C.      Air

Berdasarkan jenis sumber/cadangan, air dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu :

1.   Air Curah Hujan, terdiri dari air hujan tampungan dan air limpasan.

2.   Air Permukaan, terdiri dari mata air, air sungai, air danau/situ alamiah, air danau/situ buatan, bendungan/bendungan irigasi dan air rawa.

3.   Air Tanah, terdiri dari air tanah bebas/air tanah dangkal, air tanah semi tertekan/semi artesis/air tanah dalam, dan air tanah tertekan/artesis/air tanah sangat dalam.

Sedangkan klasifikasi berdasarkan alokasi penggunaannya, dibedakan menjadi kebutuhan domestik, industri dan pertanian. Kebutuhan domestik dimaksud adalah kebutuhan untuk menunjang kelangsungan hidup manusia, antara lain kebutuhan untuk rumah tangga (masak/minum/cuci/mandi), perkantoran, pertokoan, rumah sakit, hotel dan pemadam kebakaran.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) JAYA sebagai salah satu perusahaan yang secara langsung bertanggung jawab terhadap penyediaan air bagi warga DKI Jakarta. Saat ini, selain PDAM JAYA ada beberapa perusahaan swasta yang juga memproduksi air meskipun jumlahnya belum terlalu besar. Perusahaan tersebut antara lain PT. Ciputra Development, PT. PENTA dan PT. Candrasa Pranaguna.

Air merupakan sumberdaya yang amat vital untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan akan air dirasakan semakin meningkat dan saat ini penyediaan air bersih bagi warga DKI Jakarta menghadapi berbagai kendala. Total produksi air saat ini diperkirakan baru mampu mensuplai sekitar 56,01 persen kebutuhan air bersih untuk warga DKI Jakarta. Dengan kata lain 43,99 persen kebutuhan air bersih untuk warga (domestik dan industri) diperoleh dari sumber lainnya (air tanah). Akibatnya masyarakat dan pengusaha mengandalkan penyediaan air dari sumber air tanah, baik berupa air tanah dangkal maupun air tanah dalam.

Permasalahan pokok yang dihadapi PDAM JAYA dalam penyediaan air bersih antara lain adalah tingkat kehilangan air yang masih tinggi (sekitar 50,23 %), sumber air baku yang makin sulit diperoleh, pengoperasian dan pemeliharaan instalasi produksi belum optimal dan masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi memelihara sarana dan prasarana air minum. Namun demikian mengingat bahwa penyediaan air bersih yang cukup dan kontinyu bagi warga bersifat vital dan sangat mendesak, maka perlu upaya khusus untuk meningkatkan kapasitas produksi, mengoptimalkan kapasitas yang ada (mengurangi tingkat kehilangan) dan meningkatkan pelayanan. Melalui upaya-upaya ini diharapkan penggunaan air tanah secara bertahap dapat dikurangi.

Dari hasil penyusunan NSAD ini diperoleh informasi bahwa total penggunaan sumberdaya air untuk kebutuhan warga (domestik dan industri) pada tahun 2010 diperkirakan mencapai sekitar 811,21 juta m3, terdiri dari air permukaan 469,74 juta m3 (56,01 %) dan dari air tanah sebanyak 341,47 juta m3 (39,99 %). Dari jumlah tersebut sebanyak 790,93 juta m3 (97,50 %) digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik yang meliputi kebutuhan rumah tangga, industri, pertokoan/perkantoran, rumah sakit, hotel, dll, kebutuhan pertanian sekitar 20,28 juta m3 (2,49 %), kebutuhan industri sekitar 20,19 juta m3 (2,48 %). Jika dibandingkan dengan tahun 2009, konsumsi air mengalami kenaikan sekitar 35.05 juta m3 (4,52 %).

Curah hujan yang lebih rendah juga mengakibatkan penurunan ketersediaan air yang berasal dari curah hujan. Pada tahun 2008, air curah hujan tampungan sebanyak 84,59 juta m3 (9,77 %) turun sebanyak 9,31 persen pada tahun 2009 menjadi 72,25 juta m3, Sedangkan air permukaan turun sebesar sebesar 16,66 persen dari 434,89 juta m3 menjadi 72,44 juta m3 dan pemakaian air tanah hanya sedikit mengalami penurunan. Mahalnya air PAM merupakan alasan yang digunakan oleh warga kenapa mereka tetap mempertahankan pemakaian air tanah. Pengambilan air tanah yang terus menerus yang dapat mengakibatkan perusakan lingkungan kurang mendapat perhatian dari mereka. Pemakaian air tanah pada tanah pada tahun 2009 mencapai 341,45 juta m3, turun sebesar 4,85 juta m3 dibandingkan tahun sebelumnya.

Neraca sumberdaya air di DKI Jakarta (air permukaan dan air tanah), selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel : II.6.

Neraca Sumberdaya Air

Air Permukaan Provinsi DKI Jakarta, 2009

A K T I V A

P A S I V A

CADANGAN

SATUAN

EKSPLOITASI

SATUAN

M3

Rp

M3

Rp

SUMBER :

 

 

PEMANFAATAN :

 

 

1. Mata Air

-

 

1. Domestik

304.083.108

 

2. Air Sungai

132.105.240

 

2. Industri

12.370.570

 

3. Bendungan/irigasi/

230.339.789

 

3. Pertanian

16.400.000

 

    Waduk/Dam

 

 

4. Lain-lain

29.591.351

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEGRADASI SUMBERDAYA AIR :

 

 

 

 

 

SALDO AKHIR :

-

 

T O T A L

362.445.029

 

T O T A L

362.445.029

 

Sumber           : Neraca Sumberdaya Alam Daerah Provinsi DKI Jakarta

Keterangan     :

 

Tabel : II.7.

Neraca Sumberdaya Air

Air Tanah Provinsi DKI Jakarta, 2009

A K T I V A

P A S I V A

CADANGAN

SATUAN

EKSPLOITASI

SATUAN

M3

Rp

M3

Rp

SUMBER :

 

 

PEMANFAATAN :

 

 

1. Air Tanah Dangkal/Air

330.802.484

 

1. Domestik

329.191.478

 

    Tanah Bebas

 

 

2. Industri

4.542.804

 

2. Air Tanah Dalam/Semi

-

 

3. Pertanian

-

 

    Tertekan/Semi Artesis

 

 

4. Lain-lain

7.732.855

 

3. Air Tanah Sangat Dlm/Air

10.664.653

 

 

 

 

    Tanah Tertekan/Air Tanah

 

 

 

 

 

    Artesis

 

 

DEGRADASI SUMBERDAYA AIR :

 

 

 

 

 

SALDO AKHIR :

-

 

T O T A L

341.467.137

 

T O T A L

341.467.137

 

Sumber           : Neraca Sumberdaya Alam Daerah Provinsi DKI Jakarta

Keterangan     :

1.       Air Tanah

Sebagian besar penduduk Provinsi DKI Jakarta sampai saat ini masih menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih maupun air minum, hal ini disebabkan masih terbatasnya penyediaan air bersih yang disediakan oleh PD. PAM Jaya, sehingga air tanah merupakan alternatif untuk memenuhi kebutuhan manusia disamping air sungai dan situ. Kualitas air tanah di Provinsi DKI Jakarta umumnya tergantung pada kedalaman ”aquifer”-nya, kedalaman 40 meter, umumnya masih baik/memenuhi persyaratan air bersih yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di Provinsi DKI Jakarta menyebabkan letak sumur-sumurnya berdekatan dengan septic tank, sehingga umumnya sumur-sumur di Provinsi DKI Jakarta tercemar oleh rembesan dari septic tank penduduk yang kondisinya tidak memenuhi syarat. Banyaknya penduduk yang memanfaatkan air sumur dangkal yang tercemar, berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat akibat kontaminasi dan buruknya sanitasi.

