3.3.      Kesehatan

Salah satu tujuan pembangunan di DKI Jakarta adalah terciptanya peningkatan kualitas hidup masyarakat secara adil dan merata. Indikator keberhasilan peningkatan kualitas hidup adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang memadai. Untuk mencapai derajat kesehatan yang baik tersebut tidaklah mudah, mengingat belum meratanya tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat DKI Jakarta. Walaupun demikian, upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat terus diupayakan sehingga dapat menyentuh sasaran secara adil. Cara yang dilakukan antara lain menyediakan pelayanan kesehatan di tempat yang mudah dijangkau, dengan harga yang relatif murah dan adil bagi setiap lapisan masyarakat.

Upaya kongkrit yang dilakukan Pemerintah DKI Jakarta, misalnya adalah melalui peningkatan dan penyempurnaan sarana dan prasarana kesehatan, seperti : Puskesmas keliling, penugasan dokter/bidan di seluruh kelurahan, upaya perbaikan gizi keluarga, upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak, imunisasi dan berbagai upaya lainnya. Salah satu indikator yang menunjukkan perbaikan kualitas kesehatan tersebut adalah penurunan angka kematian bayi dan balita, peningkatan angka harapan hidup, serta peningkatan gizi balita.

3.3.1. Status Kesehatan dan Gizi

A.      Angka Kematian Menurut Golongan Umur

Derajat kesehatan dapat mencerminkan kualitas hidup penduduk suatu daerah. Dengan kualitas hidup yang baik akan berdampak pula kepada produktivitas penduduk. Derajat kesehatan penduduk dapat dilihat dari berbagai indikator, diantaranya yaitu angka kematian bayi/balita, angka harapan hidup, angka kesakitan dan rata-rata lama sakit.

Angka kematian bayi yang rendah mencerminkan tingginya tingkat kesejahteraan suatu wilayah. Di samping itu pula dapat mencerminkan semakin baiknya pengetahuan seorang ibu. Salah satu penyebab kematian bayi adalah kebersihan yang tidak terjamin pada saat melahirkan. Sebagian besar wanita hamil melahirkan di bidan dimana kebersihan tempat melahirkannya cukup terjamin. Pengetahuan ibu dalam hal perawatan bayi sangat menunjang kelanjutan hidup seorang bayi. Perawatan bayi yang tidak sesuai dengan standar kesehatan menyebabkan bayi mudah terserang penyakit dan akhirnya meninggal dunia.

Angka kematian bayi (IMR) adalah indikator yang dapat memprediksi rata-rata lama hidup seorang bayi. Semakin rendah IMR, semakin tinggi rata-rata lama hidup yang diharapkan dari seorang bayi. Kinerja semua indikator kesehatan tersebut, berkaitan erat dengan tingkat pendidikan keluarga, keadaan sosial ekonomi rumah tangga, kebersihan lingkungan dan pelayanan kesehatan yang tersedia.

Seiring dengan meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan diri dan lingkungan, maka angka kematian di DKI Jakarta dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Pada tahun 2012, angka kematian tercatat sebanyak 23.053 jiwa (lihat Tabel DS-7 pada buku Data SLHD Tahun 2012) apabila dibandingkan dengan tahun 2011 sebanyak 23.112 jiwa (terdaftar pada jumlah angka kematian di Puskesmas dan Rumah Sakit) maka terdapat penurunan jumlah angka kematian sebesar 59 orang.

Bila ditinjau menurut jenis kelamin, pada tahun 2012 jumlah angka kematian laki-laki adalah sebanyak 13.255 jiwa dan perempuan berjumlah 9.798 jiwa. Untuk jelasnya tentang jumlah kematian menurut kelompok umum Survailans Pelayanan Surat Rekomendasi kematian dari Rumah Sakit dan Puskesmas di Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada Tabel DS-7A (T) dan DS-7B (T) pada Buku Data SLHD Tahun 2012

B.      Angka Kesehatan dan Gizi

Indikator lain untuk melihat derajat kesehatan penduduk antara lain adalah dengan melihat angka kesakitan dan rata-rata lamanya sakit. Semakin besar angka kesakitan mencerminkan semakin rendahnya tingkat kesehatan masyarakat atau kurang baiknya kondisi lingkungan setempat.

