantauan

Pemantauan kualitas udara dengan metode sesaat dilakukan sejak bulan Januari-Desember 2009 masing-masing satu kali pemantauan setiap bulan.

3. Hasil Pemantauan

Hasil pemantauan kualitas udara ambien sepanjang bulan Januari-Desember 2009 adalah :

•  Parameter Debu (TSP)

Hasil pemantauan untuk parameter debu (TSP), dan kualitas udara ambien parameter debu (TSP) yang merupakan nilai rata-rata bulanan.

Dari data tersebut, terlihat bahwa kualitas udara ambien untuk parameter Debu (TSP) hampir pada semua stasiun ada pengukuran yang nilainya masih di bawah baku mutu, kecuali di Pulogadung dan Cilincing yang diperuntukkan bagi industri seluruh hasil pengukurannya telah melebihi baku mutu. Rata-rata konsentrasi TSP di Jakarta berkisar 114-296 µg/m 3 . Tingginya konsentrasi TSP Pulogadung dan Cilincing disebabkan oleh tingginya aktivitas industri di lokasi tersebut karena sumber utama pencemar TSP adalah hasil pembakaran kegiatan industri.

 

Grafik : I.69. Kualitas Udara Ambien DKI Jakarta untuk Parameter Debu (TSP) Tahun 2009

 

 

•  Parameter Nitrogen Dioksida (NO 2 )

Tingginya konsentrasi Gas NO x termasuk salah satunya gas NO 2 , di sebabkan oleh kegiatan transportasi kendaraan bermotor serta kegiatan industri, ditunjukkan tingkat konsentrasi gas NO 2 di stasiun pemantauan dengan menggunakan metode manual, dari data tersebut dapat di lihat bahwa lokasi Pulogadung. Jika dibandingkan dengan baku mutu udara ambien berdasarkan SK Gub. 551/2001 yaitu untuk parameter NO 2 yaitu 92.00 µg/m 3 maka pada semua lokasi pemantauan konsentrasi NO 2 masih di bawah baku mutu. Pada lokasi pemantauan Tebet dan Kuningan memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dari pada lokasi lain kecuali lokasi pemantauan Pulogadung yang konsentrasinya melebihi baku mutu, hal ini karena pada lokasi tersebut, aktivitas transportasi relatif lebih tinggi di banding lokasi lainnya, rata-rata konsentrasi NO 2 di Jakarta untuk Tahun 2009 berkisar antara 15.63 – 44.58 µg/m 3 .


 

Grafik : I.70. Kualitas Udara Ambien DKI Jakarta untuk Parameter NO 2 Tahun 2009

 

Dari Grafik : I.70 terlihat bahwa konsentrasi NO 2 di semua lokasi masih memenuhi baku mutu.

 

•  Parameter Sulfur Dioksida (SO 2 )

Tingginya konsentrasi SO 2 di udara memiliki dampak terhadap kesehatan, hal ini disebabkan karena sampai tingkat konsentrasi tertentu, SO 2 dapat menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat membahayakan manusia, tumbuhan dan hewan. Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa konsentrasi SO 2 masih berada dibawah baku Kualitas udara ambien untuk parameter SO 2 tersaji pada Grafik : I.71 , dimana nilai rata-rata bulanan di semua lokasi pemantauan masih memenuhi baku mutu.

Nilai rata-rata konsentrasi SO 2 dalam satu tahun berkisar antara 4.58 µg/m 3 sampai dengan 10.06 µg/m 3 , dimana nilai tertinggi terdapat di kawasan JIEP, sedangkan nilai terendah terdapat di lokasi Lubang buaya. Dari semua pengukuran nilai SO 2 masih jauh di bawah baku mutu, dimana berdasarkan SK Gubernur Nomor 551 Tahun 2001 baku mutu untuk Sulfur dioksida adalah 260 µg/m 3 .

Konsentrasi SO 2 dapat dipicu oleh aktivitas transportasi dan industri. Tingginya aktivitas transportasi dan industri di kawasan JIEP menyebabkan konsentrasi SO 2 di wilayah tersebut juga tinggi. SO 2 merupakan pencemar sekunder yang terbentuk akibat reaksi antara zat pencemar primer dan di bantu oleh unsur-unsur meteorologis. Unsur meteorologis yang memacu terbentuknya SO 2 di udara adalah radiasi matahari dan curah hujan. Grafik dibawah dapat dilihat bahwa pada semua titik pantau, konsentrasinya masih dibawah baku mutu.

 

Grafik : I.71. Kualitas Udara Ambien DKI Jakarta untuk Parameter SO 2 Tahun 2009

 

 

•  Parameter Timbal (Pb)

Tingginya konsentrasi Pb di udara dapat membahayakan manusia karena Pb merupakan logam berat yang beracun yang dapat mengakibatkan kerusakan otak, ginjal, sumsum tulang, dan sistem tubuh yang lain pada anak-anak. Pada pemantauan tahun 2009, rata-rata konsentrasi Pb pada 9 lokasi titik pantau ditampilkan pada Grafik : I.72 di bawah ini dapat dilihat bahwa semua lokasi pemantauan, konsentrasi Pb masih memenuhi baku mutu, konsentrasinya berkisar dari 0.004-0.021 µg/m 3 .

Grafik : I.72. Kualitas Udara Ambien DKI Jakarta untuk Parameter Pb Tahun 2009

 

Dari hasil pemantauan kualitas udara ambien sepanjang Tahun 2009 dapat disimpulkan sebagai berikut :

•  Pemantauan kualitas udara ambien dengan metode sesaat di DKI Jakarta untuk parameter Sulfur dioksida (SO 2 ), Nitrogen dioksida (NO 2 ),Timbal (Pb) masih memenuhi baku mutu.

•  Pemantauan kualitas udara ambien dengan metode sesaat untuk parameter Debu (TSP) di beberapa lokasi seperti di Pulogadung dan Cilincing konsentrasinya telah melebihi baku mutu.

Dalam mengurangi dampak pencemaran di DKI Jakarta, langkah yang saat ini telah dilakukan pemerintah DKI Jakarta diantaranya :

1). Pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB)

Sejak tahun 2002, Jakarta menyelenggarakan Car Free Day yang digagas oleh koalisi LSM Lingkungan (AEB, MEB, GPUB, Instran, Bike to Work, Walhi, KPBB, Swisscontact Indonesia, Green Club Internasional, KIH Jakarta, STMT Trisakti, dan Yayasan Pelangi Indonesia) dan berlanjut di tahun 2003 sampai 2006.

CFD pertama dilaksanakan di koridor Sudirman – MH. Thamrin dengan penutupan jalan selama 6 jam dari jam 06.00-12.00 WIB. Pelaksanaan CFD dilakukan 1 kali dalam setahun yaitu bersamaan dengan Hari CFD Internasional setiap tanggal 22 September. Kegiatannya meliputi penutupan jalan dan kampanye polusi udara. Pusat kegiatan di Bundaran Hotel Indonesia.

Berdasarkan amanat Perda 2/2005 pasal 27, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melaksanakan Hari Bebas Kendaraan Bermotor sejak tahun 2007. Pada 22 September 2007 HBKB dilaksanakan di Jl. Sudirman-MH. Thamrin dengan penutupan jalan selama 12 jam dari jam 06.00-18.00 WIB. Kegiatan HBKB meliputi penutupan jalan, pengukuran kualitas udara ruas jalan, dan kampanye pengendalian pencemaran udara.

Maksud dari penyelenggaraan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) adalah untuk mendukung program pengendalian pencemaran udara dari sumber bergerak (kendaraan bermotor) yang merupakan bagian dari pengelolaan terhadap kualitas udara di Provinsi DKI Jakarta guna menciptakan udara kota Jakarta yang lebih bersih dan segar demi peningkatan kualitas lingkungan dan kualitas masyarakat.

Pada tahun 2007, HBKB telah dilaksanakan sebanyak 3 kali, yang meliputi 2 kali di Jl. MH. Thamrin (Patung Arjuna) sampai dengan Jl. Sudirman (Patung Pemuda), dan 1 kali di Kawasan Kota Tua.

Pada tahun 2008, HBKB telah dilaksanakan sebanyak 18 kali, yang meliputi 12 kali di Jl. MH. Thamrin (Patung Arjuna)- Jl. Sudirman (Patung Pemuda), 1 kali di Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat, Jl. Pramuka Jakarta Timur, Jl. Rasuna Said Jakarta Selatan, Kawasan Kota Tua Jakarta Barat, dan 2 kali di Jl. Danau Sunter Selatan Jakarta Utara.

Pada tahun 2009, HBKB telah dilaksanakan sebanyak 22 kali, yang meliputi 12 kali di Jl. MH. Thamrin (Patung Arjuna)-Jl. Sudirman (Patung Pemuda), dan 2 kali di masing-masing wilayah, yaitu di Jl. Letjen Suprapto Jakarta Pusat, Jl. Pramuka Jakarta Timur, Jl. Rasuna Said Jakarta Selatan, Kawasan Kota Tua Jakarta Barat, dan Jl. Artha Gading Jakarta Utara.

Penutupan jalan dilaksanakan pada ruas Jl. Sudirman (patung Pemuda)-Jl. MH. Thamrin (patung Arjuna) selama 8 jam yang dimulai dari pukul 06.00 dan berakhir pada pukul 12.00 WIB.

Adapun kegiatan rutin HBKB yaitu :

•  Senam pagi

•  Liga Futsal

•  Panggung Hiburan

•  Sepeda Santai

•  Siaran Langsung Program TV

2). Uji Emisi dan Perawatan Kendaraan Bermotor

Dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 92 Tahun 2007 tentang Uji Emisi dan Perawatan Kedaraan Bermotor.

Sampai dengan Tahun 2009, terdapat 568 teknisi yang telah bersertifikat, 238 bengkel pelaksana uji emisi yang memiliki sertifikasi dan sudah melakukan uji emisi sebanyak 5.665 kali.

Adapun daftar bengkel pelaksana uji emisi di 5 (lima) wilayah sebagai berikut :

•  Jakarta Selatan

•  Jakarta Timur

•  Jakarta Pusat

•  Jakarta Barat

•  Jakarta Utara

 

3). Kawasan Dilarang Merokok (KDM)

Pelaksanaan penegakan hukum Kawasan Dilarang Merokok mulai digelar sepanjang tahun 2009 ini sebagai implementasi Perda 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Pergub 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok (KDM), setelah selama tahun 2008 dilaksanakan uji petik KDM terhadap 7 kawasan di 5 Wilayah Kotamadya.

Pelaksanaan Kegiatan penegakan hukum KDM untuk Tahun 2009 Penegakan Hukum Kawasan Dilarang Merokok yang akan dimulai pada akhir bulan April 2009 dengan sasaran para perokok dan pimpinan/ penanggung jawab kegiatan/usaha yang melanggar 7 KDM akan dikenakan sanksi pidana. Khusus untuk pelanggar perokok akan diproses dengan sidang di tempat, sedangkan bagi pimpinan/penanggungjawab kegiatan/usaha di 7 KDM yang tidak memenuhi syarat penandaan/petunjuk penetapan area KDM dan membiarkan orang merokok tidak pada tempatnya yang telah disediakan akan dikenakan sanksi administrasi berupa (peringatan, penghentian sementara dan pencabutan izin), sedangkan khusus untuk pimpinan/penanggung jawab kegiatan/usaha dari tempat umum dan tempat kerja yang tidak menyediakan Tempat Khusus Merokok akan dikenakan sanksi pidana.

 

Adapun tujuan dilaksanakan penegakan hukum Kawasan Dilarang Merokok yang berlangsung secara bergelombang selama Tahun 2009 ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaraan penaatan hukum bagi masyarakat, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

4). Penerapan Kawasan Parkir Berstiker Lulus Uji Emisi

Menjelang adanya rencana penegakan hukum uji emisi yang akan diberlakukan di wilayah DKI Jakarta, yang saat ini masih terus diproses guna dibahas di tingkat Musyawarah Pimpinan Daerah, Pemprov DKI Jakarta kini giat melaksanakan Uji Emisi guna memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat pengguna kendaraan bermotor, termasuk kepada 238 Bengkel Pelaksana Uji Emisi (BPUE) Tersertifikasi dan 568 Teknisi Uji Emisinya, sebagai upaya untuk meng-implementasikan Perda 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, yang salah satunya mengatur kewajiban bagi pengguna kendaraan bermotor untuk melakukan uji emisi setiap 6 bulan sekali, baik bagi kendaraan umum, dan kendaraan pribadi, termasuk kendaraan bermotor roda 2.

Beberapa langkah yang telah dilakukan dalam rangka mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat adalah pelaksanaan uji petik di 5 (lima) Kantor Walikota, Uji Emisi Teguran Simpatik di Jalan Raya di 5 (lima) wilayah kota, dan uji emisi di kawasan-kawasan komersial, seperti mal, kawasan industri, dan penerapan kawasan parkir wajib berstiker di 25 Kawasan, termasuk di kawasan Monas.

Pada Hari ini Senin, 30 Nopember 2009 mulai pukul 07.00-15.00 Wib., Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang di dukung oleh BPLHD, Walikota Jakarta Pusat, Biro Umum, Biro KDH & KLN, Dishub, Satpol PP, dan UPT Parkir Dishub IRTI Monas, serta Agen Pemegang Merk (APM) Mobil dan Motor (Nissan, Chevrolet, Astra World (Toyota, Daihatsu, Isuzu, Peugeot dan BMW), dan Suzuki, serta Astra Honda Motor, Yamaha dan Coca Cola), menggelar Uji Emisi Gratis di Balaikota Provinsi DKI Jakarta, yang ditujukan tidak saja bagi Karyawan/Wati Pemprov DKI Jakarta, tetapi juga bagi Karyawan/Wati dari Instansi atau Departemen lainnya, undangan, tamu dan masyarakat umum. Selain itu pada kesempatan ini, Pemprov DKI Jakarta juga Menetapkan sebagian Halaman Parkir IRTI Monas dan Balaikota menjadi Kawasan Parkir Kendaraan Wajib Berstiker Tanda Lulus Uji Emisi.

Kegiatan uji emisi, sebenarnya merupakan kebutuhan dari kendaraan yang seharusnya dirawat secara berkala, sehingga awet, tahan lama, irit bahan bakar dan ramah lingkungan. Untuk itu, guna lebih meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya uji emisi, maka beberapa bengkel servis/perawatan juga diikutsertakan guna melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan yang tidak lulus uji emisi, untuk kemudian di test kembali, sehingga dapat memenuhi ambang batas emisi gas buang yang sudah ditetapkan.

Oleh karena itu, kegiatan uji emisi ini perlu didukung seluruh elemen masyarakat guna mempertahankan kualitas udara Jakarta yang semakin baik, dengan terus berupaya untuk menjadi lebih baik lagi. Trend ini dapat dilihat dari dari hasil pemantauan kualitas udara yang di dapat dari Tahun 2000 s.d 2007, dimana terjadi konsentrasi tingkat pencemaran udara yang terus menurun, melalui upaya Pencegahan, Penanggulangan (Diversifikasi Bahan Bakar dan Uji Emisi) dan Pemulihan Kualitas Udara (melalui pelaksanaan HBKB) di DKI Jakarta.

Penerapan Kawasan Parkir Berstiker adalah suatu program yang dilaksanakan di dalam suatu kawasan untuk menetapkan sebagian tempat parkirnya menjadi Kawasan Parkir Kendaraan Bermotor Wajib Berstiker Tanda Lulus Uji Emisi. Upaya ini, selain untuk memberikan pengharagaan kepada pemilik/pengguna kendaraan yang perduli lingkungan, juga dapat mengedukasi masyarakat, agar menguji dan merawat kendaraan bermotornya secara berkala, pada tahun 2009 pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memberlakukan Zona Parkir Lulus Uji Emisi di 25 lokasi wilayah Ibukota Jakarta diantaranya adalah : Jakarta Pusat (Hotel Sahid, Mal Senayan City, Balaikota DKI Jakarta, Walikota Jakarta Pusat, IRTI Monas), Jakarta Selatan (BPLHD Provinsi DKI Jakarta Jalan Casablanca, BPLHD Gedung Nyi Ageng Serang, Walikota Jakarta Selatan, Pondok Indah Mal 1 dan Mal 2), Jakarta Timur (PT. Dankos, PT. Martina Berto, Walikota Jakarta Timur, Universitas Kristen Indonesia, Tri Dharma Wasesa, PT.JIEP), Jakarta Barat (RS. Dharmais, Mal Ciprutra, Walikota Jakarta Barat, Kantor RS. Dharmais, Universitas Trisakti), Jakarta Utara (Mal Kelapa Gading, Walikota Jakarta Utara, PT.Citra Marga Nusa Pala, PT. Inti Garda Perdana). Sedangkan Uji Emisi Teguran Simpatik adalah program kegiatan uji emisi kendaraan bermotor yang dipersiapkan secara khusus untuk mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa penegakan hukum uji emisi kendaraan bermotor, tidak lama lagi akan diberlakukan di DKI Jakarta.

Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran dan kepedulian masyarakat semakin meningkat untuk merawat kendaraan bermotornya dan mentaati Ambang Batas Uji Emisi sebagaimana diamanatkan Perda 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, Pergub 92/2007 tentang Uji Emisi Kendaraan Bermotor (Kewajiban Uji Emisi Kendaraan Bermotor setiap 6 bulan sekali), serta Pergub 31/2008 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor.

E. Laut, Pesisir dan Pantai

Dengan meningkatnya pembangunan di Provinsi DKI Jakarta di wilayah Jakarta Utara, khususnya daerah pesisir utara Jakarta, maka sangat membutuhkan perencanaan dan program-program dalam mendukung pengembangan wilayah pesisir utara Jakarta yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dengan Luas dan panjang pesisir utara Jakarta (± 32 km) menjadi suatu permasalahan bagi lingkungan antara lain : penggunaan lahan yang kurang bijaksana sehingga berkurangnya hutan mangrove, kepadatan penduduk yang tinggi, kondisi biota laut yang cukup memprihatinkan, kematian ikan yang sering terjadi, kondisi perairan laut yang telah mengalami pencemaran dari ringan, sedang sampai berat, disamping semakin gencarnya reklamasi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir sehingga garis pantainya juga semakin tidak terlihat. Hal ini juga tidak terlepas dari pengaruh yang diakibatkan pelaksanaan kegiatan yang berada di hulu dan wilayah-wilayah/kota-kota yang berada di sekitar DKI Jakarta.

Secara umum wilayah Pantura Jakarta dapat dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Barat untuk pemukiman dan campuran, Wilayah Pengembangan Tengah untuk kepariwisataan dan Wilayah Pengembangan Timur untuk industri dan pergudangan.

Dengan memperhatikan kondisi-kondisi di atas, maka perlu dilakukan upaya pengendalian dan pemulihan lingkungan Pantura Jakarta yang dituangkan melalui Program Reklamasi dan Revitalisasi Pantura Jakarta dengan berpedoman kepada kebijakan Keppres No. 52 tahun 1995 tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta, Ruang Kawasan Pantura Jakarta dan ditindaklanjuti di dalam Perda No. 8 tahun 1995 pasal 9 tentang Kebijakan Pokok Tata Ruang Pantura. Tetapi program ini belum dapat berjalan secara maksimal karena masih adanya perbedaan pendapat dan dukungn, baik di tingkat pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.

Saat ini di kawasan Pantura dikelola oleh beberapa developer/pengembang. Untuk itu perlu adanya suatu kebijakan, rencana dan program pada kawasan tersebut agar dapat digunakan sebagai acuan bagi pengembang di dalam pelaksanaan pembangunan di kawasan tersebut.

Salah satu upaya untuk menjalankan kebijakan tersebut perlu dilakukan pengembangan suatu pendekatan perencanaan pengelolaan lingkungan yang terpadu yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial budaya, kelestarian sumberdaya dan lingkungan hidup.

Untuk mewujudkan hal-hal di atas, maka perlu dilakukan koordinasi dengan seluruh stakeholder terkait untuk dapat merumuskan konsep/langkah-langkah reklamasi dan revitalisasi yang berwawasan lingkungan. Dari kaitan tersebut, maka demi terwujudnya keseimbangan antara pembangunan dan kondisi lingkungan yang sempurna, perlu dilakukan koordinasi dengan seluruh stakeholder terkait (Nasional, Daerah dan para Pakar) hal ini bertujuan untuk merumuskan konsep pelaksanaan reklamasi dan revitalisasi pesisir dan laut Jakarta.

1. Kondisi Umum Hidro-Oseanografi di Wilayah Pantura

Teluk Jakarta merupakan perairan semi tertutup yang masih mendapat pengaruh sifat laut dari Laut Jawa dan menerima limpasan air sungai yang bermuara ke dalam teluk. Diperairan ini bermuara 13 sungai besar mulai dari muara sungai Cisadane di bagian barat sampai muara sungai Citarum di bagian timur. Proses pendangkalan terjadi cukup dominan di daerah-daerah muara sungai karena air sungai yang masuk ke dalam teluk membawa sedimen dalam bentuk padatan tersuspensi dengan konsentrasi yang tinggi. Kedalaman laut di Teluk Jakarta sangat landai, pada kedalaman 5 M berada pada jarak 1-2 Km dari garis pantai, kedalaman 10 M terdapat pada jarak 4-5 Km dari garis pantai.