Kondisi semacam ini tentunya tidak sejalan lagi dengan Undang-undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 ayat 3 yang menyebutkan bahwa air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat, harus memenuhi persyaratan kualitas maupun kuantitas, dimana persyaratan ini tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Parameter kualitas air bersih yang ditetapkan dalam peraturan tersebut meliputi parameter fisik, kimiawi, mikrobiologi, dan radioaktif.

Untuk mengetahui kondisi air tanah di Provinsi DKI Jakarta, BPLHD Provinsi DKI Jakarta telah melaksanakan pemantauan sebanyak 2 kali pada Tahun 2009. Lokasi pemantauan air sumur/tanah dangkal ditentukan berdasarkan hal-hal sebagai berikut :

a.   Terletak didaerah permukiman penduduk

b.   Kondisi lingkungan

c.   Dekat dengan sumber pencemaran

d.   Keadaan topografi

Dari pertimbangan lokasi diatas, ditentukan jumlah sumur sebanyak 75 lokasi yang terdapat di lima wilayah DKI Jakarta, dengan 75 kelurahan yaitu :

1.      Jakarta Selatan terdiri dari 17 Kelurahan

2.      Jakarta Utara terdiri dari 15 Kelurahan

3.      Jakarta Timur terdiri dari 17 Kelurahan

4.      Jakarta Barat terdiri dari 15 Kelurahan

5.      Jakarta Pusat terdiri 11 Kelurahan

Untuk masing-masing kelurahan diambil 1 (satu) sampel air sumur sehingga diperoleh contoh sumur sebanyak 75 sumur. Parameter yang dipantau yaitu parameter fisik, kimia, dan biologi yang disesuaikan dengan PERMENKES Republik Indonesia Nomor 416/MenKes/Per/IX/1990 tentang

Dari pertimbangan lokasi diatas, ditentukan jumlah sumur sebanyak 75 lokasi yang terdapat di 5 wilayah DKI Jakarta, dengan 75 Kelurahan dimana masing-masing kelurahan diwakili oleh 1 sumur dangkal, yaitu :

a.   Jakarta Pusat terdiri dari 11 Kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

101

Karet Tengah (Kecamatan Tanah Abang)

2

102

Cikini (Kecamatan Manteng)

3

103

Kwitang (Kecamatan Senen)

4

104

Mangga Dua Selatan (Kecamatan Sawah Besar)

5

105

Tanah Tinggi (Kecamatan Johar Baru)

6

106

Kebon Kelapa (Kecamatan Gambir)

7

107

Kemayoran (Kecamatan Kemayoran)

8

108

Cempaka Putih Barat (Kecamatan Cempaka Putih)

9

109

Kebon Kosong (Kecamatan Kemayoran)

10

110

Gelora (Kecamatan Tanah Abang)

11

111

Kramat (Kecamatan Senen)

b.   Jakarta Selatan terdiri dari 17 Kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

201

Ciganjur (Kecamatan Jagakarsa)

2

202

Tanjung Barat (Kecamatan Jagakarsa)

3

203

Pela Mampang (Kecamatan Mampang Prapatan)

4

204

Pondok Labu (Kecamatan Cilandak)

5

205

Pondok Pinang (Kecamatan Kebayoran Lama)

6

206

Kebayoran Baru (Kecamatan Kebayoran Baru)

7

207

Kalibata (Kacamatan Pancoran)

8

208

Pejaten Barat (Kecamatan Pasar Minggu)

9

209

Pesanggrahan (Kecamatan Pesanggrahan)

10

210

Kebon Baru (Kecamatan Tebet)

11

211

Grogol Utara (Kecamatan Kebayoran Lama)

12

212

Setia Budi (Kecamatan Setia Budi)

13

213

Srengseng Sawah (Kecamatan Jagakarsa)

14

214

Gandaria Selatan (Kacamatan Cialndak)

15

215

Manggarai (Kecamatan Tebet)

16

216

Ragunan (Kecamatan Pasar Minggu)

17

217

Kebayoran Lama Utara (Kecamatan Kebayoran Lama)

c.   Jakarta Barat terdiri dari 15 Kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

301

Duri Kosambi (Kacamatan Cengkareng)

2

302

Kalideres (Kecamatan Kalideres)

3

303

Palmerah (Kecamatan Palmerah)

4

304

Jelambar Baru (Kecamatan Grogol Petamburan)

5

305

Tangki (Kecamatan Taman Sari)

6

306

Kemanggisan (Kecamatan Palmerah)

7

307

Duri Kepa (Kecamatan Kebon Jeruk)

8

308

Sukabumi Selatan (Kecamatan Kebon Jeruk)

9

309

Meruya Utara (Kecamatan Kembangan)

10

310

Tegal Alur (Kecamatan Kalideres)

11

311

Rawa Buaya (Kecamatan Cengkareng)

12

312

Kembangan Selatan (Kecamatan Kembangan )

13

313

Tambora (Kecamatan Tambora)

14

314

Kebon Jeruk (Kecamatan Kobon Jeruk)

15

315

Kapuk (Kecamatan Cengkareng)

d.   Jakarta Timur terdiri dari 17 kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

401

Halim Perdana Kusumah (Kecamatan Makasar)

2

402

Cakung Barat (Kecamatan Cakung)

3

403

Pondok Kelapa (Kecamatan Duren Sawit)

4

404

Rawa Teratai (Kecamatan Cakung)

5

405

Cijantung (Kecamatan Pasar Rebo)

6

406

Rawamangun (Kecamatan Pulo Gadung)

7

407

Penggilinga (Kecamatan Cakung)

8

408

Kramat Jati (Kecamatan Kramat Jati)

9

409

Kampung Melayu (Kecamatan Jatinegara)

10

410

Munjul (Kecamatan Cipayung)

11

411

Ciracas (Kecamatan Ciracas)

12

412

Klender (Kecamatan Duren Sawit)

13

413

Ujung Menteng (Kecamatan Cakung)

14

414

Utan Kayu Utara (Kecamatan Matraman)

15

415

Bidara Cina (Kecamatan Jatinegara)

16

416

Cililitan (Kecamatan Kramat Jati)

17

417

Malaka Jaya (Kecamatan Duren Sawit)

e.   Jakarta Utara terdiri dari 15 Kelurahan, yaitu :

No.

Titik pantau

Lokasi Pemantauan

1

501

Rorotan (Kacamatan Cilincing)

2

502

Pademangan Barat (Kecamatan Pademangan)

3

503

Sunter Agung (Kecamatan Tanjung Priok)

4

504

Sunter Jaya (Kecamatan Tanjung Priok)

5

505

Kamal Muara (Kecamatan Penjaringan)

6

506

Kelapa Gading Timur (Kecamatan Kelapa Gading)

7

507

Tugu Selatan (Kecamatan Koja)

8

508

Penjagalan Barat (Kecamatan Penjaringan)

9

509

Semper Barat (Kecamatan Cilincing)

10

510

Pegangsaan Dua (Kecamatan Kelapa Gading)

11

511

Pluit (Kecamatan Penjaringan)

12

512

Ancol (Kecamatan Pademangan)

13

513

Tanjung Priok (Kecamatan Tanjung Priok)

14

514

Kali Baru (Kecamatan Cilincing)

15

515

Koja (Kecamatan Koja)

Untuk lebih jelasnya lokasi pemantauan air tanah dangkal pada tahun 2009 ini disajikan pula dalam bentuk peta seperti yang tersaji pada Gambar : II.1.