Pada tahun 2012 penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan (angka kesakitan) hanya sekitar 13,43 persen. Angka kesakitan tertinggi tercatat di Jakarta Utara yaitu 15,74 persen dan yang terendah tercatat di Jakarta Timur yaitu 10,89 persen. Rata-rata lama sakit atau lamanya terganggu adalah sekitar 3,96 hari (Tabel : III.99). Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2005 yang mencapai 3,7 hari.

Apabila dibandingkan dengan tahun 2011 penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan dan terganggu aktivitasnya (angka kesakitan) hanya sekitar 36,76 persen dan angka kesakitan tertinggi tercatat di Jakarta Utara yaitu 43,21 persen dan yang terendah tercatat di Jakarta Barat yaitu 32,23 persen. Rata-rata lama sakit atau lamanya terganggu adalah sekitar 2,08 hari, hal ini mungkin disebabkan karena persentase tertinggi rumah tangga yang menggunakan jenis lantai tanah dan bambu di Jakarta Utara masih sangat tinggi yaitu sebesar 5,98 dan jumlah rumah tangga yang mempergunakan atap asbes/seng/sirap/lain-lain pada tahun 2012 yang mencapai 58,97 persen terjadi peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 57,95 persen walaupun tidak seberapa, yang akhirnya dapat mengganggu kesehatan bagi penghuninya. Dalam kaitan tersebut maka upaya Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta selain peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, juga adanya upaya perbaikan lingkungan, seperti proyek kali bersih dan relokasi industri yang berdekatan dengan lokasi permukiman terus digalakkan, agar memberi dampak positif bagi peningkatan kesehatan masyarakat di DKI Jakarta.

Tabel : III.98.

Angka Kesakitan, Rata-rata lama sakit dan rata-rata lama pemberian asi

di DKI Jakarta, 2012

KAB./KOTA ADMINISTRASI/ KAB. ADMINISTRATIF

ANGKA KESAKITAN (%)

RATA-RATA LAMA SAKIT (HARI)

RATA-RATA LAMA PEMBERIAN ASI (BULAN)

JAKARTA SELATAN

12,58

4,29

15,75

JAKARTA TIMUR

10,89

3,85

13,51

JAKARTA PUSAT

15,09

4,06

11,64

JAKARTA BARAT

13,22

3,79

13,33

JAKARTA UTARA

12,20

3,41

12,26

KEPULAUAN SERIBU

15,74

3,42

15,49

DKI JAKARTA

13,43

3,96

15,49

Sumber          : BPS Provinsi DKI Jakarta, 2012

Keterangan     : Susenas 2011 dengan alokator jumlah penduduk hasil proyeksi tahun 2012

Investasi terhadap kesehatan harus dilakukan sejak usia dini, salah satunya adalah dengan pemberian ASI kepada balita. ASI sangat dianjurkan oleh karena mengandung berbagai zat yang dapat menunjang pertumbuhan anak. Pemberian ASI kepada balita dianjurkan hingga mencapai usia 2 tahun. Rata-rata lama balita yang diberi ASI di DKI Jakarta pada tahun 2010 mendekati anjuran tersebut. Tabel : III.98 memperlihatkan bahwa rata-rata lama balita disusui adalah 12,87 bulan, dan meningkat kembali pada tahun 2012 menjadi 15,49 bulan.

3.3.2. Upaya Perbaikan Kesehatan dan Gizi

Upaya peningkatan derajat dan status kesehatan penduduk harus disertai dengan upaya peningkatan penyediaan pelayanan persalinan oleh tenaga medis. Pemerintah maupun masyarakat telah berupaya meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas dan sarana kesehatan, selain mengurangi insiden kematian bayi dan kematian maternal melalui penyediaan pelayanan persalinan.

Pemerintah DKI Jakarta telah berupaya menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, baik dari aspek pembiayaan maupun aspek lokasi. Pembangunan Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) hingga ke tingkat kelurahan merupakan salah satu upaya yang telah dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta dalam bidang kesehatan (Tabel : III.99). Di samping Puskesmas, digalakkan pula Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) khususnya bagi balita dan ibu hamil. Kondisi kesehatan balita akan terpantau apabila mereka selalu berkunjung ke Posyandu minimal 1 bulan sekali.