Pasang surut (pasut) merupakan gerakan naik turunnya paras laut secara periodik sebagai akibat gaya tarik benda-benda angkasa seperti matahari dan bulan. Pasut yang teramati di perairan Indonesia berasal dari Samudra Pasifik dan Samudera Hindia yang merambat masuk melalui perairan-perairan terbuka di sekeliling Indonesia. Karena pengaruh geografis dan batimetri, pasut yang merambat masuk ke perairan Indonesia mengalami perubahan yang berarti, terutama di perairan dangkal.

Di kedua samudera yang mengapit perairan Indonesia, tipe pasutnya adalah pasut campuran dengan dominasi pasut ganda (semidiurnal tide). Tetapi ketika memasuki perairan Indonesia yang dangkal, tipe pasutnya bisa berubah menjadi tipe campuran dengan dominasi pasut tunggal (diurnal tide) atau pasut ganda.

Perairan Teluk Jakarta dan perairan di sekitar Pulau Pari, Kep. Seribu memiliki tipe pasut tunggal, dimana dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut. Berdasarkan hasil penelitian, pasang surut di wilayah Tanjung Priok memiliki tipe tunggal, yaitu dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut.

Daerah teluk seperti perairan Teluk Jakarta, pola umum pergerakan arus mengikuti pola umum arus di perairan Laut Jawa yang dibangkitkan terutama oleh perbedaan angin monsoon.

Arus di perairan terbuka Laut Jawa dan sepanjang pantai Jawa Barat domain merupakan hasil dari pembangkitan angin. Arus bergerak ke barat mulai bulan Mei-Oktober. Sebaliknya arus bergerak ke timur pada bulan Januari dan Februari. Pada periode transisi arus relatif tidak berkembang.

Secara umum kondisi suhu lapisan permukaan laut diperairan Laut Jawa termasuk perairan Kepulauan Seribu dipengaruhi oleh musim, seperti pada musim timur (Juni-Agustus) suhu muka laut relatif lebih tinggi di bandingkan dengan musim barat (Desember-Februari). Variasi suhu laut dari pulau Penjaliran Timur di ujung utara Kepulauan Seribu sampai pulau Pari di bagian Selatan berkisar antara 28,5 - 28,8 O C, kecuali stasiun pulau Penjaliran Timur di permukaan mencapai 29 O C perlahan-lahan menurun menjadi 28,8 O C pada kedalaman 10 m. Secara keseluruhan tidak nampak adanya stratifikasi suhu baik yang berada di bagian utara, tengah dan selatan Kepulauan Seribu.

Secara umum semakin ke utara atau menjauhi perairan Teluk Jakarta, salinitas air laut semakin bertambah tinggi, artinya pengaruh masukan air tawar yang mengalir ke dalam teluk sudah semakin berkurang. Di lapisan permukaan laut pada kedalaman 0-10 m nilai salinitas berkisar antara 30,75 – 31,8 permil, sedangkan pada lapisan kedalaman air laut yang lebih dalam > 20 m variasi salinitas berkisar antara 31,8 – 33 permil.

2. Arti Penting Wilayah Pesisir Teluk Jakarta

Wilayah pesisir yang merupakan suatu himpunan integral dari komponen hayati dan nir-hayati, mutlak dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan meningkatkan mutu kehidupan. Komponen hayati dan nir-hayati secara fungsional berhubungan satu sama lain dan saling berinteraksi membentuk suatu system. Apabila terjadi suatu perubahan pada salah satu dari kedua komponen tersebut, maka akan dapat mempengaruhi keseluruhan system yang ada, baik dalam kesatuan struktur fungsional maupun dalam keseimbangannya. Kelangsungan fungsi wilayah pesisir sangat menentukan kelestarian dari sumberdaya hayati sebagai komponen utama dalam system di wilayah pesisir. Oleh karena itu pengelolaan pesisir baik secara langsung maupun tidak langsung harus memperhatikan keterkaitan ekologis antar ekosistem pesisir dan ekosistem daratan.

Salah satu bentuk keterkaitan antara ekosistem daratan dan laut di wilayah pesisir dapat dilihat dari pergerakan air sungai, aliran air limpasan (run-off), aliran air tanah (ground water) dengan berbagai materi yang terkandung di dalamnya yang pada akhirnya bermuara di perairan pesisir. Pola sedimentasi dan abrasi juga ditentukan dari pergerakan massa air baik dari daratan maupun laut, disamping juga berperan dalam perpindahan biota perairan dan bahan pencemar dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Keterkaitan berbagai ekosistem di wilayah pesisir Teluk Jakarta seperti antara ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang, sebagai ekosistem pesisir utama yang tersebar hingga ke kawasan Kepulauan Seribu di Provinsi DKI Jakarta, menjadikan wilayah pesisir Teluk Jakarta memiliki produktivitas hayati tinggi yang berperan penting sebagai penunjang sumberdaya ikan dan menjadi pusat keanekaragaman hayati, khususnya terumbu karang yang dapat dimanfaatkan untuk wisata.

Ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang sebagai ekosistem utama di pesisir memiliki keterkaitan dan interaksi yang erat satu sama lain, dimana bila terjadi gangguan pada salah satu ekosistem tersebut akan mempengaruhi ekosistem lainnya yang pada akhirnya akan mengganggu keseluruhan ekosistem di wilayah pesisir, seperti yang terlihat pada Gambar I.4 . Selain itu interaksi ketiga ekosistem pesisir berperan penting sebagai pereduksi bahan-bahan pencemar, penahan laju abrasi yang disebabkan oleh arus dan gelombang laut dan peredam badai dan tsunami.

 

Gambar : I.4. Interaksi antara tiga ekosistem utama di pesisir (dimodifikasi dari Ogden dan Gladfelter, 1983)

 

Disamping itu, keterkaitan wilayah pesisir Teluk Jakarta dengan wilayah daratan melalui daerah aliran sungai (DAS) dengan 13 DAS yang bermuara di Teluk Jakarta, menjadikan wilayah pesisir Teluk Jakarta sebagai perangkap sedimen, nutrient dan bahan-bahan pencemar yang berasal dari hulu, yang sangat berpengaruh pada produktivitas hayati dan kualitas lingkungan perairan Teluk Jakarta.

3. Gambaran Ancaman terhadap Wilayah Pesisir Teluk Jakarta

Akibat maraknya aktivitas pemanfaatan di wilayah pesisir Teluk Jakarta maupun di hulu dan laut lepas, wilayah ini tengah mengalami situasi yang tak menguntungkan dan memprihatinkan. Kawasan tersebut berada dalam tekanan yang besar, dimana ekosistemnya menghadapi ancaman kerusakan dan penurunan kualitas yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kelangsungan fungsional ekosistem pesisir Teluk Jakarta.

Ancaman-ancaman ini dapat berdiri sendiri atau saling berkaitan dalam setiap pemanfatan sumberdaya atau kegiatan pembangunan yang memberikan dampak terhadap ekosistem pesisir Teluk Jakarta. Beberapa ancaman potensial terhadap ekosistem pesisir Teluk Jakarta adalah :

a. Sedimentasi dan Pencemaran

Kegiatan pembukaan lahan atas (hulu) dan pesisir untuk pertanian, pertambakan, permukiman, industri dan pengembangan kota merupakan sumber beban sedimen dan pencemaran perairan pesisir. Adanya penebangan hutan dan pembukaan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) telah menimbulkan sedimen serius di beberapa daerah muara dan perairan pesisir Teluk Jakarta. Disamping itu sampah-sampah padat yang berasal dari rumah tangga dan kota merupakan sumber pencemar perairan pesisir yang sulit dikontrol, sebagai akibat perkembangan pemukiman dan pusat-pusat perdagangan yang pesat. Demikian pula pembukaan lahan pesisir untuk pertambakan dan industri berkontribusi penating dalam peningkatan pencemaran baik organik maupun anorganik di perairan Teluk Jakarta. Sumber pencemar lain di pesisir Teluk Jakarta berasal dari kegiatan reklamasi pantai. Kegiatan reklamasi pantai dapat mengakibatkan perubahan pada lingkungan pesisir, berupa peningkatan kekeruhan air dan pengendapan sedimen.

b. Degradasi Habitat

Erosi pantai merupakan salah satu masalah serius degradasi garis pantai. Selain dari proses-proses alami seperti angin, arus dan gelombang, aktivitas manusia juga menjadi penyebab penting erosi pantai. Kebanyakan erosi pantai yang diakibatkan oleh aktivitas manusia adalah pembukaan hutan pesisir dan reklamasi pantai untuk kepentingan pemukiman, industri dan pembangunan infrastruktur, sehingga sangat mengurangi fungsi perlindungan terhadap pantai.

Ancaman lain terhadap habitat adalah degradasi terumbu karang di pesisir Teluk Jakarta yang disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, diantaranya pemanfaatan ekosistem terumbu karang sebagai sumber pangan, komoditas perdagangan (ikan hias) dan obyek wisata (keindahan dan keanekaragaman hayati).

c. Degradasi Sumberdaya Alam dan Keanekaragaman Hayati

Sejalan dengan meningkatnya kegiatan pembangunan dan perkembangan permukiman serta perkotaan kearah pesisir, maka terlihat jelas adanya degradasi sumberdaya alam pesisir. Salah satu degradasi sumberdaya alam pesisir Teluk Jakarta yang cukup menonjol adalah degradasi hutan mangrove sebagai akibat pembukaan lahan/konversi hutan atau reklamasi pantai menjadi kawasan pemukiman, pertambakan dan industri.

Ancaman lain terhadap keanekaragaman hayati di peraiaran pesisir Teluk Jakarta diduga antara lain berasal dari pembangunan infrastruktur (pelabuhan, industri, dll) di pinggir pantai dan juga reklamasi pantai. Kegiatan reklamasi pantai sebagaimana terjadi di pesisir Jakarta, diperkirakan dapat merubah struktur ekologi pesisir bahkan dapat menurunkan keanekaragaman hayati perairan.

KONSEP PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PESISIR TELUK JAKARTA (PANTURA) SECARA TERPADU BERBASIS ZONASI

3.1. Pentingnya Pengelolaan Pesisir Teluk Jakarta Berbasis Zonasi

Pengelolaan ekosistem pesisir pada dasarnya adalah bagaimana mengelola segenap kegiatan pembangunan yang memanfaatkan ekosistem pesisir agar total dampaknya tidak melebihi kapasitas fungsionalnya. Setiap ekosistem alamiah termasuk di wilayah pesisir memiliki 4 fungsi pokok bagi kehidupan manusia, yaitu : [1] sebagai penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan, [2] sebagai penyedia jasa-jasa kenyamanan, [3] sebagai penyedia sumberdaya alam, [4] sebagai penerima limbah (Ortolano, 1984).

Berdasarkan keempat fungsi tersebut di atas, maka secara ekologis terdapat 3 persyaratan yang dapat menjamin tercapainya ekosistem yang optimal dan lestari, yaitu : [1] keharmonisan spasial, [2] kapasitas asimilasi, [3] pemanfaatan berkelanjutan. Keharmonisan spasial mensyaratkan, bahwa suatu wilayah pesisir hendaknya memiliki tiga zona, yaitu zona preservasi, zona konservasi dan zona pemanfaatan, atau dengan kata lain suatu wilayah pesisir seyogyanya tidak seluruhnya diperuntukkan bagi zona pemanfaatan, tetapi juga dialokasikan untuk zona preservasi dan konservasi.

Contoh zona preservasi adalah daerah pemijahan ikan (spawning ground) dan jalur hijau pantai. Dalam zona ini tidak diperkenankan adanya kegiatan pembangunan yang bersifat atraktif, kecuali untuk pendidikan dan penelitian. Untuk kegiatan pembangunan seperti pariwisata alam, pemanfaatan hutan mangrove dan perikanan secara berkelanjutan dapat berlangsung dalam zona konservasi.

Keberadaan zona preservasi dan konservasi dalam suatu wilayah pembangunan sangat penting dalam memelihara berbagai proses penunjang kehidupan, seperti siklus hidrologi dan unsur hara, membersihkan limbah secara alamiah dan sumber kenakeragaman hayati (biodiversity). Setiap kegiatan pembangunan (industri, pertanian, budidaya ikan, pemukiman, dll) yang berada di zona pemanfaatan hendaknya ditempatkan pada lokasi yang secara biofisik sesuai, sehingga membentuk suatu mozaik yang harmonis.

 

Keunikan dan kompleksitas wilayah pesisir Teluk Jakarta dengan beragam ekosistem yang ada, mengisyaratkan pentingnya pengelolaan ekosistem di wilayah tersebut secara terpadu dengan berbasis pada zonasi, dengan alasan sebagai berikut :

a. Secara empiris terdapat keterkaitan ekologis (hubungan fungsional) baik antar ekosistem di dalam wilayah pesisir maupun antara wilayah pesisir dengan lahan atas/daratan (hulu) dan laut. Dengan demikian perubahan yang terjadi pada suatu ekosistem pesisir cepat atau lambat akan mempengaruhi ekosistem lainnya. Begitu pula jika pengelolaan kegiatan pembangunan (industri, pertanian, permukiman, dll) di lahan atas suatu DAS tidak dilakukan secara arif (berwawasan lingkungan), maka dampak negatifnya akan merusak tatanan dan fungsi ekologis wilayah pesisir. Fenomena inilah yang kemungkinan besar merupakan faktor penyebab utama tingginya tingkat pencemaran dan juga sedimentasi di pesisir Teluk Jakarta.

b. Dalam beragam ekosistem di wilayah pesisir Teluk Jakarta, biasanya terdapat lebih dari satu macam sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang dapat dikembangkan untuk kepentingan pembangunan.

c. Baik secara ekologis maupun ekonomis, pemanfaatan tunggal ekosistem di wilayah pesisir (single use) adalah sangat rentan terhadap perubahan internal maupun eksternal yang menjurus pada kegagalan usaha.

Dari hal-hal yang telah dikemukakan di atas maka mutlak diperlukan suatu pendekatan pengelolaan pesisir terpadu yang berbasis pada zonasi.

3.2. Kesesuaian Lingkungan sebagai Basis Zonasi Pengelolaan Pesisir Teluk Jakarta

Kesesuaian unit lahan/perairan untuk zonasi pengelolaan pesisir pada dasarnya mensyaratkan agar setiap kegiatan pemanfaatan pesisir ditempatkan pada zona yang secara ekologis sesuai dengan kegiatan pemanfaatan yang dimaksud. Untuk wilayah pesisir yang menerima dampak yang negatif berupa bahan pencemar, sedimen atau perubahan regim hidrologi, baik melalui aliran sungai, limpasan air permukaan (run off) atau aliran tanah (ground water), dampak kegiatan tersebut hendaknya ditekan seminimal mungkin, sehingga kegiatan yang berada di wilayah pesisir masih dapat menenggang segenap dampak negatif tersebut. Seperti misalnya suatu wilayah pesisir sudah diperuntukan untuk kegiatan pariwisata, budidaya tambak, marikultur atau kawasan konservasi maka dampak negatif (pencemaran, sedimentasi atau perubahan hidrologi) yang diakibatkan oleh kegiatan pemanfaatan di lahan atas/daratan hendaknya di minimalkan atau kalau mungkin ditiadakan.

Jika melakukan kegiatan rekayasa pesisir (coastal engineering, construction and development) maka perubahan proses-proses ekologis dan oseanografis serta bentang alam (landscape) yang ditimbulkan hendaknya masih dapat ditenggang oleh ekosistem pesisir tersebut. Dengan perkataan lain, kegiatan pembangunan seperti reklamasi, pembuatan jety, pemecah gelombang, dll, hendaknya menyesuaikan dengan karakteristik dan dinamika alamiah (design with nature principles). Dapat dikatakan pula bahwa penzonasian pemanfaatan sumberdaya di suatu wilayah pesisir harus di dasarkan pada analisis kesesuaian lingkungan yang mencakup aspek ekologis, sosial dan ekonomi.

Kriteria produktivitas dapat diartikan bahwa pemanfaatan ruang yang direkomendasikan di dalam perencanaan harus memiliki efisiensi yang lebih tinggi bila dibandingakn dengan kondisi penggunaan saat ini. Disamping pilihan perubahan kondisi tersebut efisien, maka harus dapat dilaksanakan secara ekonomi untuk jangka panjang, baik oleh investasi swasta maupun Pemerintah Daerah. Agar pembangunan serta hasil-hasilnya dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang, maka perhatian terhadap kerusakan lingkungan fisik perlu dipersyaratkan di dalam penilaian rekomendasi rencana penataan ruang. Dengan demikian pemanfaatan sumberdaya alam wilayah pesisir yang diarahkan di dalam penataan ruang akan mampu menjamin kegiatan ekonomi secara berkelanjutan yang merupakan kunci pokok dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat baik saat sekarang maupun di masa akan datang.

3.3. Implikasi Pengelolaan Terpadu dalam Pembangunan Pesisir yang Berkelanjutan

Pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) yang merupakan visi dunia international sudah saatnya juga merupakan visi nasional. Visi pembangunan berkelanjutan tidak melarang aktifitas pembangunan ekonomi, tetapi menganjurkannya dengan persyaratan bahwa laju kegiatan pembangunan tidak melampaui daya dukung (carrying capacity) lingkungan alam. Dengan demikian generasi mendatang tetap memiliki asset sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang sama atau kalau dapat lebih baik dari pada generasi sekarang.

Dalam banyak hal, persoalan pembangunan berkelanjutan bukan hanya urusan teknis semata, yang seringkali menempatkan masyarakat sebagai instrumen, padahal masyarakat adalah pelaku. Masyarakat yang saling bersinggungan atau terkait dengan persoalan pembangunan tidak dapat ditinggalkan begitu saja dalam pengambilan keputusan.

Kegagalan penanganan hambatan pembangunan berkelanjutan selama ini telah membuka ruang untuk koreksi dari pendekatan yang mengandalkan pengaturan dan pengawasan ke arah pendekatan yang lebih mengandalkan inisiatif otonom perorangan atau lembaga.

Sudah saatnya, penanganan pembangunan di dekati dengan paradigma good governance sebagai sebuah paradigma sosial baru, yang oleh Frijdorf Capra (1986) didefinisikan sebagai himpunan konsep, nilai, persepsi dan tindakan yang diterima oleh masyarakat, yang membentuk cara pandang yang realitas dan kesadaran kolektif sebagai dasar masyarakat menata dirinya. Salah satu unsur yang paling dibutuhkan dalam merealisasikan pembangunan berkelanjutan, khususnya pembangunan pesisir saat ini adalah unsur demokratisasi. Pemerintahan yang demokratis tidak hanya mencakup lembaga politik dan administratif dalam pemerintahan tetapi juga mencakup hubungan antara pemerintah dan masyarakat, dimana pemerintah dituntut untuk bekerjasama dengan semua stakeholders yang merasakan manfaat dan menanggung dampak kerusakan pembangunan.

Berdasarkan hal itu kegiatan pembangunan pesisir dinyatakan berkelanjutan, jika kegiatan tersebut dapat mencapai 3 (tiga) tujuan pembangunan berkelanjutan, yaitu berkelanjutan secara ekologi, ekonomi dan sosial. Berkelanjutan ekologi mengandung arti, bahwa kegiatan dimaksud harus dapat mempertahankan integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan dan konservasi sumberdaya alam, sehingga diharapkan pemanfaatan sumberdaya dapat berkesinambungan. Berkelanjutan secara sosial mensyaratkan bahwa suatu kegiatan pembangunan hendaknya dapat menciptakan pemerataan hasil-hasil pembangunan, mobilitas sosial, kohesi sosial, partisipasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, identitas sosial dan pengembangan kelembagaan. Sementara itu berkelanjutan secara ekonomi berarti bahwa suatu kegiatan pembangunan harus dapat membuahkan pertumbuhan ekonomi, pemeliharaan kapital dan penggunaan sumberdaya serta investasi secara efisien.

Dalam konteks pengelolaan wilayah pesisir terpadu yang berkelanjutan, ketiga tujuan pembangunan berkelanjutan sebagaimana diuraikan di atas merupakan pilar yang integral dan saling terkait secara fungsional dalam upaya mempertahankan keseimbangan antara system alam dan system sosial (eko-sosio system) bagi pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat pesisir dan bangsa secara berkelanjutan. Adanya momentum otonomi daerah dalam konteks pembangunan pesisir, yang dapat diambil bagi kepentingan daerah tetapi juga menimbulkan problematika baru, yaitu bagaimana mengembangkan system pengelolaan terpadu berbasis eko-sosio sistem yang dapat mendongkrak dan memberi stimulan terhadap pengelolaan wilayah pesisir di tingkat provinsi/kota/kabupaten secara berkelanjutan.