Gambar : II.1.

Lokasi Pemantauan Kualitas Air Tanah Dangkal di DKI Jakarta, 2009

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta

Hasil pemantauan berdasarkan kondisi lingkungan, jenis sumur adalah sebagai berikut :

1.1.    Kondisi Lingkungan Lokasi Pemantauan

Dari hasil pemantauan pada Tabel : II.8 di bawah terlihat bahwa kondisi pemukiman pada sumur di wilayah Provinsi DKI Jakarta meliputi 36 lokasi (48 %) termasuk dalam wilayah permukiman padat tidak teratur, 39 lokasi (52 %) termasuk dalam wilayah permukiman padat teratur. Pada kedua jenis permukiman tersebut di seluruh wilayah lokasi pengamatan air tanah lebih banyak di wilayah permukiman padat teratur, kecuali di wilayah Jakarta Utara lebih banyak di wilayah permukiman padat tidak teratur.

Tabel : II.8.

Kondisi Pemukiman Pemantauan Kualitas Air Tanah

di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009

WILAYAH

A

B

C

D

JML SUMUR

%

JML SUMUR

%

JML SUMUR

%

JML SUMUR

%

Jakarta Selatan

7

19%

10

26%

0

0%

0

0%

Jakarta Timur

8

22%

10

28%

0

0%

0

0%

Jakarta Pusat

5

14%

5

13%

0

0%

0

0%

Jakarta Barat

7

19%

8

21%

0

0%

0

0%

Jakarta Utara

9

25%

6

15%

0

0%

0

0%

JUMLAH TOTAL

36

48%

39

52%

0

0%

0

0%

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     : A = Pemukiman Padat Tidak Teratur             B = Pemukiman Padat Teratur

                          C = Pemukiman Tidak Padat, Tidak teratur   D = Pemukiman Tidak Padat, Teratur

1.1.1. Jenis Sumur

Jenis sumur yang dipantau terbagi menjadi 4 jenis yaitu sumur timba, pompa tangan, pompa hisap dan jet pump. Dari 75 titik pantau, jenis sumur timba sebanyak 11 sumur (15 %), pompa tangan 15 sumur (20 %), pompa hisap (sanyo) 23 sumur (31 %), jet pump sebanyak 3 sumur (4 %) dan sebanyak 23 responden (31 %) tidak menjawab.

1.1.2. Jarak Sumur Dengan Sumber Pencemar

Sumber pencemaran lain yang dapat mencemari sumur antara lain septik tank, tempat sampah, industri, salon kecantikan, bengkel, saluran got dan sungai.

Dari hasil pemantauan diketahui bahwa jarak sumur dengan septik tank di bawah 10 meter sebanyak 31 sumur (41 %), diatas 10 meter ada 26 sumur (35 %) dan sebanyak 39 sumur (52 %) tidak diperoleh keterangan. Dari hasil yang diperoleh bahwa kondisi sumur di beberapa titik pantau sudah memenuhi syarat sanitasi.

Tabel : II.9.

Jarak Sumur dengan Septik Tank di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009

WILAYAH

JARAK < 10 METER

JARAK > 10 METER

TIDAK ADA KETERANGAN

JML SUMUR

PERSENTASE

JML SUMUR

PERSENTASE

JML SUMUR

PERSENTASE

Jakarta Selatan

5

29%

9

53%

3

18%

Jakarta Timur

8

47%

6

35%

3

18%

Jakarta Pusat

3

27%

3

27%

5

45%

Jakarta Barat

7

47%

5

33%

3

20%

Jakarta Utara

7

47%

3

20%

3

20%

JUMLAH TOTAL

30

40%

26

35%

17

23%

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     :

1.2.    Kualitas Air Tanah di Provinsi DKI Jakarta

Kualitas air tanah meliputi parameter fisik, kimia, dan biologi (mikrobiologi). Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan baku mutu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416 tahun 1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air.

1.2.1. Kualitas Fisik Air Tanah

Gambaran kualitas fisik air tanah di Provinsi DKI Jakarta yang meliputi TDS dan kekeruhan dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

Tabel : II.10.

Kisaran Kualitas Fisik Air Tanah di Provinsi DKI Jakarta

Tahun 2009

WILAYAH

TDS (mg/L)

KEKERUHAN (skala NTU)

JULI

OKTOBER

JULI

OKTOBER

Jakarta Selatan

43.70 - 4.00

68.00 - 243.00

0 - 1.00

1.00 - 17.00

Jakarta Timur

59.20 - 1.029

65.30 - 958.00

1.00 - 109

1.00 - 115.00

Jakarta Pusat

114 - 820

123 - 1008

1.00 - 2.00

0.00 - 2.00

Jakarta Barat

190.10 - 1,166

186.70 - 1,046

0.50 - 9.50

1.00 - 20.00

Jakarta Utara

92.80 - 1.383

190.20 - 1.216

1.00 - 69.50

1.00 - 92.50

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     : BM TDS =1500 mg/L

                          BM Kekeruhan = 25 mg/L

Dari Tabel : II.10 menunjukkan bahwa untuk parameter Total Padatan Terlarut (TDS) di lima wilayah masih memenuhi baku mutu. Rentang tertinggi dicapai oleh titik pemantauan di Wilayah Jakarta Utara pada pemantauan bulan Juli yaitu 2.570 mg/L pada titik 501 (Kelurahan Rorotan, Kec. Cilincing).

Untuk parameter Kekeruhan air sumur di DKI Jakarta umumnya masih dalam kondisi baik, namun untuk wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara dibeberapa titik baik pada pemantauan bulan Juli maupun pemantauan bulan Oktober telah melebihi baku mutu. Konsentrasi tertinggi berada di Wilayah Jakarta Timur yaitu pada titik 402 yang berada di Kelurahan Cakung Barat.

Prosentase besarnya parameter fisik yang melebihi baku mutu pada masing-masing wilayah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel : II.11.

Persentase Parameter Fisik Air Tanah Yang Melebihi Baku Mutu, TAHUN 2009

WILAYAH

TDS (mg/L)

KEKERUHAN (skala NTU)

JULI

OKTOBER

JULI

OKTOBER

Jakarta Selatan

-

-

-

-

Jakarta Timur

3 (18%)

-

1(6%)

-

Jakarta Pusat

-

-

-

-

Jakarta Barat

-

-

-

-

Jakarta Utara

1 (7%)

-

1 (7%)

-

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     :

Tabel : II.11 tersebut di atas memberikan informasi bahwa kualitas fisik khususnya parameter TDS dan kekeruhan di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur lebih buruk dibandingkan dengan wilayah lain yang cenderung masih relatif bagus kualitasnya.

1.2.2. Kualitas Kimia Air Tanah

Kisaran kadar kimia an organik seperti Fe, Mn, Cl, F, CaCO3 dan Organik air tanah di wilayah DKI Jakarta memberikan hasil yang bervariasi. (Tabel : II.12).

Tabel : II.12.