Upaya penting lain dalam rangka peningkatan kesehatan masyarakat adalah peningkatan penolong kelahiran oleh tenaga medis. Penolong kelahiran secara langsung sangat mempengaruhi derajat kesehatan ibu dan anak pada tahun-tahun selanjutnya pasca kelahiran. Idealnya, seluruh kejadian kelahiran ditolong oleh tenaga medis (dokter, bidan, dan tenaga medis lainnya), karena jika kemungkinan terjadi komplikasi akibat kelahiran dapat diperkecil resikonya dan segera terdeteksi dan tertangani.

TABEL : III.99.

Jumlah Penduduk, Luas Daerah, Tenaga Medis dan Jarak Rata-rata

Fasilitas Kesehatan Menurut Kabupaten/Kota Administrasi TAHUN 2012

Sumber          : BPS Provinsi DKI Jakarta, 2012

Keterangan     : Tabel DS-7E (T) pada Buku data SLHD tahun 2012

Sejak tahun 1995 lebih dari 90 persen persalinan di DKI Jakarta telah ditangani oleh tenaga medis, selebihnya ditangani oleh tenaga selain medis. Masyarakat yang tidak menggunakan tenaga medis karena alasan darurat karena kesadaran ibu hamil telah cukup baik serta ketersediaan fasilitas kesehatan di DKI Jakarta sudah dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Pada tahun 2012 balita yang ditolong kelahirannya oleh tenaga medis telah mencapai 97,81 persen, yang terdiri dari 60,5 persen oleh bidan dan 37,3 persen oleh dokter, serta 0,01 persen oleh tenaga medis lain, seperti : perawat, mantri dan sebagainya. Jika dibandingkan dengan tahun 2011 balita yang ditolong kelahirannya oleh tenaga medis mencapai 97,30 persen, yang terdiri dari 60,7 persen oleh bidan dan 36,4 persen oleh dokter, serta 0,20 persen oleh tenaga medis lain, seperti : perawat, mantri dan sebagainya. Artinya pada tahun 2012 telah terjadi peningkatan sebesar 0,51 persen pada persalinan yang ditolong oleh tenaga medis. Persentase kenaikan persalinan oleh tenaga dokter relatif kecil, yaitu sebesar 1 persen, sementara persentase penurunan persalinan oleh bidan juga sangat kecil yaitu sekitar 0,2 persen. Meskipun peningkatan persentase penolong kelahiran oleh tenaga medis sangat kecil, hal ini menandakan pelayanan dokter dan bidan telah menjangkau di semua wilayah DKI Jakarta. Namun demikian, walaupun Jakarta adalah kota metropolitan, masih ada persalinan yang ditolong oleh dukun yaitu sekitar 3,25 persen pada tahun 2011 dan mulai menurun pada tahun 2012 yaitu sebesar 1,8 persen lihat Tabel dibawah :

Tabel : III.100.

Penolong persalinan balita di DKI Jakarta, 2012

KAB./KOTA ADMINISTRASI/KAB. ADMINISTRATIF

DOKTER

BIDAN

TENAGA MEDIS

DUKUN

FAMILI

JUMLAH

JAKARTA SELATAN

41,70

58,30

0,00

0,00

0,00

100,00

JAKARTA TIMUR

40,00

57,10

0,10

1,80

0,00

100,00

JAKARTA PUSAT

37,80

61,30

0,00

0,90

0,90

100,00

JAKARTA BARAT

28,50

68,30

0,00

2,70

0,00

100,00

JAKARTA UTARA

39,50

58,00

0,00

2,50

0,40

100,00

KEPULAUAN SERIBU

14,30

82,70

0,00

3,00

0,00

100,00

DKI JAKARTA

37,30

60,50

0,01

1,70

0,30

100,00

Sumber          : BPS Provinsi DKI Jakarta, 2012

Keterangan     : Susenas 2011 dengan alokator jumlah penduduk hasil proyeksi tahun 2012