4. Mangrove

Komponen biota dari ekosistem mangrove adalah komunitas mangrove yang terdiri dari populasi tumbuhan (hutan) dan fauna mangrove yang berinteraksi dengan komponen abiotik mangrove seperti tanah, oksigen, nutrisi, angin, arus, air, cahaya, suhu, kelembaban, gelombang dan salinitas. Secara fisik, vegetasi mangrove menjaga pantai dari gempuran ombak dan tebing sungai dari abrasi, menahan angin, mengendapkan lumpur, mencegah intrusi air laut dan sebagai perangkap zat pencemar dan limbah. Secara biologis, vegetasi mangrove berfungsi sebagai daerah asuhan post larva (yuwana), tempat bertelur, tempat memijah dan tempat mencari makan bagi ikan dan udang. Selain itu, berfungsi juga sebagai habitat burung air, kelelawar, primata, reptil dan jenis-jenis insekta; serta sebagai penghasil bahan organik yang merupakan sumber makanan biota; oleh karenanya manjadi penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan.

Ekosistem mangrove di pesisir Teluk Jakarta terdapa di daerah hutan wisata Kamal, suaka margasatwa Muara Angke, hutan lindung Angke Kapuk, kemayoran dan sekitar Cilincing – Marunda (Dinas Kehutanan DKI Jakarta, 1996). Sedang di Kepulauan Seribu, ekosistem ini terbentuk di P. Rambut, P. Bokor, P. Untung Jawa, P. Lancang, P. Lancang Besar, P. Peteloran Barat, P. Penjaliran Barat dan P. Penjaliran Timur.

Pengamatan yang dilakukan pada tahun 1999 menunjukan ekosistem mangrove di pesisir Jakarta dijumpai melalui penampilan tumbuhan mangrove yang cukup berarti di kawasan bagian Barat, kecuali sekitar Cilincing dan Marunda intensitas kehadiran tumbuhan mangrove relatif rendah.

Vegetasi yang tumbuh di kawasan hutan lindung Angke Kapuk, suaka margasatwa Muara Angke dan hutan wisata Kamal relatif homogen, di dominasi oleh api-api (Avicennia sp), sedangkan bakau (Rhizopora sp) hanya tumbuh di beberapa area yang sempit sehingga tumbuhan tersebut tamak sporadis. Jenis vegetasi yang ada adalah Avicennia marina, A. officinalis, A.alba, Delonix regia, Sonneratia caseolaris dan Thespesia polpulne pada tingkat pohon; sedangkan Rhizopora mucronata dan Excoecaria agallocha pada tingkat tiang. Pada tingkat sapihan yang menonjol adalad Avicennia marina, A. officinals, A. alba, Rhizopora mucronata, Acasia auriculiformis dan Delonix regia.

 

Tabel : I.38. Vegetasi mangrove di kawasan pesisir teluk jakarta bagian barat

 

Fauna yang terdapat pada ekosistem mangrove di pesisir Teluk Jakarta didominasi oleh burung pantai yang jenisnya hampir sama dengan yang terdapat di cagar alam P. Rambut dimana kawasan tersebut merupakan habitat berbagai jenis burung, khususnya sebagai tempat berlindung, berbiak dan mencari makan.

Jenis burung yang terdapat pada ekosistem mangrove mangrove adalah pecuk ular (Anhinga melanogaster), kowak maling (Nycticorax nycticorak), kuntul putih (Egretta sp), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), cangak abu (Ardea cinerca), blekok (Ardeola speciosa), belibis (Anas gibberrifrons), cekakak (Halycon chloris), pecuk (Phalacrocorax sp) dan luwak (Mycteria cineria) . Satwa lain burung adalah biawak (Varanus salvator), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beberapa jenis ular.

Vegetasi mangrove di Kepulauan Seribu ditemui di P. Rambut, P. Bokor, P. Lancang Besar, P. Peteloran Barat, P. Penjaliran Barat dan P. Penjaliran Timur. Kondisi vegetasi mangrove saat ini telah mengalami kerusakan akibat abrasi, pencemaran dan sampah padat.

 

Tabel : I.39. Vegetasi mangrove di kawasan lindung kepulauan seribu

 

4.1. Padang Lamun

Sebagai penyangga ekosistem terumbu karang, padang lamun berfungsi meredam gelombang dan arus, perangkap sedimen, tempat asuhan, tempat mencari makan dan tempat pemijahan beberapa jenis ikan, udang dan biota laut lainnya. Ekosistem padang lamun berada di rataan terumbu karang, didominasi oleh tumbuhan rumput laut (sea grass) dengan struktur perakaran di dasar perairan. Di Kepulauan Seribu terdapat 4 (empat) famili rumput laut yang hidup pada ekosistem padang lamun, didominasi oleh Hydrocharitaceae dan Potamogetonaceae . Selain flora tingkat tinggi, padang lamun juga dihuni oleh berbagai macam algae tingkat rendah seperti Halimeda, Sargassum dan Turbinaria (TNKS, 1999).

Kawasan Kepulauan Seribu umumnya ditumbuhi oleh Thallasia, Syrongodium, Thalosodendrum dan Chimodecea, sedang P. Panggang, P. Karya dan P. Pramuka didominasi oleh Thallasia, selain berbagai algae seperti Halimeda, Sargassum, Caulerpa, Padina, Turbinaria dan Euchema.

Selain berbagai jenis flora laut, padang lamun di Kepulauan Seribu juga dihuni oleh berbagai organisme benthik (makrozoobenthos) dan fitoplankton.

Permasalahan utama ekosistem padang lamun di Kepulauan Seribu adalah kerusakan akibat kegiatan pengerukan dan penimbunan yang semakin meluas serta pencemaran perairan laut, sebagaimana diindikasikan oleh hilangnya biota laut.

4.1.1. Kawasan Konservasi

Kawasan lindung di wilayah perairan DKI Jakarta antara lain meliputi hutan lindung, cagar alam, suaka margasatwa dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Penyebarannya meliputi pesisir Teluk Jakarta, seperti di Muara Angke, Angke Kapuk dan Kamal Muara dan yang berada di Kepulauan Seribu, seperti P. Rambut, P. Penjaliran Barat dan P. Penjaliran Timur.

4.1.2. Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Menteri Kehutanan melalui Keputusan Nomor 162/Kpts-II/1995 telah menetapkan wilayah Kepulauan Seribu menjadi Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dengan luas 108.000 Ha yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

Zonasi Taman Nasional Kepulauan Seribu terdiri dari :

1. Zona Inti, diperuntukan bagi upaya pelestarian sumber genetik dan perlindungan proses ekologis. Zona ini merupakan daerah tertutup bagi segala bentuk eksploitasi, kegiatan pariwisata dan kegiatan lain, kecuali penelitian. Zona ini terdiri dari :

•  Zona Inti I terletak pada koordinat 5 O 24' – 5 O 45' LS dan 106 O 25' – 106 O 40' BT, luas ± 1.356.8 Ha yang meliputi P. Gosong Rengat dan perairannya yang diperuntukan bagi perlindungan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) .

•  Zona Inti II terletak pada koordinat 5 O 27' – 5 O 29' LS dan 106 O 26' – 106 O 28' BT, luas ± 2.440.94 Ha yang meliputi :

P. Penjaliran Barat

P. Penjaliran Timur

P. Peteloran Barat

P. Peteloran Timur

Perairan Gosong Penjaliran

•  Zona Inti III terletak pada koordinat 5 O 26'36” – 5 O 29' LS dan 106 O 32' – 106 O 33' BT, dengan luas ± 613.06 Ha yang meliputi perairan P. Kayu Angin Bira dan P. Belanda yang merupakan perlindungan ekosistem terumbu karang.

2. Zona Perlindungan, merupakan kesatuan dengan Zona Inti I dan II yang merupakan tempat mencari makan dan berkembang biak bagi penyu sisik. Di zona ini tidak diperkenankan segala bentuk eksploitasi dan kegiatan yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, kecuali kegiatan observasi, penelitian dan pendidikan. Zona ini terletak pada koordinat 5 O 26' – 5 O 30'24” LS dan 106 O 25'30” – 106 O 37' BT dan 5 O 30'54” – 5 O 33'54” LS dan 106 O 30' – 106 O 33' BT, dengan luas ± 13.798.11 Ha yang meliputi pulau dan perairan di sekitar :

P. Jagung

P. Karang Buton

P. Karang Mayang

P. Nyamplung

P. Renggit

P. Sebaru Besar

P. Sebaru Kecil

P. Lipan

P. Kapas

P. Bundar

P. Hantu Barat

P. Hantu Timur

P. Yu Barat

P. Yu Timur

P. Satu

P. Kelor Barat

P. Kelor Timur

3. Zona Pemanfaatan Intensif, merupakan wilayah yang diperkenankan untuk kegiatan rekreasi alam. Sebagian besar pulau-pulau di kawasan ini telah dibangun sebagai kawasan permukiman dan pariwisata bahari. Zona ini terletak pada koordinat 5 O 30'24” – 5 O 33'24” LS dan 106 O 3' – 106 O 37' BT dan 5 O 33'54” – 5 O 37'36” LS dan 106 O 30' – 106 O 37' BT, dengan luas ± 12.913.84 Ha yang meliputi :

P. Gosong Laga

P. Semut Besar

P. Semut Kecil

P. Gosong Sepa

P. Sepa Barat

P. Sepa Timur

P. Cina

P. Jukung

P. Melinjo

P. Melintang Barat

P. Melintang Timur

P. K. Angin Melintang

P. Perak

P. Petondan Barat

P. Petondan Timur

P. Panjang Besar

P. Panjang Kecil

P. K. Angin Barat

P. Putri Barat

P. Putri Timur

P. Putri Gundul

P. Tongkeng

P. Macan Besar

P. Macan Kecil

P. Bira Besar

P. Bira kecil

P. Genteng Besar

P. Genteng Kecil

P. K. Angin Genteng

4. Zona Penyangga, diperuntukan mendukung aktifitas sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat serta perikanan tangkap tradisional. Zona ini berfungsi menyaring dampak negatif kegiatan budidaya di dalam maupun luar kawasan. Sebagian besar penduduk Kepulauan Seribu bermukim di zona ini. Aktifitas penangkapan ikan diperkenankan dengan alat tradisional, seperti pancing bubu. Zona ini terletak pada koordinat 5 O 24' – 5 O 42' LS dan 106 O 25' – 106 O 40' BT dengan luas + 75.669.26 Ha meliputi:

P. Dua Barat

P. Dua Timur

P. Karang Baka

P. Bulat

P. Pemagaran

P. Rakit Tiang

P. Kelapa

P. Harapan

P. Kaliange Besar

P. Kaliange Kecil

P. Karang Bongkok

P. Kotok Besar

P. Kotok Kecil

P. Karang Congkak

P. Karang Pandan

P. Semak Daun

P. Karya

P. Panggang

P. Pramuka

4.2. Terumbu Karang

Terumbu karang terdiri dari endapan kalsium karbonat (CaCO 3 ) hewan karang, alga berkapur dan beberapa organisme lain. Sebagai suatu ekosistem, terumbu karang memiliki produktivitas yang tinggi dan merupakan habitat dengan biota yang beraneka ragam. Terumbu karang berfungsi sebagai tempat tinggal, penyedia makanan, tempat berlindung dan sebagai tempat asuhan biota laut. Di samping itu secara fisik berfungsi melindungi pantai dari abrasi, gelombang dan sebagai stabilisator perubahan morfologi garis pantai.

Suatu jenis karang dari genus yang sama dapat mengalami bentuk pertumbuhan yang berbeda dalam suatu lokasi tertentu. Demikian pula kondisi fisik yang sama dapat memberikan bentuk pertumbuhan yang serupa walaupun secara taksonomi berbeda. Perbedaan bentuk dapat disebabkan oleh faktor kedalaman, arus dan topografi dasar perairan (Wood, 1997 dalam Wibowo 1999) .

Kondisi terumbu karang di Kepulauan Seribu pada umumnya dapat dikategorikan dalam kondisi rusak hingga sedang. Persentase penutupan karang hidup hanya berkisar antara 0 – 24,9 persen dan 25 – 49,9 persen. Hal ini menunjukkan dominasi tutupan unsur-unsur abiotik seperti pasir, pecahan karang, serta karang mati telah melampaui 50 persen. Kerusakan terumbu karang sebagian diakibatkan oleh penambangan karang batu untuk bahan bangunan serta penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan bahan kimia.

Pengamatan yang dilakukan selama kurun waktu 22 tahun mencatat jenis terumbu karang yang terdapat di Taman Nasional Kepulauan Seribu dan Teluk Jakarta mencakup 68 genera dan subgenera dengan 134 spesies. Tabel : I.40 menunjukkan genera dan spesies terumbu karang di beberapa pulau di Kepulauan Seribu.

Pengamatan yang dilakukan terakhir dapat memperjelas kondisi terumbu karang di kawasan Kepulauan Seribu. Terumbu karang yang teramati berada dalam kondisi buruk hingga sedang (13,0 % – 36,03 %). Kondisi kehidupan karang yang berada dalam kategori baik hanya terdapat di beberapa lokasi seperti P. Kayu Angin Bira dan P. Melintang.

 

tabel : I.40. keberadaan jenis karang batu pada beberapa pulau di kawasan taman nasional laut

kepulauan seribu

 

Hasil studi distribusi dan kelimpahan ikan karang di 22 pulau di Kepulauan Seribu dan Teluk Jakarta yang dilakukan pada tahun 1995 (Suharsono dkk, 1995) menyebutkan bahwa terdapat 166 spesies ikan dalam 36 famili, dari 22 pulau wilayah studi penelitian ini. Famili ikan karang yang mendominasi dari mayor spesies didominasi oleh Pomacentridae dan Labridae yang ditemukan di seluruh lokasi penelitian. Spesies indikator (Chaetodontidae) yang mendominasi dan tersebar luas adalah Chaetodon octafasciatus, diikuti oleh Chaetodon trifasciatus dan Heniochus accuminatus . Spesies target yang ditemukan sebanyak 36 jenis dalam 8 famili, dimana 13 jenis tergolong sebagai komoditi penting, yaitu satu spesies dari Kyposidae , 4 spesies dari Caesionidae , 2 spesies dari Lutjanidae , satu spesies dari Siganidae dan 5 spesies dari Serranidae .

Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif antara kelimpahan ikan karang dengan penutupan karang hidup. Kesimpulan lain adalah adanya hubungan positif antara kelimpahan ikan karang dengan jarak dari daratan utama, dimana semakin jauh jarak dari daratan utama, semakin tinggi kelimpahan jenis ikan karang. Table : I.41. memperlihatkan keberadaan berbagai jenis ikan karang di perairan P. Kotok Besar, P. Peteloran Timur, P. Kayu Angin Bira dan P. Melintang.

 

Tabel : I.41. Keberadaan jenis ikan karang di kawasan taman nasional laut kepulauan seribu

 

5. Perairan Teluk

Perairan Teluk Jakarta yang dikategorikan sebagai perairan pantai (Coastal Water) tentunya mempunyai peranan yang sangat besar dimana berbagai sektor telah memanfaatkan wilayah ini, baik wilayah laut maupun pantai, antara lain sektor industri, pertambangan, perhubungan, perdagangan, pertanian, dan pariwisata. Kegiatan berbagai sektor yang sedemikian banyak dan tidak terkendali tentunya akan menurunkan tingkat kualitas perairannya.

Disamping itu Teluk Jakarta juga merupakan tempat bermuaranya beberapa sungai yang melewati kota Jakarta, diperkirakan ada 9 muara sungai yang membawa limbahnya baik dari pembuangan sampah, industri maupun rumah tangga serta kegiatan lainnya, hal ini menyebabkan perairan Teluk Jakarta mempunyai karakteristik yang khusus dimana perairan ini menerima beban pencemaran yang cukup berat. Di lain pihak Teluk Jakarta juga merupakan tempat bagi nelayan melakukan kegiatan penangkapan ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Provinsi DKI Jakarta.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka perlu diambil suatu kebijakan oleh Pemda Provinsi DKI Jakarta yang menyangkut peningkatan kualitas perairan teluk. Berbagai upaya telah dilaksanakan untuk memperbaiki mutu perairan Teluk Jakarta antara lain dengan program Kali Bersih yang bertujuan untuk mengendalikan beban pencemaran dari kegiatan di sepanjang DPS Ciliwung, Cipinang, Mookervart, Cakung dan Grogol.

Pemerintah pusat melalui Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta, juga telah merencanakan Program Pantai Lestari yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan pantai dan laut agar pemanfaatannya dapat ditingkatkan serta memperbaiki kondisi Mangrove dan Terumbu Karang di Kepulauan Seribu.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka pihak BPLHD Provinsi DKI Jakarta setiap tahunnya melaksanakan kegiatan pengambilan sampel kualitas perairan Teluk Jakarta dan sekitarnya dengan harapan dapat diperoleh informasi yang dapat dipakai sebagai bahan pengendalian lingkungan.

Batas wilayah pengambilan sampel perairan laut adalah :

•  Batas sebelah Barat : Tanjung Kait

Pada posisi koordinat 05 O 59'40” LS dan 106 O 42'30” BT

•  Batas sebelah Timur : Ujung Karawang

Pada posisi koordinat 05 O 56'15” LS dan 106 O 58'30” BT

•  Batas sebelah Selatan : Garis pantai Ancol

Pada posisi koordinat 06 O 06'00” LS dan 106 O 50'00” BT

•  Batas sebelah Utara : P. Damar Besar

Pada posisi koordinat 05 O 30'10” LS dan 106 O 48'30” BT

Dalam melakukan pengamatan perairan dibagi menjadi 4 zona, yaitu :

•  Zone 1 yaitu perairan 5 Km dari pantai (D3 – D6)

•  Zone 2 yaitu perairan 5 – 10 Km dari pantai (C2 – C6)

•  Zone 3 yaitu perairan 10 – 15 Km dari pantai (B1 – B7)

•  Zone 4 yaitu perairan 15 – 20 Km dari pantai (A1 – A7)

Posisi koordinat titik pemantauan di perairan Teluk Jakarta tersaji pada Tabel : I.42 .

 

Tabel : I.42. Posisi Koordinat Titik Pengambilan Sample Perairan Teluk Jakarta

 

 

Sedangkan untuk pemantauan di muara terdiri dari 9 muara sungai yang meliputi Muara Kamal (M1), Muara Cengkareng Drain (M2), Muara Angke (M3), Muara Karang (M4), Muara Ancol (M5), Muara Sunter (M6), Muara Cakung (M7), Muara Marunda (M8), dan Muara Gembong (M9).

 

Gambar : I.5 . Lokasi Pemantauan Kualitas Air Perairan dan Muara Teluk Jakarta

 

5.1. Waktu Pengambilan Sampel dan Parameter yang Dianalisa

Pengambilan Sampel perairan dan muara Teluk Jakarta pada tahun 2009 dilakukan tiga kali yaitu pada bulan April, Agustus dan bulan Oktober.

Jenis contoh yang diteliti terdiri dari :

•  Sampel air laut

•  Sedimen/Lumpur

•  Plankton dan Benthos

Parameter ya ng dianalisis meliputi parameter :

•  Fisik, yaitu Suhu, Salinitas, Kedalaman, arah arus, kecepatan arus, pH, dan Kecerahan.

•  Kimia, yaitu Parameter Zat Padat Tersuspensi, Kekeruhan, Ammonia, Nitrit, Nitrat, Phospat, COD, BOD, Oksigen terlarut, Organik, Phenol, Detergen dan Logam antara lain Chromium, Cadmium, Tembaga, Timah Hitam, Nikel dan Seng.

•  Biologi, yaitu Plankton (Zooplankton dan Phytoplankton), Benthos, Coliform, dan Fecal Coli.

5.2. Metode Pengambilan Sampel dan Analisa

Pengambilan sampel di lapangan baik itu untuk parameter fisik, kimia, maupun biologi dilakukan dengan peralatan seperti yang tersaji pada Tabel : I.43 .