Kisaran Kadar Kimia Organik/Anorganik Air Tanah, 2009

WILAYAH

PARAMETER

KADAR KIMIA ORGANIK (mg/L)

Fe

Mn

F

Cl

pH

Jakarta Selatan

* - 0.20

0.02 - 0.77

0.01 - 0.35

19.22 - 144.18

4.55 - 7.65

0.69 - 6.51

Jakarta Timur

0.01 - 8.35

0.02 - 4.55

0.03 - 0.39

19.22 – 336.42

4.90 - 7.78

1.13 - 17.77

Jakarta Pusat

0.00 - 11.00

0.00 - 6.39

0.00 - 1.00

43.00 - 422.39

7.00 - 8.11

3.00 - 11.00

Jakarta Barat

* - 2.29

0.01 - 1.95

* - 0.80

43.25 - 442.15

5.70 - 7.84

0.91 - 18.85

Jakarta Utara

0.05 - 1.97

0.02 - 2.99

0.04 - 0.81

9.61 - 836.24

6.50 - 8.07

2.11 - 22.35

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     : (1)     Fe = Besi, Mn = Mangan, F = Fluorida, Cl = Chlorida

                          (2)     Baku Mutu : Fe = 1.00 mg/L; Mn = 0.50 mg/L; F = 1.50 mg/L; Cl = 600.00 mg/L; pH = 6.5 – 9.0, Organik = 10.00 mg/L

                          (3)     * = tidak terdeteksi

Dari Tabel di atas menunjukkan bahwa kadar kimia Anorganik seperti Besi dan Mangan sebagian besar kisaran maksimumnya sudah termasuk tinggi dan telah melebihi baku mutu. Sedangkan kisaran minimum kandungan Besi dan Mangan tidak terdeteksi. Kisaran maksimum tertinggi untuk parameter Besi dan Mangan adalah pada titik 103 (Kelurahan Kwitang) dan 102 (Kelurahan Cikini). Parameter lain seperti Fluorida secara umum di setiap wilayah belum melampaui baku mutu. Sedangkan untuk parameter Chlorida wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara terdapat beberapa titik yang konsentrasi Cl-nya sangat tinggi.

Adapun untuk lebih jelasnya mengenai kandungan unsur tersebut di atas dijelaskan secara rinci sebagai berikut :

*  Besi

Parameter ini menunjukkan besarnya kandungan Besi di dalam air tanah di sekitar lokasi pengambilan sampel. Berdasarkan hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa konsentrasinya di beberapa wilayah kota Administrasi telah melebihi baku mutu kecuali di wilayah Jakarta Selatan pada semua titik pantau konsentrasinya masih memenuhi baku mutu. Tingginya kandungan Fe dalam air tanah disebabkan karena adanya persenyawaan Besi dalam lapisan tanah yang terkikis oleh air saat aliran air melewatinya, konsentrasinya yang melebihi baku mutu bila dikonsumsi akan membahayakan kesehatan.

*  Mangan

Kandungan parameter Mangan pada air tanah dengan konsentrasi > 0.5 mg/L dapat menyebabkan rasa pahit pada minuman dan meninggalkan noda kecoklat-coklatan pada pakaian. Pada lima Wilayah Administrasi Kota seluruhnya ada titik pantau yang konsentrasinya telah melebihi baku mutu, hal ini menunjukkan bahwa di titik-titik tersebut air tanahnya sudah tidak layak untuk dikonsumsi.

*  Fluorida

Kandungan Fluorida dalam jumlah kecil dibutuhkan sebagai pencegahan terhadap penyakit caries gigi yang paling efektif tanpa merusak kesehatan. Konsentrasi F > 1.5 mg/L dapat menyebabkan ”fluoroisis” pada gigi yaitu terbentuknya noda-noda coklat yang tidak mudah hilang pada gigi. Secara umum konsentrasi Fluorida di wilayah DKI Jakarta masih memenuhi baku mutu yang diperbolehkan.

*  Khlorida

Dalam jumlah kecil Khlorida ini dibutuhkan untuk desinfektan. Apabila berikatan dengan ion dapat menyebabkan rasa asin dan dapat merusak pipa-pipa air. Kandungan Khlorida pada air tanah pada umumnya belum melampaui baku mutu Khlor. Tetapi di wilayah Kotamadya Jakarta Utara pada titik 513 (Kelurahan Pademangan) konsentrasi Khlornya mencapai 836.24 mg/L. Sedangkan pada wilayah lainnya tidak ada titik pantau yang konsentrasi Khloridanya telah melebihi baku mutu. Kandungan Khlorida dalam air tanah bisa disebabkan oleh intrusi air laut.

*  Kadar Kimia Organik

Kandungan Organik menimbulkan rasa bau yang tidak sedap dan dapat menyebabkan sakit perut serta menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa logam. Kecuali wilayah Jakarta Selatan pada wilayah lainnya ada titik pantau yang konsentrasi kimia Organiknya telah melebihi baku mutu. kisaran tertinggi terdapat di wilayah Jakarta Utara yaitu berkisar 2.11 -22.35 mg/L.

1.2.3. Kualitas Biologi Air Tanah

Kualitas secara biologi air tanah meliputi parameter bakteri Coliform dan Fecal coli. Pada sebagian besar lokasi pemantauan (sumur) parameter tersebut telah melebihi baku mutu. Konsentrasi Coliform berkisar antara <1.8 – 79.000.000 ind/100 mL, sedangkan untuk parameter Fecal coli berkisar antara <1.8 – 14.000.000 ind/100 mL, dimana baku mutu untuk parameter Total Coliform sebesar 50 ind/100 mL. Tingginya konsentrasi bakteri disebabkan oleh rembesan limbah domestik septik tank. Oleh sebab itu jarak antara septik tank dengan sumur sangat mempengaruhi kondisi tersebut. Jarak antara septic tank dengan sumur yang dipersyaratkan adalah minimal 10 meter. Selain itu kondisi septic tank juga sangat berpengaruh terutama untuk septic tank yang masih menggunakan teknologi konvensional dimana air kotor di resapkan ke dalam tanah. Untuk itu perlu menjaga kondisi septic tank agar kedap air sehingga air kotor tidak merembes ke dalam tanah.

1.3.    Persentase Kualitas Air Tanah di Provinsi DKI Jakarta

Persentase kualitas air tanah dilihat berdasarkan jumlah sumur yang kualitas airnya tidak memenuhi baku mutu, terutama untuk parameter Besi (Fe), Mangan (Mn), Detergen, Organik, dan Mikrobiologi (Coliform dan Fecal coli). Hasil persentase tersebut tersaji pada Tabel : II.13.

Pada Tabel : II.13 menggambarkan bahwa kondisi unsur Besi dalam air tanah di DKI Jakarta prosentase yang tidak memenuhi baku mutu relatif masih rendah yaitu 9 persen (7 sumur) dari seluruh sumur yang dipantau. Persentase tertinggi berada di wilayah Jakarta Pusat yaitu dari 11 Kelurahan terdapat 3 Kelurahan yang konsentrasi Besi (Fe)-nya tinggi.

Tabel : II.13.

Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu untuk Parameter Besi (Fe)

Provinsi DKI Jakarta, 2009

NO

WILAYAH

JUMLAH SUMUR YANG DIPANTAU

BESI (Fe)

TDK MEMENUHI

PROSENTASE

1

Jakarta Selatan

17

0

0%

2

Jakarta Timur

17

2

12%

3

Jakarta Pusat

11

3

27%

4

Jakarta Barat

15

0

0%

5

Jakarta Utara

15

2

13%

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     :

Tabel : II.14.

Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu Untuk Parameter Mangan (Mn)

Provinsi DKI Jakarta, 2009

NO

WILAYAH

JUMLAH SUMUR YANG DIPANTAU

MANGAN (Mn)

TDK MEMENUHI

PROSENTASE

1

Jakarta Selatan

17

1

6%

2

Jakarta Timur

17

6

35%

3

Jakarta Pusat

11

3

27%

4

Jakarta Barat

15

5

33%

5

Jakarta Utara

15

5

33%

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     :

Pada parameter mangan seperti yang terdapat pada Tabel : II.14 terlihat bahwa persentase jumlah sumur yang memiliki konsentrasi Mangan yang telah melebihi baku mutu di DKI Jakarta mencapai 27 persen. Persentase tertinggi terdapat di wilayah Jakarta Timur mencapai 35 persen, sedangkan persentase terendah terdapat di wilayah Jakarta Selatan sebesar 6 persen.