Untuk penduduk di wilayah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2012 jenis penyakit yang sering diderita tidak berbeda jauh apabila dibandingkan dengan tahun 2011, khusus untuk penyakit Infeksi Akut Lain Pernafasan Atas pada tahun 2011 sebesar 42,48 persen maka pada tahun 2012 menjadi 36,69 persen, hal ini terjadi penurunan sebesar 5,79 persen dan apabila dibandingkan dengan tahun 2010 yang terjadi peningkatan sebesar 3,16 persen apabila dibandingkan dengan tahun 2011, hal ini menadakan bahwa upaya penanganan pelayanan kesehatan masyarakat di Provinsi DKI Jakarta sudah mulai meningkat walaupun kepadatan penduduk DKI Jakarta tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, dimana tahun 2012 adalah sebesar 14.995,7 Km2 dan tahun 2011 kepadatan penduduk di provinsi DKI Jakarta adalah sebesar 14.739 jiwa per Km2 serta apabila dibandingkan tahun 2010 yaitu 14.476 jiwa per Km2 maka terjadi peningkatan rata-rata sebesar 263 jiwa per Km2,juga karena wilayah DKI Jakarta adalah daerah urban yang membutuhkan persaingan untuk berusaha, selain banyaknya industri dan transportasi yang setiap tahunnya terus meningkat. Untuk jenis berbagai penyakit di wilayah DKI Jakarta serta jumlah penderitanya pada tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel dibawah :

Tabel : III.101.

Jenis Penyakit Utama yang Diderita Penduduk di Provinsi DKI Jakarta tahun 2012

NO

JENIS PENYAKIT

JUMLAH PENDERITA

% TERHADAP TOTAL PENDERITA

1

Infeksi Akut Lain Pernafasan Atas

873.581

36,69

2

Penyakit Lainnya

506.218

21,26

3

Penyakit Darah Tinggi

180.815

7,59

4

Penyakit pada Sistem Otot dan Jaringan Pengikat

167.663

7,04

5

Penyakit Lain pada Saluran Pernafasan Atas

158.712

6,67

6

Penyakit Pulpa dan Jaringan Pariapical

116.716

4,90

7

Penyakit Kulit Alergi

108.079

4,54

8

Penyakit Kulit Infeksi.

105.136

4,42

9

Diare (Termasuk Tersangka Kolera)

99.533

4,18

TOTAL

2.381.240

100,00

Sumber          : Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, 2012

Keterangan     : Tabel DS-8 Buku Data SLHD Tahun 2012

Dalam kaitan tersebut untuk mengurangi adanya penyakit yang disebabkan oleh adanya pencemaran udara, baik yang dilakukan oleh industri maupun transportasi maka pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan berbagai program diantaranya Hari bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) yang dilakukan setiap 1 (satu) minggu sekali juga melakukan penanganan pengaduan lingkungan hidup {lihat Tabel UP-7A (T) pada Buku Data SLHD Tahun 2012}, selain juga melakukan pembenahan dalam penataan lingkungan khususnya penanganan masalah sanitasi lingkungan. Selain hal tersebut diatas sehubungan dengan diterbitkannya Undang-Undang Rumah Sakit yang telah disahkan DPR pada Sidang Paripurna 28 September 2009, maka pemerintah DKI Jakarta berjanji menjadi pelopor UU Rumah Sakit tersebut, dimana mulai saat itu semua Rumah Sakit Pemerintah Daerah DKI Jakarta tidak boleh lagi mendahulukan uang ketimbang penyakit dan memungut uang jaminan, menjual darah, mengenakan tarif ambulan kepada pasien dan apabila ada kejadian luar biasa semua ruangan harus disetarakan dengan ruangan kelas tiga. Selain hal tersebut diatas bahwa semua rumah sakit swasta yang berada di wilayah DKI Jakarta juga harus menyediakan sebanyak 25 persen untuk pasien kelas tiga, dan juga pemerintah DKI Jakarta akan selalu mendukung amanat Undang-Undang tersebut mengenai korban meninggal akibat kelalaian akan dikenai sanksi denda maksimal 1 milyar dan dipidana 10 tahun penjara kepada pihak yang terlibat membahayakan pasien. Dalam melaksanakan upaya peningkatan pelayananbagi masyarakat di wilayah DKI Jakarta, disatu sisi sebagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan bagi warganya, tetapi disisi lain hasil dari pelayanan tersebut dapat menimbulkan dampak lingkungan yaitu sampah yang dihasilkan baik limbah padat maupun cair, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada (Tabel SP-5 pada Buku Data SLHD Tahun 2012) tentang Perkiraan Volume Limbah Padat dan Limbah Cair dari Rumah Sakit di Provinsi DKI Jakarta, selain hal tersebut dalam rangka menaikan derajat kesehatan bagi warganya upaya kongkrit yang dilakukan Pemerintah DKI Jakarta, misalnya adalah melalui peningkatan dan penyempurnaan sarana dan prasarana kesehatan, seperti : Puskesmas keliling, penugasan dokter/bidan di seluruh kelurahan, upaya perbaikan gizi keluarga, upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak, imunisasi dan berbagai upaya lainnya. Salah satu indikator yang menunjukkan perbaikan kualitas kesehatan tersebut adalah penurunan angka kematian bayi dan balita, peningkatan angka harapan hidup, serta peningkatan gizi balita.