 

Tabel : I.43. Peralatan Sampling Perairan dan Muara Teluk Jakarta

 

 

Dari hasil survey lapangan, sampel yang diambil dianalisa lebih lanjut di laboratorium, dengan metode analisa sesuai dengan SNI dan standar metode lainnya untuk masing-masing parameter.

a. Analisa Kimia

Analisa kimia dilakukan dengan metode sesuai SNI dan standar metode lainnya, yang dilakukan oleh Laboratorium Lingkungan BPLHD Provinsi DKI Jakarta.

b. Analisa Plankton

Analisa plankton terdiri dari Fitoplankton dan Zooplankton, dimana Fitoplankton dikumpulkan dengan menggunakan Fitoplankton net berbentuk kerucut yang mempunyai diamater mulut 31 cm, panjang 100 cm dan ukuran mata jaring 0,08 mm (80 µm). Sedangkan Zooplankton dikumpulkan dengan Zooplankton Net yang berukuran diameter mulut 45 cm, panjang 180 cm dan mata jaring 0,30 mm (300 µm). Contoh plankton yang diperoleh kemudian disimpan dalam botol dan diawetkan dengan formalin. Sampel kemudian diidentifikasi jenisnya berdasarkan Yamaji (1996). Kelimpahan Fitoplankton dinyatakan dalam sel/m 3 , sedangkan Zooplankton dalam individu/m 3.

c. Analisa Benthos

Contoh Benthos dianalisa dari sedimen atau lumpur yang diambil dari dasar perairan dengan menggunakan alat “ grab sampler “ yang berukuran 20 x 20 cm. Contoh Benthos berupa lumpur dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi pengawet formalin 4%. Setelah sampai di laboratorium, contoh Benthos disaring menggunakan saringan dengan ukuran lubang 1 mm. Contoh Benthos yang telah disaring kemudian diawetkan dengan menggunakan alkohol 70% dan siap diidentifikasi. Benthos diidentifikasi menggunakan Arnold Brittles (1989), Bunyamin Dharma (1988) dan Tucher Abbot and Peter Dance (1966).

d. Analisa Mikrobiologi

Pengamatan mikrobiologi terutama ditujukan untuk mendeteksi 2 jenis bakteri yaitu Coliform dan E. coli dalam air dan sedimen. Pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan botol sampel steril berukuran 500 cc. Sampel air diambil dari kedalaman 30 cm di bawah permukaan laut dan sampel sedimen diambil dengan menggunakan grab dan dimasukkan ke dalam botol yang telah disterilkan. Botol sampel kemudian disimpan ke dalam cool box yang didinginkan dengan es batu. Sampel kemudian diperiksa di laboratorium untuk mengetahui jenis dan menghitung jumlah bakteri yang ada pada sampel tersebut. Untuk mengetahui banyaknya bakteri yang terkandung digunakan metode MPN.

5.3. Pengolahan dan Evaluasi Data

Pengolahan dan evaluasi data dilakukan dengan membandingkan hasil pengambilan sampel dengan baku mutu air laut berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut , dimana peruntukan yang digunakan adalah Biota Laut.

a. Analisis Data dan Evaluasi Kualitas Air

Evaluasi dilakukan dengan membandingkan nilai hasil pengukuran dengan baku mutu laut berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut , dimana peruntukan yang digunakan adalah Biota Laut. Hal ini untuk mengetahui kondisi perairan dan muara Teluk Jakarta apakah masih sesuai untuk peruntukan biota laut.

b. Analisis Data dan Evaluasi Kualitas Biota Air

(Plankton dan Benthos)

Analisis data dan evaluasi kualitas biota air (plankton dan benthos) dilakukan dengan perhitungan derajat pencemaran dengan metode Indeks Keanekaragaman (Indeks Diversitas) berdasarkan Shannon-Wiener (1975). Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui perubahan struktur komunitas biota air (plankton dan benthos) yang disebabkan adanya perubahan kualitas air. Klasifikasi derajat pencemaran tersaji pada Tabel : I.44 .

 

Tabel : I.44. Klasifikasi Derajat Pencemaran Berdasarkan Shannon-Wiener

 

 

5.3.1. Kualitas Fisik

Hasil pengamatan kondisi fisik Perairan dan Muara Teluk Jakarta antara lain memberikan gambaran mengenai kondisi suhu, salinitas, kecerahan, dan pH di perairan Laut dan Muara Teluk Jakarta. Pengambilan sampel kondisi fisik Perairan Teluk Jakarta untuk parameter suhu, salinitas, kecerahan, DO dan pH masing-masing diukur sebanyak 2 (dua) kali yaitu pada bagian permukaan dan bagian dasar ( ± 10 meter dari permukaan air), sedangkan untuk Muara Teluk Jakarta untuk parameter Suhu, Salinitas, Kecerahan, dan pH juga diukur sebanyak 2 (dua) kali yaitu pada saat pasang dan surut.

a. Suhu

Pengamatan kondisi oseanografi perairan Teluk Jakarta dilakukan pada bulan April 2009, yaitu saat berlangsungnya musim peralihan barat ke timur (peralihan I). Pada musim peralihan ini, baik suhu udara maupun laut pada umumnya tinggi. Pada musim peralihan, angin yang berhembus diatas permukaan laut lemah, Keadaan ini menyebabkan suhu dilaut menjadi tinggi. Hasil pengamatan tercatat suhu permukaan berkisar antara 30.93-31.86°C dan antara 30.08-31.00°C. Di perairan Teluk Jakarta pada musim barat suhu permukaan berkisar antara 28.5-30.0 o C dan pada musim timur antara 28.5 – 31.0 o C (Ilahude, 1996). Suhu di muara saat laut pasang suhu air berkisar antara 30.00-34.20°C dan pada keadaan laut surut berkisar antara 29.90-33.30°C. Suhu air tertinggi (33.30°C dan 34.20°C) ditemukan di Muara Karang. Tingginya suhu di Muara Karang ini dikarenakan adanya limbah panas dari kegiatan PLTU Muara Karang yang masuk ke perairan ini.

Pada bulan Agustus di perairan laut suhu air permukaan tercatat berkisar antara 28.60-29.70 ° C sedangkan dilapisan dekat dasar (kedalaman 3-26 meter) berkisar antara 28.65-29.50 ° C. Suhu pada bulan Agustus ini terlihat lebih dingin dibandingkan suhu pada bulan April. Lebih dinginnya suhu pada bulan Agustus ini selain proses pendinginan oleh angin timur yang kuat juga massa air yang dingin dari Kep. Seribu.

Pengaruh kuatnya angin dan masuknya massa air suhu dingin dari Kep. Seribu juga terjadi di perairan muara. Suhu air i perairan muara bulan Agustus berkisar antara 29.80-31.85°C pada saat air pasang dan antara 29.10-31.55°C pada keadaan surut, adalah lebih rendah dibandingkan suhu hasil pengamatan bulan April yaitu berkisar antara 30.00-34.20°C pada air pasang dan antara 29.90-33.30°C pada air surut.

Hasil pengamatan suhu di perairan Teluk Jakarta yang dilakukan saat berlangsungnya musim peralihan II (Oktober 2009) tercatat berkisar antara 30,26 – 32,08°C di lapisan permukaan dan antara 29,90 – 31,28 °C di dekat dasar untuk perairan laut, sedangkan di perairan muara pada saat pasang diperoleh suhu berkisar antara 30,49 – 32,,95°C dan pada saat surut berkisar antara 31,03 – 33,60°C. Menurut Ilahude (1995), suhu perairan Teluk Jakarta seperti suhu di Laut Jawa mengalami dua minimum dan maksimum setiap tahunnya. Minimum suhu terjadi pada musim timur dan musim barat , sedangkan maksimum suhu terjadi pada musim peralihan (baik musim peralihan I maupun peralihan II). Pada musim peralihan II suhu perairan Teluk Jakarta berkisar antara 29,50 – 31,00°C di lapisan permukaan dan antara 29,20 – 30,00 °C di dekat dasar (Ilahude, 1995).

Suhu pada bulan Oktober terlihat lebih tinggi dibandingkan nilai suhu hasil pengamatan Ilahude (1995), keadaan ini memungkinkan akibat pengaruh pemanasan global.

b. Salinitas

Salinitas merupakan nilai konsentrasi total ion yang terdapat diperairan. Salinitas ini menggambarkan padatan total di dalam air, setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh khlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi.

Pengaruh air sungai yang masuk ke perairan Teluk Jakarta yang berperan mengencerkan salinitas perairan masih terlihat. Keadaan ini ditunjukkan oleh adanya salinitas pada bulan April di beberapa stasiun yang rendah (antara 26.0-28.0 ‰). Salinitas di perairan Teluk Jakarta berkisar antara (26.0-32.0 ‰) di lapisan permukaan dan antara (29.0-32.0 ‰) di dekat dasar. Untuk salinitas dimuara tercatat pada keadaan laut pasang berkisar antara (6.0-29.0 ‰) dan pada keadaan laut surut berkisar antara (2.0-29.0 o / 00). . Salinitas terrendah baik pada laut keadaan surut maupun pasang ditemukan di Muara Angke (2.0 dan 6.0 o / oo ).

Pada bulan Agustus terlihat pengaruh massa air tawar dari beberapa sungai yang bermuara di Teluk Jakarta yang bisa menurunkan salinitas di perairan ini sudah berkurang. Keadaan bisa diketahui keadaan salinitas baik di perairan laut maupun muara. Di perairan laut salinitas hasil pengamatan bulan Agustus berkisar antara (30.0-32.0 ‰) dilapisan permukaan dan antara (31.0-32.0 ‰) sedangkan hasil pengamatan bulan April/Mei tercatat antara (26.0-32.0 ‰) dilapisan permukaan antara (29.0-32.0 ‰) didekat dasar. Diperairan muara, hasil pengamatan salinitas pada bulan Agustus tercatat berkisar antara (14.0-30.0 ‰) pada kondisi air pasang dan antara (3.0-30.0 ‰) pada kondisi air surut, sedangkan hasil pengamatan bulan Juni tercatat salinitas berkisar antara (6.0-29.0 ‰) pada kondisi air pasang dan antara (2.0-29.0 ‰) pada kondisi air surut.

Sedangkan pada musim peralihan II (bulan Oktober) salinitas mengalami maksimum kedua yaitu dengan nilai salinitas berkisar antara (<28,0 – 32,5 ‰) dilapisan permukaan dan antara 31,50 – 33,0 °C dilapisan dekat dasar (Ilahude, 1995). Salinitas perairan Teluk Jakarta dari hasil pengamatan yang dilakukan pada bulan Oktober 2009 tercatat, di perairan laut berkisar antara (31,0 – 33,0 ‰) dilapisan permukaan dan antara (33,0 – 33,5 ‰) dilapisan dekat dasar, sedangkan di perairan muara nilai salinitas berkisar antara (7,0 – 32,0 ‰) pada saat air pasang dan antara (12,0 – 31,0 ‰) pada saat air surut.

c. Oksigen Terlarut

Pada bulan April Kandungan oksigen di lapisan permukaan tercatat berkisar antara 4.13- 6.60 ml/L. Disebagian besar stasion pengamatan tercatat kandungan cukup tinggi yaitu > 5.00 ml/L. Tingginya oksigen dibeberapa stasion tersebut dimungkinkan oleh tingkat kesuburan perairan yang tinggi (kelimpahan pitoplankton tinggi) yang bisa menghasilkan oksigen yang tinggi dari proses fotosintese sehingga oksigen diperairan menjadi meningkat. Kandungan oksigen didekat dasar tercatat bekisar antara 2.40-6.14 ml/L. Di lapisan dasar oksigen yang rendah didapatkan ditiga stasion pengamatan sebesar < 3.00 ml/L. Rendahnya oksigen tersebut dimungkinkan adanya proses pembusukan didasar sehingga sebagian oksigen terserap oleh proses pembusukan tersebut. Sedangkan kandungan oksigen disebagian muara sungai sangat rendah malahan ada yang nol (0.0-2.96 ml/L), baik dalam keadaan laut pasang maupun surut. Nilai yang relatif tinggi hanya didapatkan di dua muara yaitu di Muara Karang dan Muara Ancol. Kandungan oksigen di perairan muara di Teluk Jakarta tercatat antara 0.00-6.35 ml/L pada laut pasang dan antara 0.00-3.72 ml/L pada saat laut surut).

Sedangkan hasil pengukuran bulan Agustus menunjukan bahwa kandungan oksigen baik dilapisan permukaan maupun dekat dasar memberikan petunjuk bahwa perairan laut Teluk Jakarta kurang layak untuk kehidupan biota laut. Dilapisan permukaan dari 50 persen stasiun pengamatan kandungan oksigen <5.0 ppm sedangkan didekat dasar 90 persen. KLH (2004) menyebutkan untuk kehidupan normal biota laut dibutuhkan oksigen >5.0 ppm. Kandungan oksigen permukaan berkisar antara 3.42-6.34 ppm sedangkan dilapisan dekat dasar hanya di dua stasiun pengamatan kandungan oksigen >5.0 ppm sedangkan di 21 stasiun pengamatannya lainnya berkisar antara 2.10-4.50 ppm.

Pada bulan Oktober perairan laut kandungan oksigen terlarut berkisar antara 3,82 – 6,60 ml/L dilapisan permukaan dan antara 3,03 – 5,45 ml/L dilapisan dekat dasar, sedangkan diperairan muara oksigen berkisar antara 1,45 – 4,24 ml/L pada saat keadaan laut pasang dan antara 0,00 – 6,50 ml/L pada saat keadaan laut surut.

d. Derajat Keasaman (pH)

pH hasil pengamatan bulan April tercatat berkisar antara 7.56-8.26 dan dekat dasar antara 7.47-8.08. Hasil pengamatan pH dimuara tercatat berkisar antara 7.06-8.31 dengan rata-rata 7.66 pada saat laut pasang dan pada saat surut antara 6.85-7.95 dengan rata-rata 7.33. pH yang rendah umumnya ditemukan di stasion dengan kandungan oksigen yang rendah pula.

Nilai pH di perairan laut pada pengamatan bulan Agustus umunya tinggi (>7.50). Nilai pH kurang dari 7.50 hanya ditemukan di dua stasiun pengamatan yaitu di stasiun B3 dan C3. Di perairan muara nilai pH umumnya <7.60 bahkan ada yang <7.0.

Sedangkan pada bulan Oktober nilai pH diperairan laut berkisar antara 7,27 – 7,87 di lapisan permukaan dan antara 7,36 – 7,83 di dekat dasar, sementara itu di perairan muara berkisar antara 7,19 – 7,77 pada saat laut pasang dan antara 7,13 – 7,74 pada saat surut. Nilai pH dari beberapa stasiun menunjukkan perbedaan yang besar. Seperti oksigen, nilai pH di beberapa stasiun pengamatan juga diketemukan nilai pH nya cukup rendah. Penyebabnya juga sama yaitu masuknya limbah dari darat yang masuk ke perairan terbawa oleh aliran sungai.

e. Kecerahan

Tingkat kecerahan air di laut di tentukan oleh tingginya intensitas cahaya dan kondisi dasar perairan. Perairan Teluk Jakarta dasar perairannya adalah lumpur. Lumpur tersebut adalah berasal dari sungai-sungai yang bermuara di pantai dan masuk ke Teluk Jakarta karma itu kecerahan airnya umunya rendah terutama diperairan muara. Pada pengamatan bulan April kecerahan air tercatat antara 1.0-9.0 meter. Kecerahan air dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan intensitas cahaya dipengaruhi oleh keadaan cuaca (angin, awan), waktu pengamatan dan kekeruhan. Kecerahan air yang rendah ditemukan di dekat pantai dan kearah laut umumnya kecerahan menjadi lebih tinggi. Sedangkan kecerahan air di perairan muara rendah yaitu kurang dari satu meter (0.30-0.90 meter) kecuali di perairan muara karang kecerahan air 1.20 meter. Rendahnya kecerahan air karena adanya berbagai jenis limbah yang berasal dari aliran sungai.

Hasil pengukuran kecerahan pada bulan Agustus tercatat diperairan laut sekitar 2.0-4.5 meter dan di muara antara 0.15-1.60 meter.

Sedangkan untuk bulan Oktober (musim peralihan II) kecerahan air diperairan laut berkisar antara 1,2 – 10,0 meter dan di perairan muara antara 0,5 – 2,10 meter.

f. Arus Laut

Kecepatan arus hasil pengukuran di perairan tercatat berkisar antara 4.6-20.0 cm/detik (0.08-0.68 knots) dengan arah bervariasi antara 010- 290º (N-SE). Bervariasinya arah arus dimungkinkan oleh bervariasinya arah angin yang terjadi pada musim peralihan ini. Sedangkan pengamatan arus di muara sungai hanya dilakukan di muara sungai Teluk jakarta bagian barat. Kecepatan arus tercatat berkisar antara 9.5-20.0 cm/det (0.18-0.69 knot) dengan arah yang bervariasi yaitu antara 0-310° (utara s/d barat daya). Kecepatan arus tertinggi tercatat di Muara Angke. Kecepatan arus yang tinggi di Muara Angke kemungkinan adalah arus dari aliran sungai yang masuk ke laut melalui muara ini.

g. Kepulauan Seribu

Pengamatan kondisi oseanografis Kep. Seribu hanya dilakukan di 4 titik pengamatan yaitu di sekitar P. Pari, P. Pramuka, P. Karang Beras dan P. Tidung. Ada perbedaan kondisi oseanografi di perairan Kep. Seribu dengan perairan Teluk Jakarta terutama suhu, salinitas dan oksigen. Di perairan Kep. Seribu tercatat suhu berkisar antara 29.85-30.42°C di lapisan permukaan dan antara 29.82-30.28°C di dekat dasar (perairan Teluk Jakarta antara 30.93-31.86°C dan 30.08-31.00°C). Salanitas permukaan dan dasar perairan Kep. Seribu berkisar (31.0-32.5 ‰), di perairan Teluk Jakarta antara (26.0-32.0 ‰). Sedangkan oksigen variasinya rendah dan berkisar antara 3.84-4.25 ml/L (di perairan Teluk Jakarta berkisar antara 2.65-6.26 ml/L). Perbedaan ini menunjukan adanya pengaruh daratan yang lebih besar terhadap kondisi oseanografis di Teluk Jakarta dibandingkan di Kep. Seribu.

5.3.2. Kualitas Kimia

a. Perairan Teluk Jakarta

Perairan Teluk Jakarta telah mengalami pencemaran yang cukup tinggi yang menjadikan tingginya tingkat kesuburan di perairan Teluk Jakarta, sehingga Teluk Jakarta termasuk pada perairan eurotrofik.

•  Amonia

Konsentrasi Amonia di wilayah perairan Teluk Jakarta tahun 2009, disajikan pada Grafik : I.73 di bawah. Pada Grafik tersebut terlihat bahwa konsentrasi Amonia untuk wilayah perairan umumnya masih berada dibawah baku mutu, namun pada pengambilan sampel bulan April titik yang berada dizona C yaitu C2 dan C3 konsentrasinya telah melebihi baku mutu, sedangkan untuk pengambilan sampel bulan Oktober (musim peralihan II) titik A3 dan C2 konsentrasinya telah melebihi baku mutu. Tingginya konsentrasi Amonia di zona C tersebut disebabkan karena titik ini dekat dengan Muara Teluk Jakarta.

 

Grafik : I.73 . Konsentrasi Amonia di Perairan Teluk Jakarta

 

•  Fenol

Grafik : I.74 di bawah ini menggambarkan konsentrasi fenol di perairan Teluk Jakarta pada tahun 2009, umumnya pada semua titik pengambilan sampel konsentrasinya telah melebihi baku mutu. Namun untuk pengambilan sampel bulan April dan Oktober rata-rata konsentrasi fenol tidak terdeteksi.

 

Grafik : I.74 . Konsentrasi Fenol di Perairan Teluk Jakarta

 

Tingginya parameter fenol di perairan dapat terjadi karena adanya pengaruh aktifitas manusia dan kondisi lingkungan di sekitar, seperti adanya aktifitas industri kimia, minyak, tekstil, dan plastik. Selain itu sumber pencemar Fenol berasal dari limbah domestik berupa pemutih pakaian dan limbah pewarna.

•  Phospat

Konsentrasi phospat yang terkandung di perairan Teluk Jakarta dapat dilihat pada Grafik : I.75 di bawah ini. Pada Grafik tersebut dapat dilihat bahwa konsentrasi phospat di perairan Teluk Jakarta berkisar antara tidak terdeteksi hingga 0.09 mg/l. Konsentrasi tertinggi terdapat di titik C3 pada pengambilan sampel bulan April. Sementara itu konsentrasi phospat di zona B rata-rata tidak terdeteksi.

Grafik : I.75 . Konsentrasi Phospat di Perairan Teluk Jakarta

 

•  Detergent

Konsentrasi Detergent di perairan Teluk Jakarta dapat dilihat pada Grafik : I.76 . Dari Grafik tersebut dapat dilihat bahwa konsentrasi detergent masih berada di bawah baku mutu baik pada pengambilan sampel bulan April, Agustus maupun Oktober 2009.

 

Grafik : I.76 . Konsentrasi Detergent di Perairan Teluk Jakarta

 

Konsentrasi detergen di perairan Teluk Jakarta masih relatif baik. Rendahnya detergen akan menguntungkan biota laut karena tidak menghambat transfer massa (oksigen).

•  BOD

Dari Grafik : I.77 terlihat bahwa konsentrasi BOD pada bulan April dan Oktober sebagian besar telah melebihi baku mutu, sedangkan untuk konsentrasi bulan Agustus cenderung rendah. Tingginya kadar BOD mengindikasikan bahwa pada zona perairan tersebut kebutuhan akan oksigen untuk menguraikan bahan organik semakin tinggi, sehingga kebutuhan oksigen juga akan tinggi.

 

Grafik : I.77 . Konsentrasi BOD di Perairan Teluk Jakarta

 

 

b. Muara Teluk Jakarta

Muara Teluk Jakarta merupakan tempat bermuaranya 13 sungai yang melalui wilayah DKI Jakarta. Terdapat 9 muara yang masuk ke Teluk Jakarta, yang menjadikan kualitas air di muara Teluk Jakarta menjadi sangat tercemar. Kualitas air di muara Teluk Jakarta baik pada saat kondisi pasang maupun surut, lebih tercemar bila dibandingkan dengan di perairan.