Tabel : II.15 berikut ini menunjukkan persentase jumlah sumur yang telah melebihi baku mutu untuk parameter Detergen. Dari hal tersebut diperoleh informasi bahwa persentasi tertinggi sumur yang telah melebihi baku mutu untuk parameter Detergen berada diwilayah Jakarta Timur sebesar 12 persen, sedangkan untuk wilayah lain konsentrasi Detergen masih berada dibawah baku mutu.

Tabel : II.15.

Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu Untuk Parameter Detergent

Provinsi DKI Jakarta, 2009

NO

WILAYAH

JUMLAH SUMUR YANG DIPANTAU

DETERGENT

TDK MEMENUHI

PROSENTASE

1

Jakarta Selatan

17

0

0%

2

Jakarta Timur

17

2

12%

3

Jakarta Pusat

11

1

9%

4

Jakarta Barat

15

0

0%

5

Jakarta Utara

15

1

7%

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     :

Sedangkan untuk kualitas Organik pada air tanah di Provinsi DKI Jakarta seperti yang terlihat pada Tabel : II.16, untuk wilayah Jakarta Utara adalah yang paling tinggi persentase jumlah sumur yang telah melebihi baku mutu organiknya yaitu 53 persen. Sedangkan untuk wilayah Jakarta barat, persentase sumur yang telah melebihi baku mutu adalah 13 persen dan Jakarta Timur 12 persen. Sedangkan Untuk wilayah lainnya persentase Organiknya belum melebihi baku mutu.

Tabel : II.16.

Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu Untuk Parameter Organik

Provinsi DKI Jakarta, 2009

NO

WILAYAH

JUMLAH SUMUR YANG DIPANTAU

ORGANIK

TDK MEMENUHI

PROSENTASE

1

Jakarta Selatan

17

0

0%

2

Jakarta Timur

17

2

12%

3

Jakarta Pusat

11

0

0%

4

Jakarta Barat

15

2

13%

5

Jakarta Utara

15

8

53%

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     :

Persentase jumlah sumur yang konsentrasi Coliform dan Fecal coli telah melebihi baku mutu tersaji pada Tabel : II.17.

Tabel : II.17.

Persentase Jumlah Sumur tidak memenuhi baku mutu Untuk Parameter Coliform

Provinsi DKI Jakarta, 2009

NO

WILAYAH

JUMLAH SUMUR YANG DIPANTAU

COLIFORM

TDK MEMENUHI

PROSENTASE

1

Jakarta Selatan

17

5

29%

2

Jakarta Timur

17

8

47%

3

Jakarta Pusat

11

7

64%

4

Jakarta Barat

15

8

53%

5

Jakarta Utara

15

13

87%

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     :

Pada Tabel : II.17 terlihat bahwa air tanah diseluruh wilayah DKI Jakarta telah melebihi baku mutu Coliform. Persentase sumur yang telah melebihi baku mutu Coliform tertinggi berada di wilayah Jakarta Utara yaitu sebesar 87 persen. Rata-rata persentase sumur di DKI Jakarta yang telah melebihi baku mutu Coliform sudah lebih dari 50 persen. Persentase terendah terdapat diwilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan yaitu sebesar 47 persen dan 29 persen.

Di lihat dari keseluruhan wilayah DKI Jakarta maka wilayah yang konsentrasi Coliformnya melampui baku mutu adalah sebesar 55 persen.

1.4.    Status Mutu Air Tanah (Indeks Pencemaran) di Jakarta

Status mutu air tanah digambarkan dengan Indeks pencemaran (Pollution Index) yang merupakan indeks yang digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diijinkan. Pengelolaan dengan Indeks Pencemar dapat memberi masukan pada pengambil keputusan agar dapat menilai kualitas air serta melakukan tindakan tertentu untuk memperbaiki kualitas air jika terjadi penurunan kualitas akibat kehadiran senyawa pencemar. Indeks Pencemaran air tanah di Provinsi DKI Jakarta tersaji pada Tabel : II.18.

Tabel : II.18.

Status Mutu (Indeks Pencemaran) Air Tanah Provinsi DKI Jakarta, 2009

KATEGORI

2007-2008

2009

JML TITIK

PERSENTASE

JML TITIK

PERSENTASE

Baik

19

25%

17

23%

Cemar Ringan

32

43%

31

41%

Cemar Sedang

15

20%

14

19%

Cemar Berat

9

12%

13

17%

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009

Keterangan     :

Kondisi Indeks Pencemaran Air Tanah di DKI Jakarta pada tahun 2009 kondisinya memburuk bila di bandingkan dengan periode tahun 2007-2008. Secara keseluruhan kualitas air tanah umumnya dalam kondisi tercemar ringan namun mengingat tingginya kandungan bakteri Fecal coli dan Coliform pada air tanah yang rata-rata telah melebihi baku mutu, maka penggunaan air tanah sebagai bahan baku air minum tidak direkomendasikan.

Dari hasil pemantauan air tanah di DKI Jakarta, secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut :

1).  Parameter Fisik

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa parameter Fisik air tanah yang berupa TDS (Total Padatan Terlarut) dan kekeruhan di seluruh wilayah DKI Jakarta rata-rata masih baik, namun untuk wilayah Timur kondisinya lebih buruk dibandingkan dengan wilayah lain dimana untuk parameter TDS ada tiga titik yang telah melebihi baku mutu . Demikian pula untuk parameter Kekeruhan di Jakarta Timur dan Utara ada beberapa titik yang telah melebihi baku mutu.

2).  Parameter Kimia

Kondisi parameter kimia air tanah mengalami tren yang bervariasi antara lain sebagai berikut :

*  Parameter Besi (Fe) : Secara umum kondisi konsentrasi besi masih berada dalam kondisi yang relatif baik yaitu sebagian besar masih berada dibawah baku mutu bahkan konsentrasinya tidak terdeteksi. Persentase wilayah yang melebihi baku mutu yaitu sebesar 9 persen, kondisi ini memburuk dibanding tahun sebelumnya yang hanya 5 persen melebihi baku mutu.

*  Parameter Mangan (Mn) : Pada parameter ini wilayah yang melebihi baku mutu cukup banyak dan rata-rata disemua wilayah ada beberapa titik yang konsentrasi Mn-nya telah melebihi baku mutu. Persentase konsentrasi Mn yang telah melebihi baku mutu di Provinsi DKI Jakarta sebesar 27 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya maka kondisi ini membaik dimana pada periode 2007-2008 persentase titik pantau yang telah melebihi bakumutu adalah 33 persen.

*  Parameter Detergen (MBAS) : Secara keseluruhan persentase wilayah yang telah melebihi baku mutu untuk konsentrasi Detergent adalah 5 persen, hal ini memburuk bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 1 persen. Wilayah tertinggi dengan pencemaran Detergen adalah Wilayah Jakarta Timur.

*  Parameter Organik : Kondisi Organik dibeberapa wilayah telah melebihi baku mutu di wilayah Jakarta Utara 53 persen, Jakarta Barat 13 persen dan Jakarta Timur 12 persen.

3).  Parameter Mikrobiologi

Bakteri Coliform; Rata-rata disemua wilayah ada beberapa titik yang telah melebihi baku mutu. Persentase yang telah melebihi baku mutu di DKI Jakarta sebesar 55 persen.