Selain melakukan upaya seperti tersebut diatas dalam menanggulangi permasalahan di bidang pelayanan kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2012, telah meluncurkan berbagai program diantaranya :

1.   Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular diantaranya : pengendalian kualitas vaksin, melakukan koordinasi ke bawah dengan meningkatkan manajemen program imunisasi, pengendalian surveilans integrasi AFP dan PD3I, pengendalian survailans penyakit potensial KLB berbasis puskesmas, pengendalian survailans kematian berbasis penyebab kematian, pengendalian penyakit potensial KLB berbasis survailans Laboratorium.

2.   Program penurunan angka kematian Ibu dan Bayi diantaranya : pembinaan dan fasilitasi penatalaksanaan kesehaatan ibu bersalin, pembinaan dan fasilitasi pelayanan anternatal, pembinaan dan fasilitasi penatalaksanaan kesehatan ibu nifas, pembinaan penguatan sistem pelayaanan KB di Puskesmas, pembinaan program kesehatan anak, pembinaan dan fasilitasi penatalaksanaan komplikasi kebidanan dan penatalaksanaan manajemen program kesehatan Keluarga tingkat Provinsi.

3.   Program Peningkatan Kesehatan Anak Balita diantaranya : upaya peningkatan pemberian ASI Eksklusif,MP-ASI dan vitamin A.

4.   Program Pengembangan Lingkungan Sehat diantaranya : Monitoring kawasan dilarang merokok, monitoring wasan kualitas air.

5.   Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat diantaranya : penilaian kinerja PHBS tingkat provinsi, promosi kesehatan melalui media cetak dan elektronik, promosi kesehatan melalui PRJ dan pameran kesehatan lainnya, koordinasi dan peningkatan kapasitas petugas Promkes, penyusunan petunjuk teknis Kelurahan siaga, melakukan forum komunikasi penanggulangan kekerasan terhadap perempuan dan anak, peningkatan kapasitas petugas kesehatan dalam pembinaan RW siaga dan Kelurahan Siaga Aktif, pembinaan dan fasilitasi upaya peningkatan program UKS dan PKPR.

6.   Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular diantaranya : melakukan rekapitulasi data registrasi Kanker.

7.   Program Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan diantaranya : Training of Traner pembina akreditasi rumah sakit, pembinaan pra akreditasi rumah sakit, pembinaan juklak dan juknis pembinaan klinik Spesialis, melakukan survay kepuasan pelanggan eksternal, pengadaan software system pelaporan sistem rumah sakit.

8.   Program Pengawasan Obat dan Makanan diantaranya : pembinaan pengawasan sarana farmasi dan perbekalan kesehatan, penyusunan profil makanan minuman, penyempurnaan tatacara pemberian izin sarana farmasi dan perbekes, memfasilitasi dan monev pelayanan kefarmasian.

9.   Program Pengembangan Obat Asli Indonesia diantaranya : melakukan validasi data sarana pengobatan tradisional.

10. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit diantaranya : pembangunan Rumah Sakit Daerah di Jakarta Selatan.

11. Program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat dintaranya : pada tahun 2012 telah disiapkan layanan kesehatan dengan memberikan Jaminan Pelayanan Kesehatan bagi keluarga miskin (JPK-Gakin) dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), maka dengan terpilihnya Gubernur baru telah dirubah bahwa semua warga telah dibebaskan dalam hal pelayanan kesehatan baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit yang telah melaksanakan kerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan meluncurkan Kartu Sehat.

12. Program Peningkatan Gizi Masyarakat diantaranya : peningkatan kualitas pemantauan pertumbuhan, pelaksanaan gerakan balita sehat, pengembangan pelayanan perawatan gizi buruk melalui pusat pemulihan, pemantauan status gizi.

 

*      Unduh Buku I Bab 3.3

 

Copyright (c) BPLHD Provinsi DKI Jakarta