•  Amonia

Konsentrasi Amonia di muara baik pada saat pasang yang tersaji pada Grafik : I.78 . Pada Grafik tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi amonia sebagian besar telah melebihi baku mutu baik pada periode bulan April, Agustus maupun Oktober. Hal ini menunjukkan bahwa sumber pencemar Amonia berasal dari limbah domestik yang mengalir ke sungai dan bermuara ke laut.

Sedangkan pada saat surut konsentrasi amonia rata-rata juga telah melebihi baku mutu dan pada periode bulan Agustus konsentrasi meningkat sangat tinggi.

Tingginya Amonia hampir terjadi di semua lokasi ini setidaknya menunjukkan indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik maupun industri. Sumber lain yang dapat berperan dalam meningkatkan kandungan Amonia adalah tinja yang berasal dari biota akuatik yang merupakan limbah dari aktifitas metabolisme.

Grafik : I.78 . Konsentrasi Amonia di Muara Teluk Jakarta

 

•  Fenol

Konsentrasi fenol di perairan dan muara Teluk Jakarta tersaji pada Grafik : I.79 di bawah ini. Konsentrasi fenol pada saat pasang dan saat surut pada bulan Agustus dan Oktober rata-rata tidak terdeteksi. Sedangkan pada bulan April dibeberapa titik konsentrasinya meningkat konsentrasinya hingga melebihi baku mutu.

Sumber pencemar Fenol berasal dari limbah domestik berupa pemutih pakaian dan limbah pewarna. Tingginya keberadaan fenol ini dapat menyebabkan berubahnya sifat organoleptik air dan pada kadar tertentu yaitu lebih besar dari 0.01 mg/l akan merugikan biota karena akan bersifat racun bagi ikan.

 

Grafik : I.79 . Konsentrasi Fenol di Muara Teluk Jakarta

•  Phospat

Konsentrasi phospat di muara Teluk Jakarta dapat dilihat pada Grafik : I.80 . Konsentrasi phospat di muara pada semua titik baik kondisi pasang maupun surut telah melebihi baku mutu. Hal ini disebabkan karena tingginya konsentrasi phospat yang terkandung dalam air sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingginya konsentrasi phospat di muara Teluk Jakarta berasal dari limbah domestik yang dialirkan oleh sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta. Hal ini akan berpengaruh pada kondisi perairan Teluk Jakarta dimana akan mudah mengalami eutrofikasi dan mudah terjadi blooming.

 

Grafik : I.80 . Konsentrasi Phospat di Muara Teluk Jakarta

 

•  Detergent

Pada Grafik : I.81 menggambarkan konsentrasi detergent di muara Teluk Jakarta.

Grafik : I.81 . Konsentrasi Detergen di Muara Teluk Jakarta

 

Dari Grafik tersebut dapat dilihat bahwa konsentrasi detergent di muara baik dalam kondisi pasang dan surut telah melebihi baku mutu. Pada saat surut konsentrasi detergen meningkat terutama pada periode bulan April dan Agustus.

•  BOD

Kondisi BOD di muara Teluk Jakarta pada kondisi pasang maupun surut tersaji pada Grafik : I.82 di bawah ini.

Grafik : I.82 . Konsentrasi BOD di Muara Teluk Jakarta

 

Terlihat jelas bahwa pada saat surut dan pasang konsentrasi BOD sudah cukup tinggi dan telah melebihi baku mutu di semua muara. Dengan konsentrasi yang tinggi ini maka akan akan mengurangi kandungan oksigen terlarut. Hal ini menunjukkan pada muara tersebut kaya akan bahan organik yang mudah di urai ( biodegradable organic matter ). Tingginya bahan organik pada daerah muara dapat berasal dari aktifitas di sekitar muara atau sepanjang aliran sungai.

5.3.3. Kualitas Biologi

Parameter biologi perairan yang diamati meliputi kelimpahan plankton dan benthos (makroobenthos). Berdasarkan hasil analisis terhadap kelimpahan Fitoplankton dan makroozoobenthos, diperoleh nilai indeks diversitas/keanekaragaman untuk masing-masing wilayah pengambilan sampel. Nilai indeks diversitas plankton (fitoplankton dan Zooplankton) dan makrobenthos adalah sebagian dari parameter biologi perairan yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran di Teluk Jakarta .

a. Phytoplankton

Hasil yang diperoleh dari sampel perairan laut Teluk Jakarta pada bulan April adalah 33 jenis fitoplankton yang terdiri dari 4 classis, yaitu Bacillariophyceae (Diatom) terdiri dari 20 jenis; Chlorophyceae 2 jenis; Cyanophyceae 4 jenis; dan Dinophyceae 7 jenis. Kelimpahan fitoplankton yang ditemukan pada masing-masing stasiun, berkisar antara 33.253 sampai 22.256.000 sel/m 3 , kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun D3 dan kelimpahan terendah pada stasiun S4 (sekitar Pulau Tidung). Jenis Thalassiosira sp. ditemukan paling melimpah dan mendominasi di setiap stasiun pengamatan, dengan kisaran kelimpahan 34.292.224 sel/m 3 atau sekitar 30,29%. Pada bulan Agustus diperoleh dari sampel perairan laut Teluk Jakarta diperoleh 31 jenis fitoplankton yang terdiri dari 3 classis, yaitu Bacillariophyceae terdiri dari 23 jenis; Cyanophyceae 1jenis; dan Dinophyceae 7 jenis. Kelimpahan fitoplankton yang ditemukan pada masing-masing stasiun, berkisar antara 73.163 sampai 3.192.534 sel/m 3 , kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun C3 dan kelimpahan terendah pada stasiun B6. Jenis Chaetoceros sp. ditemukan paling melimpah dan mendominasi di setiap stasiun pengamatan, dengan kelimpahan 6.986.762 sel/m 3 atau sekitar 75,79 persen. Sedangkan hasil yang diperoleh dari sampel perairan laut Teluk Jakarta pada bulan Oktober adalah 42 jenis fitoplankton yang terdiri dari 3 classis, yaitu Bacillariophyceae terdiri dari 35 jenis; Cyanophyceae 2 jenis; dan Dinophyceae 5 jenis. Kelimpahan fitoplankton yang ditemukan pada masing-masing stasiun, berkisar antara 1.683.300 sampai 5.292.000 sel/m 3 , kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun A2 dan kelimpahan terendah pada stasiun C5. Jenis Chaetoceros sp. ditemukan paling melimpah dan mendominasi di setiap stasiun pengamatan, dengan kelimpahan 15.434.300 sel/m 3 atau sekitar 22,62 persen .

Indeks keanekaragaman (H') pada bulan April berkisar antara 0,25 (stasiun C3) sampai 1,99 (stasiun B7). Kisaran nilai tersebut termasuk ke dalam kategori tercemar berat sampai sedang. Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun C3 dengan nilai 0,92 sedangkan nilai terendahnya terdapat pada stasiun C5 dengan nilai 0,16. Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,11 pada stasiun C3 sampai 0,90 pada stasiun C5. Pada bulan Agustus diperoleh Indeks keanekaragaman (H') berkisar antara 0,25 (stasiun B2) sampai 2,20 (stasiun A6). Berkebalikan dengan indeks keanekaragaman, Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun B2 dengan nilai 0,92 sedangkan nilai terendahnya terdapat pada stasiun A5 dengan nilai 0,15. Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,10 pada stasiun B2 sampai 0,81 pada stasiun A6. Sedang untuk i ndeks keanekaragaman (H') pada bulan Oktober berkisar antara 2,96 (stasiun A5) sampai 3,96 (stasiun A2). Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun A7 dengan nilai 0,89 sedangkan nilai terendahnya terdapat pada stasiun A5 dengan nilai 0,71. Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,09 pada stasiun B6 sampai 0,2 pada stasiun A5.

 

Grafik : I.83 . Indeks Diversitas Phytoplankton di Perairan Teluk Jakarta 2009

 

Indeks keanekaragaman ( Diversity Index ) Phytoplankton di muara Teluk Jakarta tersaji pada Grafik : I.84 di bawah ini.

Hasil identifikasi fitoplankton untuk perairan Muara Teluk Jakarta pada bulan April saat pasang, ditemukan 31 jenis yang terdiri dari 4 classis, yaitu Bacillariophyceae (Diatomae) terdiri dari 16 jenis; Cyanophyceae 4 jenis; Chlorophyceae 7 jenis dan Dinophyceae 4 jenis; sama halnya dengan hasil pengamatan pada saat pasang, jenis fitoplankton yang ditemukan pada saat surut sebanyak 25 jenis yang terdiri dari 4 classis, yaitu Bacillariophyceae terdiri dari 12 jenis; Cyanophyceae 2 jenis;Chlorophyceae 6 jenis dan Dinophyceae 5 jenis.

Kelimpahan fitoplankton yang ditemukan pada saat pasang berkisar antara 324.587 sampai 6.092.107 sel/m 3 . Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun Muara Angke dan kelimpahan terendah pada stasiun Muara Marina. Jenis Stephanophyxis sp. mendominasi dan ditemukan paling melimpah di setiap stasiun pengamatan. Nilai kelimpahannya sekitar 63%. Kelimpahan fitoplankton pada saat surut berkisar antara 376.107 sampai 41.293.333 sel/m 3 , dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun Muara Kamal dan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun Muara Cilincing. Thalassiosira sp.mendominasi kelimpahan pada setiap stasiun pengamatan dengan kisaran kelimpahan sekitar 32%.

Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat pasang berkisar antara 0.56 (stasiun M. Angke) sampai 1.95 (stasiun M. Marunda). Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0.196 terdapat pada stasiun M. Angke sampai 0.739 yang terdapat pada stasiun M. Marunda Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat surut berkisar antara 0.81 (stasiun M. Cengkareng) sampai 2.08 (stasiun M. Cilincing). Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi pada saat surut terdapat pada stasiun M. Cengkareng dengan nilai 0.61 dan nilai terendahnya terdapat pada stasiun M. Cilincing dengan nilai 0.18. Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0.32 pada stasiun M. Cengkareng sampai 0.79 pada stasiun M. Gembong. Hasil identifikasi fitoplankton untuk perairan Muara Teluk Jakarta pada saat pasang dan surut, ditemukan 32 jenis yang terdiri dari 3 classis, yaitu Bacillariophyceae terdiri dari 25 jenis; Cyanophyceae 1 jenis dan Dinophyceae 6 jenis.

Sedang untuk bulan Agustus diperoleh kelimpahan fitoplankton yang ditemukan pada saat pasang berkisar antara 2.794.596 sampai 26.246.380 sel/m 3 . Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M9 dan kelimpahan terendah pada stasiun M5. Jenis Stephanopyxis sp. mendominasi dan ditemukan paling melimpah di setiap stasiun pengamatan. Nilai kelimpahannya 127.301.439 sel/m 3 atau sekitar 83,57 %. Kelimpahan fitoplankton pada saat surut berkisar antara 12.734.507 sampai 33.592.990 sel/m 3 , dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M6 dan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun M5. Stephanopyxis sp. masih mendominasi kelimpahan pada setiap stasiun pengamatan dengan kelimpahan 157.566.919 sel/m 3 atau sekitar 85,04 %.

Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat pasang berkisar antara 0,33 (stasiun M8) sampai 0,72 (stasiun M1). Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,14 terdapat pada stasiun M8 sampai 0,30 yang terdapat pada stasiun M1. Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat surut berkisar antara 0,18 (stasiun M8) sampai 0,63 (stasiun M2). Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi pada saat surut terdapat pada stasiun M8 dengan nilai 0,92 dan nilai terendahnya terdapat pada stasiun M6 dengan nilai 0,59. Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,07 pada stasiun M8 sampai 0,26 pada stasiun M2.

Pada bulan Oktober hasil identifikasi fitoplankton untuk perairan Muara Teluk Jakarta pada saat surut, ditemukan 23 jenis yang terdiri dari 3 classis, yaitu Bacillariophyceae terdiri dari 15 jenis; Cyanophyceae 2 jenis dan Dinophyceae 6 jenis. Sedangkan pada saat pasang, ditemukan 22 jenis; yang terdiri dari 3 classis yaitu Bacillariophyceae (14 jenis); Cyanophyceae (2 jenis); dan Dinophyceae (6 jenis). Kelimpahan fitoplankton yang ditemukan pada saat pasang berkisar antara 126.280 sampai 59.600.603 sel/m 3 . Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M2 dan kelimpahan terendah pada stasiun M9. Jenis Stephanopyxis sp. mendominasi dan ditemukan paling melimpah di setiap stasiun pengamatan. Nilai kelimpahannya sekitar 61,27 persen. Kelimpahan fitoplankton saat surut berkisar antara 179920 sampai 114.146.268 sel/m 3 , dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M8 dan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun M9. Stephanopyxis sp. masih mendominasi kelimpahan pada setiap stasiun pengamatan dengan kelimpahan 199.984.104 sel/m 3 atau sekitar 75,34 persen.

Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat pasang berkisar antara 0,12 (stasiun M5) sampai 1,61 (stasiun M9). Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,05 terdapat pada stasiun M7 sampai 0,63 yang terdapat pada stasiun M9. Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat surut berkisar antara 0,05 (stasiun M5 dan M6) sampai 1,21 (stasiun M9). Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi pada saat surut terdapat pada stasiun M6 dengan nilai 0,99 dan nilai terendahnya terdapat pada stasiun M9 dengan nilai 0,41. Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,02 pada stasiun M5 dan M6 sampai 0,48 pada stasiun M9.

Grafik : I.84. Indeks Diversitas Phytoplankton di Muara Teluk Jakarta

 

b. Zooplankton

Pengamatan terhadap sampel zooplankton di perairan Laut Teluk Jakarta April 2009, ditemukan 26 jenis, yang terdiri dari kelas Copepoda, Molusca, Chaetognatha, Urochordata, dan larva .

Kelimpahan zooplankton berkisar antara 2.145 sampai 33.687 ind/m 3 . Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun D3, sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun B4. Jenis Acartia sp . ditemukan paling melimpah di setiap stasiun pengamatan, dengan kelimpahan 99.370 ind/m 3 (27,73%).

Nilai Indeks Keanekaragaman (H') berkisar antara 0.86 (stasiun B4) sampai 2.37 (stasiun B5). Nilai tersebut termasuk ke dalam kategori tercemar sedang sampai tercemar ringan. Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun B4 dengan nilai 0.48; sedangkan nilai terendah terdapat pada stasiun B5 dengan nilai 0.11. Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,63 pada stasiun A3 sampai 0,93 pada stasiun A4.

Pengamatan terhadap sampel zooplankton di perairan Laut Teluk Jakarta pada bulan Agustus ditemukan 25 jenis, yang terdiri dari Annelida 2 jenis; Chaetognatha 1 jenis; Coelenterata 1 jenis; Copepoda 16 jenis; Molusca 1 jenis; Urochordata 2 jenis; dan Larva 2 jenis. Kelimpahan zooplankton berkisar antara 4.850 sampai 38.999 ind/m 3 . Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun A1, sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun C5. Jenis Calanus sp. ditemukan paling melimpah di setiap stasiun pengamatan, dengan kelimpahan 116.657 ind/m 3 (32,73%).

Nilai Indeks Keanekaragaman (H') berkisar antara 1,28 (stasiun A6) sampai 2,08 (stasiun B7). Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun A6 dengan nilai 0,34; sedangkan nilai terendah terdapat pada stasiun B7 dengan nilai 0,15. Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,64 pada stasiun C2 sampai 0,90 pada stasiun B7.

Sedangkan pada bulan Oktober Pengamatan terhadap sampel zooplankton di perairan Laut Teluk Jakarta, ditemukan 21 jenis, yang terdiri dari Annelida 1 jenis; Chaetognatha 1 jenis; Copepoda 11 jenis; Molusca 2 jenis; Urochordata 2 jenis; dan Larva 4 jenis. Kelimpahan zooplankton berkisar antara 1.804 sampai 23.862 ind/m 3 . Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun B1, sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun D3. Jenis Acartia sp. ditemukan paling melimpah di setiap stasiun pengamatan, dengan kelimpahan 82.101 ind/m 3 (37,34%). Nilai Indeks Keanekaragaman (H') berkisar antara 1,23 (stasiun D4) sampai 2,09 (stasiun B5). Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun D4 dengan nilai 0,40; sedangkan nilai terendah terdapat pada stasiun B5 dengan nilai 0,16. Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,63 pada stasiun C5 sampai 0,93 pada stasiun D3.

Grafik : I.85 . Indeks Diversitas Zooplankton di Perairan Teluk Jakarta 2009

 

 

Pada bulan April pengamatan terhadap sampel zooplankton di Muara Teluk Jakarta pada saat pasang dan surut, ditemukan kelas Copepoda, Molusca, Chaetognatha, Annelida, Urochordata, dan larva . Kelimpahan zooplankton pada saat pasang berkisar antara 2.075 sampai 64.090 ind/m 3 . Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M. Angke dan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun M. Sunter. Pada saat pasang dan surut, jenis Acartia sp. ditemukan paling melimpah dan mendominasi di setiap stasiun pengamatan, dengan kelimpahan 43.233 ind/m 3 (pada saat pasang) dan 39.725 ind/m 3 (pada saat surut). Kelimpahan zooplankton pada saat surut berkisar antara 1.226 sampai 70.552 ind/m 3 , dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M. Marina dan terendah pada stasiun M. Kamal.

Pengamatan terhadap sampel zooplankton di Muara Teluk Jakarta pada bulan Agustus saat pasang, ditemukan 22 jenis, yang terdiri dari klas Annelida (3 jenis); Chaetognatha (1 jenis); Coelenterata (1 jenis); Copepoda (13 jenis); Molusca (1 jenis); Urochordata (2 jenis); dan larva (1 jenis). Sedangkan hasil pengamatan zooplankton pada saat surut ditemukan 20 jenis, yang terdiri dari Annelida (3 jenis); Chaetognatha (1 jenis); Copepoda (12 jenis); Molusca (1 jenis); Urochordata (2 jenis) dan larva (2 jenis). Kelimpahan zooplankton pada saat pasang berkisar antara 3.274 sampai 20.165 ind/m 3 . Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M6 dan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun M8. Pada saat pasang, jenis Calanus sp . ditemukan paling melimpah dan mendominasi di setiap stasiun pengamatan, dengan kelimpahan 14.880 ind/m 3 (20,79 %). Kelimpahan zooplankton pada saat surut berkisar antara 2.889 sampai 28.197 ind/m 3 , dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M1 dan terendah pada stasiun M8. Jenis Nauplius sp. mendominasi pada setiap stasiun pengamatan dengan besarnya kelimpahan 36.779 ind/m 3 atau sekitar 31,03 persen.

Sedang untuk bulan Oktober Pengamatan terhadap sampel zooplankton di Muara Teluk Jakarta pada saat pasang, ditemukan 16 jenis, yang terdiri dari klas Annelida (1 jenis); Chaetognatha (1 jenis); Copepoda (9 jenis); Molusca (3 jenis); Urochordata (1 jenis); dan larva (1 jenis). Sedangkan hasil pengamatan zooplankton pada saat surut ditemukan 18 jenis, yang terdiri dari Annelida (1 jenis); Chaetognatha (1 jenis); Copepoda (10 jenis); Molusca (2 jenis); Urochordata (1 jenis) dan larva (3 jenis). Kelimpahan zooplankton pada saat pasang berkisar antara 4.743 sampai 49.700 ind/m 3 . Kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M3 dan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun M2. Pada saat pasang, jenis Nauplius sp. ditemukan paling melimpah dan mendominasi di setiap stasiun pengamatan, dengan kelimpahan totalnya 85.028 ind/m 3 (45,78 %). Kelimpahan zooplankton pada saat surut berkisar antara 2922 sampai 25.838 ind/m 3 , dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun M8 dan terendah pada stasiun M6. Jenis Nauplius sp. mendominasi pada setiap stasiun pengamatan dengan besarnya kelimpahan totalnya 35.921 ind/m 3 atau sekitar 36,84 persen.

 

Grafik : I.86. Indeks Diversitas Zooplankton di Muara Teluk Jakarta pada saat pasang 2009

 

Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada bulan April saat pasang berkisar antara 1,01 (stasiun M. Cilincing) sampai 1,68 (stasiun M. Kamal). Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun M. Cengkareng dengan nilai 0.43 dan nilai terendah terdapat pada stasiun M. Kamal dengan nilai 0,20. Indeks Keseragaman (E) tertinggi pada stasiun M. Kamal yaitu sebesar 0,94 dan nilai terendahnya 0,61 terdapat pada stasiun M. Angke; sedangkan nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat surut berkisar antara 0,85 (stasiun M. Kamal) sampai 1,77 (stasiun M. Cengkareng). Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun M. Kamal dengan nilai 0,51 dan nilai terendah terdapat pada stasiun M. Cengkareng dengan nilai 0,19. Indeks Keseragaman (E) tertinggi pada saat surut adalah sebesar 0,92 terdapat pada stasiun M. Cilincing dan terendahnya terdapat pada stasiun M. Marina dengan nilai 0,63.