4).  Indeks Pencemaran

Status mutu air tanah di DKI Jakarta pada tahun 2009 termasuk dalam kategori baik sampai tercemar berat, dengan rincian kategori baik sebesar 23 persen, tercemar ringan 41 persen, tercemar sedang 19 persen, dan tercemar berat 17 persen. Kondisi ini lebih buruk jika dibandingkan dengan tahun 2007-2008 dimana kategori baik sebesar 25 persen, tercemar ringan 43 persen, tercemar sedang 20 persen dan tercemar berat 12 persen.

Dari hasil pemantauan air tanah di DKI Jakarta, upaya yang perlu dilakukan dalam menindaklanjuti hasil penelitian tersebut di atas, adalah :

1).  Perlu peningkatan jumlah lokasi dan frekuensi pemantauan sehingga didapatkan gambaran kondisi air tanah di Wilayah DKI Jakarta yang lebih mewakili masing-masing karakter lokasi.

2).  Untuk meningkatkan kualitas air tanah perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya sanitasi serta persyaratan teknis pembangunan sumur.

3).  Perlu adanya koordinasi dengan instansi terkait dalam upaya melakukan pengelolaan kualitas air tanah secara terintegrasi.

4).  Perlu adanya sosialisasi warga Jakarta, agar membuat sumur resapan dimana sampai tahun 2009 sebanyak 83.064 buah di 4 wilayah kota yaitu Jakarta Selatan sebanyak 23.825 buah, wilayah Jakarta Timur sebanyak 30.743 buah, wilayah Jakarta Pusat sebanyak 9.152 buah dan wilayah Jakarta Barat sebanyak 19.344 buah, sedang Jakarta Utara masih sangat sedikit selain hal tersebut mulai tahun 2006 semua pembangunan rumah baru dan pengurusan UKL-UPL dan Amdal wajib melakukan pembuatan sumur resapan, dan Jumlah Lubang Resapan Biopori pada tahun 2009 adalah sebanyak 716.808 buah dimana untuk Jakarta Pusat sebanyak 77.251 buah, Jakarta Timur sebanyak 77.474 buah, Jakarta Barat sebanyak 349.599 buah, Jakarta Utara sebanyak 29.240 buah, Jakarat Selatan sebanyak 182.644 buah dan Kepulauan Seribu sebanyak 600 buah dan jumlah lubang Biopori di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2010 sebanyak 1.958.301 buah dengan rincian wilayah Jakarat Selatan sebanyak 249.300 buah, wilayah Jakarta Pusat sebanyak 339.504 buah, wilayah Jakarta Timur sebanyak 414.050 buah, wilayah Jakarta Barat sebanyak 445.312 buah, wilayah Jakarta Utara sebanyak 509.535 buah dan wilayah Kepulauan Seribu sebanyak 600 buah.

2.       Situ-situ (Waduk)

Keberadaan situ-situ di Propinsi DKI Jakarta sangat penting artinya bagi kelangsungan kehidupan di perkotaan, karena mempunyai fungsi sebagai tempat cadangan air tanah disaat musim kemarau dan berfungsi sebagai pengendali banjir dimusim penghujan maupun pemanfaatan lainnya bagi kesejahteraan warga di sekitar situ.

Situ-situ di wilayah DKI Jakarta yang tersebar di beberapa wilayah dengan luasan yang berbeda mempunyai karakteristik yang berbeda, baik dalam hal struktur dan tekstur tanah, sifat kimia air, plankton/periphyton, tumbuhan air dan berbagai jenis ikan dan mahluk hidup lainnya. Kondisi situ-situ tersebut mempunyai fungsi ekologis yang sangat penting.

Sekarang ini keberadaan situ-situ di Propinsi DKI Jakarta cenderung berkurang jumlahnya dan keadaannya sudah banyak yang tercemar maupun beralih fungsi. Hal ini disebabkan akibat pembangunan yang sangat pesat di berbagai sektor pembangunan, permukiman, gedung - gedung perkantoran/perhotelan, industri ditambah lagi pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi yang sedikit banyak memerlukan lahan.

Secara umum beberapa situ di Propinsi DKI Jakarta saat ini telah terjadi proses perubahan kualitas situ dari ekosistem alami ke ekosistem buatan yang pada dasarnya mewujudkan ekosistem yang tidak lengkap siklus jaring-jaring makanannya sehingga hal ini memberikan indikasi bahwa hubungan timbal balik antar komponen lingkungan yang ada tidak berjalan dengan baik, sehingga berdasarkan kepada hal-hal tersebut di atas maka situ-situ yang ada di wilayah DKI Jakarta tersebut perlu dilakukan upaya pelestariannya serta peningkatan fungsinya, disamping banyaknya situ – situ yang mengalami pendangkalan dan telah berubah fungsi akibat adanya aktivitas manusia.

Meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan di Propinsi DKI Jakarta menyebabkan peningkatan jumlah buangan limbah domestik, limbah industri dan limbah-limbah lainnya yang pada gilirannya menimbulkan pencemaran dan kerusakan situ-situ yang ada.

Inventarisasi, identifikasi situ-situ dan waduk terakhir dilaksanakan pada tahun 1995, akan tetapi dengan meningkatnya pembangunan dan aktivitas penduduk ada beberapa situ yang hilang dan berubah fungsi, oleh karena itu perlu dilakukan inventarisasi dan pemantauan yang berkesinambungan untuk mengetahui keberadaan dan kondisi fisik situ-situ yang terdapat di wilayah DKI Jakarta, dalam kaitan tersebut maka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2010 telah melakukan upaya pengambilan sampel air situ/waduk pada 28 situ/waduk, seperti yang tersaji pada Tabel : II.19.

Tabel : II.19.

Lokasi Pengambilan Sampel Situ/Waduk

di DKI Jakarta Tahun 2010

WILAYAH

LOKASI PENGAMBILAN SAMPLE AIR SITU TAHUN 2010

Jakarta Selatan

Situ Babakan

Jl. M.Kahfi, Kel.Srengseng Sawah

Mangga bolong

Kelurahan Srengseng Sawah

Kali Bata

Jl. Taman Makam Pahlawan Kalibata, Kel. Kalibata

Ragunan

Kebon Binatang Ragunan, Kel.Ragunan

Ragunan Pemancingan

Kebon Binatang Ragunan, Kel.Ragunan

Walikota Jaksel

Jl. Prapanca Raya Kel Petogogan

Jakarta Timur

Kelapa Dua Wetan

Kel. Kelapa Dua Wetan, Kec.Ciracas

Situ Kramat / Sunter Hulu

Kel. Setu, Jakarta Timur

Rawa Dongkal

Jl. Tidar, Cibubur

Situ Rawa Gelam (Kwsn Industri Pulogadung)

Jl. Rawa Gelam Kec.Pulogadung

Rio-Rio

Jl. Pulomas Utara, Kel. Kayu Putih

Pedongkelan

Jl. Gandaria Kelurahan Tugu

Situ Elok

Jl. Raya Penggilingan, Cakung

Rawa Badung

Jl. Rawa Bandung Raya, Kayu Putih

Jakarta Pusat

Lembang

Jl. Lembang, Kel. Menteng, Kec. Menteng

Situ Melati

Jl. Teluk Betung/Jl. Kota Bumi, Kel. Kebon Melati, Kec. Tanah Abang

Senayan

Jl. Gatot Subroto, Kel.Gelora, Kec. Tanah Abang

Jakarta Barat

Grogol

Jl. Tanjung Duren Utara II, Kel. Tanjung Duren, Kec. Grogol Petamburan

Taman Kota Srengseng

Jl. Srengseng Kebon Jeruk

Teluk Gong

Kel. Pejagalan

Bahagia

Jl. Semeru I/II, Kel.Grogol

Jakarta Utara

Papanggo

Kel. Papanggo

Sunter I

Jl. Danau Sunter Selatan I, Kel. Sunter Jaya, Kec. Tanjung Priok

Sunter II

Kel. Sunter Agung

Pik I

Jl. Pantai Indah Selatan Kel. PIK

PIK II

Jl. Pantai Indah Utara Kel. PIK

Kodamar

Kel. Kelapa Gading

Pluit

Jl. Raya Pluit Selatan, Kel. Penjaringan

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta 2010

Keterangan     :

Selain itu juga disajikan dalam bentuk peta yang terdapat pada Gambar : II.2 untuk lebih memudahkan dalam melihat sebaran lokasi pemantauan situ/waduk di Provinsi DKI Jakarta.