Pada bulan Agustus Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat pasang berkisar antara 0,90 (stasiun M1) sampai 1,83 (stasiun M9). Nilai Indeks Keseragaman (E) tertinggi terdapat pada stasiun M9 dengan nilai 0,88 dan nilai terendah terdapat pada stasiun M6 dengan nilai 0,61. Indeks Dominansi (D) tertinggi pada stasiun M1 yaitu sebesar 0,44 dan nilai terendah pada stasiun M9 dengan nilai 0,19. Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat surut berkisar antara 0,40 (stasiun M4) sampai 1,75 (stasiun M8). Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun M4 dengan nilai 0,82 dan nilai terendah terdapat pada stasiun M8 dengan nilai 0,21. Indeks Keseragaman (E) tertinggi pada saat surut adalah sebesar 0,901613 terdapat pada stasiun M8.

Sedangkan untuk bulan Oktober Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat pasang berkisar antara 1,09 (stasiun M7) sampai 1,76 (stasiun M8). Nilai Indeks Keseragaman (E) tertinggi terdapat pada stasiun M9 dengan nilai 0,88 dan nilai terendah terdapat pada stasiun M7 dengan nilai 0,52. Indeks Dominansi (D) tertinggi pada stasiun M7 yaitu sebesar 0,53 dan nilai terendah pada stasiun M8 dengan nilai 0,22. Nilai Indeks Keanekaragaman (H') pada saat surut berkisar antara 1,19 (stasiun M6 dan M7) sampai 1,69 (stasiun M8). Nilai Indeks Dominasi (D) tertinggi terdapat pada stasiun M7 dengan nilai 0,38 dan nilai terendah terdapat pada stasiun M2 dengan nilai 0,24. Indeks Keseragaman (E) tertinggi pada saat surut adalah sebesar 0,86 terdapat pada stasiun M6.

Grafik : I.87. Indeks Diversitas Zooplankton di Muara Teluk Jakarta pada saat surut 2009

 

 

c. Makrozoobenthos

Hasil pengamatan bulan April menunjukkan bahwa makrozoobentos dari perairan Laut Teluk Jakarta didapatkan terdiri dari 3 Phylum (Moluska, Arthropoda dan Annelida), 5 kelas (Bivalva, Gastropoda, Scaphopoda, Crustacea, dan Polychaeta) dan 72 jenis (Genus).

Berdasarkan nilai komposisi, jenis makrozoobenthos yang paling mendominasi adalah donax sp (76,37%) dan tingkat kehadirannya tinggi (hampir terdapat di seluruh stasiun pengamatan), kemudian turritell a sp (7,94%), dan codakia (4,67%) sedangkan jenis yang lainnya hanya memiliki nilai komposisi jenis kurang dari 4,0 persen. Di lihat dari jumlah jenisnya, stasiun D6 hanya memiliki 3 jenis makrozoobenthos. Hal yang sama ditemukan pengamatan pada tahun 2004 bahwa stasiun D6 hanya memiliki 3 jenis makrozoobenthos, diduga karena ada spesies yang mendominasi yaitu spesies donax sp, sedangkan stasiun B5 memiliki jumlah jenis paling banyak yaitu 21 jenis. Kepadatan makrozoobentos yang ditemukan di perairan Laut Teluk Jakarta berkisar antara 450 sampai 96.925 ind/m 2 . Dari seluruh stasiun pengamatan, kepadatan makrozoobentos terendah terdapat di stasiun pengamatan B6 dan kepadatan tertinggi pada stasiun D5. Hal ini tidak berbeda dengan data sebelumnya dimana kepadatan makrozoobentos tertinggi pada tahun 2004, 2005, dan 2006, 2007, 2008 terdapat di zona D. Menurut Wilhm dalam wahyono (1993), makrozoobentos dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat ketahanan terhadap pencemaran air. Menurut Staub et al ., dalam Wilhm (1975) kriteria pencemaran perairan dengan menggunakan indeks keragaman Shannon-Wiener dari hewan makrozoobentos, kualitas air dapat dikelompokan atas : Tercemar Berat (TB) (0<H'<1), Tercemar Ringan (TR) (1<H'<2), Tercemar Sedang (TS) (2<H'<3), dan Tercemar Sangat Ringan (TSS) (3<H'<4,5).

Hasil pengamatan bulan Agustus menunjukkan bahwa makrozoobentos dari perairan Laut Teluk Jakarta pada bulan Agustus 2009 didapatkan terdiri dari 3 Phylum (Moluska, Arthropoda dan Annelida), 5 kelas (Bivalva, Gastropoda, Scapophoda, Malacostraca, dan Polychaeta) dan 27 jenis (Genus). Berdasarkan nilai komposisi, jenis makrozoobenthos yang paling mendominasi adalah donax sp (84,68%) dan tingkat kehadirannya tinggi (hampir terdapat di seluruh stasiun pengamatan kecuali stasiun B2), kemudian tellina sp (2 ,76%), codakia (2,64%), neptuneopsis sp (1,89), Anadara sp (1,78), turritella sp (1,47%), dan dentalium sp (1,09) sedangkan jenis yang lainnya hanya memiliki nilai komposisi jenis kurang dari 1,0 persen. Di lihat dari jumlah jenisnya, stasiun B2 hanya memiliki 1 jenis makrozoobenthos sedangkan stasiun B1 memiliki jumlah jenis paling banyak yaitu 13 jenis. Walaupun lokasi pengamatan berdekatan, namun jumlah jenisnya sangat berbeda dimana stasiun B1 jumlahnya paling sedikit dan stasiun B2 paling banyak dari seluruh stasiun pengamatan. Kepadatan makrozoobentos yang ditemukan di perairan Laut Teluk Jakarta berkisar antara 275 sampai 38.450 ind/m 2 . Dari seluruh stasiun pengamatan, kepadatan makrozoobentos terendah terdapat di stasiun pengamatan B2 dan kepadatan tertinggi pada stasiun D5. Hal ini tidak berbeda dengan data sebelumnya dimana kepadatan makrozoobentos tertinggi pada tahun 2004, 2005, dan 2006 terdapat di zona D yaitu stasiun D3, namun tahun 2009 bergeser ke stasiun D5. Tingginya kepadatan makrozoobentos di zona D setiap tahunnya disebabkan karena ada spesies yang mendominasi yaitu donax sp dari kelas Bivalva yang mendiami substrat berlumpur dan diduga dekat dengan daratan karena mendapat suplay makanan berupa bahan organik dari berbagai sungai yang bermuara ke perairan Teluk Jakarta.

Hasil pengamatan bulan Oktober menunjukkan bahwa makrozoobentos dari perairan Laut Teluk Jakarta didapatkan terdiri dari 3 Phylum (Moluska, Arthropoda dan Annelida), 5 kelas (Bivalva, Gastropoda, Scaphopoda, Polychaeta, dan Crustacea) serta memiliki 79 jenis (Genus). Berdasarkan nilai komposisi, jenis makrozoobenthos yang paling mendominasi adalah donax sp (82,38%) dan tingkat kehadirannya tinggi (hampir terdapat di seluruh stasiun pengamatan), kemudian turritell a sp (3,78%), codakia (3,58%), dentalium (2,12%), aliculastrum (1,34%) dan architectonica sp (1,05%) sedangkan jenis yang lainnya hanya memiliki nilai komposisi jenis kurang dari 1,0%. Di lihat dari jumlah jenisnya, stasiun D6 hanya memiliki 2 jenis makrozoobenthos sedangkan stasiun B3 memiliki jumlah jenis paling banyak yaitu 21 jenis. Kepadatan makrozoobentos yang ditemukan di perairan Laut Teluk Jakarta berkisar antara 550 sampai 76.825 ind/m 2 . Dari seluruh stasiun pengamatan, kepadatan makrozoobentos terendah terdapat di stasiun pengamatan A7 dan kepadatan tertinggi pada stasiun D2.

 

Grafik : I.88. Indeks Diversitas Benthos di Perairan Teluk Jakarta Tahun 2009

 

Nilai indeks diversitas (H') bulan April di perairan Laut Teluk Jakarta berkisar antara 0,08 sampai 3,71. Nilai indeks diversitas terendah terdapat di stasiun D6 sedangkan tertinggi terdapat di stasiun B6. Berdasarkan klasifikasi tingkat ketahanan terhadap pencemaran air, perairan Laut Teluk Jakarta termasuk dalam kategori tercemar berat sampai tercemar sangat ringan. Stasiun C3,C6, D3 dan D6 termasuk dalam kategori tercemar berat, stasiun A3, A5, A6, dan D4 termasuk dalam kategori tercemar ringan, Stasiun A2, A4, A7, B1,B4, B3, C2, C4, dan C5 termasuk dalam kategori tercemar sedang sedangkan stasiun B2, B5, B6, dan B7 termasuk dalam kategori tercemar sangat ringan. Nilai indeks Keseragaman berkisar antara 0,05 sampai 0,91. Indeks keseragaman terendah terdapat di stasiun D6 sedangkan tertinggi terdapat di stasiun B7. Nilai indeks dominansi berbanding terbalik dengan indeks keanekaragaman. Nilai indeks dominansi berkisar antara 0,11 sampai 0,98. Indeks dominansi terendah terdapat di stasiun B6 sedangkan tertinggi terdapat di stasiun D6 (didominasi oleh genus donax sp ).

Nilai indeks diversitas (H') di perairan Laut Teluk Jakarta pada bulan Agustus berkisar antara 0,21 sampai 3,01. Nilai indeks diversitas terendah terdapat di stasiun D5 sedangkan tertinggi terdapat di stasiun C5. Berdasarkan klasifikasi tingkat ketahanan terhadap pencemaran air, perairan Laut Teluk Jakarta termasuk dalam kategori tercemar berat sampai tercemar sangat ringan. Stasiun A5, A7, B1, B2, B6, C3, C6, D3, D4, dan D5 termasuk dalam kategori tercemar berat, stasiun A1, A2, A3, A6, B3, B5, B7, C2, dan C4 termasuk dalam kategori tercemar ringan, Stasiun A4, B4, dan D6 termasuk dalam kategori tercemar sedang sedangkan stasiun C5 termasuk dalam kategori tercemar sangat ringan. Nilai indeks Keseragaman berkisar antara 0,00 sampai 0,90. Indeks keseragaman terendah terdapat di stasiun B1 dan D3 sedangkan tertinggi terdapat di stasiun C5. Nilai indeks dominansi berbanding terbalik dengan indeks keanekaragaman. Nilai indeks dominansi berkisar antara 0,14 sampai 0,95. Indeks dominansi terendah terdapat di stasiun C5 sedangkan tertinggi terdapat di stasiun D5 (didominasi oleh genus donax sp )

 

Sedangkan untuk bulan Oktober Nilai indeks diversitas (H') di perairan Laut Teluk Jakarta berkisar antara 0,06 sampai 4,10 Nilai indeks diversitas terendah terdapat di stasiun D6 sedangkan tertinggi terdapat di stasiun A7. Berdasarkan klasifikasi tingkat ketahanan terhadap pencemaran air, perairan Laut Teluk Jakarta termasuk dalam kategori tercemar berat sampai tercemar sangat ringan. Stasiun B7, D3, D4, D5 dan D6 termasuk dalam kategori tercemar berat, stasiun B5, C4, C5, dan C6 termasuk dalam kategori tercemar ringan, Stasiun B2, A3, A4, A5, A6, B4, B6, C2 dan C3 termasuk dalam kategori tercemar sedang sedangkan stasiun A1, A7, B1, B2, dan B3 termasuk dalam kategori tercemar sangat ringan.

Nilai indeks Keseragaman berkisar antara 0,06 sampai 0,98. Indeks keseragaman terendah terdapat di stasiun D6 sedangkan tertinggi terdapat di stasiun A7. Nilai indeks dominansi berbanding terbalik dengan indeks keanekaragaman. Nilai indeks dominansi berkisar antara 0,06 sampai 0,99. Indeks dominansi terendah terdapat di stasiun A7 sedangkan tertinggi terdapat di stasiun D6 (didominasi oleh genus donax sp ).

  Grafik : I.89 . Indeks Diversitas Benthos di Muara Teluk Jakarta Tahun 2009

 

Hasil identifikasi jenis makrozoobentos di Muara Teluk Jakarta pada bulan April terdiri dari 3 Phylum yaitu Moluska, Annelida, dan Arthropoda ; 4 kelas (Bivalva, Gastropoda, Crustacea, dan Polychaeta) dan 30 jenis (Genus). Komposisi spesies yang banyak ditemukan di seluruh stasiun adalah dari kelas Crustacea yaitu balanus sp (50,80%), kemudian Bivalva yaitu jenis donax sp (28,37%) dan natirus sp (2,24%); dari kelas Polychaeta yaitu nereis sp (2,24%), Sedangkan spesies lainnya memiliki komposisi jenis kurang dari 2,0 persen. Kepadatan makrozoobentos di perairan Muara Teluk Jakarta berkisar antara 0 sampai 8450 ind/m 2 . Kepadatan terendah terdapat di Muara Angke dan kepadatan tertinggi di Muara Karang. Sama halnya dengan pengamatan sebelumnya (Tahun 2004) bahwa kepadatan terendah di Muara Teluk Jakarta adalah di Muara Angke.

Nilai indeks keanekaragaman/diversitas (H') di perairan Muara Teluk Jakarta berkisar antara 0,0 sampai 2,73. Nilai indeks diversitas terendah terdapat di Muara Angke sedangkan tertinggi terdapat di Muara Gembong. Rendahnya nilai indeks diversitas disebabkan karena tidak ditemukannya spesies dalam lokasi tersebut. Hal ini diduga karena spesies tersebut memiliki pola adaptasi tidak baik dengan lingkungannya. Berdasarkan data yang diperoleh, Klasifikasi tingkat ketahanan terhadap pencemaran di perairan Muara Teluk Jakarta di kelompokkan atas tercemar berat yaitu Muara Angke, Sunter, Kamal, dan Marina, tercemar ringan (Muara Cengkareng Drain, Karang, Marunda, dan Cilincing), dan tercemar sedang yaitu Muara Gembong.

Nilai indeks keseragaman makrozoobenthos perairan Muara Teluk Jakarta berkisar antara 0,0sampai 1,0. Indeks keseragaman terendah terdapat di Muara Angke sedangkan tertinggi terdapat di Muara Cilincing. Nilai indeks dominansi berkisar antara 0,0 sampai 0,73. Indeks dominansi terendah terdapat di Muara Angke sedangkan tertinggi terdapat di Muara Marina.

Pada bulan Agustus hasil identifikasi jenis makrozoobentos di Muara Teluk Jakarta terdiri dari 3 Phylum yaitu Moluska, Arthropoda, dan Annelida ; 5 kelas (Bivalva, Gastropoda, Malacostraca, Crustacea, dan Polychaeta) dan 28 jenis (Genus). Komposisi spesies yang banyak ditemukan di seluruh stasiun adalah dari kelas Bivalva , yaitu donax sp (71,88%), kemudian teritip sp (8,63%), Codakia sp (7,99%), venus sp (1,73%), Mytilus sp (1,48%), letmula sp (1,38%), Bassina sp (1,33%), Naiades sp (1,08%), dan Tellina sp (1,03%) sedangkan spesies lainnya memiliki komposisi jenis kurang dari 1,0 persen. Kepadatan makrozoobentos di perairan Muara Teluk Jakarta berkisar antara 25 sampai 35.600 ind/m 2 . Kepadatan terendah terdapat di Muara Gembong (M9) dan kepadatan tertinggi di Muara Kamal (M1).

Nilai indeks keanekaragaman/diversitas (H') di perairan Muara Teluk Jakarta pada bulan Agustus berkisar antara 0,0 sampai 2,17. Nilai indeks diversitas terendah terdapat di Muara Marunda dan Gembong sedangkan tertinggi terdapat di Muara Sunter. Rendahnya nilai indeks diversitas disebabkan karena di Muara Gembong hanya ditemukan 1 spesies yaitu donax sp dan di Muara Marunda hanya terdapat spesies teritip sp. Hal ini diduga karena spesies tersebut memiliki pola adaptasi yang baik dengan lingkungannya. Berdasarkan data yang diperoleh, Klasifikasi tingkat ketahanan terhadap pencemaran di perairan Muara Teluk Jakarta di kelompokkan atas tercemar berat yaitu Muara Cengkareng Drain, Marunda, dan Gembong; tercemar ringan (Muara Kamal, Angke, Karang, Ancol), dan tercemar sedang yaitu Muara Sunter dan Cakung/Cilincing. Nilai indeks keseragaman makrozoobenthos perairan Muara Teluk Jakarta berkisar antara 0,0 sampai 1,0. Indeks keseragaman terendah terdapat di Muara Marunda dan Gembong sedangkan tertinggi terdapat di Muara Ancol. Nilai indeks dominansi berkisar antara 0,33 sampai 1,00. Indeks dominansi terendah terdapat di Muara Cakung/Cilincing sedangkan tertinggi terdapat di Muara Marunda dan Gembong.

Sedangkan pada bulan Oktober Hasil identifikasi jenis makrozoobentos di Muara Teluk Jakarta terdiri dari 3 Phylum yaitu Moluska, 2 kelas (Bivalva, dan Gastropoda), Annelida (Polychaeta) dan Arthropoda (Crustacea) dan terdiri dari 28 jenis (Genus). Komposisi spesies yang banyak ditemukan di seluruh stasiun adalah musculus sp (21,27%) kemudian notilus sp (11,70%), paphia sp (4,25%), perna sp (2,48), dan macoma (2,13%) Sedangkan spesies lainnya memiliki komposisi jenis kurang dari 1,0 %. Kepadatan makrozoobentos di perairan Muara Teluk Jakarta berkisar antara 100 sampai 5.850 ind/m 2 . Kepadatan terendah terdapat di Muara Sunter (M6) dan kepadatan tertinggi di Muara Angke (M3).Berdasarkan jumlah jenisnya, berkisar antara 2- 10 jenis terendah di stasiun Muara Kamal dan tertinggi di stasiun Muara angke dan Cengkareng Drain.

Nilai indeks keanekaragaman/diversitas (H') di perairan Muara Teluk Jakarta berkisar antara 0,81 sampai 2,75. Nilai indeks diversitas terendah terdapat di Muara Kamal sedangkan tertinggi terdapat di Muara Marunda. Rendahnya nilai indeks diversitas disebabkan karena pada muara tersebut hanya ditemukan 2 spesies yaitu siliquaria sp, balanus sp . Hal ini diduga karena spesies tersebut memiliki pola adaptasi yang baik dengan lingkungannya. Berdasarkan data yang diperoleh, Klasifikasi tingkat ketahanan terhadap pencemaran di perairan Muara Teluk Jakarta di kelompokkan atas tercemar berat yaitu Cakung/Cilincing, sunter, Kamal, tercemar ringan (Muara Cengkareng Drain, Angke, Karang, Ancol, dan Gembong), dan tercemar sedang yaitu Muara Marunda

Nilai indeks keseragaman makrozoobenthos perairan Muara Teluk Jakarta berkisar antara 0,44 sampai 0,98. Indeks keseragaman terendah terdapat di Muara Angke sedangkan tertinggi terdapat di Muara Marunda. Nilai indeks dominansi berkisar antara 0,16 sampai 0,67. Indeks dominansi terendah terdapat di Muara Marunda sedangkan tertinggi terdapat di Muara Cakung/Cilincing.

Hasil pengambilan sampel kualitas perairan Teluk Jakarta tahun 2009 adalah sebagai berikut :

•  Kualitas Fisik

•  Perairan Teluk Jakarta

Kondisi fisik perairan untuk parameter suhu, salinitas, pH, dan arus masih dalam kondisi normal, sedangkan parameter Oksigen Terlarut (DO), kecerahan, dan warna telah melebihi baku mutu.

•  Muara Teluk Jakarta

Pada zona muara tidak berbeda dengan zona perairan, dimana parameter Oksigen Terlarut (DO), dan kecerahan telah melebihi baku mutu, sedangkan parameter fisik lainnya baik pasang maupun surut masih dalam kisaran yang normal.

•  Kepulauan Seribu

Ada perbedaan kondisi oseanografi di perairan Kep. Seribu dengan perairan Teluk Jakarta terutama suhu, salinitas dan oksigen. Suhu di Kepulauan Seribu lebih dingin dibandingkan dengan suhu di Teluk Jakarta, begitu juga Oksigen terlaru (DO) rata-rata lebih bagus kualitasnya dibandingkan dengan di Teluk Jakarta.

•  Kualitas Kimia

•  Perairan Teluk Jakarta

Kondisi kimia perairan untuk parameter BOD pada bulan April dan Oktober terlihat di semua zona cukup tinggi dan telah melebihi baku mutu. Untuk parameter Fenol kondisinya masih pada bulan Agustus jauh melebihi baku mutu, sedangkan untuk bulan April dan Oktober rata-rata konsentrasi fenol tidak terdeteksi. Untuk parameter phospat dan amoniak hanya dititik-titik tertentu saja yang telah melebihi baku mutu, namun untuk detergent konsentrasinya masih memenuhi baku mutu disemua zona.

•  Muara Teluk Jakarta

Pada zona muara untuk parameter kimia baik BOD, fenol, Amonia, detergent dan phospat untuk saat pasang dan surut konsentrasinya sudah cukup tinggi dan telah melebihi baku mutu.

•  Kualitas Biologi

a) Perairan Teluk Jakarta

Indeks keragaman Phytoplankton dan makrobentos pada tahun 2009 berada pada kisaran tercemar sangat ringan sampai tercemar berat. Sedangkan untuk zooplankton berada pada kisaran tercemar ringan sampai tercemar berat.

b) Muara Teluk Jakarta

Nilai Indeks keragaman Phytoplankton pada saat pasang berada pada kisaran tercemar sedang sampai berat, sedang pada saat surut berada pada kisaran tercemar ringan sampai berat. Zooplankton berada pada kisaran tercemar sedang sampai berat pada saat pasang maupun surut, dan makrozoobenthos di muara Teluk Jakarta menunjukkan kondisi interval tercemar ringan sampai berat.

F. Iklim

Jakarta menduduki posisi kedua bersama Ibukota Filipina, Manila dalam daftar kota di Asia yang paling terancam akibat naiknya permukaan air laut, badai dan perubahan iklim lainnya, dimana Ibukota Bangladesh, Dhaka berada di peringkat pertama. Peringkat ini didasarkan studi World Wildlife Fund (WWF) soal ancaman yang dihadapi 11 kota besar di Asia yang terletak di pinggir pantai atau delta sungai. Perubahan iklim global menjadi isu penting yang terus bergulir dalam beberapa tahun terakhir ini. Perubahan iklim mengakibatkan di lapisan atmosfer paling bawah terjadi kenaikan muka air laut. Perubahan iklim global telah dan akan terus terjadi sejalan dengan peningkatan aktivitas manusia yang mengkonsumsi energi, khususnya energi dari bahan bakar fosil. Ditambahkan, aktivitas deforentasi akan terus meningkatnya emisi karbon yang ada di atmosfir, dimana emisi karbon Indonesia khususnya di Jakarta didominasi oleh emisi dari bahan bakar fosil dan aktivitas deforestasi.

Pada saat ini di DKI Jakarta telah mengalami dampak dari perubahan iklim diantaranya dengan meningkatnya permukaan air laut. Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), panel ahli untuk isu perubahan iklim, dalam 100 tahun terakhir telah terjadi peningkatan permukaan air laut setinggi 10 – 25 Cm, sementara diperkirakan bahwa pada tahun 2100 mendatang akan terjadi peningkatan air laut setinggi 15 – 95 Cm (Greenpeace, 1988). Perubahan iklim juga menyebabkan negara-negara kepulauan seperti Karibia, Fiji, Samoa, Vanuatu, Jepang, Filipina serta Indonesia terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Ini berarti Jakarta yang masuk dalam dataran rendah akan ikut menuai akibatnya.

Menurut Study ALGAS (1997), jika Indonesia dan juga negara lain tidak melakukan upaya apapun untuk mengurangi Gas Rumah Kaca, maka di perkirakan pada tahun 2070 akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 60 Cm. Jika permukaan pantai landai, maka garis pantai akan mundur lebih dari 60 Cm. Naiknya muka air laut tak hanya mengancam kehidupan penduduk pantai, tetapi juga akan memperburuk kualitas air tanah di perkotaan, karena intrusi atau rembesan air laut yang semakin meningkat.

Dari hasil pemantauan suhu yang dilakukan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika pada titik pemantauan Stasiun Meteorologi Kemayoran menunjukkan bahwa rata-rata suhu udara di Jakarta setiap bulannya berubah-ubah. Selama tahun 2009, rata-rata suhu terendah terjadi pada bulan Januari dan Pebruari yaitu 27,1 derajat celsius dan tertinggi terjadi pada bulan September dan Oktober yaitu 29,4 derajat celsius.

Menurut Rizaldi Boer Kepala Laboratorium Klimatologi Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor mengatakan, bahwa kenaikan suhu rata-rata yang mencapai 1 derajat celcius di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir termasuk sangat tinggi. Tetapi harus dilihat dulu titik-titik pemantauannya dan sumber panasnya dari mana saja. Menurut Panel Ahli Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), jika terjadi kenaikan suhu hingga 2 derajat celsius -dari suhu tahun 1990- pada tahun 2050 kondisi akan sangat sulit dikendalikan. Karena itu, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan adalah harus memperlambat kenaikan suhu. Kenaikan suhu udara tidak hanya disebabkan oleh sinar matahari atau kenaikan konsentrasi gas rumah kaca. Ada faktor lain yang turut mempercepat kenaikan suhu. Aktivitas industri, transportasi, dan populasi merupakan tiga faktor yang terkait dengan aktivitas manusia (antroposentris).

Aktivitas industri selama ini diyakini sebagai pemicu awal emisi karbon -salah satu gas rumah kaca- yang memerangkap panas bumi. Berdasarkan hal itu, suhu di kawasan perkotaan khususnya daerah-daerah kawasan industri dipastikan akan lebih cepat panas daripada daerah kawasan pinggiran atau kawasan dengan vegetasi rapat . "Suhu rata-rata udara jadi minus, itu mungkin saja. Misalnya, ada penyerap panas seperti hutan di kawasan yang dulunya tidak ada hutannya," katanya.

Selain suhu, yang mempengaruhi iklim adalah curah hujan. Setelah musim kemarau yang panjang, dilanjutkan dengan c urah hujan tinggi yang mencapai 547,9 mm pada bulan Januari 2009 berakibat banyak kejadian banjir di Jakarta. Curah hujan ini akan menurun pada bulan bulan berikutnya meski sempat meningkat pada bulan Mei hingga mencapai 223,4 mm. Curah hujan di Jakarta akan menurun lagi pada bulan Juni dan mencapai titik terendah pada bulan Agustus yaitu hanya 63,3 mm. Pada menjelang akhir tahun curah hujan mulai meningkat lagi sampai awal tahun berikutnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Januari dan Februari merupakan bulan dimana curah hujan tertinggi di Jakarta sehingga perlu diwaspadai adanya bahaya banjir.

Dari uraian tersebut diatas, maka dapat dipastikan adanya kejadian banjir rob yang akhir-akhir ini sering terjadi di DKI Jakarta, diakibatkan dari adanya perubahan iklim, selain juga diakibatkan penurunan permukaan tanah, yang menurut hasil penelitian Dinas Pertambangan Provinsi DKI Jakarta dengan ITB yang menunjukkan bahwa rata-rata penurunan tanah di DKI Jakarta adalah 1,4261 Cm dimana penyebabnya adalah eksploitasi air tanah dan berat beban bangunan.

Khusus di DKI Jakarta dengan banyaknya usaha industri dan semakin berkurangnya lahan terbuka hijau diketahui akan dapat merubah kondisi iklim. Kondisi ini secara global diyakini, berakibat pada perubahan temperatur yang akan berdampak negatif pada banyak hal. Sejumlah penyakit akan mewabah dalam skala luas, cuaca semakin sulit diprediksi, intensitas badai dan puting beliung akan meningkat, terjadi penurunan, kenaikan permukaan laut, hingga munculnya ancaman ketahanan pangan akibat pola tanam yang berubah-ubah. Saat ini musim kemarau di Indonesia semakin panjang, sedangkan musim hujan kian pendek.

Dalam kaitan tersebut, maka pemerintah kota DKI Jakarta telah mulai melakukan langkah-langkah antisipasi yaitu dengan melakukan penambahan ruang terbuka hijau dengan vegetasi rapat dapat memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika; meresapkan air; menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota; dan mendukung pelestarian keanekaragaman hayati. Ini bisa dilakukan dengan menambah luas hutan kota dan melindungi kawasan hutan yang sudah ada agar tetap hijau dengan vegetasinya yang rapat. Selain itu dalam memasyarakatkan program-program yang menciptakan cinta lingkungan Pemerintah DKI Jakarta melaksanakan kegiatan diantaranya :

1). Adiwiyata (Green School)

Program Adiwiyata adalah salah satu program Kementerian Negara Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya ilmu pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif.

Adapun dasar kebijakan program ini adalah Kesepakatan Bersama Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Departemen Pendidikan Nasional Kep.No.07/MENLH/06/2005 dan No.05/VI/KB/2005 tentang Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup.

Maksud dari kegiatan ini untuk menseleksi dan menilai sekolah dalam rangka mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan (Adiwiyata), membentuk kesadaran guru-guru, siswa dan warga sekolah dalam mengambil sikap dan nilai, keterampilan serta aksi/partisipasi dalam pembinaan dan pengembangan pendidikan lingkungan hidup.

Tujuannya adalah untuk meloloskan sekolah (SD, SMP dan SMA) agar menjadi sekolah-sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan, menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru, murid dan orang tua murid serta karyawan sekolah), sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan dan bagi pembangunan berkelanjutan.

Adapun Peserta Jakarta Green School Tahun 2009 sebagai berikut :

NO

TINGKAT SEKOLAH DASAR

TINGKAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

1

SDN 012 Bendungan Hilir

SMPN 78 Harapan Mulya

2

SDN 01 Gunung Sahari

SMPN 40 Bendungan Hilir

3

SDN 01 Kebun Kosong

SMPN 71 Cempaka Putih

4

SD Islam Tugasku

SMPN 103 Cijantung

5

SDN 01 Cipinang

SMPN 199 Pondok Kopi

6

SDN 01 Cibubur

SMPN 30 Jakarta Utara

7

MIN 09 Petukangan Selatan

SMPN 111 Jakarta Barat

8

SD Cikal

SMPN 127

9

SD Percontohan Sunter

SMP Lazuardi

10

SD 07 Jati Pulo

SMP Pembangunan

Adapun manfaatnya adalah untuk memotivasi sekolah lain yang belum masuk sekolah peduli dan berbudaya ling-kungan, sehingga kebersihan, penghijauan dan kesehatan di lingkungan sekolah dan sekitarnya meningkat.

Tim pelaksana penilaian terdiri tim MENLH, Pe-merhati Lingkungan, MENDIKNAS, serta LSM, dan pada tanggal 30 April s.d. 5 Mei 2008 dilaksanakan penilaian yang masuk nominasi di tingkat nasional yaitu : SD Citra Alam Ciganjur, Jl. Damai II, Ciganjur Jakarta Selatan (Penghargaan Adiwiyata Mandiri yang merupakan penghargaaan tertinggi untuk sekolah berwawasan lingkungan), SMPN 103 terletak di Jl. RA. Fadilah Komplek Kopassus Cijantung Jakarta Timur dan SDN 12 Pagi Benhil, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

2). Jakarta Green and Clean

Program Green and Clean diawali di kota Surabaya pada tahun 2005 di Kelurahan Jambangan, Surabaya, dan kini telah berkembang ke enam kota besar lainnya di empat pulau yang ada di Indonesia yaitu pulau Jawa (Jakarta, Yogyakarta, Bandung), Sulawesi (Makassar), Sumatera (Medan) dan Kalimantan (Banjarmasin).

Sejak Maret 2006 PT. Unilever Indonesia, Tbk. dan Jaringan Delta FeMale Indonesia (JDFI) membentuk kemitraan strategis yang membuahkan program Jakarta Green and Clean (JGC), suatu program pelestarian lingkungan melalui penghijauan dan pengelolaan sampah mandiri. Salah satu bentuk kegiatannya adalah lomba kebersihan dan penghijauan lingkungan tingkat RT se-DKI Jakarta yang dilaksanakan selama bulan Maret-Juli 2006 dan didukung oleh Kantor Lingkungan Hidup (KLH), Badan Pengawas Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Dana Mitra Lingkungan. Melalui program tersebut sebanyak 148 RT di Jakarta berlomba untuk menjadikan lingkungannya hijau dan bersih.

Menandai kembali dimulainya JGC 2007, Selasa, 10 April 2007 lalu dilakukan penandatanganan MoU dari pendukung program Jakarta Green and Clean ini. Penandatangan MoU dari PT. Unilever Indonesia, Tbk, Harian Republika, Aksi Cepat Tanggap (ACT), 99.1 Delta FM Jakarta dan dihadiri oleh Sekretaris Bidang Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta.

Program Jakarta Green and Clean (JGC) akan kembali digelar tahun 2008 ini. Tim yang terlibat di dalamnya, PT Unilever Indonesia, Harian Republika, Delta FM, Aksi Cepat Tanggap (ACT), Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) Jakarta, serta Jak TV. Mereka telah melakukan berbagai persiapan. Sejumlah workshop dan pertemuan rutin pun digelar guna mematangkan rencana pelaksanaan JGC 2008.

Kini pada 2008, kembali akan digulirkan JGC ketiga dengan penekanan pengelolaan sampah, penghijauan dan resapan dengan metoda biopori. Yang terakhir ini merupakan program terbaru dari JGC dengan melibatkan pula pihak Pemda DKI Jakarta. Diharapkan dengan Pemda mendukung program JGC maka sukses membersihkan Jakarta dari sampah akan lebih cepat terealisasi.

Masa kerja JGC 2008 mulai Maret hingga Oktober 2008. Seperti JGC yang lalu dengan program membuat lingkungan lebih bersih dan hijau, sejumlah RW akan dinilai dan dikompetisikan hingga tingkat provinsi. Sekurangnya 300 dari ratusan RW di Jakarta akan tersaring hingga tingkat Kotamadya untuk dipilih 25 RW terbaik. Dari 25 RW terbaik inilah yang akan dilombakan pada tingkat Provinsi.

Program Jakarta Green and Clean (JGC) yang keempat tahun 2009 ini akan segera dimulai tanggal 5 Mei 2009. Ini seiring dengan ditutupnya pendaftaran bagi para peserta, pekan lalu. Sama dengan tahun lalu, pada penyelenggaraan tahun ini sasaran program JGC adalah masyarakat di tingkat RW. Tahun ini tim JGC yang terdiri dari PT. Unilever Indonesia, radio Delta, harian Republika, Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan Badan Pengelola Lingkungan Hidup daerah (BPLHD) DKI Jakarta, menargetkan sebanyak 500 RW bisa berpartisipasi.

Target tersebut naik signfikan dibandingkan tahun lalu yang diikuti 300 RW. Kenaikan target peserta ini bertujuan untuk makin menyebarkan dan meratakan program JGC kepada masyarakat di lima wilayah DKI Jakarta. Untuk mencapai target tersebut, tim JGC yang juga bergabung dengan tim paguyuban kader lingkungan se-DKI Jakarta mengambil langkah proaktif untuk menjemput bola kepada calon peserta JGC 2009. Tujuannya untuk makin memacu semangat warga guna mengikuti program yang bertujuan menciptakan lingkungan yang hijau dan bersih ini.

3). Green Building

Green Building adalah perencanaan dan pembangunan gedung atau rumah tinggal dengan menggunakan material yang tidak banyak menimbulkan efek Global Warming, sedikit penggunaan/pemakaian energi (baik itu energi listrik ataupun energi pemanasan atau yang lainnya), memperhatikan pelestarian lingkungan baik itu dari segi ekosistem flora & fauna, segi sociality dan lain sebagainya.

Secara mudahnya gedung/bangunan dibuat lebih green/hijau, hal ini dapat dipenuhi dengan berbagai cara antara lain :

a. Membuat hijau di sekitar gedung/bangunan dengan memberi banyak lahan tanaman, hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pepohonan di halaman depan, belakang atau tengah gedung/bangunan (bila sudah terlanjur tidak ada halaman tanahnya, dapat diberikan tanaman dalam pot) agar terjadi penyaringan udara yang masuk ke gedung tersebut, sehingga terdapat udara yang lebih segar. Dapat juga dengan memberikan unsur tanaman/pepohonan pada atap gedung/bangunan, hal ini sudah mulai banyak dilakukan. Sehingga berguna agar sinar matahari tidak dipantulkan tapi dapat diserap oleh tumbuhan tersebut dan udara di bawah atap juga tidak terlalu panas. Bila hal ini dilakukan maka dari segi pandangan mata memandang lebih soft/lembut tidak hard/keras seperti yang ada saat ini kita berjalan di daerah Thamrin – Sudirman dan Kuningan saat ini.

b. Perencanaan sirkulasi udara yang baik dan diusahakan terjadi Cross Ventilation, sehingga suasana di dalam gedung/bangunan lebih fresh secara natural, dapat dibayangkan udara yang sudah tersaring oleh tumbuh-tumbuhan di halaman masuk ke dalam dengan membawa udara yang relatif segar dan dikeluarkan lagi melalui belakang rumah secara terus menerus, bila hal ini dapat dimaksimalkan maka pemakaian mechanical ventilation ataupun Air Conditioning dapat diminimalkan.

c. Melimitasi pemakaian efek kaca yang menimbulkan efek pemanasan karena penggunaan kaca ini selain menimbulkan efek global warming juga menambah energi pemakaian listrik karena dari sisi pendinginan udara bila menggunakan Air Conditioning (AC) menjadi lebih besar. Pemakaian kaca ini cukup seperlunya saja, agar di dapatkan penerangan natural, tidak perlu besar untuk mencegah beban AC yang lebih besar lagi. Karena pemakaian AC di gedung/bangunan 50 persen bahkan lebih dipakai untuk peralatan AC ini.

d. Penutupan 25 lokasi sentral pengisian bahan bakar umum (SPBU) di jalur hijau dan dikembalikan fungsinya sebagaimana mestinya, dan mensosialisasikan Undang-Undang Nomor 26/2007 Tentang Tata Ruang Wilayah kepada semua unit terkait dan masyarakat yaitu barang siapa mengizinkan berdirinya bangunan di jalur hijau dapat dijerat kurungan maksimal tiga tahun penjara.

4). Program Langit Biru

Pelaksanaan Program Langit Biru tahun 2006 dilakukan dengan maksud untuk terlaksananya sistem pemeriksaan emisi dan perawatan mobil penumpang pribadi di Provinsi DKI Jakarta dengan yang melibatkan peran serta swasta sebagai pelaksana dan pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator dan pengawas. Sedangkan tujuannya adalah untuk mengendalikan emisi gas buang dari kendaraan bermotor khususnya mobil penumpang pribadi di DKI Jakarta, hal tersebut sesuai dengan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 95 Tahun 2000 tentang Pemeriksaan Emisi dan Perawatan Mobil Penumpang Pribadi di Provinsi DKI Jakarta.

Sasaran pelaksanaan kegiatan pelaksanaan Program Langit Biru ini adalah mobil penumpang pribadi yang beroperasi di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan kendaraan operasional Pemda yang tidak wajib uji laik jalan. Pelaksanaan Program Langit Biru dilakukan dengan melaksanakan pelatihan Teknisi Pemeriksa Emisi, penilaian calon Bengkel Pelaksana, penggalangan kemitraan dalam Gerakan Apresiasi Emisi Bersih, evaluasi bengkel pelaksana dan analisis data hasil pemeriksa emisi dan sosialisasi.

Guna menyediakan komponen pemeriksaan emisi dan perawatan mobil penumpang pribadi, dimana salah satunya adalah ketersediaan Teknisi Pemeriksa Emisi yang akan bertugas untuk dapat melakukan uji emisi gas buang mobil penumpang pribadi. Pada tahun 2006 telah dilakukan sertifikasi Teknisi Pemeriksa Emisi yang didahului dengan pelatihan baik teori maupun praktikum yang dilanjutkan dengan ujian. Berdasarkan hasil ujian didapatkan 115 teknisi yang lulus untuk menjadi Teknisi Pemeriksa Emisi. Sehingga jumlah ini menambah jumlah Teknisi Pemeriksa Emisi menjadi 303 teknisi.

Untuk mempermudah pemilik mobil penumpang pribadi melakukan pemeriksaan emisi maka diperlukan penambahan jumlah Bengkel Pelaksana. Penilaian Bengkel Pelaksana dilakukan terhadap 60 bengkel yang sebelumnya telah memiliki teknisi yang telah tersertifikasi. Berdasarkan hasil penilaian dan evaluasi didapatkan 55 bengkel yang memenuhi syarat untuk menjadi Bengkel Pelaksana, sehingga jumlah keseluruhan Bengkel Pelaksana di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 136 bengkel.

Pelaksanaan pemeriksaan emisi dan perawatan mobil penumpang pribadi perlu didukung oleh masyarakat untuk turut serta merawat mesin dan selalu memeriksakan emisi kendaraannya. Bentuk peran serta masyarakat ini tertuang dalam Gerakan Apresiasi Emisi Bersih (G-AEB). Pelaksanaan penggalangan kemitraan dalam Gerakan Apresiasi Emisi Bersih dilakukan dengan melakukan uji emisi di 21 lokasi dengan jumlah kendaraan uji sebanyak 3.033 kendaraan dengan hasil 2.024 kendaraan (66,73%) lulus uji emisi dan 1.009 kendaraan (33,27%) tidak lulus uji emisi. Berdasarkan hasil evaluasi dapat diketahui bahwa terjadi penurunan konsentrasi parameter pencemar karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC) dan Opasitas sebelum dilakukan perawatan dan setelah dilakukan perawatan masing-masing sebesar 65,77 persen, 40,25 persen dan 70,70 persen.