Gambar : II.2.

Lokasi Pengambilan sample Kualitas Air Situ/Waduk Tahun 2010

Periode pengambilan sampel untuk situ/waduk di DKI Jakarta dilaksanakan 1 kali pemantauan pada bulan Juli - November 2010, dimana pada masing-masing situ dilakukan 3 titik pengambilan yaitu di inlet, tengah dan outlet situ. Dengan demikian jumlah sampel yang diambil meliputi 84 sampel air untuk analisis parameter kimia lengkap, 84 sampel bakter, dengan parameter yang akan dipantau adalah sesuai dengan SK Gub. KDKI Jakarta Nomor 582/1995 untuk peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C), yang meliputi parameter fisik, kimia, dan biologi, dimana untuk parameter biologi meliputi coliform, fecal coli, dan plankton (fitoplankton), sedang metode pengambilan dan analisa laboratorium dapat dilihat pada Tabel dibawah :

Tabel : II.20.

Peralatan Sampling Air Situ/Waduk

NO

PARAMETER

PERALATAN SAMPLING

1

Debit

Current meter

2

Conductivity, pH, DO, Suhu, Turbiditas

Water Quality Checker

3

Kecerahan

Secchi disk

4

Sampel Air

Ember plastik/Jerigen

5

Plankton

Plankton net

Sumber           : BPLHD Provinsi DKI Jakarta

Keterangan     :

Pengambilan sampel air dilakukan dengan metode terpadu (integrated sampling) yaitu gabungan tempat permukaan (kedalaman ± 20 cm) dan bagian dasar yang kemudian dikompositkan menjadi satu sampel. Sampel sejumlah 2 liter ditempatkan dalam jerigen dan disimpan dalam ice box. Sampling dilakukan di inlet, outlet, dan tengah situ/waduk. Total sampel air dari 28 situ/waduk adalah 84 sampel.

Pengambilan sampel Plankton dilakukan dengan mengambil air permukaan sebanyak 30 liter dan disaring dengan Plankton net no. 25 dengan ukuran jala 76-80 µm atau 173 meshes.inci untuk dikonsentrasikan menjadi 20 ml. Setelah itu sekeliling jaring Plankton net disemprot dengan aquades hingga bersih. Sampel ini kemudian dimasukkan ke dalam botol Plankton dan disimpan dalam ice box.

Pengambilan sampel bakteri Coliform dan Fecal coli dilakukan dengan menggunakan botol bervolume 100 ml yang telah disterilkan pada suhu 120oC selama 15 menit. Sampel air diambil dengan cara memegang botol steril bagian bawah dan botol dicelupkan sedalam 20 cm di bawah permukaan air. Setelah selesai botol disimpan di dalam ice box dengan batas tidak lebih 24 jam.

Analisa sampel air situ dilakukan oleh laboratorium Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta, yang meliputi parameter Fisik, Kimia dan Mikrobiologi. Metoda analisa laboratorium yang digunakan sesuai dengan SNI dan standar lain yang telah diakui dan valuasi terhadap hasil analisa air situ dibandingkan dengan Baku Mutu dan disesuaikan dengan SK Gub. KDKI Jakarta Nomor 582/1995 untuk peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C).

Selain itu dilakukan pula perhitungan dengan menggunakan Pollutan Indeks/Indeks Pencemar dengan mempergunakan berbagai parameter yang ada baik Fisik, Kimia, ataupun Biologi. Evaluasi terhadap nilai IP adalah berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115/2003 :

Tabel : II.21.

Nilai Indeks Pencemar (IP) Air dan Kategorinya

NILAI IP

STATUS

0≤IP≤1.0

Memenuhi Baku Mutu (Kondisi Baik)

1.0<IP≤5.0

Cemar Ringan

5.0<IP≤10.0

Cemar Sedang

IP> 10.0

Cemar Berat

Secara umum kondisi dan lokasi pemantauan situ/waduk di Provinsi DKI Jakarta yang dilakukan BPLHD Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2010, dapat diuraikan sebagai berikut :

2.1.    Kondisi Umum Lokasi Pemantauan

Tabel : II.22.

Kondisi Umum Lokasi Pemantauan Situ tahun 2010

NO

WILAYAH & NAMA SITU

ALAMAT

KONDISI FISIK SITU

KEGUNAAN

1

Situ Kawasan Industri Pulogadung / Rawa gelam

Kawasan Industri Pulogadung

Jakarta Timur

·      Terbentuk secara Buatan

·      Sumber air berasal dari buangan sekitar dan air hujan

·      Kondisi situ tidak terawat, dipenuhi tumbuhan air

·      Air bau, hitam dan tercemar

·      Terdapat proses pendangkalan karena sampah

·      Meluap pada musim hujan.

·      Badan Penampung air

·      Tidak termanfaatkan.

2

Situ Badung

Kelurahan Jatinegara

Kecamatan Cakung

Jakarta Timur.

·      Terbentuk secara alami luas lebih kurang 3 ha

·      Sumber air berasal dari buangan sekitar dan air hujan

·      Kondisi situ tidak terawatt

·      Air bau, hitam dan tercemar

·      Terdapat proses pendangkalan karena sampah

·      Kondisi disekitar situ berupa pemukiman penduduk yang tidak teratur, pepohonan & tanah lapang.

·      Pohon yang ada disekitar situ adalah pohon asam, ketapang dan putri malu.

·      Badan Penampung air, tetapi tidak termanfaatkan.

·      Daerah resapan air

·      Dijadikan tempat pembuangan sampah.

3

Situ Sunter Hulu

Situ Kramat/Sunter Hulu terletak di Jl. Ujung Aspal (Jati Melati)

Kecamatan Cipayung.

Jakarta Timur

·      Terbentuk secara buatan

·      Sumber air berasal dari sumber alami sekitar dan air hujan

·      Kondisi situ masih alam Air keruh, dan tidak tercemar

·      Air naik pada musim hujan.

·      Kondisi sekitar situ merupakan kebun, sekolah dan pemukiman penduduk.

·      Sedangkan jenis pepohonan disekitar situ antara lain kelapa, angsamna,sawo, cemara, kepel, sengon dan lain-lain.

·      Badan Penampung air, pemancingan.

4

Situ Kelapa Dua Wetan

Terletak di Kelurahan Kelapa Dua Wetan

Kecamatan Ciracas

Kotamadya Jakarta Timur

·      Terbentuk secara alami

·      Kondisi situ sebagian sudah terawat

·      Air keruh, dan tidak tercemar

·      Air naik pada musim hujan.

·      Situ terbentuk secara alami mempunyai luas 8 ha.

·      Dikelola oleh Yayasan PKP

·      Sumber air berasal dari sumber alami, sungai, air hujan dan buangan sekitar.