Kinerja sistem pemeriksaan emisi dan perawatan mobil penumpang pribadi diketahui dari data hasil pemeriksaan emisi sebagai hasil upaya perawatan mesin kendaraan. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap data hasil pelaksanaan uji emisi baik yang dilakukan di Bengkel Pelaksana sebanyak 51 bengkel maupun di lapangan sebanyak 48 lokasi didapatkan jumlah kendaraan yang telah melakukan uji emisi sebanyak 24.632 kendaraan dimana 22.806 kendaraan (92,59%) lulus uji emisi dan 1826 kendaraan (7,41%) tidak lulus uji emisi. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap seluruh data hasil uji emisi tersebut didapatkan bahwa terdapat penurunan konsentrasi parameter pencemar CO, HC dan Opasitas masing-masing sebesar 61,14 persen, 27,93 persen dan 38,71 persen.

Agar masyarakat mengetahui, memahami dan melaksanakan pemeriksaan emisi dan perawatan mobil penumpang pribadi maka telah didukung dengan upaya sosialisasi yang telah dilakukan di 48 lokasi dengan target sasaran sosialisasi adalah pemilik mobil penumpang pribadi.

5). Dalam rangka mengurangi penurunan permukaan tanah di DKI Jakarta, maka pemda DKI Jakarta dalam hal ini BPLHD Provinsi DKI Jakarta telah memberikan sanksi bagi para pengguna air tanah yang melanggar aturan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 10 Tahun 1998 tentang Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Bawah Tanah akan ada ancaman sanksi administratif denda dan pidana, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi pemakaian air tanah yang berlebihan, selain dengan menaikan biaya retribusi air tanah bagi pelanggan air tanah di DKI Jakarta.

6). Sedang dalam mengatasi banjir rob yang saat ini sering terjadi, akibat dari adanya perubahan iklim maka pemerintah pusat maupun pemerintah daerah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2009 yang telah ditempuh antara lain dengan membangun tanggul, membuat waduk, menyediakan pompa dan mengimplementasikan drainase dengan sistem polder. Tanggul dibangun untuk melindungi area di belakangnya dari air pasang, tanggul yang sudah dan sedang dikerjakan di wilayah Jakarta Utara adalah sebagai berikut :

a. Cilincing tanggul akan dibangun sepanjang 3 Km, merentang mulai dari wilayah Kali Baru Timur sampai Muara Cakung Drain dari Cakung Drain tanggul akan disambung lagi sampai muara Blencong dimana tanggul direncanakan lebih tinggi 3 meter dari permukaan Kanal Banjir Timur.

b. Wilayah Sunda Kelapa akan dibangung tanggul sepanjang 1 Km, mulai dari tempat penampungan batu bara dan Pelabuhan Nizam Zaman.

Mesti sudah dibangun tanggul, bukan berarti area tersebut bebas banjir, tanggul hanya didisain untuk mengurangi gelombang pasang dengan intensitas tertentu atau periode tertentu, selain banyak melakukan penanaman pohon bakau baik yang dilakukan oleh pelajar, masyarakat maupun pihak swasta, yang saat ini sering dilakukan bekerja sama dengan BPLHD Provinsi DKI Jakarta, untuk yang akan datang maka pemerintah DKI Jakarta akan berencana membangun Sea wall (dinding penyangga air laut) dimana sea wall ini tidak akan mengganggu lalulintas komunikasi laut di pelabuhan seperti pada sejumlah kota di dunia misalnya Saint Pittersburg, dan New Orland.

G. Bencana Alam

Kondisi geografis yang tidak menguntungkan, dimana luas DKI Jakarta sebesar 65.000 Ha 40 persennya (24 hektar) merupakan dataran rendah, yang ketinggiannya berada di bawah muka air laut pasang 1 sampai dengan 1,5 meter, dan dari 40 persen lahan tersebut baru 11.500 Hektar yang sudah dilayani dengan Polder, untuk itulah menjadi salah satu penyebab terjadinya genangan air, selain diperparah dengan kondisi curah hujan yang tinggi, pembangunan yang sangat pesat di Jabotabek dan terjadinya perubahan tataguna lahan di hulu sungai, yang menyebabkan penambahan debit air pada musim penghujan yang melebihi batas maksimum, dimana pada saat ini daerah tangkapan hujan yang mempengaruhi Jakarta meliputi Bopunjur hanya seluas 85.000 Ha, serta banyak terjadinya penyempitan/pendangkalan sungai, penutupan pengecoran saluran air, saluran air yang tidak berfungsi dengan baik, terbatasnya sarana dan prasarana penanggulangan bencana serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan kondisi geografis, dimana mengalir 13 aliran sungai menuju laut melewati kota Jakarta (Kali Mookervart, Kali Ciliwung, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Kali Buaran, Kali Grogol, Kali Cipinang, Kali Jatikramat, Kali Cakung dan Kali Sunter) yang setiap tahun menampung aliran sungai dari hulu menambah penanganan banjir di DKI Jakarta sampai saat ini belum bisa tertanggulangi.

Berdasarkan kenyataan tersebut di atas, maka bencana banjir tahunan bagi DKI Jakarta sepertinya sudah menjadi tradisi, selama tidak ada perubahan penanggulangan secara signifikan. Pada tahun 2006 Provinsi DKI Jakarta terdapat 78 genangan air hujan, genangan tersebut meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat dan Jakarta Utara, diharapkan dengan berfungsinya BKT pada tahun 2009 maka jumlah genangan air akibat banjit akan menurun khususnya di Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta di bawah :

 

Gambar : I.6. Peta Genangan Air Hujan di Provinsi DKI Jakarta, 2006

Dalam kaitan tersebut, upaya yang telah dan yang perlu segera direalisasikan untuk dipertimbangkan Pemerintah DKI Jakarta dalam penanganan banjir antara lain :

1). Pemasangan Early Warning System

Dalam mengurangi jumlah korban banjir di wilayah DKI Jakarta, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta telah melakukan pemasangan early warning system khususnya di sungai-sungai yang sering menjadi tampungan air hujan yaitu :

a. Sungai Sunter sebanyak 7 unit.

b. Sungai Cipinang sebanyak 8 unit.

c. Sungai Ciliwung sebanyak 8 unit.

d. Sungai Krukut sebanyak 4 unit.

e. Sungai Pesanggrahan sebanyak 5 unit.

f. Sungai Angke sebanyak 2 unit.

Selain menyiapkan alat tersebut, langkah yang dilakukan Pemerintah DKI Jakarta dalam mengurangi beban warga kota Jakarta, adalah melakukan langkah tindak antara lain :

•  Evakuasi penduduk di daerah bahaya untuk menghindarkan korban jiwa.

•  Optimalisasi sarana efakuasi : Perahu karet, Truk Reo.

•  Optimalisasi jumlah dan kemampuan dapur umum.

•  Optimalisasi dukungan personil TNI dan Polri untuk pengamanan dan evakuasi.

•  Optimalisasi dukungan fasilitas dan tenaga kesehatan di Pos pengungsi.

•  Optimalisasi distribusi air bersih dari PAM, TPJ dan Palija.

•  Optimalisasi Sanitasi tempat penampungan.

•  Optimalisasi pengendalian pintu air.

•  Pengendalian secara optimal aliran listrik, jaringan telepon, dan ketersediaan solar (genset).

•  Dukungan tenda besar (TNI) untuk optimalisasi fasilitas pengungsi.

•  Optimalisasi kemampuan dapur umum dan ketersediaan logistik.

•  Optimalisasi petugas, tokoh masyarakat dan Pemuka Agama untuk menjaga kesejukan, ketenangan dan dukungan dalam penanganan banjir.

2). Pembuatan Sumur Resapan

Sumur Resapan adalah sistem resapan buatan yang berfungsi sebagai penampung air hujan, dapat berupa sumur, parit atau alur taman resapan.

Manfaat Sumur Resapan antara lain dapat menampung dan menahan air hujan baik yang melalui atap rumah maupun yang langsung ke tanah sehingga tidak langsung keluar dari pekarangan rumah, tetapi mengisi kembali air tanah dangkal sebagai sumber air bersih.

Seperti diketahui bahwa pembuatan sumur resapan yang berfungsi untuk menahan air hujan saat ini sudah sangat diperlukan, karena kelangkaan air pada saat musim kemarau akibat dari tidak tertahannya air hujan pada saat musim penghujan. Selain itu kondisi air tanah yang tercemar menjadikan kita perlu membuat resapan-resapan air agar kita memiliki cadangan air bersih.

3). Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB)

Manfaat LRB adalah untuk meningkatkan laju peresapan air hujan ke dalam tanah, sehingga tidak terbuang percuma mengalir dipermukaan yang dapat menyebabkan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau, serta menghindari terjadinya genangan yang menyebabkan merebaknya penyakit yang dibawa oleh nyamuk, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria.

Pemanfaatan sampah organik yang dihasilkan juga dapat membantu mengatasi masalah pembuangan sampah yang seringkali mengakibatkan pencemaran dan tersumbatnya saluran-saluran drainase, serta bersarangnya lalat dan tikus yang menjadi pembawa bibit penyakit, seperti typus. Kompos yang dihasilkan dalam lubang biopori, selain dapat memantapkan dinding LRB dan meningkatkan laju peresapan air, juga dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah yang ditanami.

Berikut fungsi dari Lubang Resapan Biopori :

a Pemanfaatan sampah organik;

b. Memelihara biodiversitas tanah;

c. Mengurangi emisi gas rumah kaca;

d. Menyuburkan tanah;

e. Memelihara kebersihan;

f. Peresapan air;

g. Menambah cadangan air;

h. Mencegah genangan air;

i. Mencegah pencemaran air;

j. Mencegah bahaya banjir.

4). Mempercepat Penyelesaian Proyek Banjir Kanal Timur

•  Banjir Kanal Timur untuk menampung aliran sungai :

1) Kali Cipinang 2) Kali Sunter 3) Kali Buaran

4) Kali Jati Kramat 5) Kali Cakung

dengan Catchment Area (Daerah Tangkapan Air) seluas 20.125 Ha.

•  Pembangunan Banjir Kanal Timur merupakan salah satu keputusan politik tercantum dalam Perda No. 6 Tahun 1999 tentang RTRW DKI Jakarta 2010.

Tujuan pembangunan Banjir Kanal Timur

•  Melindungi Kawasan Industri, Pergudangan dan Permukiman di wilayah Timur bagian Utara DKI Jakarta, seluas 15.401 Ha.

•  Meningkatkan keseimbangan ekosistem, memperkuat infrastruktur pengendalian SDA di Wilayah Timur Utara, yang akhirnya diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan wilayah.

•  Mengurangi 13 kawasan rawan banjir : Kebon Nanas, Rawa Bunga, Cipinang Jaya, Cipinang Besar Utara, Cipinang Indah, Cipinang Muara, Cipinang Melayu, Pulo Mas Utara, Buluh Perindu, Malaka Selatan, Pondok Kelapa, Pulo Gadung, Cakung Barat, Ujung Menteng, Komp. Kelapa Gading, Komp. Walikota Jakarta Utara, Yon Angmor Sukapura, Babek ABRI Rorotan.

•  Merupakan prasarana konservasi air untuk menambah “water ratio” (rasio antara luas permukaan air dengan luas wilayah kota Jakarta), menambah ruang terbuka, mengisi air tanah dan sumber air baku.

Dalam kaitan tersebut, daerah kelurahan yang akan dilalui proyek Banjir Kanal Timur dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel : I.45. Kelurahan Yang Dilalui Banjir Kanal Timur

Dalam mendukung proyek tersebut proses pembangunan Banjir Kanal Timur merupakan kesepakatan antara “Pusat & Daerah” (Departemen Kimpraswil dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta), dimana pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkewajiban melaksanakan pembebasan tanah, sedangkan Departemen Kimpraswil melakukan pembangunan fisiknya. Pembangunan Banjir Kanal Timur telah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 10 Juli 2003 melalui pembicaraan jarak jauh (teleconference) dalam rangka pencanangan 30 proyek infrastruktur yang dipusatkan di Jepara Jawa Tengah. Dengan anggaran diperkirakan sekitar Rp. 5 Trilyun dengan rincian pembebasan tanah sebesar ± Rp. 2,5 Trilyun, dan pembangunan fisik sebesar ± Rp. 2,5 Trilyun. Untuk lebih jelasnya gambaran tentang rencana yang akan dilakukan untuk pembangunan Banjir Kanal Timur adalah sebagai berikut :

Gambar : I.7. Gambar Pembangunan Banjir Kanal Timur

 

Sampai dengan awal Januari tahun 2009 pembangunan Banjir Kanal Timur telah menggali 15.700 meter saluran floodway dari 23.551 meter sesuai dengan yang telah direncanakan, dan saat ini sudah selesai terbangun 25 jembatan penghubung diperkirakan dapat beroperasi pada tahun 2010, namun untuk salurannya sudah bisa difungsikan pada akhir tahun 2009., selain itu dalam memaksimalkan penggunaan Banjir Kanal Timur maka Pemerintah DKI Jakarta akan melakukan pengerukan seluruh saluran air yang ada di Jakarta. Pengerukan dilakukan secara sistematis, bukan sepotong-sepotong agar air lebih lancar mengalir ke laut. Untuk tahun 2009 ada 76 saluran air di Jakarta dikeruk dan para kontraktor wajib mengeruk 1,5 juta lumpur untuk setiap saluran. Untuk Dredging Project pengerukan Kali Mati dan Kali Pademangan sudah dimulai. Kali mati telah dilakukan pengerukan 600 meter dari total 2.000 meter (lebar 12 meter), sedang Kali Pademangan dari total 2.000 meter dengan lebar 3 meter 600 meter sudah dilakukan pengerukan, untuk itu diharapkan dengan berfungsinya BKT tersebut potensi banjir di Jakarta akan menurun. Dampak dari beroperasinya BKT pemerinath Provinsi DKI Jakarta optimis bahwa 13 kelurahan di Jakarta Timur dan Jakarta Utara yang selama ini menjadi titik rawan banjir yaitu Cipinang Besar Selatan, Cipinang Muara, Pondok Kelapa, Malaka Jaya, Malaka Sari, Pondok Kopi, Pondok Bambu, Duren Sawit, Pulo Gebang, Ujung Menteng dan Cakung Timur akan terbebas dari banjir dan wilayah Jakarta Utara yang akan terbebas dari banjir adalah Marunda dan Rorotan.

Pengerukan dan pemagaran 13 sungai di DKI Jakarta. antara lain adalah Mookervart, Angke, Pesanggrahan, Grogol, Krukut, Kali Baru Barat, Cakung, Jati Kramat, Buaran, Sunter, Cipinang, Kali Baru Timur dan Ciliwung setinggi 1 meter diatas tanggul. Dalam mengurangi dampak banjir saat ini maka pemerintah DKI Jakarta berusaha melakukan langkah antisipasi diantaranya adalah melakukan pengerukan dan normalisasi drainase dan saluran diantaranya pada tahun 2009 melakukan pembongkaran sedikitnya 300 bangunan liar yang didirikan di atas saluran air di Kembangan Jakarta Barat telah dibongkar dan sebanyak 50 bangunan semi permanen di sepanjang Kali Cideng juga dilakukan pembongkaran karena menghambat aliran sungai, selain hal tersebut diatas DKI Jakarta berencana untuk membeli kapal keruk, yang sebelumnya hanya memiliki 2 kapal keruk yang dihibahkan dari Belanda yang saat ini sudah mulai dioperasikan, dan sampai dengan Desember 2009 pemerintah DKI Jakarta telah melakukan pengerukan terhadap 76 titik saluran di lima wilayah kota, rinciannya adalah 12 segmen kali Jakarta Selatan, 16 segmen Jakarta Barat, 18 segmen di Jakarta Timur, 14 segmen di Jakarta Pusat dan 16 segmen di Jakarta Utara, apabila terjadi banjir pemerintah DKI Jakarta telah menyiapkan polder diantaranya di Rawa Buaya, Cengkareng, Muara Angke, Sunter Selatan, Jati Pulo, dan Pluit, dan sedang melakukan pembangunan polder baru di wilayah Marunda Jakarta Utara dari jumlah pengadaan 15 polder baru yang siap dibangun untuk mengantisipasi banjir di wilayah DKI Jakarta.Selain hal tersebut pemerintah DKI Jakarta berencana menyiapkan masterplan baru dalam hal menangani banjir di Ibukota Jakarta yaitu dengan membangun bendungan raksasa yang dapat mengamankan Jakarta dari banjir sampai dengan 50 tahun kedepan.

Dalam melakukan normalisasi Sungai Ciliwung, pemerintah DKI Jakarta bekerjasama dengan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) akan bekerjasama untuk memindahkan 350 ribu penduduk yang tinggal disepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung dimana pemerintah DKI Jakarta akan melakukan relokasi ke Perumahan Susun, dalam pelaksanaannya pemerintah DKI Jakarta akan melakukan penataan lingkungan tersebut menjadi empat paket area, yaitu paket I (MT. Haryono-Casablanca), paket 2 (Cawang-Pangadekan), paket 3 (Casablanca-Slamet Riyadi) dan paket 4 (Slamet Riyadi-Pintu Air Manggarai). Saat ini pemerintah DKI Jakarta telah menyiapkan Rusunawa di jalan Kamarudin Jakarta Timur (16 Menara), Cibinong Besar (4 Menara), Marunda (6 Menara), dan Pinus Elok (4 Menara).

5). Rencana Pembangunan “Deep Tunnel”

Rencana pembangunan terowongan bawah tanah (Deep Tunnel) adalah pembangunan insfrastruktur sebagai upaya untuk mengatasi banjir, kemacetan lalulintas, kebutuhan air baku PAM, dan lahan utilitas umum. Hal ini perlu segera dilakukan sebagai solusi mengatasi keterbatasan lahan. Sebagai langkah awal untuk tahun 2008 akan dimulai pelaksanaan studi kelayakan proyek Deep Tunnel di Jakarta sepanjang 22 kilometer melintang dari Cawang-Manggarai-Setiabudi-Tanah Abang-Muara Angke.

Fungsi terowongan yang juga sudah dibangun di Malaysia, Singapura, Hongkong dan Chicago antara lain untuk mengatasi kemacetan, banjir, pengadaan air baku PAM, limbah dan utilitas umum berupa telepon umum maupun listrik (Media Indonesia, 26/3). Rencana pembangunan Deep Tunnel multifungsi dibuat sedalam 18 meter dengan lebar 40 meter. Terowongan yang diperkirakan menelan dana senilai Rp. 17 Trilyun tersebut bagian bawahnya untuk saluran air dan atasnya untuk jalan tol. Rencana studi kelayakan yang diperkirakan menghabiskan dana Rp. 18 Milyar akan dibiayai pemerintah Jerman dan Belanda. Hasil studi kelayakan akan dipaparkan dihadapan wakil presiden untuk selanjutnya ditawarkan ke investor yang berminat mendanai megaproyek itu.

Sebagai gambaran proyek Deep Tunnel adalah suatu proyek terpadu untuk mengatasi problem Jakarta. Seperti pengendalian banjir, pengadaan air baku PDAM, penanganan air limbah, jalan tol dan utilitas umum. Proyek itu bisa menghasilkan uang dari retribusi jalan tol, utilitas umum, listrik dan kompos. Apalagi pembangunan Deep Tunnel tidak perlu membebaskan lahan karena proyeknya di bawah tanah. Selain sebagai pengendali banjir, perut terowongan multifungsi itu akan menghasilkan uang sewa dan retribusi yang besar sehingga pasti banyak investor berminat. Contohnya, Malaysia.

6). Mempercepat Pembentukan Konsep Megapolitan

Kondisi banjir yang saat ini terus terjadi di Jakarta selain karena Ibukota Jakarta berada di dataran rendah, juga karena kehancuran ekosistem DAS yang terjadi di daerah hulu. Hampir seluruh Daerah Aliran Sungai yang berada di daerah Jawa Barat dan Banten saat ini dalam kondisi kritis terutama DAS Citarum, DAS Ciliwung dan DAS Cisadane. Egoisme sektor kedaerahan dan buruknya koordinasi wilayah menambah parah situasi di atas. Untuk itu konsep Megapolitan yang bermaksud memperluas koordinasi teknis dan integrasi kebijakan pembangunan penyangga ibukota sebaiknya segera diwujudkan dengan titik berat kepada aspek lingkungan hidup. Ketidakberdayaan Provinsi Jawa Barat dan Banten untuk menghentikan laju deforestasi di wilayahnya akan berdampak lebih buruk lagi di waktu mendatang. Penanganan sempadan sungai dibutuhkan tindakan tegas tanpa pandang bulu, untuk melindungi dan membenahi zona sempadan sungai.

Sempadan sungai adalah merupakan merupakan kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan, kanal, saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Saat ini masalah sempadan sungai tidak dapat ditangani secara tuntas karena hal tersebut memerlukan biaya yang sangat besar dalam rangka menormalisasi sungai seperti sediakala.

Kriteria sempadan sungai terdiri dari :

a. Sekurang kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada diluar pemukiman sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 tentang Sungai.

b. Untuk sungai di kawasan pemukiman lebar sempadan sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu antara 10 – 15 meter.

Selain penegakan hukum yang lemah, kerusakan sempadan sungai saat ini juga disebabkan oleh penguasaan lahan.