·      Badan penampung air

·      Perikanan

·      Rekreasi

 

 

 

·      Di sekitarnya merupakan pemukiman penduduk, tanah lapang, pepohonan dan sekolah

·      Tanaman yang ada seperti Leersia dan Mimosa, sedangkan tanaman darat yang ada seperti mangga (Mangifera indica) dan kelapa (Cocos nucifera)

 

5

Situ Rawa Dongkal

Jalan Tidar – Perumahan Bukit Permai

Kelurahan Cibubur

Kecamatan Ciracas

Jakarta Timur

·      Terbentuk secara alami dengan luas ± 9 ha

·      Sumber air berasal dari alami dan sungai gede,air hujan

·      Kondisi situ sebagian alami, air keruh, dan tidak tercemar,

·      Air naik pada musim hujan.

·      Pengelolanya adalah DPU DKI Jakarta.

·      Situ ini telah dilindungi telah dilindungi oleh SK Gubernur KDKI Jakarta Nomor 1872 Tahun 1987.

·      Situ ini dikelilingi perumahan penduduk, pepohononan dan persawahan. Perumahan yang ada disekitar situ teratur. Tidak terdapat industri disekitar situ.

·      Badan penampung air

·      hutan kota

6

Situ Pedongkelan

Jakarta Timur

·      Terbentuk secara Alami

·      Sumber air berasal dari buangan sekitar dan air hujan

·      Kondisi situ tidak terawat, air bau, hitam dan tercemar

·      Terdapat proses pendangkalan karena sampah dan tumbuhan air

·      Badan penampung air

·      Pemancingan

7

Waduk Teluk Gong

Jalan Pancet I

Kelurahan Pejagalan

Kecamatan Penjaringan

Jakarta Utara.

·      Waduk Teluk Gong berada pada pengelolaan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.

·      Terbentuk secara buatan dengan luas lebih kurang 0,75 ha.

·      Airnya berasal dari masukan rumah tangga yang ada disekitar waduk dan berasal dari air hujan.

·      Terdapat dua saluran masuk dan satu saluran keluar (dengan menggunakan pompa) dari waduk.

·      Kondisi air kontinu akan tetapi terjadi penurunan permukaan air pada musim kemarau dan kenaikan permukaan pada musim penghujan.

·      Kondisi sekitar waduk adalah pemukiman penduduk yang tidak teratur.

·      Fungsi waduk adalah sebagai penampungan air dari sekitar

·      Pengendali banjir.

8

Taman Ria Senayan

Situ ini beralamat di Jl. Gatot Subroto, Kel. Gelora, Kec. Tanah Abang

·      Dengan luas ± 4 ha. Sumber air alami berasal dari air hujan. Dan buangan domestik

·      Kondisi situ tidak terawat dan terjadi proses pendangkalan akibat dari lumpur dan booming algae

·      Kondisi perairan sebagian ditumbuhi tanaman air dan sebagian dikotori sampah.

·      Bantaran situ juga tidak terawat dengan baik karena adanya kegiatan pembangunan taman ria

·      Kondisi disekitar situ adalah perkantoran dan pepohonan.

·      Fungsi situ adalah sebagai badan penampung air dan perikanan.

9

Waduk Tomang Barat

Berada di RT.01/003,

Tanjung Duren II

Grogol Jakarta Barat,

·      terletak dekat halte busway Indosiar.

·      Luas waduk ini 20 ha dan terdapat pipa perencanaan IPAL pada waduk tersebut.

·      Kondisi air keruh, kehitaman2

·      Tercemar limbah domestik

·      Terdapat aerator untuk meningkatkan kualitas situ dengan cara dikontakan dengan udara tetapi hasilnya kurang maksimal

·      Fungsi waduk adalah sebagai penampungan air dari sekitar

·      Pengendali banjir

·      Pengolah limbah domestik

10

Situ Lembang

Situ Lembang berada di jalan Lembang

Kel. Gondangdia

Kecamatan Menteng

Kotamadya JakPus.

·      Situ ini dikelola oleh Dinas Pertamanan DKI Jakarta

·      Terbentuk secara alami dengan luas sekitar 0,4 ha

·      Airnya berasal dari mata air di sekitar situ

·      Airnya tersedia secara kontinyu baik pada musim hujan maupun musim kemarau

·      Kondisi situ terawat dan tidak nampak adanya proses pendangkalan

·      Sedangkan kondisi perairan cukup bersih, airnya jernih dengan kecerahan 45 cm dan hanya sebagian kecil (5%) tertutup oleh sampah dan tanaman air (teratai).

·      Lingkungan sekitar situ dikelilingi oleh perumahan yang tertata rapih dan pepohonan yang terdiri dari pohon beringin, saga dan ketapang.

·      sebagai daerah resapan air

·      Rekereasi

11

 

Waduk Melati

Waduk Melati terletak di Jalan Teluk Betung

Kelurahan Kebon Melati Kecamatan Tanah Abang

Jakarta Pusat

·      Waduk ini dikelola oleh PWSCC

·      Waduk Melati ini terbentuk secara buatan dengan luas ± 3,5 ha

·      Airnya berasal dari buangan penduduk disekitar waduk, air sungai dan air hujan

·      Waduk ini berfungsi sebagai badan penampung air dan

·      Pengendali banjir

 

 

 

·      Terdapat pintu air pada inlet (masukan dari sungai Cideng) dan outletnya (menuju Banjir Kanal).

·      Kondisi airnya kontinyu

·      Pada musim hujan air meluap dan pada musim kemarau air turun.

·      Kondisi situ terawat namun terjadi pendangkalan yang disebabkan oleh limbah organik dan limbah padat yang berasal dari buangan rumah tangga disekitar

 

12

Waduk Empang Bahagia

Terletak di Jalan Semeru I dan Jalan Semeru II,

Kelurahan Grogol

Kecamatan Grogol Petamburan,

Kotamadya Jakarta Barat

·      dikelola oleh Pemda DKI Jakarta.

·      Waduk tersebut terbentuk secara alami dgn luas kurang lebih 4 ha

·      Airnya berasal dari sumber air air hujan, dan buangan rumah tangga yang ada di sekitar waduk.

·      Adapun outletnya menuju Kali Jembatan Besi.

·      Kondisi air kontinyu dimana air naik pada musim hujan dan turun pada musim kemarau

·      Fisik perairan hijau pekat dengan tepian waduk sudah diberi tanggul pembatas dan di tengahnya diberi air mancur.

·      Lingkungan sekitar situ berupa pemukiman penduduk dan pepohonan yg berada disekitar situ

·      berfungsi sebagai badan penampungan air

·      Penampung limbah domestik

13

Situ Rio-Rio

Rio-Rio terletak di Jalan Pulo Mas Raya

Kelurahan Kayu Putih,

Jakarta Timur.

·      Situ Rio-Rio terbentuk secara alami dengan luas yang ada saat ini hanya tinggal ± 3,85 ha.

·      Terjadi penyempitan lahan situ.

·      Sumber air berasal dari sumber alami dan buangan penduduk.

·      Masukan air pada situ berasal dari drainase Pulo Nangka,

·      Pada inlet dan outlet situ terdapat pintu air.

·      Kondisi air kontinyu dan kondisi situ sangat tidak terawat.

·      Situ ini berfungsi sebagai pengendali banjir dan resapan air.

·      Kondisi lingkungan sekitar situ Ria-Rio merupakan pemukiman penduduk yang letaknya tidak beraturan.

·      Pada bagian utara situ terdapat pompa pengatur banjir. Pada sisi barat situ terdapat jalan raya dan jalan tol.